NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.4k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 - Perebutan Harta

"Pak Raka," katanya, "harta gono-gini itu separuh milik klien saya. Kita lihat nanti."

Tiga minggu kemudian, Farid benar-benar membawa kalimat itu ke ruang sidang.

Pengadilan Agama Surabaya pagi itu lebih padat daripada sidang pertama. Di luar ruang, orang-orang menunggu giliran dengan wajah lelah, membawa map, fotokopi KTP, surat nikah, dan sisa-sisa rumah tangga yang berubah menjadi dokumen.

Raka datang bersama Hendra.

Tidak ada Sari.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada penonton bayaran.

Ia tidak membutuhkan kerumunan untuk merasa benar.

Ratna duduk di sisi seberang. Wajahnya dipoles tipis, tetapi kantong matanya tidak bisa disembunyikan. Bu Sumini duduk di belakangnya, berkali-kali berbisik marah. Budi tidak hadir. Mungkin terlalu takut bertemu tempat resmi setelah urusan rentenir.

Hakim membuka sidang dengan tenang. Setelah formalitas, Farid berdiri.

"Yang Mulia, pihak Termohon tidak menolak bahwa rumah tangga menghadapi persoalan. Namun kami menilai Pemohon menyembunyikan harta yang diperoleh selama perkawinan. Kendaraan mewah, saldo rekening, dan pengeluaran besar yang muncul sebelum putusnya perkawinan secara hukum seharusnya masuk pembahasan harta bersama."

Bu Sumini mengangguk keras di belakang.

Ratna menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.

Mereka akhirnya sampai pada topik yang mereka pahami: uang.

Hakim menoleh kepada Hendra. "Tanggapan Pemohon?"

Hendra berdiri, rapi seperti pisau yang baru diasah.

"Yang Mulia, kami tidak akan menyederhanakan perkara ini dengan mengatakan semua aset otomatis di luar harta bersama hanya karena permohonan telah diajukan. Kami memahami prinsip harta bersama harus diperiksa berdasarkan hukum yang berlaku."

Farid tampak puas sesaat.

Lalu Hendra membuka map.

"Namun pemeriksaan itu harus lengkap. Aset saja tidak cukup. Sumber dana, waktu transaksi, beban utang, kontribusi para pihak, dan fakta yang memengaruhi kewajiban keluarga juga harus dibuka."

Ia menyerahkan bundel pertama kepada panitera.

"Ini ringkasan rekening dan bukti transaksi. Dana yang menjadi sumber pembelian kendaraan dan layanan bisnis berasal dari aktivitas pribadi Pemohon yang dapat diaudit, setelah hubungan rumah tangga secara faktual telah pecah dan setelah Termohon berkali-kali melakukan tindakan yang menjadi dasar permohonan talak."

Farid menyela, "Faktual pecah menurut versi Pemohon."

Hendra tidak terganggu. "Karena itu kami sertakan bukti komunikasi, rekaman area publik tanpa audio, serta laporan laboratorium."

Kata terakhir membuat Ratna menegang.

Bu Sumini berhenti berbisik.

Hendra tidak mengangkat laporan DNA seperti senjata murahan. Ia menyebutnya dalam kalimat yang datar, lalu menyerahkan salinan tersegel.

"Laporan ini menunjukkan adanya persoalan mendasar terkait klaim anak biologis dan nafkah anak. Kami mohon identitas anak tetap dilindungi dalam proses."

Hakim memandang Raka sebentar, lalu mengangguk kepada panitera.

"Dicatat."

Farid membaca salinan yang diberikan kepadanya. Wajahnya berubah halus, dari percaya diri menjadi hitungan ulang.

Ratna menyentuh lengan Farid. "Pak..."

Farid menunduk dan berbisik cepat. Ratna menggeleng. Bu Sumini mencengkeram tasnya.

Hendra melanjutkan.

"Jika Termohon tetap menuntut setengah dari seluruh aset tanpa mempertimbangkan fakta-fakta tersebut, kami siap masuk ke pemeriksaan sumber dana secara rinci. Itu berarti seluruh rekening, utang pribadi, bantuan keluarga, penggunaan dana untuk judi online keluarga Termohon, serta aliran uang yang relevan harus dibuka."

Kata judi online membuat Bu Sumini berdiri setengah.

"Itu fitnah!"

"Bu, duduk," petugas keamanan memperingatkan.

Hakim mengetuk meja. "Jaga ketertiban."

Bu Sumini duduk kembali, napasnya kasar.

