~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8 AROMA PINUS
****
Cahaya matahari yang menembus tirai tipis kamar itu jatuh lembut ke wajah Iris von Draewyn. Ia masih duduk di atas ranjang pribadi Grand Duke Darian, bersandar santai dengan selimut tebal membalut kakinya. Rambut peraknya terurai indah di atas bahunya, dan di tangan kanannya, semangkuk kecil sisa puding mangga sudah tinggal separuh.
Di hadapannya, Darian tengah berdiri di depan cermin tinggi, mengenakan pakaian kebesarannya yang dominan hitam dan keperakan. Lapisan jubah panjang bermotif lambang gagak Ravengard menjuntai hingga lantai. Pedang upacaranya tergantung di sisi pinggang kiri, memancarkan aura militer yang mutlak.
Iris memiringkan kepala, diam-diam mengamati. Sosok suaminya... terlalu tampan, terlalu sempurna, dan luar biasa intimidatif. Tidak heran banyak gadis bangsawan dari berbagai wilayah di kekaisaran Valeria memuja sang Panglima Tertinggi sebagai legenda hidup yang paling ditakuti.
Namun bukan hanya soal ketampanannya. Iris menatap dalam-dalam dan mendapati kekaguman muncul bukan karena wajah garangnya, tapi karena betapa manusiawinya sosok yang biasanya digambarkan sebagai jagal berdarah dingin itu kini tampak... tenang, rapi, dan nyaris hangat di pagi hari.
Dan yang membuatnya lebih heran, Grand Duke itu menyiapkan segalanya seorang diri tanpa memanggil pelayan.
Jubah militer. Sarung tangan kulit hitam. Bros lambang kebesaran.
Iris berkedip beberapa kali, lalu bersuara pelan,
“Darian...”
Darian menoleh sedikit dari cermin, alis tebalnya terangkat tipis. “Hm?”
Iris menggeser duduknya, menegakkan punggungnya yang disangga bantal.
“Kenapa tidak membiarkan pelayan menyiapkan semuanya untukmu? Kau... seorang Grand Duke dan Panglima Tertinggi. Bukankah biasanya kau dibantu?”
Darian menoleh penuh kali ini. Sorot mata kelabunya masih datar, tapi suaranya tidak lagi dingin menusuk.
“Aku lebih cepat melakukannya sendiri. Terbiasa seperti itu di medan perang. Tidak semua tenda komando punya kemewahan seperti istana.”
Iris mengangguk pelan, tertegun.
“Kalau begitu... sudah berapa lama kau hidup seperti itu? Sendiri?” tanyanya dengan nada pelan namun tulus.
Darian tidak langsung menjawab. Ia hanya mengaitkan bros pengancing jubah terakhirnya, lalu merapikan sarung tangan kulit di tangannya. Setelah itu ia baru menoleh, matanya menatap Iris lekat-lekat.
“Cukup lama untuk lupa... bagaimana rasanya dibantu karena seseorang peduli. Bukan karena protokol istana.”
Jawaban itu menghentikan napas Iris sejenak. Ada sesuatu dalam nada suara berat itu yang menggores pelan hatinya. Ia menatap Darian dalam-dalam, tapi pria itu sudah menunduk merapikan pedangnya.
Sunyi sebentar. Lalu Iris memberanikan diri berkata dengan senyum tipis,
“Kalau begitu... lain kali, bolehkah aku yang membantumu?”
Darian berhenti di tempat. Ia menoleh kaku. Tak ada senyum di wajahnya yang tegas. Tapi nada suaranya terdengar jauh lebih lembut saat menjawab.
“Lain kali... mungkin,” katanya pendek, lalu berjalan mendekati tempat tidur.
Iris tak berkedip.
Darian kini berdiri hanya satu langkah dari sisi ranjang. Bayangan jubah hitamnya menyelimuti ujung selimut tempat Iris duduk. Matanya menatap ke arah wajah istrinya, lalu perlahan turun ke perut yang mulai membuncit, terbungkus halus oleh kain tidur berlapis wol tipis.
“Tak perlu tergesa kembali ke kamarmu,” katanya perlahan. “Beristirahatlah di sini sepuasmu. Ruangan ini terlalu sepi untukku, dan... kau membuatnya terasa sedikit hidup pagi ini.”
Iris terperangah. Jantungnya terasa seolah berhenti berdetak sesaat.
Ia membuka mulut hendak berkata apa pun, tapi Darian sudah berbalik melangkah menuju pintu besar.
