Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 19 Bukit Telur Lolot
Dag dag dag…!
“Lolot keparaaat!” teriak Purwasaga gusar bukan main, tetapi dia tidak menyerang lolot yang hendak mematuk kepalanya.
Purwasaga berlari kencang dan menggunakan ilmu peringan tubuh. Mengandalkan ingatannya, dia melesat menembus kegelapan tanpa ada penerang. Sementara di belakangnya berlari kencang lolot sebesar gajah dewasa. Tidak perlu ditengok ke belakang, sudah jelas dari suara lari kakinya yang keras membumi.
“Celaka! Aku bisa menabrak dinding jika tidak melakukan sesuatu,” pikir Purwasaga.
Namun, kejap berikutnya dia kemudian mendapat ide. Ia pun memekik seraya tersenyum tanpa visual, “Ahaaa!”
Purwasaga pun bersiap melakukan idenya.
Tiba-tiba Purwasaga berhenti mendadak sambil melempar badannya ke samping kiri.
Bdak!
Lumayan keras Purwasaga menabrak dinding batu.
Pada saat yang sama, bayangan sosok lolot melintas melewatinya. Setelah itu, Purwasaga cepat berlari lagi, tetapi kali ini dia yang mengejar lolot.
“Heaaakrr!” teriak Purwasaga dengan maksud menakuti lolot besar yang terlihat gelap segelap kegelapan.
Wiiik wiiik wiiik!
Benar saja, lolot itu berlari dengan mode pekikan panik, seolah-olah dia sedang diburu.
Fuuuss! Frekr!
Wiiik…!
Lolot itu memekik panjang saat satu sinar hijau dari ilmu Tinju Dingin Sunyi mengenai bokongnya. Tembakan itu membuat lolot lari kian gacor karena terkejut mendapat rasa dingin menggigit di bokongnya yang tidak tertutupi oleh sisik tebal.
Serangan sinar hijau memberi kesempatan bagi Purwasaga untuk melihat sejenak visual jalan yang sedang disusuri.
Kejap berikutnya, dia kembali berlari di dalam kegelapan dengan modal hanya mengikuti sumber suara lari lolot yang berjarak beberapa tombak di depannya. Dia yakin bahwa lolot itu sedang menuju ke Bukit Telur Lolot untuk bertelur.
“Jika aku serang terus, bisa-bisa lolot itu ambruk di tengah jalan dan gagal sampai ke Bukit Telur,” pikir Purwasaga.
Fuuuss!
Purwasaga kembali melepaskan satu sinar hijau dari tangannya yang bersinar kuning, tetapi tidak menyerang lolot, hanya sebagai cara untuk menerangi lokasi sekejap, sekaligus menakuti si lolot.
Purwasaga tidak mengetahui bahwa lolot betina yang sedang ingin bertelur akan mengalami stress jika mendapat tekanan psikologis yang berat.
Bdugk!
Tiba-tiba di dalam kondisi gelap gulita seperti itu, terdengar suara keras seperti seorang raksasa menabrak batu besar.
Purwasaga terkejut dan cepat melakukan pengereman darurat.
Fuuuss!
Dia melepaskan satu sinar hijau untuk melihat apa yang terjadi. Meski tidak begitu terang, tetapi Purwasaga bisa melihat sosok lolot yang dikejarnya sedang tersungkur dengan badan rapat ke sebongkah batu.
“Kenapa dia menabrak batu?” tanya Purwasaga di dalam hati di saat kondisi kembali gelap. “Atau mungkin karena Tinju Dingin Sunyi membuat bokongnya membeku. Bisa kehilangan penuntun lagi aku….”
Wik wik wik!
Lolot itu terdengar berwik wik wik lirih, menunjukkan bahwa dia masih hidup.
Fuuuss! Frekr!
Purwasaga kembali melepaskan sinar hijau untuk melihat kondisi lolot tersebut. Sinar hijau mendarat di batu besar di sisi atas tubuh lolot. Dari sinar hijau yang sekejap itu terlihat si lolot menggeliat pelan bergerak bangkit, seolah-olah kondisinya tidak baik-baik saja.
“Sepertinya dia masih bisa bangkit. Aku tunggu saja. Dia pasti akan melanjutkan perjalanan ke Bukit Telur,” pikir Purwasaga.
Akhirnya Purwasaga duduk menunggu sambil gelap-gelapan. Saat menunggu itu, ia merasakan tubuhnya sakit-sakit. Namun, dia tidak mau menjadi pendekar cengeng. Ia cukup menunggu munculnya suara lari kaki lolot karena dia yakin akan terdengar jika binatang besar itu berlari lagi.
Drap drap drap…!
Tersentak Purwasaga karena terkejut saat mendengar banyaknya suara lari kaki binatang. Dan dia kian terkejut saat menengok dan melihat siluet serombongan binatang besar-besar yang berlari ke arah posisinya.
“Wuaaak!” pekik Purwasaga sambil buru-buru langsung melompat ke atas sebongkah batu tinggi menggunakan ilmu peringan tubuhnya.
Drap drap drap…!
Wik wik wik…!
