"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
"Bukannya lu sama Marissa itu dijodohkan?"
Clara menyilangkan tangannya di dada, menatap Elzio curiga di tengah keheningan kamar megah itu. "Bahkan anak kantor tahu kalian mau tunangan. Kenapa lu enggak minta Anya—atau agen manapun—buat nyari aktris atau kandidat cewek bayaran aja buat pura-pura jadi pacar lu lagi? Biar pertunangan lu sama Marissa batal tanpa perlu maksa-maksa gue!"
Elzio yang sedang mengancingkan kemeja putihnya terhenti sejenak. Dia menoleh, menatap Clara dengan pandangan teduh yang sulit diartikan, lalu tersenyum tipis.
"Kalau kamu tidak percaya ucapan saya soal Marissa, mending kamu tanya langsung ke Mama saat sarapan nanti," sahut Elzio tenang, melangkah mendekat dan merapikan anak rambut di dahi Clara. "Dia yang paling tahu silsilah dan keributan di keluarga besar Mahendra."
Clara menepis tangan Elzio pelan, mendengus skeptis. Namun rasa penasaran tetap menggerogoti benaknya.
Dua puluh menit kemudian, mereka bertiga sudah duduk di meja makan panjang berlapis marmer di ruang makan penthouse. Aroma harum nasi goreng kepiting, croissant hangat, dan kopi segar memenuhi udara.
Dominica duduk di ujung meja dengan anggun, menyesap teh aromatiknya sambil tersenyum manis setiap kali melirik Clara. Di sampingnya, Elzio menikmati espresso tanpa gula, sementara Clara duduk di seberang Dominica dengan gelisah, hanya memainkan sendoknya di atas piring.
"Kenapa tidak dimakan, Clara Sayang? Makanan di sini kurang cocok ya di lidah kamu?" tanya Dominica penuh perhatian, memecah kecanggungan.
Clara mendongak, menelan ludah ragu. Dia melirik Elzio yang hanya mengisyaratkannya untuk bicara, lalu mengumpulkan keberanian menatap ibu dari bosnya itu.
"Tante... maaf sebelumnya," ucap Clara pelan namun tegas. "Tentang tawaran nikah dan uang satu miliar tadi... saya harus menolaknya dengan hormat."
Dominica meletakkan cangkir tehnya perlahan, alisnya terangkat tipis. "Kenapa, Sayang? Apa satu miliar terlalu sedikit? Tante bisa tambah—"
"Bukan soal uangnya, Tante," potong Clara cepat, tidak ingin dinilai matre lagi. "Saya merasa tidak pantas. Lagi pula... bukannya Pak Elzio sudah punya calon? Mbak Marissa Mayer? Kemarin Mbak Marissa datang ke kantor dan bilang kalau mereka mau tunangan. Saya enggak mau jadi perusak hubungan orang atau masuk ke dalam masalah perjodohan keluarga kaya."
Mendengar nama Marissa disebutkan, raut wajah Dominica yang tadinya lembut mendadak berubah masam. Wanita paruh baya itu menghela napas panjang, merapikan duduknya, lalu menatap Clara dengan pandangan bersungguh-sungguh.
"Jadi karena si Marissa itu kamu ragu?" tanya Dominica mendengus hambar. "Dengarkan Tante baik-baik ya, Clara. Marissa Mayer itu bukan calon pilihan Elzio, apalagi pilihan Tante dan Suami Tante."
Clara berkedip bingung. "Tapi... gossip di kantor dan media..."
"Itu semua ulah keluarga Mayer yang kebelet menempel pada keluarga Mahendra!" pangkas Dominica gemas, mengibaskan tangannya di udara. "Perjodohan itu cuma omong kosong para tetua. Lebih tepatnya, rencana Kakek dan Neneknya Elzio."
Elzio tetap menyimak dalam diam, membiarkan ibunya menjelaskan situasi yang selama ini enggan dia pusingkan.
"Kakeknya Elzio itu tipikal pengusaha kolot," lanjut Dominica dengan nada jengkel yang jujur. "Bagi Beliau, pernikahan itu harus berlandaskan ekspansi bisnis dan aliansi saham. Keluarga Mayer punya saham besar di sektor perbankan, jadi Kakek sangat bernafsu menjodohkan Elzio dengan Marissa sejak mereka masih kuliah."
Clara menatap Dominica lekat-lekat. "Lalu Tante sama Papanya Pak Elzio setuju?"