“Darian...” gumamnya tertahan.
Darian berhenti, menoleh sedikit ke samping tanpa membalikkan tubuh sepenuhnya.
Iris ingin bertanya kenapa ia berkata seperti itu. Kenapa sang panglima kejam mulai menunjukkan kehangatan. Tapi kata-kata tak kunjung keluar, dan Darian seolah memahami kebisuan itu.
“Aku akan kembali sore nanti,” katanya singkat. Lalu pintu kayu berat itu tertutup perlahan di belakangnya.
Sunyi kembali menguasai kamar besar bernuansa militer tersebut.
Iris masih terdiam beberapa saat. Ia menatap pintu, seolah tak percaya akan ucapan yang baru saja keluar dari bibir suaminya. Perlahan, ia mengalihkan pandangan ke tangannya yang kini kembali mengelus perutnya.
“Kau mendengarnya, ya?” bisiknya sambil tersenyum geli. “Ayahmu... bilang kamar ini terlalu sepi tanpa kita. Itu... di luar nalar.”
Janin di perutnya seolah merespons dengan satu gerakan kecil yang membuat Iris terkikik pelan.
“Aku juga bingung. Apa dia benar-benar Darian von Ravengard si jagal berdarah dingin?”
Ia lalu merebahkan tubuhnya kembali ke bantal, menarik selimut dan membenamkan diri dalam aroma lembut yang tertinggal di bantal suaminya—perpaduan aroma kulit, kayu pinus, dan udara dingin utara.
“Hmmm...” ia memejamkan mata. “Kalau begini... mungkin aku nggak keberatan numpang tidur di kamarnya terus.”
Ia mengelus perutnya lagi dengan jauh lebih lembut.
“Kau akan bantu Ibu, kan? Bantu Ibu membuat ayahmu benar-benar membuka hatinya. Bukan karena perjodohan politik. Tapi karena... takdir kita memang di sini.”
Dan untuk pertama kalinya sejak ia terjebak sebagai Grand Duchess of Ravengard, Iris merasa... rumah bukan lagi sekadar tempat melarikan diri, melainkan sebuah nama dan sebuah harapan baru.
Cahaya siang menyelinap lewat jendela besar kamar pribadi Grand Duke. Hangat, menyentuh pipi Iris yang masih bersantai di tengah ranjang megah itu.
Perlahan, kelopak matanya terbuka. Ia menggeliat ringan dan mengerjapkan mata beberapa kali. Rambut peraknya terurai di atas bantal hitam, kontras dan memukau.
Senyum kecil muncul di bibirnya saat ia menoleh ke kanan dan mendapati sisi ranjang kosong. Darian sudah pergi ke markas. Tapi... aroma hangatnya masih tertinggal di udara.
“Hmm…” gumamnya pelan, lalu bangkit perlahan, menyampirkan jubah tipis, dan berjalan santai keluar kamar menuju kamar utamanya sendiri untuk mandi dan bersiap.
Lorong-lorong Kastil Ravengard hari itu terasa jauh lebih terang dari biasanya. Entah karena matahari bersinar lebih cerah, atau karena ada aura berbeda yang terpancar dari sang Grand Duchess.
Iris berjalan melewati para pelayan dan ksatria yang sedang berpatroli. Rambut peraknya yang terurai lembut bergoyang mengikuti setiap langkahnya. Gaun rumahnya yang elegan dibalut selendang wol tipis berwarna pucat.
Para pelayan yang melihatnya sontak menghentikan aktivitas mereka sejenak. Beberapa menunduk dengan cepat penuh hormat.
“Selamat siang, Yang Mulia,” sapa seorang pelayan muda sambil menunduk dalam.
Iris tersenyum ramah dan mengangguk ringan. “Selamat siang juga.”
Pelayan itu hampir terlonjak kaget. Sang Grand Duchess... membalas sapaan dengan senyuman?
Beberapa pelayan lain saling melirik tak percaya. Seorang ksatria pengawal bahkan nyaris menjatuhkan tombaknya karena terlalu kaget melihat sang Nyonya tersenyum hangat pada staf istana.
“Apakah... Nyonya besar kita sedang tidak enak badan?” bisik salah satu pelayan pada rekannya dengan ngeri.
“Bukan sakit,” jawab pelayan lain dengan mata terbelalak kagum. “Itu... senyuman. Sumpah, baru kali ini aku lihat beliau senyum selebar itu!”
