Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.
Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.
Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.
Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.
"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Di sepanjang perjalanan pulang malam itu, keheningan yang teramat pekat menyelimuti interior mobil mewah milik Alexander Kingsley.
Aurora Quinn memilih untuk lebih banyak diam membisu. Ia menyandarkan kepalanya lemas pada kursi penumpang sambil melemparkan tatapan kosong ke arah hamparan lampu-lampu kota New York yang bergulir cepat di balik jendela kaca.
Biasanya, atmosfer di dalam mobil ini akan selalu dipenuhi oleh suara riang Aurora. Gadis itu akan selalu memiliki banyak hal menarik untuk diceritakan kepada Alexander; mulai dari hal-hal remeh di kampus, kelucuan di kafe, hingga kelakuan pelanggan aneh yang datang memesan kopi hari itu. Namun, malam ini semuanya terasa berbeda. Sangat berbeda.
---
Alexander melirik ke arah kursi penumpang di sampingnya selama beberapa kali. Sebagai seorang pria yang taktis, ia tentu saja langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang melanda hati kekasihnya. Perubahan itu terlihat terlampau jelas, karena Aurora memang bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan suasana hatinya dengan baik di depan Alexander.
"Aurora," panggil Alexander lembut, memecah kesunyian jalanan.
Aurora sedikit tersentak, lalu menolehkan kepalanya lambat. "Hm? Ada apa, Alex?" tanya Aurora mencoba terdengar biasa saja.
"Kamu benar-benar baik-baik saja?" tanya Alexander memastikan dengan nada penuh perhatian.
Aurora menyunggingkan sebuah senyuman kecil di bibirnya—sebuah senyuman hambar yang terlihat terlampau dipaksakan di mata Alexander. "Iya, aku baik-baik saja, kok," jawab Aurora berkilah.
Alexander langsung tahu bahwa jawaban itu adalah sebuah kebohongan besar.
---
Tepat di sebuah persimpangan jalan, lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah, memaksa mobil mereka untuk berhenti. Alexander akhirnya mengulurkan tangan untuk mematikan alunan radio, lalu memutar posisi tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah Aurora.
"Katakan kepadaku, apa saja yang baru saja ibuku katakan kepadamu di balkon tadi?" tanya Alexander langsung pada inti masalah.
Aurora seketika membeku di tempat duduknya. Jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang tidak nyaman karena terkejut. "Bagaimana... bagaimana bisa kamu tahu kalau aku mengobrol dengan ibumu?" tanya Aurora terbata.
Alexander mengulas sebuah tawa rendah yang terdengar pahit. "Aku sudah mengenal tabiat ibuku sendiri selama dua puluh dua tahun hidup di dunia ini, Aurora," jawab Alexander realistis.
Pria itu kemudian memajukan tubuhnya, menatap lekat sepasang mata cokelat milik kekasihnya.
"Aku tahu bagaimana detail ekspresi wajahmu saat ini," lanjut Alexander dengan nada suara yang melembut. "Aku tahu kapan saat kamu merasa sedih, dan aku juga tahu dengan sangat jelas kapan saat kamu sedang mencoba untuk membohongiku."
Aurora terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menolak untuk membalas tatapan itu. Dan bagi Alexander, reaksi diam tersebut sudah menjadi sebuah jawaban yang teramat konkrit.
---
Setelah beberapa saat keheningan yang menyesakkan berlalu, Aurora akhirnya memberanikan diri untuk kembali membuka suara.
"Beliau... Beliau sama sekali tidak mengatakan sesuatu yang salah kepadaku, Alex," cicit Aurora dengan nada suara yang berangsur lirih.
Alexander mengernyitkan dahinya dalam-dalam, tidak menyukai arah pembicaraan ini. "Apa maksudmu?" tanya Alexander menuntut penjelasan.
Aurora tersenyum pahit, menatap lurus ke depan dengan pandangan nanar. "Nyonya Victoria hanya mengatakan sebuah kenyataan hidup yang harus kuhadapi," jawab Aurora jujur dari lubuk hatinya yang terluka. Suasana di dalam mobil mendadak kembali menjadi hening dan terasa mencekam.
---
Aurora menatap kedua belah telapak tangannya sendiri yang saling bertautan di atas pangkuan, lalu berkata dengan nada pelan yang sarat akan keputusasaan.
