NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Kring!

Suara alarm dari ponsel retak milik Anton memecah keheningan pagi.

Dia segera terbangun dan mengusap wajahnya yang masih terasa sedikit kaku.

"Apakah kejadian semalam hanya mimpi?" gumam Anton sambil beranjak dari kasur lipatnya.

Dia menatap dinding triplek kamarnya dan mencoba memfokuskan pikirannya.

Tembus, batin Anton memberi perintah.

Seketika, dinding triplek itu seolah menghilang dari pandangannya.

Anton bisa melihat dengan jelas ibu kosnya sedang menyapu halaman di luar sana.

"Ini nyata," ucap Anton sambil tersenyum lebar.

Dia bergegas mandi, memakai pakaian rapi namun sederhana, dan langsung berangkat menuju Pasar Barang Antik Sudirman.

Brak!

Suara pintu angkot ditutup terdengar saat Anton turun di depan gapura besar.

Gapura itu bertuliskan Pasar Loak dan Barang Antik Sudirman.

Suasana pasar pagi itu sudah sangat ramai oleh para pedagang dan pemburu barang antik.

"Ayo dipilih, dipilih, barang peninggalan zaman Majapahit!" teriak seorang pedagang dengan semangat.

"Guci asli Dinasti Ming, murah saja untuk penglaris hari ini!" sahut pedagang lainnya di seberang jalan.

Anton tersenyum tipis mendengar teriakan-teriakan promosi yang berlebihan itu.

Dia tahu persis bahwa sembilan puluh sembilan persen barang di sini adalah barang palsu.

Anton berjongkok di depan sebuah lapak yang dijaga oleh pria paruh baya berkumis tebal.

"Anak muda, matamu sangat tajam," sapa pria berkumis itu sambil tersenyum licik.

"Silakan lihat-lihat, lapak Pak Kumis ini hanya menjual barang asli," tambahnya dengan penuh percaya diri.

Anton mengangguk pelan dan mengambil sebuah piring keramik bermotif naga.

"Piring ini terlihat bagus, Pak," ucap Anton sambil membolak-balik piring tersebut.

"Tentu saja!" seru Pak Kumis sambil menepuk dadanya.

"Itu adalah piring peninggalan kaisar dari zaman kuno yang kudapatkan dari seorang kolektor tua."

"Harganya lumayan, tapi khusus untukmu, aku kasih lima juta saja," ucap Pak Kumis menawarkan harga.

Anton hampir saja tertawa mendengar nominal yang disebutkan oleh pedagang itu.

Dia segera mengaktifkan [Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1] miliknya.

Dalam hitungan detik, struktur piring keramik itu terlihat jelas di mata Anton.

"Barang buatan pabrik modern, bahkan masih ada sisa cetakan mesin di bagian dalamnya," batin Anton geli.

"Terima kasih tawarannya, Pak, tapi aku sedang mencari barang yang lebih unik," tolak Anton dengan halus.

Dia meletakkan kembali piring itu dan bersiap untuk berdiri.

"Eh, tunggu dulu anak muda!" tahan Pak Kumis dengan cepat.

"Kalau kamu mencari yang unik, aku punya barang spesial di kotak ini," ucapnya sambil menarik sebuah kardus usang.

Pak Kumis mengeluarkan sebuah patung kayu berbentuk kuda yang sudah berdebu dan sebagian catnya mengelupas.

"Ini patung kuda dari kayu cendana asli, peninggalan keraton," jelas Pak Kumis dengan nada meyakinkan.

Anton kembali menggunakan kemampuannya untuk mengamati patung kuda tersebut.

Pandangannya menembus lapisan kayu yang terlihat rapuh itu.

Tiba-tiba, mata Anton terbelalak kaget.

Di dalam perut patung kuda kayu yang berongga itu, terdapat sebuah benda kecil yang disembunyikan.

Benda itu berbentuk seperti koin tebal, namun memancarkan aura hijau yang sangat pekat dan jernih.

"Itu bukan koin biasa, teksturnya seperti batu giok kualitas tinggi," batin Anton sambil menahan nafas.

Jantungnya berdebar kencang, tapi dia berusaha keras menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

"Patung yang jelek sekali," ucap Anton dengan nada meremehkan.

"Kayunya sudah keropos dan catnya juga sudah hancur begini," tambah Anton sambil membolak-balik patung itu.

Wajah Pak Kumis sedikit cemberut mendengar kritikan Anton.

"Anak muda, dalam dunia barang antik, penampilan luar itu tidak penting," bela Pak Kumis.

"Nilai sejarahnya yang membuat barang ini berharga," tambahnya bersikeras.

Anton meletakkan patung itu kembali ke dalam kardus dengan gerakan santai.

"Menurutku ini cuma kayu rongsokan biasa yang cocok untuk kayu bakar," ucap Anton.