Farid menatap Hendra. Kali ini senyumnya hilang.

Ia tahu perang penuh berarti membuka lemari yang mungkin lebih busuk daripada yang dijanjikan Ratna kepadanya.

Hakim meminta kedua pihak berdiskusi singkat dengan kuasa hukum masing-masing. Ruang sidang memberi waktu, bukan belas kasihan.

Hendra mencondongkan tubuh kepada Raka.

"Kita bisa lanjutkan sengketa harta. Posisi kita tidak buruk. Tapi prosesnya lebih panjang dan semua detail akan makin terbuka."

"Pilihan lain?"

"Tawarkan akta perdamaian. Dia melepas klaim atas aset yang diperdebatkan. Kalian memikul utang masing-masing. Sebagai imbalan, Anda tidak mengejar gugatan perdata tambahan atas penipuan terkait status anak, dan tidak membuka identitas Nila ke publik."

Raka melihat ke seberang.

Ratna duduk kaku, jauh lebih kecil daripada perempuan yang dulu bisa membuatnya takut hanya dengan diam.

"Buat penawarannya."

Hendra berdiri kembali. "Yang Mulia, Pemohon bersedia menawarkan penyelesaian tertulis."

Farid tampak waspada. "Apa isinya?"

Hendra membacakan poinnya satu per satu.

Ratna melepas klaim atas kendaraan dan aset yang sumber dananya diperdebatkan.

Masing-masing pihak menanggung utang pribadi sendiri, termasuk utang keluarga yang bukan dibuat atau dijamin tertulis oleh Raka.

Raka tidak mengajukan tuntutan perdata tambahan terkait kerugian karena penipuan status anak.

Raka tidak menyebarkan identitas dan hasil DNA Nila ke publik, kecuali sejauh diperlukan dalam proses hukum tertutup atau terbatas.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Bu Sumini berbisik panik, "Jangan tanda tangan. Itu uangmu, Ratna."

Ratna menatap Farid.

Farid tidak langsung menjawab. Ia membaca draf cepat yang disusun Hendra dan staf panitera. Lalu ia bicara pelan, kali ini tanpa gaya menang.

"Kalau kita lanjut perang aset, semua bukti DNA dan aliran dana bisa diperiksa lebih luas. Risiko reputasi dan biaya tinggi. Tidak ada jaminan hasilnya lebih baik."

"Tapi mobilnya..." Ratna berbisik.

"Mobil bisa diganti. Sidang yang membuka semuanya tidak bisa ditarik."

Bu Sumini berdiri lagi. "Pengacara macam apa kamu? Bela dia!"

Petugas keamanan langsung mendekat. "Bu, keluar dulu."

"Saya ibunya!"

"Keluar, Bu."

Bu Sumini memberontak, tetapi kali ini tidak ada tetangga yang bisa ia jadikan penonton. Hanya ruang sidang, petugas, dan aturan.

Ia dibawa keluar sambil masih mengomel, suaranya makin jauh di koridor.

Ratna menatap pintu yang tertutup.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian di meja itu.

Hakim memastikan beberapa hal dengan suara jelas: apakah Ratna memahami isi kesepakatan, apakah ada paksaan, apakah ia sudah berkonsultasi dengan kuasa hukumnya, apakah ia sadar akibat hukumnya.

Setiap pertanyaan jatuh seperti palu kecil.

Ratna menjawab dengan suara serak.

"Saya mengerti."

"Tidak ada paksaan?"

Ia menatap Raka.

Raka tidak tersenyum.

Ia juga tidak melembut.

"Tidak ada."

Tanda tangan Ratna bergetar di atas kertas akta perdamaian.

Ketika pena itu selesai bergerak, Hendra menutup mapnya perlahan. Farid menghela napas panjang. Hakim memeriksa dokumen, lalu menyatakan kesepakatan dapat dicatat dalam pertimbangan perkara.

Setelah itu, suasana berubah.

Bukan lagi negosiasi.

Bukan lagi ancaman.

Sidang memasuki bagian akhir pembacaan pertimbangan mengenai permohonan talak.

Ratna duduk tanpa warna di wajah.

Raka menatap lurus ke depan.

Hakim mulai membaca putusan, suaranya tenang dan formal. Setiap kalimat mengikis sisa rantai yang masih menempel di pergelangan hidup Raka.

Lalu suara itu berhenti sejenak.

Palu sidang terangkat.

Udara ruang sidang membeku.

Semua orang menahan napas.

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!