NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat dari Dunia Manusia

Aelora bangun dengan kepala berat dan rasa pahit di lidah.

Seseorang telah memindahkannya kembali ke kamar. Ia tidak ingat perjalanan dari halaman latihan, tetapi sepatu kainnya sudah dilepas dan kakinya diselimuti sampai mata kaki. Piko terbaring di samping bantal, sedangkan sebuah kursi ditarik dekat ranjang.

Ryn duduk di sana.

Anak laki-laki itu membungkuk sambil membaca buku, meski matanya tidak benar-benar mengikuti baris-baris tulisan. Setiap beberapa saat, ia melirik Aelora, lalu buru-buru kembali menatap halaman.

Aelora membiarkannya melakukan itu tiga kali sebelum berkata, “Bukunya terbalik.”

Ryn melihat sampul buku yang berada di bawah, lalu membaliknya dengan wajah kaku.

“Aku tahu.”

“Tentu.”

“Kau sudah bangun sejak kapan?”

“Cukup lama untuk melihatmu membaca tulisan dari arah yang salah.”

Ryn menutup buku dan meletakkannya di meja. Gerakannya sedikit terlalu keras.

“Aku tidak sedang membaca. Aku menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Memastikan kau tidak mati.”

Aelora mengangkat alis.

Ryn segera memperbaiki ucapannya. “Eirna bilang penggunaan sihir bisa membuatmu pingsan. Aku hanya ingin tahu apakah kau sadar lagi.”

“Aku sadar.”

“Aku melihat.”

Ia bangkit seolah tugasnya sudah selesai. Namun sebelum pergi, Ryn berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan dimasukkan ke saku.

“Terima kasih,” katanya.

Kata-kata itu keluar begitu pelan hingga Aelora hampir tidak mendengar.

“Untuk apa?”

Ryn memandangnya sebal. “Kau tahu.”

“Aku mau mendengarnya.”

“Kau menyebalkan.”

“Kau juga.”

Ryn menarik napas, lalu berkata lebih jelas, “Terima kasih karena sudah menghilangkan segel itu.”

Aelora mengangguk puas. “Sama-sama.”

“Bukan berarti aku mengaku kalah.”

“Kita belum menyelesaikan permainan.”

“Kau pingsan.”

“Aku tidak keluar lingkaran.”

“Karena Raja menangkapmu.”

“Berarti aku tetap di dalam.”

Ryn tampak ingin berdebat, tetapi kemudian ujung bibirnya naik sedikit. “Kita ulangi saat kau tidak selemah ini.”

“Aku tidak lemah.”

“Kau pingsan setelah membuat satu cahaya.”

“Itu cahaya besar.”

“Kau bahkan tidak tahu cara membuatnya.”

“Yang penting berhasil.”

Ryn menggeleng dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh kepada Aelora.

“Ayahku akan datang ke istana siang ini.”

“Karena segel pelacak?”

“Karena dia marah seseorang menggunakan aku untuk mengintip rapat klan.” Wajah Ryn mengeras. “Dia juga ingin tahu kenapa aku disembuhkan oleh anak manusia.”

Aelora mengusap mata. “Kalau dia keberatan, kutukannya bisa dipasang lagi.”

Ryn menatapnya beberapa detik, lalu tertawa pendek.

Itu pertama kalinya Aelora mendengar suara tersebut darinya.

Pintu baru saja tertutup ketika Nira menerobos masuk membawa dua buah apel ungu dan sebuah kantong kecil.

“Dia bilang terima kasih?”

Aelora menoleh. “Kau menguping?”

“Aku menunggu di lorong.”

“Itu hampir sama.”

Nira naik ke atas ranjang dan menyerahkan satu apel. “Ryn jarang bilang terima kasih. Terakhir kali dia melakukannya, dia langsung demam.”

“Benarkah?”

“Tidak. Tapi dia mungkin merasa begitu.”

Aelora menggigit apel. Rasanya lebih manis daripada warnanya. “Kenapa dia menunggu di sini?”

“Dia bilang karena merasa bersalah.”

“Dia tidak terlihat merasa bersalah.”

“Ryn memang tidak punya wajah yang cocok untuk merasa bersalah.”

Nira mengeluarkan isi kantong kecilnya: benang hitam, jarum, dua kancing ungu, dan potongan kain.

“Apa itu?”

“Kita perbaiki Piko.”

Aelora segera mengambil bonekanya. “Kau bisa menjahit?”

“Sedikit.”

“Sedikit seperti kau bisa memasak?”

“Aku bisa memasak.”

“Kau dilarang mendekati api besar.”

“Itu cuma sekali.”

“Kau bilang ada kejadian sebelumnya.”

Nira merebut kembali kantong jahit dengan kesal. “Aku tidak akan membakar bonekamu.”

Aelora memperhatikan telinga Piko yang hampir lepas. Jahitannya memang semakin buruk setelah digunakan memukul hidung Ryn.

“Baik,” katanya. “Tapi aku yang memegang.”

