Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Yang Sebenarnya?
Masih membeku di depan Levi dengan cubitan pipinya, Emma tak mampu menggerakkan sedikitpun bibirnya sampai Levi merasa sedikit canggung. Perlahan, ia lepaskan cubitan halus dari pipi yang sudah berwarna pink merona itu bebarengan dengan Ibu Kantin yang menaruh semangkok nasi soto di atas meja.
"Hei, kenapa kamu malah bengong gitu. Aku kan jadi nggak enak," canda Levi dengan tangan yang menopang dagunya, menatap Emma dengan tatapan jahil.
"Lha kamu, tiba-tiba aja kayak gitu. Nanti kalau ada gosip tentang kita gimana coba? Hiii.... Aku nggak mau jadi topik gosip!" Kilah Emma, padahal bukan itu alasan sebenarnya ia diam membeku, itu lebih karena malu.
"Kalau digosipin sama kamu sih, aku nggak keberatan."
Baru kali ini, Emma mendengar gombalan Levi secara langsung. Dia memang sudah tahu kalau Levi itu playboy bertaraf nasional tapi dia tidak menyangka akan menjadi target gombalan mematikan itu.
"Ya...ya... Terserah kamu aja sih," Emma memutar matanya lalu melanjutkan memakan soto yang menggiurkan di depan matanya.
"Eh btw, kamu beneran nggak suka kan sama mas mas jawa itu?"
"Mas mas Jawa? Siapa? Tejo? Nggak lah, dia itu adik aku," jawab Emma sambil meniup sesendok penuh kuah soto.
"Ya kan kalau orang nggak tahu, pasti bilangnya kalian pacaran. Kemarin pas di bioskop, kalian malah asik pelukan." Ada nada tidak suka dari cara Levi mengungkapkan kata pelukan.
"Pelukan?" Emma heran dengan penglihatan Levi. Apakah dia punya rabun dekat? Apa mungkin Levi punya filter sendiri di matanya?
"Aku nggak pelukan. Tejo cuma menggandeng tanganku saja, tapi-" Emma berhenti sejenak, melihat Levi yang mengerutkan keningnya dan menyimak Emma dengan sangat fokus.
"Tapi kenapa aku harus menjelaskan semua ke kamu? Kamu cemburu?" Lanjut Emma.
"Uhuk uhuk!" Levi tiba-tiba tersedak kuah soto.
"Minum minum! Gak usah terburu-buru gitu. Aku juga nggak bakalan rebut makananmu." Emma menyodorkan es teh milik Levi.
Setelah Levi meminum es tehnya, dia malah yang gantian diam. Alih-alih mengajak Emma mengobrol, Levi malah melengos ke arah lain seperti tidak mau di ajak bicara. Apakah pertanyaan Emma tepat sasaran?
"Mmm vi..." Emma akhirnya memanggil namanya.
"Iya?" Kesunyian sejenak itu membuat atmosfer di sekitar mereka menegang. Levi merasa sedang diintrogasi tentang perasaannya. Sedangkan dirinya masih belum siap mengatakan jujur.
Udara semakin tercekat karena Emma tak kunjung mengutarakan alsannya memanggil nama Levi secara tiba-tiba. Kalau begini terus, Levi akan kehabisan nafasnya karena terlalu lama menahan nafas.
"Kamu tahu anak yang bunuh diri di sekolahan beberapa minggu yang lalu?" Tanya Emma melenceng jauh dari perkiraan Levi.
"Anak? Oh, oh... Itu?" Levi sepertinya mengharapkan pertanyaan lain, sampai-sampai ia terbata-bata.
"Iya, bukannya kamu wali kelasnya?" Emma memelankan suaranya berpura-pura menggosip.
"Iya, aku wali kelas Dion. Tapi bukannya kasus itu sudah di tutup? Kan polisi sudah mengatakan kalau itu kasus bunuh diri," jelas Levi dengan kalimat yang lebih tertata.
"Kamu nggak ngerasa aneh gitu? Sama tingkah lakunya sebelum memutuskan bunuh diri?" Tanyanya.
"Nggak ada yang aneh, semua normal," jawab Levi.
"Bukankah itu justru aneh? Anak yang mau bunuh diri tapi bertingkah normal. Bukankah seharusnya dia merasa tertekan, makanya memutuskan sesuatu yang mengerikan seperti itu?"
Levi tercengang dengan semua ucapan Emma. Bukankah Emma adalah guru baru? Kenapa dia harus ikut campur kejadian yang terjadi sebelum ia datang. Atau itu karena....
"Kamu pasti trauma lihat kejadian itu tepat di depan mata?" Tanya Levi yang menganggap Emma sedang trauma karena menyaksikan kejadian mengerikan itu secara langsung.
"He em, itu juga alasanku melamar pekerjaan disini. Dokterku bilang, aku harus berani menghadapinya," jawab Emma lancar.
