MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~PERTEMUAN TAK TERDUGA
Sore itu pusat perbelanjaan paling mewah di Seoul terasa sangat ramai. Disya berjalan santai di lorong butik busana ternama, matanya berbinar melihat koleksi gaun baru yang baru saja dipajang. Di antara deretan gaun mahal, satu gaun berwarna biru laut dengan payet halus yang berkilau seperti bintang di dasar laut langsung menarik perhatiannya. Potongannya elegan, bahannya jatuh sempurna, dan warnanya sangat cocok dengan kulitnya yang bersih.
Disya berjalan mendekat, menyentuh kain itu dengan lembut. "Indah sekali..." bisiknya pelan. Ia memanggil pramuniaga. "Boleh saya coba gaun ini?"
Belum sempat pramuniaga menjawab, sebuah tangan berhias cincin berlian menyambar ujung gaun itu dari arah samping.
"Maaf, gaun ini duluan saya yang mengincar," ucap suara wanita yang terdengar tajam dan angkuh.
Disya menoleh, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di hadapannya berdiri Alice—trainee yang dulu pernah memakinya dengan kasar di kafe Nudake, menyebutnya anak kampung miskin yang tidak tahu diri. Alice pun mengenali Disya, dan sudut bibirnya langsung melengkung meremehkan.
"Kau?" dengusnya. "Aneh. Sejak kapan sampah sepertimu berani melangkahkan kaki di sini? Gaun ini harganya ratusan juta. Kau pikir kau sanggup membelinya? Minggirlah sebelum kau diusir."
Wajah Disya memucat sejenak, tapi ia segera mengingat sikap barunya. Ia tidak boleh tampak takut, tidak boleh lagi membiarkan orang lain menginjaknya. Ia menarik napas panjang, menatap Alice tenang, lalu tersenyum tipis.
"Di toko, barang ini milik siapa yang sanggup membayar, bukan milik siapa yang paling dulu melihatnya," jawab Disya lembut namun tegas. "Saya suka gaun ini, dan saya akan membelinya."
Alice tertawa sinis. "Kau? Membelinya? Jangan berlagak ya. Kau pasti cuma berani lihat saja. Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang lebih mampu. Saya tawar 150 juta won."
"200 juta won," sahut Disya tenang. Ia sudah bertekad: hari ini ia tidak akan mundur.
Alice menatapnya tak percaya, lalu menaikkan lagi dengan nada menantang. "300 juta won!"
"400 juta won," jawab Disya tanpa ragu sedikit pun. Ia tahu batas kartu yang diberikan Min Jae, dan ia tahu ia mampu membayarnya.
Ketegangan di antara mereka semakin memuncak. Pramuniaga di sampingnya hanya bisa diam terpaku melihat dua wanita itu berebut gaun dengan menaikkan harga secara gila-gilaan. Orang-orang di sekitar mulai menoleh, berbisik-bisik melihat keributan itu, tapi tidak ada yang berani mendekat.
Di sudut lain lantai butik itu, seorang pria berdiri diam menatap pemandangan itu. Ia mengenakan topi lebar, masker medis hitam, dan kacamata hitam besar yang menutupi hampir seluruh wajahnya—gaya berpakaian yang biasa ia pakai saat ingin keluar tanpa dikenali orang. Tidak ada yang menyadari bahwa di balik penyamaran itu adalah Jack, model dan artis papan atas yang terkenal dengan gaya bad boy-nya. Tato di lengannya tertutup jaket kulit, dan tindik di ujung alis serta bibirnya tersembunyi di balik masker dan kacamata.
Ia sebenarnya sedang menemani Alice berbelanja sesuai permintaan gadis itu, tapi suara keributan membuatnya berjalan mendekat karena penasaran. Saat matanya menangkap sosok gadis yang berdiri tegak di sana, tubuhnya menegang seketika. Itu Disya—sahabat yang paling ia sayangi dan lindungi.
Ia melangkah cepat mendekat.
