NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Darah yang Memecah Langit

Tekanan di kawah utama tiba-tiba jadi sepuluh kali lebih berat.

Ribuan budak yang tadi bersemangat karena berhasil membantai, kini terpaku. Tangan yang memegang senjata mulai gemetar. Bahkan Xing Yun yang paling licik menelan ludah melihat sosok raksasa di depan gerbang itu.

Xie Tu. Kepala Pengawas Tambang.

Dia tidak perlu berteriak. Kehadirannya saja sudah cukup—Qi di tubuhnya begitu padat sampai membentuk pusaran angin tipis di sekeliling kapaknya. Kalau memakai ukuran Cangtian, kekuatannya setara Ahli Persilatan Tingkat 5. Jarak yang sangat jauh dari Cangtian yang baru Tingkat 1.

"Sebuah pemberontakan..." geram Xie Tu, suaranya membuat batu bergetar. "Kalian, hewan kotor, pikir bisa menggigit tangan yang memberi makan kalian? Bunuh beberapa pengawal rendahan bikin kalian merasa jadi dewa?"

Mata merah menyalanya mengunci Ye Cangtian.

"Kau." Ia menunjuk dengan ujung kapak yang masih meneteskan darah. "Entah iblis apa yang merasukimu sampai punya tenaga seperti itu. Tapi malam ini, akan kurobek anggota tubuhmu satu per satu di depan teman-temanmu itu."

Cangtian memutar lehernya dan menggerakan otot-ototnya. Jantungnya berdegup kencang, Qi dari Dantian dipompa ke seluruh tubuh. Instingnya berteriak: lari. Tapi kalau ia lari, puluhan ribu budak di belakangnya akan dibantai habis.

"Bicaramu kebanyakan untuk seekor anjing penjaga."

Tanpa aba-aba, Cangtian menerjang cepat seperti anak panah lepas dari busurnya. Tanah di bawah kakinya retak. Dalam sekejap ia sudah di depan Xie Tu, mengayunkan alat tambangnya lurus ke leher.

Xie Tu menyeringai, tak menghindar. Ia hanya mengangkat gagang kapaknya dengan satu tangan untuk menangkis.

Trangg!

Benturan logam meledak, membuat telinga berdenging. Gelombang kejut menyapu debu di sekitar mereka.

Mata Cangtian melebar. Alat tambangnya yang bertenaga penuh berhenti total. Raksasa itu bahkan tidak mundur seinci pun. Getarannya berbalik ke lengan Cangtian, membuat telapak tangannya mati rasa dan ototnya nyaris robek.

"Cuma segini?" kekeh Xie Tu.

Dengan gerakan cepat untuk ukuran tubuhnya, ia memutar kapak dan menghantamkan sisi datarnya ke dada Cangtian.

Bum!

Cangtian terlempar, melayang dua puluh meter dan menabrak pilar batu sampai hancur.

"Cangtian!" jerit Paman Lu dari kejauhan.

Dari balik reruntuhan, Cangtian batuk keras dan memuntahkan darah. Sakit menusuk dadanya—tiga tulang rusuk patah. Pelindung Qi tipis Tingkat 1 sama sekali tak kuat menahan serangan dari kekuatan mentah Tingkat Puncak.

Kekuatan fisiknya terlalu besar. Zirahnya dilapis Qi, batin Cangtian, otaknya berputar cepat menganalisis. Alat karatan ini tidak bisa menembusnya. Satu hantaman telak lagi, aku pasti mati.

"Gimana, pahlawan kecil?" ejek Xie Tu, berjalan mendekat sambil menyeret kapaknya hingga memercikkan api. "Tulang fanamu sudah hancur?"

Cangtian menyeka darah dari mulutnya, mencoba bangkit merangkak. Ia mengambil segenggam debu vulkanik, matanya menyapu sekeliling—setiap bongkahan batu, setiap mayat pengawal dan setiap rantai besi yang berserakan.

Kalau tenaga mentah tidak cukup, pakai kelicikan.

Saat Xie Tu mengangkat kapak untuk serangan kedua, Cangtian melempar debu itu tepat ke wajahnya.

"Trik murahan!" dengus Xie Tu, menutup mata sejenak sambil menyapu debu dengan kapaknya.

Di detik itu, Cangtian sudah tidak ada di depannya. Ia meluncur di bawah ayunan kapak, meraih tombak perak dari mayat pengawal, lalu menusukkannya sekuat tenaga ke celah lutut belakang yang tidak terlindungi zirah.

Mata tombak itu menembus daging lututnya.

