Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekas Rumah Terbakar
"Jo.. sini," seru seseorang memanggilnya.
Bejo yang sudah menyalakan motor tancap gas menuju seseorang yang memanggilnya tadi, saat sampai di sana Bejo terdiam memandangi wajah orang itu.
"Ngapain kamu disana?," tanyanya.
"Rumah... Rumah Mbah Sastro disini?,"
"Iya ini rumah Mbah. Masuk aja, dah di tungguin dari tadi malah lewatin rumah Mbah!"
Bejo terdiam, dia mencerna apa yang di ucapkan Mbah Sastro. Sangat aneh baginya, karena tadi waktu lewat rumah itu gak ada, cuman ada rumah bekas kebakar.
Kemudian Bejo duduk, ia melihat ke dinding rumah dimana banyak foto Mbah Sastro dengan banyak orang. Pandangan Bejo terpaku pada salah satu foto, ia memandang foto itu begitu lama.
Mbah Sastro berjalan dari belakang dapur, ia membawa singkong rebus.
"Makan nih Jo, lagi hangat-hangatnya"
"Terima kasih Mbah."
Bejo makan singkong yang masih panas dengan perlahan, ia meniupnya pelan-pelan.
Mbah Sastro mengambil salah satu yang di perhatikan Bejo tadi, lalu dia juga mengambil foto lain yang berada di laci.
"Nih Jo, foto kakekmu."
Bejo mengambilnya, pandangan lekat-lekat penuh fokus memastikan bahwa foto itu memang kakek yang tak pernah di lihatnya. Hingga Bejo terbesit satu ingatan, ia membelalakkan matanya saat sadar siapa sosok yang minggu lalu di lihatnya.
Ingatan itu sangat samar karena Bejo sangat menghiraukan penampakan di ujung matanya. Kini semua terjawab sudah dengan wajah yang sama seperti penampakan pria berjubah putih.
Tapi Bejo tidak yakin sepenuhnya, karena apa yang di lihat masih samar-samar.
"Kakek aku datang!"
Suara seorang gadis muda terdengar gembira dari luar rumah, Mbah Sastro yang mendengarkan itu buru-buru berdiri.
"Aduhh.. cucu kakek kemana aja?,"
"Habis main sama temen kek, jadi baru bisa kesini,"
"Hmm.. lebih penting temen daripada kakek nih?,"
"Hhehe.. enggak kok kek. Terpaksa aja, karena kemarin di rumah dia ada penampakan pocong merah jadi aku gak berani pulang sama temenku," jelasnya.
"Ya sudah. Kamu masuklah"
Bejo masih memegang foto sang kakek, ia menghiraukan obrolan di luar. Dalam benak Bejo ia merasakan sesuatu yang menarik dirinya dari foto tersebut.
"Kamu!"
Bejo menoleh setelah mendengar suara gadis sebelumnya.
"Devina!"
"Kenapa mas ada disini?," tanya Devina.
"Ada perlu sama Mbah Sastro. Kamu sendiri ngapain?," jawab bertanya Bejo.
"Ini rumah kakekku mas,"
"Kalian berdua saling kenal?," tanya Mbah Sastro yang dari tadi menyimak mereka.
"Baru kenal kek," jawab Devina.
"Jadi, kemarin malam kamu tidur di rumah nak Bejo?,"
"Iya kek. Temanku takut karena penampakan pocong merah itu," jawab Devina.
Mbah Sastro duduk, ia mendengar cerita cucunya dengan penuh perhatian. Ia juga bertanya pada Bejo soal penampakan pocong merah itu, Bejo menjelaskan semuanya.
"Hmm.. jadi begitu!"
Bejo dan Devina mengangguk pelan. Mbah Sastro memegang dagunya, ia memikirkan sesuatu.
"Aku kebelakang dulu ya Mas?,"
"Iya Vin."
Devina kebelakang, Bejo masih duduk memikirkan semua yang telah terjadi. Bagi Bejo benar-benar aneh penuh teka teki, ia tidak begitu memahami sepenuhnya.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi Jo!" Ucap Mbah Sastro.
"Apa itu Mbah?,"
"Sebelum ada penampakan itu, apa ada keanehan saat kamu menggali makam?,"
Bejo diam, ia mengingatnya kembali.
"Nah.. iya ada Mbah. Apa ada kaitannya dengan hal itu?,"
"Sepertinya iya Jo, dan kamu adalah tujuan utamanya,"
Bejo terbelalak, ia bingung kenapa dirinya menjadi tujuan utama.
"Maksudnya Mbah?,"
"Kalau kamu melihatnya lagi nanti, tanya saja dia meminta bantuan apa. Jangan takut, dia lagi mencari sesuatu yang belum selesai di dunia," jawab Mbah Sastro.
