NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 — Perpecahan yang Menganga

"Luka! Jaga mulutmu di hadapan seluruh suku!" suara Aron menggelegar dari anak tangga balai suku, berat dan penuh tekanan.

Pria tegap itu melangkah turun.

Matanya menatap tajam ke arah Luka, lalu beralih pada Ayla yang bersembunyi di balik punggung pemuda itu.

Luka tidak menyembunyikan wajahnya. Ia tetap berdiri tegak, membusungkan dada di hadapan Kepala Suku. "Aku tidak salah, Kepala Suku! Suku ini terlalu kaku dan dingin. Ayla cuma ingin menyelamatkan nyawa, tapi Yana dan para pemburu justru memperlakukannya seperti musuh!"

"Dia mencampuri urusan internal suku dan mempertaruhkan nyawa semua orang di suku!" bentak Paman Bimo dari samping meja batu. "Anak serigala itu berbahaya!"

"Bagi Paman bahaya, tapi bagi orang yang punya hati, itu belas kasih!" balas Luka lantang, sama sekali tidak ada rasa segan.

Aron berhenti dua langkah di depan Luka.

Aura kepemimpinannya membuat beberapa pemburu muda di sekitarnya menunduk, tetapi Luka tetap bertahan pada posisinya.

"Kamu adalah calon menantuku dan salah satu pemanah terbaik suku," kata Aron dengan nada rendah yang berbahaya. "Tapi bertindak tidak sopan pada putriku dan mengancam keselamatan semua orang didalam suku demi wanita asing yang baru datang... kamu sudah melewati batas, Luka."

"Aku tidak peduli!" potong Luka cepat, tanpa penyesalan sedikit pun. "Kalau kebenaran harus membuatku dibenci, aku tidak masalah!"

Ayla menyentuh lengan Luka pelan, memasang wajah cemas. "Luka, sudah... jangan bertengkar gara-gara aku."

"Tidak, Ayla. Kamu tidak salah," bisik Luka lembut pada Ayla, lalu kembali menatap Aron dan Yana. "Aku tidak akan minta maaf untuk hal yang benar."

Yana melangkah maju satu langkah.

Wajahnya tenang, matanya menatap Luka tanpa kemarahan.

"Sudah selesai bicaranya?" tanya Yana datar.

Luka mengerutkan dahi, merasa jengkel dengan reaksi Yana yang begitu dingin. "Kamu tidak punya rasa malu, Yana? Semua orang melihat betapa kerasnya hatimu!"

"Kalau begitu, bawa anak serigala itu keluar dari area pemukiman jika kamu mau merawatnya," kata Yana lugas pada Luka dan Ayla. "Jangan pakai jatah daging suku untuk memberinya makan, dan jangan biarkan dia melukai suku kita. Itu keputusanku sebagai anak Kepala Suku."

Yana menoleh pada ayahnya. "Ayah, tidak perlu memperpanjang masalah ini. Biarkan pemburu melanjutkan pekerjaan mereka."

Aron menatap Yana sejenak, lalu menghela napas berat. Ia mengibaskan tangannya pada warga. "Bubarkan kerumunan! Paman Dirga, urus sisa buruan!"

Warga perlahan membubarkan diri dengan bisik-bisik yang riuh. Namun, ketegangan di tengah lapangan jelas tidak hilang begitu saja.

Ketegangan itu menyebar cepat ke seluruh suku dalam beberapa hari berikutnya. Pengaruh Ayla tidak hanya memikat Luka, tetapi juga mulai menarik simpati beberapa pemuda pemburu lainnya.

Di pinggiran lapangan, tiga pemuda suku berdiri mengelilingi Ayla yang sedang mengeringkan dedaunan obat.

"Tetua Gordon itu terlalu tua dan penakut," cetus salah satu pemandu jalan muda. "Usulan Ayla untuk buka lahan baru itu bagus. Kenapa kita harus menunggu musim semi kalau bisa curi start sekarang?"

"Iya," timpal pemuda lain. "Kalau kita dapat hasil panen lebih cepat, kita tidak perlu terus-menerus bergantung pada jatah daging yang makin sedikit dari Paman Bimo."

Tetua Gordon yang kebetulan melintas berhenti dan menatap para pemuda itu dengan kening berkerut. "Jaga ucapan kalian! Buka lahan di musim dingin itu membahayakan suku!"

Salah satu pemuda itu berdiri menantang Tetua Gordon. "Tetua cuma tidak mau mengakui kalau cara Ayla lebih pintar dari cara-cara tua suku ini!"

"Kurang ajar!" bentak Paman Bimo yang muncul dari balik kemah penyimpanan kayu bakar. "Kalian anak-anak muda baru bisa memegang busur kemarin sore sudah berani menunjuk wajah Tetua?!"

"Kami cuma bicara kenyataan, Paman Bimo!" balas Luka yang tiba-tiba bergabung. "Suku ini tidak akan maju kalau terus dipimpin oleh orang-orang yang penakut!"

