NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Di tengah kerasnya gemblengan yang nyaris merenggut kemanusiaannya, bocah itu ternyata masih menyisakan satu sisi kecil dari dunia anak-anaknya. Setiap kali malam telah jatuh sepenuhnya di Pegunungan Sewu dan Sang Warok memberinya waktu istirahat, bocah itu punya satu kebiasaan unik. Entah itu kebiasaan lama yang terbawa dari kehidupannya yang nyaman di Desa Klawitan dulu, ataukah pelarian baru untuk melupakan kepedihan batinnya.

Bocah itu sangat senang berburu dan bermain jangkrik.

Di sela-sela kegelapan malam, ia akan menyusup ke balik semak atau batu karang, mencari serangga kecil itu. Anehnya, ia sama sekali tidak berniat mengadu jangkrik-jangkrik tersebut seperti anak-anak desa pada umumnya. Ia hanya suka duduk diam di sudut gubuk, menatap makhluk kecil itu di dalam wadah bambu, dan mendengarkan suaranya.

"Bagaimana mungkin makhluk sekecil ini bisa mengeluarkan suara yang sangat nyaring? Padahal, ia cuma menggesekkan sayap dan kakinya saja," batin bocah itu heran, jemari kecilnya menyentuh dinding bambu dengan lembut. Baginya, suara jangkrik itu adalah satu-satunya suara ramah yang tersisa di dunia ini, kontras dengan bentakan gurunya atau lolongan serigala hutan.

Kebiasaan aneh itu tak luput dari pengamatan Sang Warok. Suatu malam, pria bertopeng itu berdiri di ambang pintu gubuk, bersedekap dada sambil memperhatikan sang murid yang sibuk menyuapi jangkriknya dengan secuil daun muda.

"Hey, bocah. Melihat kesukaanmu itu, bagaimana kalau kau kupanggil Jangkrik saja, hah?" tegur Sang Warok, suaranya berat memecah keheningan.

Bocah itu tidak menoleh. Tangan kecilnya tetap bergerak tenang. "Itu bukan namaku," sahutnya datar.

"Lalu, siapa namamu yang sebenarnya?" tanya Sang Warok lagi, memancing. Selama berbulan-bulan membawa anak ini, ia memang tidak pernah menanyakan nama asli sang bocah, dan si bocah pun tak pernah sudi memperkenalkannya.

"Itu bukan urusanmu," jawab bocah itu dingin, menutup wadah bambunya.

Sang Warok terkekeh pelan, seolah sudah menebak jawaban ketus tersebut. "Kalau begitu, mulai malam ini kau tetap kupanggil Jangkrik."

Bocah itu menghela napas pendek, menyembunyikan wajahnya di balik bayangan sudut gubuk. "Terserah."

"Baik. Nah, sekarang tidurlah, Jangkrik. Malam makin larut," ucap Sang Warok seraya berbalik menjauh. "Besok subuh, ujian pertamamu dimulai. Simpan mainanmu itu sebelum kupijak sampai hancur."

Setelah langkah Sang Warok menghilang di balik kegelapan bilik sebelah, bocah itu kembali menatap wadah bambunya. Di dalam hati, ia menerima nama baru itu. Jangkrik. Sebuah nama yang rapuh, namun perlahan ia menyadari sesuatu; jika serangga sekecil jangkrik bisa menciptakan getaran suara yang nyaring hanya dengan gesekan kecil, maka ia pun—suatu saat nanti—akan menciptakan getaran maut yang dahsyat untuk meruntuhkan keangkuhan Sang Warok dengan tangannya sendiri.

Keesokan paginya, suasana Pegunungan Sewu diselimuti kabut tebal yang dingin menggigit. Jangkrik terbangun bukan karena ledakan cambuk seperti biasanya, melainkan karena hawa hening yang tidak biasa. Ia membuka mata dan langsung bangkit dari balai-balai bambunya.

Di tengah ruangan gubuk, sosok pria itu sedang berdiri membelakanginya, menatap lurus keluar pintu yang terbuka. Namun, ada yang berbeda hari ini. Kain hitam yang selama berbulan-bulan menyembunyikan wajah misterius sang pembantai, kini tergeletak begitu saja di atas meja jati.

Untuk pertama kalinya, pria itu melepaskan topengnya.

Ketika pria itu berbalik, Jangkrik sempat menahan napas. Wajah di balik topeng itu ternyata dipenuhi guratan-guratan keras bagai batu karang. Sepasang alisnya tebal menyambung, dengan kumis dan janggut hitam lebat yang melingkari rahangnya yang kokoh—ciri khas mutlak dari seorang pria yang telah khatam menghirup udara kekerasan. Sebuah garis luka mendalam melintang dari pelipis hingga ke pipi kirinya, menambah kesan angker pada parasnya.

Mata mereka beradu. Jangkrik menatap wajah pembunuh orang tuanya tanpa berkedip, merekam setiap detail wajah itu ke dalam memorinya agar tak akan pernah lupa.

Pria itu melangkah mendekat, sepasang mata elangnya menyorot tajam ke arah Jangkrik.

"Mulai hari ini, jangan sebut aku iblis, perampok, atau bajingan lagi, bocah," ucapnya, suaranya terdengar jauh lebih berwibawa dan menggelegar tanpa alingan kain. "Panggil aku *Warok*."

Jangkrik tetap diam, bibirnya terkatung rapat. Rasa benci di dadanya kembali bergolak hebat melihat wajah yang tersenyum sinis di depannya. Panggilan itu terasa sangat berat untuk diucapkan.

"Kenapa? Lidahmu mendadak kelu?" Sang Warok terkekeh, lalu berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah kapak besar dan melemparkannya tepat ke bawah kaki Jangkrik.

Bugh!

"Seorang Warok tidak melatih muridnya untuk menjadi pencuri kelas teri. Aku akan menurunkan seluruh elmu kanuragan dan kebatinan Ponorogo kepadamu. Tapi sebelum kau berhak menerima elmu itu, buktikan kalau nyalimu tidak ciut setelah melihat wajahku."

Sang Warok menunjuk ke arah luar gubuk, ke arah tebing batu karang yang menjulang tinggi di bawah kabut.

"Bawa kapak itu. Tebang tiga pohon jati terbesar di lereng tebing sebelum matahari tepat di atas kepala. Jika kau gagal, atau jika kau mencoba kabur lagi... kapak itu yang akan menebas lehermu. Paham, Jangkrik?"

Jangkrik menatap kapak di bawahnya, lalu mendongak menatap wajah Sang Warok yang kini terpampang jelas. Alih-alih takut, dadanya justru bergemuruh. Kini musuhnya punya wajah, punya nama, dan punya wujud yang nyata.

Tanpa sepatah kata pun, Jangkrik membungkuk, mencengkeram gagang kapak yang berat itu dengan kedua tangan kecilnya yang kini telah kapalan. Dengan tatapan mata yang sedingin es, ia melangkah melewati Sang Warok menuju kegelapan hutan kabut, memulai babak baru pelatihannya langsung di bawah mata sang guru yang sah, Sang Warok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!