Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kehidupan
Malam itu terasa lebih lama dari biasanya bagi Yaya. Setelah menangis hingga mata menjadi merah dan bengkak, dia perlahan bangkit dari tepi ranjang dan mendekati jendela kamar tamu yang menghadap ke arah gedung-gedung tinggi lainnya. Cahaya lampu jalan yang menerobos celah tirai membuatnya bisa melihat bayangan dirinya yang tercermin di kaca jendela, wajah muda dengan rambut pirang kemerahan dan mata biru muda yang kini penuh dengan kesedihan.
"Apa aku benar-benar pantas berada di tempat seperti ini?" bisiknya pada diri sendiri, menyentuh permukaan kaca dengan jari-jari yang sedikit gemetar. "Semua orang selalu bilang aku beban... dan mungkin saja mereka memang benar."
Yasmin berjalan menuju lemari yang berdiri rapi di sudut kamar. Ketika dia membukanya, aroma pewangi yang lembut menyambutnya, sangat berbeda dengan bau debu dan kayu yang selalu mengiringinya di desa. Dalam lemari tersebut, tersusun rapi berbagai jenis pakaian wanita mulai dari gaun hingga pakaian dalam yang masih baru dan belum pernah dipakai.
"Wah... ini semua begitu cantik," gumamnya sambil menyentuh kain gaun yang lembut seperti kapas. "Di desa, kain seperti ini hanya dipakai pada acara-acara besar sekali saja."
Yaya memilih sebuah piyama katun berwarna biru muda yang terlihat paling nyaman, kemudian masuk ke kamar mandi yang membuatnya semakin terkejut. Air panas yang mengalir dengan sendirinya dari keran membuatnya terpana.
"Air yang bisa panas dengan sendirinya? Tidak perlu menyulut kayu untuk memasaknya?" dia bertanya pada diri sendiri, mencoba memahami bagaimana keran tersebut bekerja. Ketika dia menekan tombol kecil di dinding, pancuran air mulai menyemprotkan air hangat yang membuatnya sedikit terkejut namun juga merasa nyaman.
"Sungguh ajaib..." ucapnya pelan sambil merasakan aliran air yang menyentuh kulitnya yang putih seperti tepung. Dia tidak bisa menghindari memikirkan kata-kata yang selalu menyakitkan dari orang-orang desa. "Kulitmu itu aneh, Yasmin. Seperti putihnya plamor tembok." "Jangan terlalu dekat dengan kami, kamu akan membawa kutukan."
Setelah mandi dan mengenakan piyama yang lembut di kulitnya, Yaya keluar dari kamar mandi dan melihat sebuah meja rias yang penuh dengan botol-botol kecil yang dia tidak tahu fungsinya. Dia duduk perlahan di depan cermin yang jelas mencerminkan setiap detail wajahnya, termasuk bekas luka kecil di pipi kirinya akibat pukulan Ibu Manda beberapa hari yang lalu.
"Bekas ini tidak akan hilang kan?" ucapnya sambil menyentuh bekas luka itu dengan lembut. "Ibu Manda bilang ini adalah tanda bahwa aku tidak berharga... tapi kenapa aku merasa ini seperti bukti bahwa aku pernah bertahan?"
Di luar kamar tamu, Baskara telah selesai merokok dan masuk ke kamar utamanya. Dia membuka lemari pakaiannya yang luas, mencari baju tidur yang bisa dikenakan, namun pikirannya terus kembali pada wajah Yaya yang kaget dan bingung tadi.
"Kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini?" bisiknya pada cermin kamar utamanya.
Dia mengambil sebatang rokok dari kotaknya dan menyalakannya, meniupkan asap ke arah jendela kamar. Suara telepon yang berdering membuatnya terkejut, ternyata adalah Ilham yang menelepon dari rumahnya.
"Pak Baskara? Maafkan saya menghubungi Bapak selarut ini." suara Ilham terdengar sedikit tergesa-gesa dari ujung telepon.
"Tidak apa-apa, Ilham. Ada apa?" tanya Baskara dengan nada yang masih penuh kesal.
"Orang kepercayaan kita sudah melakukan penyelidikan awal tentang Pak Wijaya, Pak. Ternyata dia telah terlibat dalam beberapa kasus serupa sebelumnya, mencoba menjebak pebisnis lain dengan kejadian yang sama untuk mendapatkan keuntungan dalam perjanjian kontrak kerjasama. Karena kejadian seperti itu akan Pak Wijaya gunakan untuk mengancam relasinya." jelas Ilham. "Sebagian buktinya sudah terkumpul karena orang kita bergerak cepat dan Saya siap melaporkannya ke pihak berwenang kapan saja bapak perintahkan."
Baskara menghela napas dalam-dalam. "Jangan dulu, Ilham. Aku akan membalasnya lebih dulu dengan caraku sendiri. Setelah itu baru kita menjeratnya sesuai hukum. Dia harus membayar mahal atas apa yang terjadi padaku karena kelicikannya." Ucap Baskara sambil meniupkan asap rokok lagi. "Ada satu hal lagi yang perlu kamu lakukan untuk saya."
"Apa itu, Pak?"
"Cari tahu semua yang bisa kamu temukan tentang Yasmin Nayara. Asal-usulnya, keluarga yang sebenarnya, dan apa yang benar-benar terjadi di desa tempat dia tinggal. Saya perlu tahu dengan tepat siapa yang saya nikahi," kata Baskara dengan suara yang semakin serius.
"Baik, Pak. Saya akan segera mengurusnya dan memberikan laporan kepada Bapak secepatnya," jawab Ilham. "Oh, iya Pak... apakah ada kebutuhan khusus untuk di apartemen? Utamanya untuk Nona Yasmin"
Baskara melihat ke arah pintu kamar tamu yang tertutup rapat. "Tidak perlu untuk saat ini. Kita akan melihat bagaimana situasinya berkembang terlebih dahulu. Sekarang, fokus saja pada tugas yang saya berikan."
Setelah mengakhiri panggilan dengan Ilham, Baskara merokok sambil merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia telah tumbuh besar dalam dunia bisnis yang keras dan penuh dengan aturan. Anak tunggal dari keluarga Narendra yang menguasai salah satu kerajaan bisnis terbesar di Indonesia, dia telah diajarkan sejak kecil bahwa reputasi adalah segalanya.
"Entah bagaimana reaksi Papa dan Mama nantinya." bisiknya pada diri sendiri.
Baskara tidak bisa membayangkan akan seperti apa reaksi orang tuanya saat tahu dirinya menikah dengan gadis Albinisme. Padahal selama ini Mamanya selalu menawarkan perjodohan dengan anak dari teman sosialitanya yang tentu saja dari keluarga terpandang.
*****>>>{}<<<****