"Alexander..." panggil Aurora lirih. "Selama berada di dalam ruang pesta tadi, aku benar-benar merasa seperti sesosok orang asing yang tersesat di tempat yang salah."
Alexander tidak memotong kalimat itu dan memilih untuk terus menatapnya dengan pandangan intens.
Aurora melanjutkan untaian kalimatnya, meluapkan seluruh beban yang sejak tadi menghimpit dadanya. "Semua orang yang hadir di sana terlihat begitu sempurna tanpa celah. Semua orang berasal dari latar belakang keluarga yang hebat dan terpandang. Mereka semua terlihat begitu serasi dan cocok untuk berada di dalam lingkaran dunia megah itu."
Aurora tertawa kecil, namun suara tawanya kali ini terdengar begitu menyedihkan di telinga Alexander.
"Kecuali diriku sendiri, Alex. Aku sama sekali tidak pantas berada di sana," pungkas Aurora pasrah pada kastanya.
---
Mendengar pengakuan menyakitkan itu, Alexander tanpa ragu langsung mengarahkan mobilnya ke tepi jalan dan memarkirkannya di area yang sepi.
Aurora tersentak kaget melihat tindakan mendadak tersebut. "Alex? Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa berhenti di sini?" tanya Aurora bingung.
Alexander tidak menjawab pertanyaan itu secara verbal. Ia mematikan mesin mobilnya, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya untuk menatap lurus ke dalam manik mata Aurora. Guratan wajah pria itu tampak begitu serius dan tegas, sukses membuat Aurora mendadak dirundung rasa gugup yang luar biasa.
---
"Aurora Quinn," panggil Alexander dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.
Aurora menelan ludahnya dengan susah payah mendengar penekanan nama lengkapnya disebut. "Iya, Alex?" sahut Aurora pelan.
Alexander menunjuk ke arah dada kirinya sendiri dengan gestur yang mantap. "Apakah kamu tahu apa alasan terbesar yang membuatku bisa jatuh hati dan menyukaimu seserius ini?" tanya Alexander melempar pertanyaan retoris.
Aurora menggelengkan kepalanya perlahan, pertanda tidak tahu.
Alexander menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat menawan di bibirnya. "Itu karena kamu berbeda dari semua wanita yang pernah kutemui di duniaku, Aurora," jawab Alexander tulus.
Aurora terdiam membisu, terpaku pada kalimat itu.
"Di saat semua orang di luar sana mencoba mendekatiku hanya karena silau oleh nama besar Kingsley yang melekat pada diriku..." lanjut Alexander lagi, memperdalam tatapan matanya untuk meyakinkan. "Hanya kamu satu-satunya orang yang melihatku murni sebagai seorang Alexander. Bukan sebagai seorang pewaris takhta perusahaan raksasa, bukan sebagai calon CEO, dan bukan pula sebagai anak dari orang kaya. Kamu menerimaku hanya sebagai Alexander biasa."
---
Mendengar penuturan tulus itu, sepasang mata Aurora seketika mulai terasa memanas akibat air mata yang mulai mendesak keluar. Namun, Alexander tampaknya masih belum selesai dengan kalimatnya.
"Dan menurut penilaianmu sendiri, apakah ketulusan luar biasa yang kamu miliki itu adalah sebuah hal kecil yang tidak berharga, Aurora?" tanya Alexander menuntut jawaban.
Aurora tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalasnya.
Alexander menghela napas panjang, lalu mengulurkan kedua belah tangannya untuk menggenggam erat jemari tangan Aurora yang terasa sedingin es. "Aurora," panggil Alexander lembut. "Aku tidak pernah membutuhkan sesosok pendamping yang harus terlihat cocok dan sempurna dengan duniaku yang kaku ini. Aku murni hanya membutuhkan seseorang yang bisa membuatku merasa bahagia dan dihargai sebagai manusia biasa."
Deg.
Jantung Aurora bergetar hebat mendengar untaian kalimat yang begitu mendalam tersebut.
---
Untuk selama beberapa detik yang panjang, mereka berdua hanya saling melemparkan tatapan mata di bawah temaram lampu jalanan. Hingga akhirnya, Alexander menyunggingkan sebuah senyuman kecil—sebuah senyuman hangat yang selalu berhasil meruntuhkan seluruh dinding pertahanan mental Aurora.