Serombongan lolot besar-besar sambil bersuara wik wik wik berlari melintas di bawah Purwasaga. Saat itu belum pagi, tetapi langit sudah mulai terang.
Ternyata, Purwasaga tadi tertidur karena sangat kelelahan. Ia tidak terbangun ketika lolot yang ditungguinya pergi menuju ke Bukit Telur Lolot.
Setelah terpana melihat puluhan lolot melintas di bawahnya, Purwasaga menengok ke arah kanan jauh.
Sepasang matanya yang masih cukup berat jadi melebar kembali. Dia melihat beberapa lolot keluar dari lubang-lubang yang ada pada sebuah bukit. Sosok bukit itu terhalang oleh bukit yang lebih dekat, tetapi masih ada sebagian badannya yang terlihat dan memperlihatkan pergerakan sejumlah lolot keluar dari lubang gua di badannya.
“Itu pasti Bukit Telur Lolot. Mungkin karena sudah mau pagi, lolot-lolot yang sudah bertelur segera pulang,” terka Purwasaga.
Pemuda tampan yang sedang tidak tampan karena wajahnya yang bengkak tersebut, memilih menunggu sampai kira-kira semua lolot berlalu.
Semakin terang langit, semakin jarang lolot yang lewat di jalan tersebut. Barulah ketika matahari terbit, sudah tidak ada lolot yang melintas.
Purwasaga segera turun dari atas batu dan berlari pergi menuju bukit yang masih dapat ia lihat pucuknya.
Sekitar seperempat jam Purwasaga berlari untuk sampai di kaki bukit yang dia tuju. Selama perjalanannya, ia tidak berpapasan atau melihat seekor pun lolot, seakan-akan memberi tahu bahwa di kala terang, tidak ada lolot yang berada di luar bukit.
Purwasaga memerhatikan bukit yang diduga pasti adalah Bukit Telur Lolot. Memang benar, bukit itu tidak memiliki perbedaan khusus dengan bukit-bukit yang lain.
Pemuda yang belum mandi itu lalu mengitari kaki bukit untuk mencari jalan masuk yang mudah ke salah satu lubang gua. Dia akhirnya menemukan jalan termudah untuk naik.
Tanpa ada kendala bagi Purwasaga untuk mencapai mulut gua di tebing bukit. Ia pun segera masuk. Posisi mulut gua yang menghadap ke timur membuatnya lebih terbantu oleh cahaya matahari yang membias masuk ke dalam gua.
“Bau apa ini?” tanya Purwasaga kepada dirinya sendiri.
Dia memang mencium bau asing bagi hidungnya, tetapi tidak begitu mengganggu atau membuatnya mual.
“Apa itu?” tanya Purwasaga lagi kepada dirinya sendiri. Ia sampai berhenti saat melihat siluet benda besar berbentuk bulat.
Pencahayaan yang temaram membuat benda yang ada di pojokan bawah dinding gua itu hanya terlihat berwarna hitam. Benda itu terlalu halus untuk sebuah batu. Karena itulah Purwasaga curiga bahwa itu bukan batu.
Ia lalu berjalan mendekati benda yang sebesar satu pelukan orang dewasa tersebut. Tiga kali lipat dari besar kepala manusia.
Setelah dekat, Purwasaga membungkuk sambil menyalakan tangannya dengan ilmu Genggaman Merah Putih. Maka terlihatlah bahwa benda itu seperti telur besar bercangkang warna biru gelap. Cahaya di tangan Purwasaga membuat cangkangnya terlihat mengkilap.
“Apakah ini telur lolot?” tanya Purwasaga lagi kepada dirinya sendiri. “Ini pasti telur lolot. Hahaha! Aku sudah dapat satu.”
Maka, tanpa ragu Purwasaga mengulurkan kedua tangannya yang sudah padam untuk meraih dan mengangkat benda yang dia duga adalah telur lolot.
Ketika Purwasaga mencoba mengangkatnya, ternyata telur lolot itu hanya bergerak kecil karena berat. Sang pendekar pun mengerahkan tenaga dalam demi bisa mengangkat benda besar di lantai gua yang merupakan tanah keras.
“Akk!” pekik tertahan Purwasaga tiba-tiba sambil sontak menarik kedua tangannya lepas dari cangkang telur tersebut.
Refleks juga tangan kanan Purwasaga memukul jari-jari tangan kirinya karena merasa ada binatang kecil yang menggigit jari tangannya. Sengatan di jari tangan kiri itu begitu menggigit.
Benar saja. Jari-jari tangan kanan Purwasaga merasakan telah menyentuh sesuatu yang kecil tapi keras. Jari tangan Purwasaga cepat menjepit binatang tersebut dan mengambilnya dari tangan kiri.
Purwasaga kemudian menyalakan tangan kirinya untuk melihat jelas binatang kecil yang menyengatnya. Ternyata seekor semut berwarna merah gelap dengan ukuran lebih besar dari semut di dunia manusia. Purwasaga bisa melihat jelas capit di mulut semut.
“Kau pasti semut seramah-ramah,” kata Purwasaga kepada semut di jarinya. Sementara itu dia merasakan denyutan sakit di jari tangan kirinya. (RH)
hahhhh