Iris tak memedulikan bisik-bisik para pelayan. Ia terus berjalan, entah kenapa hati kecilnya terasa sangat ringan hari ini. Mungkin karena tidurnya sangat nyenyak di pelukan sang suami, atau karena aroma pinus Darian yang masih melekat di ingatannya.
Sementara itu, jauh di jantung Kekaisaran Valerieth, tepatnya di Aula Marmer Putih tempat rapat strategis tingkat tinggi berlangsung...
Seorang pria bertubuh tinggi besar, mengenakan jubah kebesaran hitam bertrim perak khas Panglima Tertinggi, tengah berdiri tegak di samping meja rapat elips. Darian von Ravengard. Pembawa kemenangan dalam berbagai kampanye militer berdarah.
Namun hari itu... sorot matanya sangat berbeda.
Tidak setegang biasanya. Tidak setajam mata pisau seperti biasa.
Darian tampak tenang. Tidak terlalu banyak bicara, namun tatapannya tidak lagi membawa aura kegelapan yang mencekam. Justru ada seberkas kelegaan yang terpancar jelas.
Sang Kaisar Agung, Severan Altharion Valeria, yang duduk di kepala meja rapat, mengerling penuh selidik ke arah adiknya.
“Darian,” panggil Kaisar ringan sambil menanda tangani dokumen negara. “Ada angin apa pagi ini? Biasanya kau memasang wajah seperti badai petir mau mencukur kepala semua jenderal. Sekarang... auramu kayak angin musim semi.”
Darian menoleh pelan. “Tidak ada apa-apa, Yang Mulia.”
“Tidak ada apa-apa?” Kaisar Severan tertawa kecil. “Kau tidur lebih nyenyak, ya? Atau... istrimu akhirnya berhenti menangis dan mulai bicara waras padamu?”
Darian menutup map dokumen di hadapannya dengan tenang tanpa menanggapi candaan kakaknya. Matanya menatap lurus ke depan, menjawab pendek, “Rapikan pasukan di perbatasan utara. Aku ingin laporan taktis lengkap di mejaku minggu depan.”
Kaisar Severan menyandarkan diri ke kursi sambil mengangkat alis. “Dingin sekali... padahal aku cuma bertanya soal kehidupan rumah tanggamu.”
Dari ujung meja, Count Eldwyn Theros—penasihat militer kekaisaran—tersenyum tipis penuh arti.
“Yang Mulia Grand Duke,” ucap Count Eldwyn, “kalau saya boleh berpendapat... rona wajah Anda hari ini terlihat jauh lebih segar. Apakah Grand Duchess punya ramuan rahasia dari wilayah utara?”
Darian menoleh perlahan, menatap Count Eldwyn dengan tatapan tajam memperingatkan.
“Hanya tidur malam yang berkualitas. Tanpa drama tengah malam,” jawab Darian singkat.
Beberapa petinggi militer tertawa kecil mendengarnya. Tapi mereka semua bisa melihat dengan jelas bahwa pria paling ditakuti di Kekaisaran hari itu... untuk pertama kalinya tidak membawa beban amarah atau kegelapan bersamanya.
Sementara itu di Ravengard...
Iris telah kembali ke kamarnya dan tengah duduk di depan meja rias berukir emas, menyisir rambut peraknya dengan perlahan.
“Lisa pasti pangling lihat aku udah segar dan rapi begini sebelum dia datang bawain teh,” gumamnya sambil tersenyum kecil pada pantulan cermin.
Ia menatap bayangan dirinya. Wajah pucatnya mulai merona sehat, dan ada semangat baru yang membuncah di dadanya.
“Darian...” bisiknya pelan pada udara kosong.
Ia mengelus perutnya yang semakin membesar, membungkuk sedikit dengan penuh kasih sayang.
“Kau lihat, Nak? Ayahmu memang keras kepala dan kaku kayak balok es. Tapi... dia berhasil bikin emakmu tidur nyenyak untuk pertama kalinya.”
Terdengar suara ketukan pintu yang sopan.
“Yang Mulia,” suara Lisa terdengar dari balik pintu. “Saya membawa teh herbal hangat dan buah segar. Anda sudah bangun?”
Iris tersenyum lebar ke arah cermin.
“Masuk, Lisa. Aku sudah bangun sejak pagi.”
Dan hari itu dimulai bukan dengan rasa cemas atau isak tangis di lorong gelap, melainkan dengan langkah pasti, senyuman tulus, dan harapan hangat yang siap mengguncang seluruh tanah Ravengard.
Bersambung....