Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 perlakuan
Biel menoleh kearah sumber suara, seraut wajah tampan segera ia temukan.
Biel mundur beberapa langkah kebelakang.
" kenapa diam saja ?! benarkan yang kukatakan ?!
kau mencuri balon itukan ?! " sentak bocah laki laki itu lagi.
Bocah itu adalah Steve, cucu laki laki keluarga Lee yang sebenarnya juga adalah kakak satu ayah Biel.
" tidak....ini punyaku " jawab Biel sambil menggeleng dan suaranya terdengar takut.
Ia memang takut kepada Steve karena Steve yang selalu berbuat jahat dan memperlakukannya dengan sangat buruk.
Steve selalu memanggilnya anak haram.
" punyamu kau bilang ?!
Oh...jadi sekarang anak haram ini sudah berani berbohong ya ?! Berikan padaku balon itu....
anak seperti kamu tidak pantas punya balon seperti itu " ucap Steve sambil melangkah maju.
Biel sekali lagi mundur kebelakang sambil menyembunyikan balonnya ke belakang tubuhnya.
" aku tidak bohong, ini balonku .... mamaku yang membelikannya untukku " jawab Biel sambil terus menghindar dari Steve yang kini ingin mengambil balon miliknya.
" ha ha ha.....mama kau bilang ?! Kau panggil pelayan yang melahirkanmu itu mama.... ?!
tak tahu malu.....
Kau pikir pelayan itu pantas kau panggil mama hehhh ?!!!!
Dan kau pikir anak haram sepertimu itu layak memanggil mama ?!
lucu sekali....dasar tak tahu diri, benar apa kata mamaku....
kau dan pelayan itu memang benalu, kalian tak seharusnya tinggal tempat ini " Steve mengejek Biel.
Dan sungguh kata kata Steve itu sukses membuat hati Biel terasa begitu sakit.
Matanya memerah dan berkaca kaca.
Ia memang masih berusia lima tahun, tapi sungguh ia sangat mengerti dan paham arti dari ucapan kakak tirinya itu.
Tapi ia tak bisa berbuat apa apa selain diam dan menahan rasa sakit di hatinya, mamanya tak pernah mengizinkan ia untuk melawan apalagi membalas perbuatan Steve.
Katanya.....
( sabar ya sayang......nanti mama akan membawamu pergi dari sini )
Apalagi ia sadar, tubuhnya sangat kecil jika di bandingkan dengan tubuh Steve yang tinggi besar.
Meski ia masih kelas enam SD, tapi tubuh Steve sudah seperti anak SMP.
Postur tubuh Steve tegap dan tinggi besar.
Ia juga jago taekwondo.
Sungguh Biel tak berkutik di hadapan kakak tirinya itu.
" ada apa ini ?! kenapa kalian berada di sini....?! " sebuah suara membuat Biel juga Steve menoleh.
Seorang wanita cantik dengan penampilannya yang glamor dan elegan berada tak jauh dari mereka berdua.
Dia adalah nyonya Shahnaz,
Ibunda Steve.
Di sisinya nampak berdiri seorang bocah laki laki lain yang saat ini juga turut menatapnya.
Sejenak mata bocah laki laki itu bertemu dengan mata sendu Biel.
Mata nyonya Shahnaz yang tadinya terarah kepada Steve kini segera beralih kepada Biel dan tatapannya berubah tajam dan penuh kebencian.
" apa kau membuat ulah lagi ?! Dasar anak tak tahu diri..... " ucap wanita itu dengan kasar kepada Biel.
Biel tertunduk,
Ia tak punya keberanian menjawab wanita itu.
" Steve...." panggil Shahnaz kemudian kepada sang putra yang berdiri tak jauh di depan Biel.
" iya my.. " jawab Steve dengan cepat.
" kemari dan beri salam pada kakakmu, dua Minggu ini dia akan tinggal bersama kita karena dia sedang libur dari asramanya.
Mommy harap kalian bisa libur bersama " ucap wanita itu lagi.
Steve tak langsung mendekat, ia diam terlebih dulu sebelum akhirnya ia mendekat dan menyapa sosok di sisi sang mami.
" salam kakak...." sapanya kemudian pada sosok itu yang tak lain adalah Erick Harvard Wiratmaja.
Harvard adalah nama dari keluarga Shahnaz, sementara Wiratmaja adalah nama keluarga sang ayah.
Ya....
Erick adalah putra Shahnaz dari pernikahannya yang pertama dengan seorang pribumi.
Itu artinya....
Dia adalah kakak tiri satu ibu dengan Steve.
Usianya dua tahun lebih tua dari Steve, selama ini ia sudah tinggal di asrama sejak SD.
Hanya saat liburan seperti ini ia akan pulang ke rumah.
Tapi tidak kerumah ini,
Erick sangat jarang pulang kerumah sang ibu karena ia lebih suka pulang ke rumah kakek dan neneknya dari pihak sang ayah yang telah tiada.
Mereka adalah keluarga militer,
Kakeknya seorang mantan angkatan darat berpangkat kolonel dan neneknya adalah mantan seorang jaksa.
Sementara mendiang sang ayah adalah seorang tentara sama seperti sang kakek dulu.
Ia berpangkat jendral ketika tiada dan masih menjadi suami Shahnaz dulu.
Dulu pernikahan Shahnaz dan ayah dari Erick yang bernama Ruben Haris Wiratmaja tidak di restui oleh kedua orang tua Shahnaz karena ayah Erick yang hanyalah seorang anggota militer meski ia sudah berpangkat jendral.
Kedua orang tua Shahnaz adalah seorang pengusaha handal, dan jelas mereka ingin Shahnaz juga menikah dengan seorang pengusaha bukan seorang anggota militer yang menurut mereka tidak akan bisa kaya seperti mereka.
Erick mengangguk merespon sapaan Steve, mereka memang tak sedekat itu.
Di dalam hati, Steve tak suka dengan Erick.
Menurutnya,
Erick adalah saingannya.
" ya sudah....
Erick...ayo ikut mommy, sapa papi dan kakekmu...
saat ini kakekmu sedang sakit.....ku harap kau mengerti apa yang harus kamu lakukan nanti ...."
ucap Shahnaz lagi dan Erick mengangguk.
Tak lama ia mulai melangkah lebih dulu menuju pintu utama meninggalkan Steve yang saat ini menatapnya dengan tatapan tak suka.
Erick mengikuti langkah sang mommy di belakangnya, namun sejenak ia berhenti dan menoleh kepada Biel yang masih diam dan menunduk sejak tadi.
" ayo Erick....sedang apa kamu di sana ?! " hardik sang mami ketika ia sadar Erick menghentikan langkahnya.
" iya...." jawab Erick dan kemudian ia melanjutkan langkahnya mengikuti langkah Shahnaz menuju pintu utama.
Sementara itu,
Steve masih saja setia mengiringi langkah sang ibu dan kakak tirinya dengan tatapan tak suka.
Ia tak pernah suka setiap kali sang ibu membawa Erick ke rumah ini.