"Aku pergi ke lapak lain saja," kata Anton sambil berdiri dan membalikkan badannya.

"Hei, hei, jangan buru-buru!" panggil Pak Kumis dengan panik.

Dia tidak ingin kehilangan calon pembeli pertamanya hari ini.

"Bagaimana kalau lima ratus ribu?" tawar Pak Kumis menurunkan harganya drastis.

Anton berhenti melangkah dan menoleh ke belakang dengan wajah datar.

"Lima puluh ribu," tawar Anton tanpa ragu sedikit pun.

"Apa?" mata Pak Kumis melotot lebar.

"Kamu merampokku, anak muda? Ini barang bersejarah!" protesnya dengan suara keras.

"Kalau begitu simpan saja barang bersejarah Bapak itu," balas Anton santai sambil melangkah pergi.

"Tunggu!" teriak Pak Kumis sambil menghela nafas panjang.

"Tiga ratus ribu, itu harga pas, aku sudah rugi bandar ini," keluh Pak Kumis dengan wajah memelas.

Anton kembali berjongkok dan menatap mata pedagang itu dalam-dalam.

"Seratus ribu," ucap Anton tegas.

"Ini tawaranku yang terakhir, kalau tidak mau ya sudah," tambahnya sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompet tipisnya.

Pak Kumis menatap uang merah itu dengan bimbang selama beberapa detik.

"Baiklah, baiklah, ambil sana!" ucap Pak Kumis sambil merebut uang dari tangan Anton.

"Dasar anak muda pelit, merusak harga pasar saja," gerutunya pelan.

Anton tersenyum lebar dan segera mengambil patung kuda kayu tersebut.

"Terima kasih, Pak, semoga dagangannya laris," ucap Anton sambil beranjak pergi.

Dia berjalan menjauh dari lapak Pak Kumis dengan langkah riang.

Tangan kirinya menggenggam erat patung kuda yang tampak tidak berharga itu.

"Dengan ini, nasibku akan segera berubah," batin Anton penuh semangat.

Dia berjalan mencari tempat yang sepi dan aman di sudut pasar.

Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, Anton mengeluarkan patung itu.

Dia memegang bagian kepala dan ekor patung kuda tersebut.

Krak!

Dengan sedikit tenaga, patung kayu yang sudah rapuh itu terbelah menjadi dua bagian.

Sebuah benda bulat pipih jatuh ke telapak tangan Anton.

Benda itu tertutup lapisan lumpur kering yang sangat tebal.

Anton mengikis lumpur itu perlahan-lahan menggunakan ibu jarinya.

Sedikit demi sedikit, warna hijau zamrud yang sangat memukau mulai terlihat.

Di bawah cahaya matahari pagi, benda itu memancarkan kilau yang luar biasa indah.

"Astaga," gumam Anton dengan suara bergetar.

Itu adalah sebuah liontin giok kekaisaran dengan ukiran naga yang sangat detail dan halus.

Walaupun Anton bukan ahli barang antik, dia tahu pasti bahwa giok dengan kejernihan seperti ini sangatlah langka.

"Ini giok kaca tingkat tinggi," ucap Anton tidak percaya.

Dia pernah melihat giok serupa di sebuah acara lelang televisi, dan harganya mencapai miliaran rupiah.

"Dimas, Rina, tunggu tanggal mainnya," batin Anton sambil menggenggam liontin giok itu dengan erat.

"Kalian pikir uang ratusan juta kalian sudah hebat?"

"Aku akan menunjukkan kepada kalian apa itu kekayaan yang sesungguhnya," seringai Anton.

Anton segera memasukkan liontin giok itu ke dalam saku celananya dengan hati-hati.

Tujuan selanjutnya adalah Toko Barang Antik Mustika, toko paling besar dan terpercaya di pasar ini.

Dia butuh ahli penilai sungguhan untuk mengubah giok ini menjadi uang tunai.

Kring!

Suara lonceng pintu berbunyi saat Anton melangkah masuk ke dalam Toko Mustika.

Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyapu wajahnya, sangat kontras dengan cuaca panas di luar.

Interior toko ini sangat mewah, dengan rak-rak kaca yang memajang berbagai barang antik bernilai tinggi.

"Selamat datang di Toko Mustika," sapa seorang wanita muda dengan seragam kerja yang rapi.

Wanita itu memiliki wajah yang cantik natural dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi.

Namanya tertulis di tanda pengenal dadanya, Bella.

"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya Bella dengan senyum ramah yang profesional.

Meskipun penampilan Anton terlihat kusam dan sederhana, Bella tidak menunjukkan sikap meremehkan sama sekali.

"Aku ingin menjual sebuah barang," jawab Anton dengan tenang.

"Apakah manajer atau ahli penilai di toko ini ada di tempat?" tanya Anton.

Bella mengangguk pelan.

"Tuan Hermawan, ahli penilai utama kami sedang ada di ruangannya," jawab Bella.

