Biyanna Loralie Avacyn adalah gadis remaja yang tidak suka diatur. Anna, orang sering memangilnya itu. Anna memiliki satu orang sahabat yakni Ellerose Naselin Jasney yang sama sama suka kebebasan.
Namun tak disangka tak diduga tiba tiba orang tua kedua gadis itu menjodohkan mereka dengan anak sahabat mereka karena sudah tak sanggup lagi untuk menjaga kedua anaknya yang suka kabur kaburan.
Mereka adalah Xiaotian Charis Livian dan Albiru Sky Geovander yang ternyata musuh bebuyutan dua sahabat itu.
Gimana kehidupan mereka kedepannya?
kita saksikan kisah ceritanya di "Menikahi Musuhku".
Selamat membaca, , ,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mella Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
...~•Happy reading•~...
......................
Brem brem bremmmm
BRAK
Mobil sport melesat menabrak gerbang tinggi di markas seseorang. Tanpa anak buah yang mengikuti orang itu nekad mendatangi Markas musuh seorang diri.
Sirine ancaman berdering dimana mana pertanda ada penyusup datang.
Dalam hitungan beberapa menit banyak orang membawa senjata berkumpul di depan markas. Mereka melihat gerbang sudah tak berbentuk oleh satu mobil.
"Woy keluar Lo".
Satu anggota maju mendekati mobil Anna. Ya, gadis itu Biyanna. Dia mendatangi markas Black Dragon saat tahu mereka terlibat kecelakaan kakek neneknya.
Dengan slow motion gadis itu kaluar dari mobil dengan pakaian serba hitam dan kedua tangannya memegang pistol.
"Seorang wanita". gumam orang itu. "kenapa manis sampai sini".
Biyanna menatap mereka dengan tajam lalu mengacungkan pistol yang dia bawa membuat mereka yang tadi becanda mulai serius.
"Manis jangan macam macam, kamu sendiri kita ramai ramai".
"Daripada capek mending kita bersenang senang saja". Sahut yang lain membuat semua yang disana tertawa ngakak.
DOR
Peluru melesat pas mengenai jantung orang yang paling depan.
"SERANG".
Perkelahian di mulai antara satu lawan beberapa anak buah black dragon yang maju satu persatu. Tak lupa juga tembakan sahut sahutan dimana mana tanpa gadis itu terluka.
DOR
DOR
DOR
BUGH
BUGH
DOR
BUGH
BUGH
Tidak ada satupun yang menyerah membuat halaman markas dipenuhi oleh orang tak bernyawa.
BUGH
Tubuh Anna terpental ke belakang tapi tidak sampai jatuh. Pukulan pas di dadanya membuat Anna menghela nafas panjang untuk mengatur pernapasan.
"YAAAAAA".
BUGH
Saat ada orang yang akan mengambil kesempatan saat lawannya kalah, tiba tiba ada seseorang yang menendang anggota BD sampai terpental jauh.
Anna menatap ke samping dimana orang itu berdiri. "NGAPAIN LO DISINI?". Santak Anna saat melihat Xiaotian yang berdiri di sana.
"Lo gila hah datang ke kandang musuh seorang diri". Pekik Tian menggebu-gebu.
Saat perjalanan dari bandara, Tian memang memilih untuk mengemudikan mobil sendiri tapi pas di tengah jalan dia tak sengaja melihat Biyanna mengemudi dengan kencang.
"Bukan urusan Lo".
Xiaotian menggeram kesal, tangannya terkepal dengan tatapan tajam tapi Anna abaikan.
Gadis itu berjalan masuk meninggalkan Tian memasuki markas BD. Tujuannya adalah mencari pemimpin mereka yang kepastian ada di dalam.
Tapi yang membuatnya heran kenapa orang itu tak keluar saat ada suara tembakan dimana mana.
BRAK
Satu tendangan membuat engsel pintu terlepas. Saat pintu dibuka hal pertama yang Anna dengar adalah suara laknat dua insan yang sedang bercumbu di ruangan itu.
"SIAPA KALIAN?".
"Oh shitt". Gumam Anna saat mata suci nya ternodai oleh adegan di hadapannya.
Tian yang memang mengikuti dari belakang dengan cepat menutup kedua mata Anna, tapi tetap saja Anna sudah melihatnya sebelum itu.
"Pria tua bangka bau tanah, anak buah mati pemimpin nya malah asik disini, cih".
Pemimpin BD menggeram kesal. "Sialan".
DOR
Peluru melesat mengenai tembok saat mengarah ke Biyanna dengan Tian yang menariknya ke samping.
Tak hanya sampai disitu.
DOR
DOR
DOR
Tembakan terus diluncurkan membuat Anna dan Tian terus menghindar. Tapi jika menghindar terus kepastian tak akan selesai.
Dengan langkah kencang berlari sambil melewati peluru.
BUGH
Satu pukulan membuat pemimpin BD tersungkur di lantai. Anna segera membekap nya menggunakan lutut dan kedua tangan.
Tian yang melihat itu segera membantu.
"Jangan sampai mati dulu".
"Kenapa?".
Anna melirik pemuda itu saat ada bantahan. "Nurut aja apa kata gue". Sungut Anna kesal.
Dalam situasi seperti ini juga tuh cowok masih ngajak berdebat, pikir Anna.
...~•Bersambung•~...