'Ah jadi itu alasannya,' batin Levi.
Sebenarnya Levi sangat bertanya-tanya tentang sikap Emma di gudang. Dia seperti melihat seseorang yang sedang bermain detektif-detektifan.
"Lalu aku dengar, Dion sempat hilang dua hari sebelum akhirnya melakukannya, kamu pasti tahu kan?" Tanya Emma, menyipitkan matanya lurus ke arah Levi sampai dirinya merasa sedang dilucuti.
"Aku tidak tahu kamu dapat info dari mana, tapi info itu tidak benar!" Jawabnya dengan wajah menegang merah.
"Benarkah? Atau kamu yang sengaja menyembunyikannya?" Emma kembali mencecar Levi dengan pertanyaan yang menohok hingga ia tak berselera untuk makan.
"Ehem, kok rasanya kayak diintrogasi ya? Kamu cocok deh kalau jadi polisi." Levi berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Vi, bukankah kita teman? Kamu nggak perlu berbohong padaku. Aku tahu kamu bukanlah orang yang jahat."
Emma perlahan menyentuh dan menggenggam tangan Levi yang menganggur di atas meja. Setelah mendalami kasus ini, Emma merasa Levi salah satu teka teki yang harus dipecahkan.
"Aku nggak tahu mi, aku benar-benar tidak tahu."
Levi menggeleng dan menatap tangan Emma yang menggenggamnya dengan erat. Ada semburat kepedihan dan keraguan di ujung matanya. Emma bisa mengetahui bahwa idola itu sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau kembali ke kantor." Emma melepaskan genggamannya, menyisakan rasa hangat di sentuhan tangannya. Membuat Levi menginginkannya lagi.
.
.
.
Dalam perjalanannya menuju Kantor Guru, Emma melihat Bimo dan Tio sedang mengobrol di depan lorong Kamar Mandi. Mereka terlihat sedang berdebat, atau lebih tepatnya Tio sedang memarahi Bimo yang duduk tertunduk di kursi beton depan kamar Mandi.
Lalu, tanpa sengaja mata Tio dan Emma saling bertemu. Itu membuat Tio bergegas untuk pergi dari Bimo, sedangkan Bimo masih termenung seperti tidak berdaya.
"Kamu sedang apa disini? Bukannya ini masih jam pelajaran?" Emma menghampiri Bimo dan duduk di sampingnya, membuat Tio yang sudah berjalan jauh menoleh ke arah mereka.
"Tolong Miss! Jangan ganggu aku! Emangnya Miss nggak punya kerjaan?" Bimo menjawab dengan sangat ketus, namun di mata Emma, Bimo yang ada di depannya ini sedang merengek meminta tolong.
"Apakah Tio mengganggumu?" Tanya Emma.
"Cih, Tio menggangguku? Mana berani dia? Sekali tinju aja badan lemesnya langsung ambruk," ucapnya cengengesan.
"Are You sure?" Tanya Emma memastikan.
"Sure sure," Bimo mengangguk dengan memamerkan giginya.
"Ngomong-ngomong Bim, kamu tahu rumahnya Dion?"
"Rumah Dion? Kok tiba-tiba?" Tanya Bimo kembali.
"Miss cuma mau memberikan sesuatu, walaupun Miss belum pernah bertemu Dion, tapi Miss harus tetap peduli kan," ucapan Emma membuat Bimo melongo.
Bimo kembali menunduk dan mengusap matanya yang mungkin sudah basah.
"Senang banget rasanya, ada guru yang masih peduli sama Dion." Dia tersenyum manis, membuat Emma terkejut karena tidak menyangka murid yang ia juluki sebagai serigala 1 ini bisa menunjukkan senyuman manis. Memang benar, kita tidak boleh melihat hanya dari luarnya saja.
"Eyy... Masih banyak kali guru yang peduli. Salah satunya Pak Levi. Dia kan wali kelas kalian, pasti beliau juga peduli," ucap Emma.
"Hah? Pak Levi peduli? Jangan buat aku tertawa Miss!"
Bimo mengucapkan kalimat aneh itu sambil menulis alamat Dion di kertas yang diberikan oleh Emma.
"Jangan asal tuduh Bim! Pak Levi tidak mungkin tidak peduli."
"Oh ya? Oke oke aku percaya deh, hehe."
Namun tawa kecil Bimo tiba-tiba terhenti berubah menjadi ekspresi ketakutan.
"Miss, kayaknya aku harus kembali ke kelas deh," Bimo langsung memberikan kertas itu dan beranjak dari tempat duduknya.
'Kenapa dia seperti ketakutan?'
Emma melihat sekeliling untuk mencari sumber ketakutan Bimo. Dan dia melihat Levi dan Martin yang berjalan bersama-sama menuju ke Kantor Guru.
"Siapa? Levi? Atau Martin?" Emma mencoba menerka siapakah yang ditakuti oleh Bimo.
.
.
.