Perselisihan antara kelompok pemburu senior yang setia pada Aron dan para pemuda pengagum Ayla makin sering terjadi. Balai suku yang biasanya hangat, kini dipenuhi perdebatan dingin setiap malam.

Seminggu kemudian, dampak nyata dari perpecahan itu mulai terlihat.

Pagi-pagi sekali, Paman Bimo berlari terengah-engah menuju rumah Kepala Suku. Ia menggedor pintu kayu dengan kencang.

Brak! Brak! Brak!

Aron membuka pintu bersama Yana yang sudah bersiap dengan mantel kulitnya.

"Ada apa, Bimo?" tanya Aron cemas.

"Bencana, Aron!" seru Paman Bimo dengan wajah memerah menahan amarah. "Luka, dan lima pemuda lainnya... mereka tidak ada di kelompok berburu pagi ini!"

Yana menyipitkan mata. "Ke mana mereka pergi?"

"Mereka pergi ke batas Lembah Timur bersama Ayla!" bentak Paman Bimo. "Mereka membawa kapak tebang dan cangkul dari gudang persediaan! Mereka nekad membuka lahan pribadi untuk Ayla!"

Aron mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih. "Enam pemburu kuat pergi memotong kayu di luar batas wilayah suku? Lalu siapa yang mengisi jatah buruan suku hari ini?!"

"Tidak ada!" jawab Paman Bimo geram. "Jatah buruan kita berkurang hampir setengahnya! Kalau ini dibiarkan tiga hari saja, persediaan daging musim dingin untuk anak-anak dan orang tua di pemukiman pasti krisis!"

Yana berjalan ke tepi teras rumah, menatap ke arah jalur Lembah Timur yang tertutup salju tipis.

Ayla berhasil memecah pertahanan internal suku dari dalam. Dengan memanfaatkan ego Luka dan para pemuda yang haus pengakuan, Ayla menarik kekuatan utama pemburu suku hanya untuk membuktikan bahwa idenya benar.

"Ayah, kita tidak bisa membiarkan mereka di sana," kata Yana tenang namun tegas. "Ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat. Ini sudah merusak aturan kelangsungan hidup suku kita."

"Ayo kita susul mereka ke Lembah Timur," pangkas Aron keras, mengambil tombak utamanya dari samping pintu. "Aku sendiri yang akan menyeret Luka kembali!"

Di pinggiran Lembah Timur, suara tebasan kapak membentur kayu membahana di tengah sepinya hutan timur yang membeku.

Enam pemuda tampak bersimbah keringat menumbangkan pohon-pohon kecil di bawah petunjuk Ayla.

Ayla berdiri di atas batu datar, membawa peta kasar buatan tangannya. Senyum puas mengembang di wajahnya melihat pohon-pohon mulai rubuh, menyingkapkan tanah hitam di balik salju.

"Hebat, Luka!" puji Ayla manis seraya menyerahkan wadah air pada Luka yang baru saja menumbangkan batang cemara. "Kalau kita bersihkan area ini dalam tiga hari, kita bisa membuktikan pada seluruh suku kalau Yana dan ayahnya salah."

Luka menerima wadah air itu dengan bangga, mengusap keringat di dahinya. "Aku akan buktikan padamu, Ayla. Kamu tidak perlu takut lagi pada Yana."

"Terima kasih, Luka," bisik Ayla lembut. "Cuma kamu yang benar-benar mengerti aku di suku ini."

Namun, saat Luka hendak kembali mengayunkan kapaknya, langkah kaki berat yang ramai terdengar mendekat dari balik semak-semak lebat.

Aron, Yana, Paman Bimo, dan sepuluh pemburu senior muncul dengan senjata terhunus di tangan. Wajah Aron terlihat sangat gelap, penuh dengan amarah yang siap meledak kapan saja.

"Hentikan!" teriak Aron dengan suara yang menggetarkan pepohonan di sekitar mereka.

Luka menurunkan kapaknya, melangkah ke depan membentengi Ayla bersama lima pemuda lainnya. "Kami tidak akan berhenti, Kepala Suku! Kami berhak membuka tanah ini demi masa depan!"

"Masa depan?!" pangkas Yana melangkah maju melewati ayahnya. Tangannya menunjuk ke arah tanah yang baru saja dibersihkan para pemuda itu.

Mata Yana menatap Ayla dengan dingin dan tajam.

"Kalian membakar semak dan menumbangkan cemara pelindung angin di celah lembah ini," kata Yana, suaranya tenang namun membuat udara sekitar terasa makin membeku. "Apa pemandu genius kalian ini tidak memberitahu kalian... bahaya apa yang baru saja kalian bangunkan dari balik bukit itu?"

Ayla tertegun, raut wajahnya mendadak berubah kaku. "A-apa maksudmu, Yana? Jangan menakut-nakuti mereka!"

Tepat saat kalimat Ayla selesai, raungan keras yang dalam dan gaung melengking memecah keheningan Hutan Hitam dari balik bukit yang baru saja digunduli. Tanah di bawah pijakan mereka mendadak bergetar pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!