NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Nama yang Sama

Kalimat tentang Vanya tetap berputar di kepala Bima sepanjang perjalanan pulang.

Namun ia belum mengatakannya kepada Anindya.

Mereka berjalan berdampingan di trotoar yang hampir kosong. Jam di layar toko menunjukkan pukul dua lewat. Surabaya akhirnya sedikit lebih dingin, tetapi ketegangan dari Polsek masih mengikuti langkah mereka.

Anindya beberapa kali membuka mulut, lalu mengurungkan niat bicara.

"Kak Anin mau bilang apa?" tanya Bima akhirnya.

"Soal pekerjaan di Larissa."

Langkah Bima tetap stabil. "Besok jam berapa saya harus datang?"

Anindya berhenti.

Bima ikut berhenti dan menatapnya.

"Aku rasa... tawaran itu sebaiknya kita batalkan dulu."

Suara kendaraan jauh terdengar lebih jelas dalam jeda setelahnya.

"Karena kejadian malam ini?"

"Aku melihat kamu menjatuhkan tiga polisi dan melucuti pistol Iptu Kirana." Anindya merapatkan kedua lengan di depan tubuh. "Aku tahu kamu tidak berniat melukai mereka. Aku tahu Jarot menjebakmu. Tapi kantor bukan medan tempur, Bima."

"Saya bisa membedakan keduanya."

"Benarkah? Kamu memegang Jarot saat polisi sedang bekerja. Ketika mereka mencoba menghentikanmu, kamu melawan."

Bima tidak punya jawaban yang dapat menghapus gambar tersebut dari mata Anindya.

"Larissa sedang berusaha memperbaiki sistem keamanan," lanjutnya. "Kalau aku membawa orang yang bahkan riwayat kerjanya tidak jelas, lalu terjadi masalah, bukan cuma aku yang menanggung. Bu Vanya dan seluruh tim bisa kena dampaknya."

Nama itu menusuk perhatian Bima sekali lagi.

Bu Vanya.

Pemilik Larissa Couture.

Vanya Wijaya.

Ia ingin bertanya saat itu juga. Nama keluarga? Umur? Siapa pamannya? Namun rasa ingin tahu yang terlalu tajam akan membuat Anindya curiga.

"Kak Anin benar," katanya. "Tawaran itu milik Kak Anin. Kak Anin berhak menariknya."

Anindya tampak lebih tidak nyaman karena ia tidak membantah.

"Aku bukan menganggapmu orang jahat."

"Saya tahu."

"Aku juga tetap berterima kasih atas semua yang kamu lakukan."

"Saya tahu."

"Jangan jawab 'saya tahu' terus. Aku jadi merasa lebih bersalah."

Bima tersenyum kecil. "Kalau saya marah, apakah Kak Anin akan berubah pikiran?"

"Tidak."

"Kalau begitu lebih baik saya simpan tenaga. Hari ini sudah terlalu banyak orang dipukul."

Anindya menatapnya tajam, lalu sadar ia sedang bercanda. "Ini bukan hal lucu."

"Saya juga kecewa," ujar Bima jujur. "Tapi saya lebih menghargai Kak Anin bicara langsung daripada memberi harapan lalu membuat saya ditolak tanpa alasan."

Ketegangan di wajah Anindya sedikit turun.

"Aku minta maaf."

"Nggak perlu. Kita pisahkan pekerjaan dan urusan pribadi. Saya masih boleh menyimpan nama Kak Anin di ponsel, kan?"

"Untuk sementara."

"Syukurlah."

Mereka tiba di gerbang Apartemen Danau Utara. Doni sedang berada di pos, tetapi Anindya tidak berhenti untuk mengobrol. Ia hanya mengucapkan selamat malam, lalu masuk ke lift.

Bima menunggu sampai pesan pendek tiba.

Sudah masuk. Selamat istirahat.

Tidak ada sebutan Dik Bima kali ini.

Keretakan kecil itu nyata, meski belum cukup besar untuk memutus kedekatan mereka.

Doni menjulurkan kepala dari jendela pos. "Bang, bebas?"

"Seperti yang kamu lihat."

"Bang Jarot?"

"Masih diperiksa. Jangan sentuh barangnya, jangan menyebarkan cerita, dan jangan mengajak siapa pun merayakan."

"Siapa juga yang mau merayakan?" Doni menyembunyikan sebungkus kerupuk dan dua botol minuman di bawah meja.

Bima menghela napas. "Tidur setelah shift selesai."

"Terus pekerjaan di Larissa?"

"Batal."

Doni berkedip. "Hah? Setelah semua ini, Kak Anin malah batal membantu?"