"Sama sekali tidak!" tegas Dominica tanpa ragu. "Tante dan Suami Tante sudah berjanji dari dulu, kami tidak akan pernah memaksa anak-anak kami menikah demi bisnis. Kami sudah cukup kaya, untuk apa menumbalkan kebahagiaan anak demi tambah kaya? Papanya Elzio bahkan sudah bilang ke Kakek, kalau Elzio tidak mau dengan Marissa, tidak ada seorang pun yang bisa memaksa."
Dominica menunjuk Elzio dengan sendoknya. "Masalahnya, anak ini terlalu dingin! Dia malas berdebat sama Kakeknya, jadi dia cuma mengabaikan Marissa selama bertahun-tahun tanpa memberi kepastian. Makanya cewek itu makin ngelunjak dan merasa punya porsi di hidup Elzio!"
Clara menoleh menatap Elzio. Pria itu hanya mengangkat bahunya santai, seolah prasangka orang-orang di luar sana tidak penting baginya.
"Saya tidak pernah memberi Marissa harapan sedikit pun, Clara," ujar Elzio akhirnya, membuka suara dengan nada rendah yang mantap. "Saya membiarkan Kakek dengan ilusinya karena saya tidak punya alasan untuk berdebat... sampai saya bertemu kamu."
Mata Clara bergetar pelan mendengar penuturan jujur itu.
"Jadi, Clara..." Dominica kembali meraih jemari Clara di atas meja, menatapnya dengan penuh permohonan yang tulus. "Jangan merasa kamu ini perusak hubungan atau penghalang. Marissa itu cuma bayangan masa lalu yang dipaksa Kakek. Pilihan Elzio murni ada di tangannya sendiri—dan seperti yang kamu lihat, anak ini cuma mau sama kamu."
Clara membisu. Informasi baru ini memutarbalikkan semua prasangkanya selama ini. Dia pikir Elzio adalah pria arogan yang mempermainkan dua wanita sekaligus, tapi kenyataannya pria ini justru membentengi dirinya dari perjodohan bisnis keluarga yang rumit.
Namun, ketakutan di dalam diri Clara tidak serta-merta menguap begitu saja.
"Tapi Tante..." bisik Clara parau, menundukkan kepalanya. "Keluarga besar kalian sangat terpandang. Kakeknya Pak Elzio pasti tidak akan pernah merestui cewek biasa kaya saya. Saya cuma piatu yang tidak punya apa-apa, bahkan keluarga saya sendiri..." Clara menghentikan kalimatnya, merasakan sesak yang biasa menghampiri saat mengingat perlakuan ibu tirinya.
Elzio mendadak menggenggam tangan Clara yang satunya di bawah meja. Genggamannya sangat erat, hangat, dan memberikan rasa aman yang instan.
"Saya yang akan menikah dengan kamu, Clara. Bukan Kakek saya," tegas Elzio, menatap Clara lurus-lurus tanpa keraguan sedikit pun. "Jika Kakek tidak merestui, maka saya tidak butuh restunya. Saya punya perusahaan saya sendiri, kekuasaan saya sendiri, dan saya tidak butuh harta warisan Mahendra untuk menghidupi kamu."
Dominica mengangguk setuju dengan wajah bangga. "Benar kata Elzio, Sayang. Di keluarga ini, Tante dan Papanya Elzio yang pegang kendali rumah tangga, bukan Kakek. Dan Tante sudah sreg sama kamu. Kamu wanita jujur, berani, dan yang paling penting... kamu satu-satunya cewek yang bisa bikin si es batu ini bertingkah manusiawi."
Clara menatap ibu dan anak di hadapannya secara bergantian. Kehangatan yang terpancar dari Dominica begitu asing namun menenangkan bagi Clara yang selama ini merindukan sosok ibu. Rasa takut akan dikucilkan oleh keluarga kaya mendadak terkikis pelan-pelan.
Elzio mendekatkan kursinya ke arah Clara, menunduk sedikit hingga napas hangatnya menyapu pipi Clara.
"Masih punya alasan untuk menolak saya, sweetheart?" bisik Elzio rendah, menyunggingkan senyum tipisnya yang menawan.
Pipi Clara mendadak terasa panas. Dia memalingkan wajahnya cepat, merampas croissant di piringnya untuk menutupi kebingungan dan debaran jantungnya yang mendadak tak beraturan.
"G-gue mau makan dulu! Jangan ganggu!" cetus Clara galak, meski nada suaranya kini sama sekali tidak memiliki daya dorong untuk menolak.
Dominica tertawa renyah melihat tingkah menggemaskan calon menantunya itu, sementara Elzio hanya mengelus lembut rambut Clara, tahu betul bahwa benteng pertahanan wanita impiannya itu kini mulai runtuh secara perlahan.