Mereka duduk berdekatan dan mulai memperbaiki telinga boneka. Nira yang memasukkan benang ke lubang jarum, sementara Aelora menjahit dengan tusukan kecil yang tidak terlalu rapi. Hasilnya miring dan ada satu bagian yang terlalu rapat, tetapi telinganya tidak lagi menggantung.

“Bagus,” kata Nira.

“Tidak sama dengan sebelumnya.”

“Yang penting tidak jatuh.”

Aelora mengusap jahitan baru itu. Di masa depan yang ia ingat, Kael pernah memperbaiki telinga Piko dengan benang merah karena tidak menemukan warna hitam. Jahitannya jauh lebih buruk daripada buatan mereka sekarang.

Ingatan itu terasa hangat sekaligus menyakitkan.

Pintu kamar kembali diketuk. Kali ini Orin masuk dengan wajah serius dan sebuah baki perak di tangan. Di atasnya terletak gulungan surat bersegel merah.

Nira melihat surat tersebut dan langsung turun dari ranjang.

“Aku harus pergi?”

Orin memandangnya. “Akan lebih baik.”

“Aku tidak akan bicara.”

“Itulah janji yang paling sulit saya percayai.”

Nira mengambil apel yang belum dimakan, lalu berbisik kepada Aelora, “Cari aku setelah selesai.”

Ia keluar, masih membawa kantong jahit.

Aelora menatap gulungan pada baki. Lambang matahari Asteria tercetak jelas pada lilin merahnya.

“Untuk Kael?”

“Untuk Yang Mulia dan Dewan Bulan,” jawab Orin. “Tetapi nama Anda tercantum di bagian luar.”

Aelora turun dari ranjang. “Aku mau lihat.”

“Raja meminta Anda tetap beristirahat.”

“Aku sudah tidur.”

“Pingsan tidak dihitung sebagai tidur.”

“Semua orang bilang begitu.”

Orin mengangkat baki sedikit lebih tinggi ketika Aelora mencoba meraih surat.

“Kita ke ruang kerja,” katanya. “Yang Mulia menunggu di sana.”

Aelora mengenakan sandal dan mengikuti Orin. Dua penjaga kembali berjalan di belakang mereka. Salah satunya adalah penjaga bertanduk yang sudah beberapa kali mengawalnya. Ia kini membawa perisai kecil, seolah surat dari Asteria mungkin meledak kapan saja.

Mungkin memang bisa.

Di depan ruang kerja Kael sudah berdiri empat anggota Dewan Bulan. Lady Varessa berada paling dekat dengan pintu. Di sebelahnya ada Lord Merek, seorang ahli rune, dan pria berambut hitam yang belum pernah Aelora lihat.

Ryn berdiri di samping pria itu.

Wajahnya memiliki bentuk yang mirip—dagu tegas, mata kelabu, dan ekspresi seolah seluruh dunia sering mengecewakan mereka. Pria tersebut pasti ayahnya.

Ketika Aelora mendekat, Ryn memberi anggukan kecil. Ayahnya hanya mengamati.

“Putri Aelora,” sapa Lady Varessa.

Aelora masih belum terbiasa dipanggil demikian oleh orang yang kemarin ingin mengirimnya ke menara pengamatan.

“Lady Varessa.”

Tatapan perempuan itu turun pada pergelangan tangan Aelora. “Saya mendengar Anda memurnikan kutukan pada pewaris Klan Vael.”

Jadi pria itu Lord Vael.

Aelora mengangguk. “Tidak sengaja.”

Lord Vael berbicara untuk pertama kalinya. “Anak saya mengatakan Anda menyelamatkan nyawanya.”

Ryn memandang dinding.

“Aku hanya menarik segelnya,” jawab Aelora.

“Segel itu telah berada di tubuhnya hampir satu tahun. Tiga tabib klan tidak menemukannya.”

Aelora tidak tahu apakah kalimat itu merupakan pujian atau tuduhan.

“Aku melihatnya saat sihir Ryn berubah.”

Lord Vael menatap putranya, kemudian kembali kepada Aelora. Ia membungkuk sedikit. Tidak serendah pelayan atau prajurit, tetapi cukup untuk mengejutkan semua orang di lorong.

“Klan Vael memiliki utang kepada Anda.”

Ryn terlihat semakin tidak nyaman.

Aelora memegang Piko dengan kedua tangan. “Tidak perlu utang. Aku tidak suka orang berutang.”

“Kenapa?”

“Orang yang berutang kadang jadi marah kepada orang yang menolongnya.”

Lord Vael memperhatikan wajahnya, mungkin bertanya-tanya dari mana seorang anak tujuh tahun mendapatkan pemikiran seperti itu.

“Kalau begitu anggaplah kami sekutu,” katanya.

“Itu lebih baik.”

Pintu ruang kerja terbuka. Kael berdiri di ambang dengan wajah yang menunjukkan bahwa ia sudah menunggu cukup lama.

“Masuk.”

Mereka semua mengikuti.

Surat Asteria diletakkan di tengah meja. Ahli rune memeriksa segelnya menggunakan kristal panjang. Setelah memastikan tidak ada racun atau sihir ledakan, ia memotong tali pengikat tanpa menyentuh lilin merah.