"Andai kamu tahu... sosok yang bisa membuatku sebahagia itu murni hanyalah kamu seorang, Aurora," bisik Alexander mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.
Aurora langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam ke bawah. Karena jika ia tidak melakukan hal itu saat ini juga, Alexander dipastikan akan bisa melihat sepasang matanya yang sudah berkaca-kaca menahan luapan rasa haru yang membuncah.
---
Tidak lama setelah momen emosional itu berlalu, mobil mewah Alexander akhirnya tiba dan berhenti tepat di depan gedung apartemen minimalis milik Aurora. Sebelum membuka pintu mobil untuk turun, Aurora menyempatkan diri untuk menoleh ke arah sang kekasih.
"Alexander," panggil Aurora lembut.
"Hm? Ada apa?" sahut Alexander menatapnya.
Aurora menyunggingkan sebuah senyuman—sebuah senyuman yang jauh lebih tulus, manis, dan lepas jika dibandingkan dengan senyuman-senyuman palsunya di pesta tadi. "Terima kasih banyak untuk semuanya malam ini, Alex," ucap Aurora tulus dari dalam lubuk hatinya.
Alexander menganggukkan kepalanya pelan dengan tatapan mata yang melembut penuh kasih. Namun, begitu langkah kaki Aurora sudah benar-benar melangkah masuk menghilang di balik pintu kaca gedung apartemen, seulas senyuman hangat di wajah tampan Alexander perlahan-lahan mulai memudar tanpa sisa.
---
Sebab jauh di dalam isi kepalanya, Alexander tahu betul bahwa masalah yang sebenarnya baru saja resmi dimulai malam ini.
Ibunya, Victoria Kingsley, dipastikan tidak akan pernah berhenti begitu saja setelah konfrontasi di balkon tadi. Sophia Laurent pun dipastikan tidak akan tinggal diam melihat kedekatan mereka yang semakin mengakar kuat. Dan cepat atau lambat... Aurora yang tulus dipastikan akan kembali menjadi pihak yang paling terluka di dalam pusaran konflik kasta ini.
---
Sementara itu di belahan sisi kota yang terpisah, tepatnya di dalam ruang kerja pribadi milik *mansion* megah keluarga Kingsley.
Victoria Kingsley sedang duduk anggun di balik meja kerja mahoninya yang besar, ketika sebuah ketukan pintu yang teratur terdengar menggema dari arah luar ruangan.
"Masuk," perintah Victoria dengan nada suara yang teratur dan tegas.
Pintu kayu besar itu perlahan terbuka lebar, dan sesosok wanita yang melangkah masuk ke dalam ruangan seketika sukses membuat Victoria sedikit tersentak kaget di posisinya duduk saat ini.
Sosok itu tidak lain adalah Sophia Laurent.
Gadis dari kalangan elit itu menyunggingkan sebuah senyuman anggun yang teramat menawan di bibirnya. "Selamat malam, Nyonya Kingsley," sapa Sophia menyapa dengan nada hormat yang dibungkus kehalusan.
Victoria mengangkat sebelah alisnya tinggi, merasa heran dengan kedatangan mendadak ini. "Ada keperluan penting apa yang membuatmu bertamu semalam ini, Sophia?" tanya Victoria menyelidiki motif di balik kedatangan sang gadis.
Sophia berjalan perlahan, lalu mendudukkan tubuhnya dengan gestur berkelas di atas kursi empuk di depan meja kerja Victoria. Ia menyilangkan kakinya anggun, lalu mengulas sebuah senyuman misterius yang sarat akan arti terselubung.
"Saya pikir..." ucap Sophia sengaja menggantung kalimatnya sejenak sembari menatap lekat mata Victoria. "Kita berdua saat ini sedang memiliki sebuah masalah besar yang sama, Nyonya."
Victoria terdiam membisu di tempatnya, menanti kelanjutan kalimat tersebut dengan tatapan menelisik yang tajam.
Sementara itu, Sophia menatap wajah sang nyonya besar dengan binar mata yang dipenuhi oleh rasa keyakinan mutlak akan tujuannya. Karena pada malam yang sunyi itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah... dua orang wanita berkuasa yang sama-sama tidak menginginkan keberadaan Aurora Quinn berada di sisi hidup Alexander Kingsley, telah resmi memilih untuk berdiri di pihak yang sama.