NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Malam itu, suasana di ruang kerja apartemen terasa lebih hening dari biasanya. Lampu hanya dinyalakan redup, menyisakan sorotan cahaya di atas meja tempat berkas-berkas yang diambil dari ruang bawah tanah keluarga Chandra tersusun rapi. Lukas duduk menyandar di kursi, menatap nama Bima Surya Atmaja yang tertulis di atas kertas, seolah kata itu sendiri menyimpan bayangan gelap yang tak berani ia sentuh sepenuhnya.

Kirana berdiri di depan jendela kaca, memandang ke arah lampu-lampu kota Palu yang berkelap-kelip di kejauhan. Punggungnya yang biasanya tegak kini tampak sedikit merosot, seolah beban yang selama ini ia sembunyikan rapat akhirnya mulai terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian. Setelah beberapa lama diam, ia berbalik perlahan, menatap Lukas dengan tatapan yang kini tak lagi menyembunyikan kepedihan.

“Ada hal lain yang belum aku ceritakan padamu,” ucapnya pelan, suaranya bergetar sedikit namun segera ditenangkan. “Hal yang menjadi alasan utama aku memulai penyelidikan ini sejak tiga tahun lalu.”

Ia berjalan kembali ke meja kerja, lalu mengambil sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap dari laci paling bawah. Kotak itu tampak sudah lama tersimpan, permukaannya halus namun terlihat usang. Saat dibuka, di dalamnya terdapat sebuah foto berbingkai sederhana, laporan kecelakaan yang tertutup stiker rahasia, serta selembar kartu nama yang warnanya sudah mulai pudar—dengan nama yang sama persis dengan yang tertulis di berkas tadi: Bima Surya Atmaja.

“Ayahku, Anindya Pratama,” tunjuk Kirana pada foto itu, di mana terlihat seorang pria berwajah ramah berdiri di samping ayah kandung Lukas, keduanya tertawa lebar sambil merangkul bahu satu sama lain. “Dia adalah sahabat karib sekaligus mitra setia ayahmu. Bersama ayahmu, ia mendirikan fondasi ekonomi yang adil di Sulawesi Tengah—tidak hanya mengejar keuntungan pribadi, tapi juga membuka lapangan kerja bagi warga lokal, melindungi sumber daya alam kita dari pengambilalihan asing. Itu semua tentu saja tidak disukai oleh orang-orang yang ingin menguasai segalanya sendirian.”

Lukas mendekat perlahan, menatap foto itu lekat-lekat. Ia baru pertama kali melihat wajah ayahnya tersenyum begitu bahagia di samping orang lain. Ada rasa hangat sekaligus sesak yang menyelimuti dadanya.

“Tiga tahun setelah kecelakaan yang merenggut nyawa ayahmu,” lanjut Kirana, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, “ayahku juga mengalami hal yang sama. Kecelakaan tunggal di jalan pegunungan yang jarang dilalui. Polisi menyimpulkan itu karena kelelahan mengemudi dan jalanan licin. Namun aku tahu itu bohong besar. Ayahku tidak pernah mengemudi jika merasa lelah, dan hari itu cuaca sangat cerah—tidak ada sedikit pun hujan atau kabut di sepanjang rute yang ia tempuh.”

Ia menyerahkan laporan kecelakaan itu kepada Lukas. Di dalamnya tertulis rincian yang mencurigakan: rem kendaraan diduga gagal secara tiba-tiba, namun tidak ada bukti kerusakan akibat benturan sebelumnya; tidak ada saksi mata yang melihat kejadian secara langsung; dan dokumen bukti kepemilikan mobil yang digunakan ayahnya ternyata sudah dipindahkan namanya ke perusahaan cangkang sehari sebelum kejadian.

“Aku mencari tahu ke mana arah penyelidikan ini,” kata Kirana, matanya menatap lurus ke arah kartu nama di atas meja. “Semua jejak mengarah ke satu titik: Bima Surya Atmaja. Ia adalah pemilik tunggal dari jaringan perusahaan yang menyerap aset Grup Wijaya, lalu perlahan mengambil alih proyek-proyek yang dulu dikelola ayahku. Setiap kali ada pengusaha yang berani menolak tawarannya atau membantah cara kerjanya, mereka akan mengalami hal yang sama—bangkrut mendadak, tersandung masalah hukum yang dibuat-buat, atau bahkan mengalami kecelakaan yang ‘tidak disengaja’.”

Lukas teringat ucapan keluarga Chandra saat mengusirnya—bahwa mereka takut jika ia tetap tinggal akan membahayakan diri sendiri. Dulu ia mengira itu alasan untuk menutupi kebencian mereka, namun kini ia paham sepenuhnya: mereka takut Bima akan melakukan hal yang sama padanya seperti yang dilakukan pada kedua ayah itu. Mereka bukan melindunginya dengan membuangnya, mereka hanya menyerah pada ancaman yang tak berdaya mereka lawan.

“Jadi selama ini kita berjuang melawan musuh yang sama,” ucap Lukas pelan, menyatukan dua benang merah yang selama ini terpisah menjadi satu kesatuan yang mengerikan namun jelas. “Bima ingin menghilangkan siapa pun yang berani menghalangi ambisinya menguasai seluruh kekayaan di wilayah ini. Dan aku… aku adalah satu-satunya saksi hidup yang bisa menghubungkan semua kejahatannya.”

Kirana mengangguk, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh perlahan di pipinya.

“Aku tidak berani berharap banyak pada siapa pun selama ini. Aku berpikir aku harus berjuang sendirian untuk memulihkan nama baik ayahku. Tapi saat aku menemukan jejak keberadaanmu, aku sadar—kita tidak pernah benar-benar sendirian. Takdir sengaja menyatukan kita karena kita berdua memegang potongan teka-teki yang sama pentingnya.”

Mereka berdua kembali menatap foto kedua ayah itu—dua orang yang berjuang untuk kebaikan, yang nyawanya direnggut karena kebencian dan keserakahan. Lukas merasakan kehangatan yang mengalir di dadanya, rasa berani yang tumbuh jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak lagi hanya berjuang untuk dirinya sendiri, untuk mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya. Ia juga berjuang untuk kedua orang tua yang telah tiada, untuk keadilan yang selama ini ditutupi rapat oleh kekuasaan yang gelap.

“Kita akan membongkar semuanya,” ucap Lukas dengan suara tegas dan mantap, menatap mata Kirana lekat-lekat. “Kita akan memastikan Bima tidak bisa lagi bersembunyi di balik nama baik dan kekayaannya. Dan kita akan mengembalikan apa yang menjadi hak milik orang-orang yang jujur.”

Malam semakin larut, namun ruangan itu kini terasa tidak lagi sepi atau menakutkan. Dua orang yang dulunya berjalan di jalan yang berbeda kini berjalan berdampingan, menyadari bahwa keterkaitan nasib mereka bukanlah kebetulan semata. Jejak kasus lama yang dulu dianggap selesai dan tertutup rapat, kini perlahan terbuka kembali—menampakkan kebenaran yang selama ini berusaha dikubur sedalam-dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!