"Disya?" panggilnya pelan namun jelas.
Suara itu begitu akrab, membuat tubuh Disya seketika kaku. Ia perlahan menoleh ke arah sumber suara, matanya membulat kaget. Jack? Kenapa dia ada di sini? Dan kenapa dia bersama Alice? Lidahnya terasa keluh, tak bisa mengeluarkan satu kata pun. Ia takut jika Jack bertanya dari mana ia mendapatkan uang ini, takut harus mengakui hubungan rahasianya dengan Min Jae.
Alice pun menoleh, melihat Jack, dan matanya langsung berbinar. Ia segera melepaskan gaun itu, berjalan cepat mendekati pria itu, lalu merangkul lengannya dengan sangat manja.
"Sayang, kau datang! Dia tak mau mengalah padaku, padahal aku sangat suka gaun itu. Belikan buatku ya?" Alice menatapnya dengan wajah memohon.
Namun Jack hanya diam menatapnya dingin. Perlahan ia menepis tangan Alice dari lengannya dengan kasar.
"Berhenti bersikap seperti itu," ucapnya dingin tanpa nada ramah. Ia mengetik di ponselnya sebentar, lalu menatap gadis itu tajam. "Aku sudah mentransfer cukup untuk membeli gaun termahal di lantai ini. Sekarang pulanglah sendiri. Aku tak ingin menemanimu lagi."
Alice terbelalak tak percaya. "Apa? Kau mau membiarkan aku pulang sendirian demi dia? Siapa dia bagimu?"
"Urusan aku," jawab Jack singkat. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran."
Alice menatap Disya dengan tatapan penuh kebencian. Ia hendak memaki lagi, tapi tatapan dingin Jack membuatnya menelan kata-katanya sendiri. Dengan geram ia berbalik pergi, melangkah kesal meninggalkan butik itu. Sebelum menghilang, ia menoleh sebentar—seolah berjanji akan membalas penghinaan ini suatu saat nanti.
Setelah Alice pergi, suasana menjadi hening kembali. Jack berjalan mendekat ke arah Disya, lalu mengambil gaun biru laut itu dari tangan gadis yang masih gemetar kaget. Ia menyerahkannya pada pramuniaga.
"Bungkus gaun ini dengan rapi," perintahnya tegas.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah kartu hitam pekat dengan logo emas timbul yang sangat eksklusif—Kartu Centurion Amex, kartu undangan khusus bagi pemilik aset ratusan triliun rupiah.
"Gunakan kartu ini untuk membayar," ucapnya pada pramuniaga.
Pramuniaga itu terkejut setengah mati, tangannya gemetar saat menerima kartu itu. "B-baik Tuan. Segera kami proses."
Jack kembali menatap Disya lekat, seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di hati gadis itu. Disya menunduk, tak berani menatap matanya.
"Kau berubah banyak," suara Jack terdengar berat. "Berani berebut, berani menaikkan harga, berani menatap orang yang dulu mempermalukanmu. Apa semua ini benar-benar mengubahmu secepat ini?"
Disya masih diam, tidak tahu harus menjawab apa.
Tak lama kemudian pramuniaga kembali membawa gaun yang sudah terbungkus rapi dan kartu hitamnya. Jack menyerahkan bungkusan itu pada Disya.
"Ambil ini."
Sebelum Disya sempat berterima kasih, Jack tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya erat—bukan untuk menyakiti, tapi karena sangat khawatir.
"Kita bicara di tempat lain," perintahnya tegas. "Aku tak mau orang lain melihat kita, dan aku ingin tahu semuanya dari mulutmu sendiri."
Ia menarik tangan Disya membawanya keluar dari butik itu, menuju lift pribadi yang langsung menuju parkiran bawah tanah. Disya hanya bisa pasrah berjalan di belakangnya, kakinya terasa lemas. Ia tahu, pertemuan ini baru permulaan—di tempat tertutup nanti pasti akan ada pertanyaan yang jauh lebih sulit.