"Argh! Sialan!" raung Xie Tu. Kakinya goyah, tapi ia langsung memutar tubuh dan menendang dada Cangtian dengan kaki yang lain.

Cangtian terhempas mundur, sengaja memakai momentum tendangan itu untuk meluncur ke tumpukan gerobak hancur. Ia mendarat di antara gulungan rantai belenggu besi tebal.

Xie Tu, tertatih karena lututnya tertusuk, menunjukkan amarah yang mengerikan. Kesabarannya habis. Ia mencabut tombak dari lututnya dan membuangnya begitu saja.

"Sialan! Akan kubelah tubuhmu menjadi dua!"

Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi dengan dua tangan. Seluruh Qi di tubuhnya dialirkan ke bilahnya, membuat kapak itu bersinar biru.

Xie Tu melompat ke udara, mengayunkan kapak raksasanya ke arah Cangtian yang tampak sudah terpojok di antara tumpukan rantai.

Di detik yang seolah membeku, mata hitam Cangtian menyala dengan tekad bulat.

Ia tidak menghindar. Malah, ia duduk bersila di atas tanah dalam sepersekian detik.

Bagi siapa pun yang melihat, ia tampak sudah pasrah. Tapi di dalam tubuhnya, perjudian gila sedang berlangsung.

Cangtian menarik paksa seluruh sisa energi meteorit yang belum terserap di Dantian—tidak dialirkan pelan seperti lima malam terakhir, tapi ditabrakkan secara brutal ke dinding Dantiannya.

Krak!

Letupan yang hanya bisa ia dengar sendiri menggema di dalam tubuhnya. Sakitnya jauh melampaui patah tulang rusuknya. Tapi di saat yang sama, ukuran Dantiannya meluas dua kali lipat. Kapasitas Qinya meledak lebih besar.

Di ambang kematian, Ye Cangtian menembus batas menuju Ahli Persilatan Tingkat 2.

Tepat saat bilah kapak hanya sejengkal dari kepalanya, tubuh Cangtian meledak dengan aura hijau keemasan yang menyilaukan.

Dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata fana, ia berguling ke samping dan menghindar.

Bummm!

Kapak raksasa itu menghantam tanah tempat Cangtian berada sebelumnya. Kekuatannya membelah lapisan obsidian dan membuat bilah kapak menancap dalam ke tanah, terjepit di antara batu keras dan tumpukan rantai besi tebal.

Xie Tu terbelalak, mencoba menarik kapaknya.

"Sekarang," desis suara sedingin es dari sampingnya.

Xie Tu menoleh dengan panik, melihat Ye Cangtian yang kini diselimuti uap panas kemerahan, ia melompat dari atas batu besar tepat ke arahnya.

Alat tambang karatan di tangannya tak lagi kusam. Benda itu terlapis Qi Tingkat 2 yang memadat jadi bilah tak kasat mata. Cangtian mengayunkannya lurus ke celah sempit antara leher dan zirah Xie Tu.

"Tidak—!"

Crashhh!

Suara besi merobek daging menggema ke seluruh kawah. Alat itu menancap dalam ke leher Xie Tu, memotong tulang belakang dan menembus pita suaranya.

Mata merah Xie Tu melebar, ngeri dan tidak percaya. Mulutnya terbuka, tapi hanya darah kental yang keluar. Kepala Pengawas yang tak terkalahkan itu ambruk ke tanah.

Keheningan kembali menyelimuti Tambang Kematian Gunung Darah.

Xing Yun, Paman Lu, dan puluhan ribu budak berdiri mematung. Senjata mereka merosot ke tanah. Otak mereka tak mampu memproses apa yang baru saja mereka saksikan.

Di tengah kepulan debu yang menipis, sesosok bayangan berdiri di atas punggung mayat sang raksasa biru.

Ye Cangtian berdiri di sana. Jubahnya robek, darah mengalir dari dahi, mulut, dan sekujur tubuhnya. Napasnya terengah, tapi punggungnya tegak seperti gunung yang menolak runtuh.

Pelan-pelan ia mengangkat alat yang patah itu ke udara, menunjuk ke langit malam yang gelap.

Isakan pecah dari kerumunan. Paman Lu jatuh berlutut, air mata deras membasahi wajah keriputnya.

Lalu Xing Yun mengangkat alat tambangnya, berteriak sekuat tenaga.

"Kita menang!"

"Kita menang!"

"Hidup Sang Penyelamat!"

"Hidup!"

Raungan kebebasan dari puluhan ribu manusia meledak serempak. Suara mereka begitu dahsyat hingga mengguncang awan tebal di atas Gunung Darah.

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!