Bejo terdiam, ia memikirkan apa yang di ucapkan Mbah Sastro. Memang ada benarnya, tapi kenapa harus dirinya yang membantu, kenapa tidak kerabat terdekatnya.
Bejo masih memikirkan semuanya, ia merentangkan kedua tangannya lalu memejamkan mata. Terasa perih, lelah akan semua ini tapi Bejo berfikir, jika dirinya yang di pilih pasti memiliki kemampuan untuk membantunya.
"Mas.. mau kopi apa teh?," tanya Devina tiba-tiba.
"Teh aja."
"Hmm.. cuman Bejo aja yang di tawarin nih! Mbah enggak?."
Devi tertawa kecil lalu bertanya pada kakeknya. "Kakek mau apa?,"
"Sama aja kayak Bejo."
Devina tersenyum kecil melihat kakeknya lalu ia kebelakang lagi. Setelah selesai Devina kembali kedepan, ia duduk dekat dengan Bejo.
"Kakekku kemana Jo?," tanya Devina.
"Di panggil pak RT tadi," jawab Bejo.
"Ohh.."
Bejo membuka layar ponselnya, ternyata Intan sedang memanggil video.
"Kamu sedang dimana itu mas?,"
"Ini sedang keluar,"
Devina yang mendengar itu, ia tiba-tiba mendekat ke arah Bejo.
"Lah kok ada Devina Jo?,"
"Hhehe.. halo Intan, maaf ya Bejonya aku ambil,"
"Awas aja kamu ya Devina.."
"Sudah-sudah. Aku lagi di rumah kakek Devina,"
"Ngapain disitu mas?,"
"Ada keperluan aja. Sebentar lagi mau pulang, tapi nunggu kakek Devina pulang dulu,"
"Hmm.. iya mas."
Kemudian ponsel Bejo di minta Devina, di bawah masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Bejo duduk menikmati teh dan singkong rebus, tapi pikiran Bejo terus melayang-layang.
Bejo tertidur dalam kondisi duduk, cukup aneh tapi cincin dan trisula Bejo menyala redup.
"Astaghfirullah.."
Bejo terbangun dengan napas tersengal-sengal, keringat sebesar jagung mengalir dari keningnya.
"Sosok itu kenapa muncul di mimpiku," gumam Bejo.
Kemudian Bejo melihat jam tangannya, ternyata masih jam delapan malam. Mbah Sastro belum pulang, sedangkan ponsel Bejo masih di bawah Devina.
Setengah jam berlalu, Mbah Sastro pulang.
"Kok gak di makan singkongnya?,"
"Sudah kenyang Mbah,"
"Kemana Devina, kok gak keluar?,"
"Di dalam kamar Mbah, ponsel saya di bawah tadi."
"Dasar cucu nakal, Mbah ambilin bentar,"
"Jangan Mbah, nanti dia juga kesini kalau sudah selesai."
Mbah Sastro dan Bejo kembali duduk, mereka mengobrol santai. Tidak berselang lama Devina keluar, "nih mas ponselnya, makasih sudah di pinjamin,"
"Iya sama-sama."
"Mbah saya pamit pulang dulu,"
"Baru jam segini kok sudah pulang aja," ucap Mbah Sastro.
"Iya nih, mas Bejo nanti aja kenapa!. Temenin aku ngobrol habis ini," imbuh Devina.
"Aku beli jas dan dasi untuk kelulusan sekolah," ucap Bejo.
"Beli dimana mas?,"
"Ini mau ke kota alang,"
"Hati-hati di jalan Jo, kalau ada apa-apa hubungi Mbah aja,"
"Iya Mbah. Setelah lulusan nanti kamu ikut aja, aku berencana mau ke pantai."
Bejo keluar dari rumah Mbah Sastro, membiarkan Devina bertanya-tanya soal pantai.
**
Kini Bejo pergi ke kota Alang, dalam perjalanan satu jam lebih ia menikmati keindahan nyata dan berhenti untuk memberikan pesan pada teman-temannya. Karena Jarot dan Dirga bersama teman di kampung sedang berjaga-jaga di rumah Bejo.
Bejo juga selesai mengambil ATM barunya, dia mengirimkan seluruh yang dari ATM peninggalan Sinta. Karena Bejo ingin mengontrol dari ponsel dengan mobile banking.
Uang yang di berikan Sinta terbilang sangat banyak bagi Bejo, itu juga pertama kalinya Bejo memiliki uang sebanyak itu. Semua penjelasan uang sudah di tanyakan oleh Bejo, ketika aman dia menerima dengan sepenuh hati.
Tapi Bejo memiliki pertanyaan yang tak bisa di jawab oleh Intan saat ini, ia menunggu jawaban itu tapi seperti memang sulit untuk di jelaskan.