"Bolehkah saya melihat dulu barang yang ingin Mas jual?" pinta wanita cantik itu dengan sopan.

Anton tidak keberatan dan merogoh saku celananya.

Dia meletakkan liontin giok hijau zamrud itu di atas meja kaca etalase.

Mata Bella langsung tertuju pada liontin tersebut.

Awalnya dia hanya melihatnya dengan santai, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah drastis.

Mata indah Bella membesar dan dia menutup mulutnya karena terkejut.

"Ini... ini giok naga kekaisaran?" gumam Bella dengan suara terbata-bata.

Dia dengan hati-hati memakai sarung tangan putih sebelum menyentuh liontin itu.

"Warna hijau zamrud murni, transparansi setingkat kaca, dan tidak ada retakan sedikit pun," sebut Bella sambil mengamati giok itu dari jarak dekat.

"Mas, dari mana Anda mendapatkan barang seberharga ini?" tanya Bella sambil menatap Anton dengan pandangan tidak percaya.

Anton hanya tersenyum misterius.

"Itu rahasia dagang, Mbak Bella," jawab Anton santai.

"Jadi, apakah Tuan Hermawan bisa menilainya sekarang?" tanya Anton lagi.

Bella segera tersadar dari keterkejutannya.

"Tentu saja, tolong tunggu sebentar, saya akan segera memanggil Tuan Hermawan," ucap Bella dengan nada yang jauh lebih hormat dari sebelumnya.

Dia bergegas setengah berlari menuju sebuah ruangan di bagian belakang toko.

Anton bersandar santai di etalase toko sambil menunggu.

Tidak sampai dua menit, seorang pria paruh baya berkacamata tebal keluar dengan langkah terburu-buru.

Di belakangnya, Bella mengikuti dengan ekspresi wajah yang masih terlihat tegang.

"Mana? Mana giok naga kekaisaran yang kamu maksud?" tanya pria itu dengan suara keras dan tidak sabar.

Pria itu adalah Hermawan, salah satu ahli barang antik paling disegani di kota ini.

Mata Hermawan langsung tertuju pada liontin giok yang tergeletak di atas meja.

Dia mengeluarkan kaca pembesar dari saku jasnya dan mengamati giok itu dengan sangat teliti.

Tangan Hermawan tampak sedikit gemetar saat dia meraba ukiran naga pada giok tersebut.

"Sempurna... ini benar-benar mahakarya yang sempurna," gumam Hermawan dengan mata berbinar.

Dia menatap Anton dari atas ke bawah, merasa heran bagaimana pemuda miskin ini bisa memiliki barang sehebat ini.

"Anak muda, aku akan langsung ke intinya," ucap Hermawan dengan nada serius.

"Giok ini adalah Giok Kaca Hijau Zamrud asli dari akhir era Dinasti Qing," jelasnya panjang lebar.

"Toko Mustika bersedia membelinya dari tanganmu hari ini juga," tambah Hermawan.

Anton tetap tenang dan tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.

"Berapa harga yang berani Bapak berikan?" tanya Anton langsung pada intinya.

Hermawan terdiam sejenak, tampak sedang menghitung sesuatu di kepalanya.

Suasana di dalam toko menjadi sangat hening.

Bahkan Bella yang berdiri di samping tampak menahan nafasnya.

"Lima ratus juta rupiah," ucap Hermawan memecah keheningan.

"Aku akan mentransfer lima ratus juta ke rekeningmu sekarang juga."

Mendengar angka tersebut, jantung Anton berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.

Namun, dengan cepat dia mengingat sebuah informasi yang pernah dia baca di internet tentang giok kelas atas.

Anton tersenyum tipis.

"Maaf, Pak Hermawan, sepertinya kita tidak bisa mencapai kesepakatan," ucap Anton sambil mengambil gioknya kembali.

"Aku yakin di rumah lelang kota sebelah, barang ini bisa dihargai minimal delapan ratus juta," ucap Anton dengan percaya diri.

Dia berbalik dan mulai melangkah menuju pintu keluar toko.

Hermawan panik, dia tahu pemuda ini sama sekali tidak bodoh dan mengetahui harga pasaran yang sebenarnya.

"Tunggu! Jangan pergi dulu!" seru Hermawan dengan suara lantang.

Anton menghentikan langkahnya tapi tidak membalikkan badan.

"Tujuh ratus lima puluh juta!" tawar Hermawan dengan gigi terkatup.

"Itu harga tertinggiku, mengingat toko kami juga harus mengambil sedikit keuntungan," bujuk Hermawan.

Anton berbalik dan tersenyum puas.

"Sepakat," jawab Anton singkat.

Dalam sekejap mata, patung kayu rongsokan seharga seratus ribu telah berubah menjadi uang tunai ratusan juta rupiah.

Langkah pertama balas dendamnya kini telah dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!