"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 | Retakan Kepercayaan
Malam semakin larut.
Langit Jakarta diselimuti awan hitam tanpa bintang. Sesekali kilat menyambar, disusul gemuruh yang mengguncang udara.
Di dalam kamar, Ayla duduk bersandar di kepala ranjang. Tangannya masih menggenggam segelas susu hangat yang sudah mulai kehilangan uapnya.
Sejak pulang dari kantor, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.
Kalimat dalam rekam medis itu terus menghantuinya.
Trauma berat. Kehilangan sebagian ingatan.
Jika itu benar...
Mengapa keluarganya tidak pernah menceritakan apa pun?
Dan yang lebih membuatnya bingung...
Mengapa Arsen terlihat seperti sudah mengetahui sebagian dari semuanya?
Tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat Ayla mengangkat kepala.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Arsen masuk dengan wajah lelah, dasinya sudah dilepas, sementara dua kancing teratas kemejanya terbuka. Meski begitu, sorot matanya tetap tajam seperti biasa.
"Aku dengar kamu belum tidur."
Ayla hanya tersenyum tipis.
"Belum bisa."
Arsen melangkah mendekat.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
"Ayla."
"Hm?"
"Kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan..."
"...tanyakan langsung padaku."
Jantung Ayla berdegup.
Entah kenapa, kesempatan itu justru membuatnya semakin ragu.
Ia menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya bertanya pelan.
"Pak Arsen..."
"Apa Bapak tahu apa yang terjadi tahun 2019?"
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan Arsen berubah.
Bukan marah.
Bukan pula terkejut.
Melainkan... berat.
Seolah pertanyaan itu adalah sesuatu yang selama ini ia hindari.
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Ayla membeku.
"Lalu..."
"Kenapa Bapak tidak pernah bilang?"
Arsen mengembuskan napas panjang.
"Karena belum waktunya."
"Belum waktunya?"
Nada suara Ayla mulai meninggi.
"Ini tentang hidupku."
"Kalau aku benar-benar kehilangan ingatan, aku berhak tahu!"
Arsen menatapnya tanpa berkedip.
"Dan aku juga berhak memastikan kamu tetap hidup."
Kalimat itu membuat Ayla terdiam.
Namun rasa kecewa di dalam hatinya tidak serta-merta menghilang.
"Jadi..."
"Bapak memang menyembunyikan semuanya dariku."
Arsen tidak menjawab.
Keheningannya justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
Ayla bangkit dari tempat tidur.
"Aku ingin sendiri."
Tanpa menunggu respons, ia berjalan keluar menuju balkon kamar.
Angin malam langsung menerpa wajahnya.
Tanpa sadar, air mata mulai menggenang.
Ia tidak tahu kepada siapa harus marah.
Kepada keluarganya?
Kepada Arsen?
Atau kepada dirinya sendiri yang bahkan tidak mampu mengingat masa lalunya?
___________________________________________
Di ruang kerja pribadi.
Arsen berdiri memandangi foto kecelakaan tahun 2019.
Raka masuk tanpa suara.
"Pak."
"Hm."
"Tim kita berhasil melacak asal amplop yang diterima Nyonya Ayla."
Arsen langsung menoleh.
"Dari mana?"
"Seorang anak kecil memang yang menyerahkan."
"Tapi sebelum itu..."
Raka meletakkan sebuah foto hasil CCTV di atas meja.
"Amplop diberikan oleh pria bertopi."
Arsen mengambil foto itu.
Wajah pria tersebut masih tertutup masker.
Namun ada satu detail yang membuat matanya menyipit.
Jam tangan.
Jam tua dengan ukiran kepala singa.
Arsen langsung mengenali simbol itu.
"Mustahil..."
Raka mengangkat kepala.
"Bapak mengenalnya?"
Arsen tidak langsung menjawab.
Ingatannya melayang tujuh tahun ke belakang.
Malam hujan.
Suara sirene.
Dan seseorang...
Yang memakai jam tangan yang sama.
__________________________________________
Di tempat lain.
Pria bertopeng duduk santai sambil memainkan sebuah korek api perak.
Di depannya, seorang bawahan menyerahkan sebuah flashdisk.
"Tuan."
"Semua rekaman sudah siap."
Pria itu menerima flashdisk tersebut.
"Bagus."
"Besok pagi..."
"...kirimkan ke Ayla."
Bawahannya tampak ragu.
"Kalau dia melihat isinya..."
Pria bertopeng tersenyum tipis.
"Itu memang tujuanku."
"Semakin cepat dia mengingat..."
"...semakin cepat Arsen kehilangan semua yang ingin dia lindungi."
Api kecil dari korek di tangannya padam.
Ruangan kembali gelap.
__________________________________________
Keesokan paginya.
Ayla berangkat lebih awal dari biasanya.
Ia ingin menenangkan pikirannya sebelum bertemu Arsen.
Namun begitu tiba di meja kerjanya yang baru—tepat di samping ruang CEO—ia mendapati sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada kartu ucapan.
Hanya sebuah flashdisk.
Jantung Ayla kembali berdegup tidak beraturan.
Ia teringat ucapan pria misterius beberapa hari lalu.
"Kalau ingin tahu siapa sebenarnya suamimu..."
Tangannya perlahan mengambil flashdisk itu.
Di saat bersamaan...
Pintu ruang kerja Arsen terbuka.
Arsen melangkah keluar sambil membawa beberapa dokumen.
Tatapan mereka bertemu.
Lalu...
Mata Arsen langsung tertuju pada benda di tangan Ayla.
Wajahnya yang selama ini selalu tenang mendadak berubah.
"Ayla!"
Suara Arsen menggema di seluruh lantai.
Tanpa memedulikan tatapan para karyawan, ia berlari menghampiri Ayla.
Namun...
Terlambat.
Flashdisk itu sudah terpasang di laptop.
Layar monitor berkedip beberapa kali.
Lalu sebuah video mulai diputar.
Gambar pertama yang muncul membuat wajah Arsen seketika memucat.
"Itu..."
Napasnya tercekat.
Video itu memperlihatkan malam hujan tahun 2019.
Dan di sana...
Terlihat sosok Arsen sedang berlutut di samping sebuah mobil yang hancur.
Sementara beberapa meter di belakangnya...
Seorang gadis muda berdiri dengan wajah penuh darah.
Gadis itu adalah...
Ayla.
Bersambung...