"Keputusan profesional. Jangan salahkan dia."

"Tapi Bang jadi pengangguran."

"Terima kasih sudah mengingatkan."

Bima masuk ke asrama. Secara administratif, pemecatannya belum disahkan dan barang-barangnya masih berada di sana. Ia tidur hanya beberapa jam, lalu terbangun ketika cahaya pagi masuk melalui kisi-kisi bekas pintu garasi.

Doni dan petugas shift lain sudah keluar. Asrama sepi.

Bima duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Ia membuka catatan yang dibuat setelah berbicara dengan Kirana.

Vanya Wijaya.

Pemilik rumah mode di Surabaya.

Dibesarkan keluarga paman yang pernah menjabat di pemerintahan daerah.

Adik Surya.

Kemudian ia membuka percakapan dengan Anindya dan mengingat kata-katanya di warung.

Pemiliknya perempuan yang jauh lebih muda dan jauh lebih kaya dariku. Namanya Vanya.

Larissa Couture.

Tidak mungkin hanya kebetulan.

Bima mencari situs resmi serta alamat bisnis yang terbuka untuk publik. Hasil pertama menampilkan logo Larissa Couture, foto gedung kantor, dan profil singkat pendirinya.

Vanya Wijaya.

Wajah perempuan di layar memiliki garis mata yang sama dengan Surya. Lebih halus, lebih tenang, tetapi tidak mungkin salah. Dalam foto profil perusahaan ia mengenakan blazer krem dan berdiri di antara dua manekin. Keterangan di bawahnya menyebut pendiri sekaligus direktur kreatif Larissa Couture.

Bima memperbesar foto.

Selama satu setengah bulan ia mencari melalui alamat lama, tetangga, pasar, dan jejak keluarga yang telah berpindah. Jawabannya ternyata berada beberapa kilometer dari tempat ia bekerja, dan Anindya hampir membawanya masuk melalui pintu depan.

Hampir.

Tawaran itu sudah ditarik. Bima tidak akan memaksa Anindya mengubah keputusan atau menggunakan kedekatan mereka untuk menekan perusahaan.

Ia membuka halaman lowongan Larissa Couture. Posisi koordinator keamanan belum muncul, mungkin karena rekrutmen masih dilakukan secara internal. Namun alamat kantor dan nomor bagian umum tercantum jelas.

Bima bisa datang sebagai pelamar biasa.

Ia menelepon nomor bagian umum tanpa menyebut hubungan dengan Anindya. Seorang resepsionis menjelaskan bahwa perusahaan sedang mencari petugas keamanan pengganti dan menerima lamaran langsung sampai pukul sebelas. Pelamar harus membawa salinan KTP, surat pengalaman kerja bila ada, pasfoto, serta mengisi formulir pemeriksaan latar belakang.

"Kalau surat pengalaman kerja belum keluar?" tanya Bima.

"Tetap boleh mengajukan, Pak. Jelaskan status pekerjaan terakhir dalam formulir. Bagian SDM yang akan memverifikasi."

"Apakah harus punya rekomendasi orang dalam?"

"Tidak. Semua pelamar mengikuti wawancara dan uji dasar yang sama."

Jawaban itu cukup. Jalur resmi tersedia, dan ia tidak perlu menyeret nama Anindya ke dalamnya.

Bima mengumpulkan dokumen yang ada. Surat pengalaman kerja memang belum ia pegang, tetapi foto jadwal, kontrak lama, dan bukti pembayaran gaji dapat menunjukkan bahwa ia benar pernah bekerja sebagai satpam. Untuk bagian dua belas tahun di luar negeri, ia akan mengatakan kebenaran secukupnya: pekerjaan keamanan kontrak, tanpa nama organisasi.

Ia tidak perlu memberi tahu Vanya bahwa ia pernah memimpin orang-orang bersenjata. Tidak perlu menyebut utang nyawa, operasi terakhir Surya, atau foto yang tersimpan di dompet. Semua itu hanya akan membebani perempuan yang belum mengenalnya.

Pertama, ia harus memastikan keadaan Vanya, orang-orang di sekitarnya, dan ancaman yang mungkin tidak disadari.

Setelah itu, keputusan untuk mengenal Bima atau menolaknya tetap milik Vanya.

Ia menyimpan alamat kantor ke ponsel, lalu berdiri untuk menyiapkan pakaian.

Di layar, nama Larissa Couture berada tepat di bawah wajah Vanya Wijaya.

Bima menatapnya beberapa detik.

"Vanya," katanya pelan kepada kamar yang kosong. "Akhirnya aku menemukanmu."

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!