“Tidak ada kutukan aktif,” katanya.

“Yang pasif?” tanya Kael.

“Satu mantra pengintai pada tinta. Sudah saya putus.”

Kael mengambil surat tersebut dan membuka gulungannya.

Aelora berdiri di samping meja, terlalu pendek untuk melihat seluruh tulisan. Ia hanya dapat membaca bagian paling atas yang menggunakan huruf besar.

KEPADA PENGUASA WILAYAH NOCTHARA.

Kael membaca tanpa suara. Semakin jauh matanya bergerak, semakin datar wajahnya.

Aelora mengenali ekspresi itu.

Kael sedang sangat marah.

“Apa isinya?” tanya Lady Varessa.

Kael menyerahkan surat tersebut kepadanya.

Varessa membaca bagian awal dengan suara keras.

“Kerajaan Asteria menyampaikan keberatan resmi atas tindakan pasukan Nocthara yang membawa seorang anak warga Asteria melintasi perbatasan tanpa persetujuan kerajaan atau Gereja Fajar.”

Aelora memeluk Piko lebih erat.

“Mereka sendiri yang meninggalkanku di Hutan Hitam.”

“Surat ini menyebut Anda diambil secara paksa,” kata Lord Merek.

“Aku tidak dipaksa.”

Kael mengambil kembali surat itu. “Mereka tahu.”

“Lalu kenapa menulis begitu?” tanya Aelora.

“Karena kebohongan terlihat lebih resmi jika ditulis dengan lambang kerajaan,” jawab Kael.

Lady Varessa mengisyaratkan agar ia melanjutkan.

Kael membaca bagian berikutnya dengan suara keras.

“Anak bernama Aelora Arvand merupakan tersangka dalam perkara penggunaan sihir terlarang, pencemaran benda suci, dan keterlibatan dalam hilangnya tiga anggota Gereja Fajar.”

Aelora menatapnya.

“Aku tidak pernah menghilangkan siapa pun.”

“Umurmu tujuh tahun saat perkara itu disebut terjadi,” kata Lord Vael. “Tuduhan ini dibuat agar mereka dapat menggolongkanmu sebagai pelaku kriminal.”

Ryn berdiri lebih dekat kepada meja. “Anak tujuh tahun bisa dijadikan tersangka?”

“Di Asteria, rupanya bisa,” jawab Varessa.

Kael melanjutkan membaca.

“Mengingat anak tersebut berada dalam kondisi terpengaruh sihir iblis, Kerajaan Asteria menuntut agar ia segera dikembalikan kepada Gereja Fajar untuk menjalani pemurnian dan pengadilan yang adil.”

Aelora tertawa pendek.

Tidak ada yang lucu. Suara itu keluar karena kalimat terakhir terlalu sulit dipercaya.

“Pengadilan yang adil?” katanya. “Mereka sudah memutuskan aku bersalah sebelum membawaku ke hutan.”

Kael menggulung surat itu setengah bagian.

“Masih ada satu halaman.”

Aelora melihat selembar kertas tipis lain di belakang surat utama. Kertas tersebut berisi daftar syarat: batas waktu tiga hari, ancaman penutupan jalur dagang, dan peringatan bahwa Nocthara akan dianggap menculik warga Asteria jika tidak mematuhi tuntutan.

Lord Merek mengetukkan tongkat ke lantai. “Mereka ingin alasan untuk meningkatkan pasukan perbatasan.”

“Gereja sudah mengirim pemburu lebih dulu,” kata Lord Vael. “Surat ini hanya dibuat agar mereka tampak sebagai pihak yang dirugikan.”

Lady Varessa menatap Kael. “Kita tetap perlu memberi jawaban resmi.”

“Aku punya jawaban.”

Kael membawa surat itu menuju perapian.

Ahli rune buru-buru berkata, “Yang Mulia, itu dokumen diplomatik.”

Kael memasukkan ujung kertas ke api.

“Sekarang bukan.”

Api memakan seluruh surat dengan cepat. Lilin merah pada segelnya mencair, lalu menetes ke kayu perapian. Lambang matahari Asteria berubah hitam sebelum runtuh menjadi abu.

Aelora memandangi api.

Sebagian dirinya merasa lega. Surat itu tidak dapat memaksanya kembali. Kael tidak ragu memilih pihaknya.

Namun saat segel meleleh, sesuatu yang tidak terlihat sebelumnya muncul pada bagian bawah lilin.

Tulisan kecil.

Hanya dua kata, dicetak terbalik pada lapisan dalam segel.

Aelora melangkah mendekat.

“Tunggu.”

Kael sudah hendak menjatuhkan sisa kertas, tetapi ia berhenti.

“Apa?”

Aelora menunjuk lilin yang belum sepenuhnya terbakar. “Ada tulisan.”

Ahli rune menggunakan penjepit untuk mengambil bagian segel dari api. Ia menaruhnya di atas nampan logam, lalu membersihkan abu dengan kuas kecil.

Semua orang berkumpul lebih dekat.

Di balik lambang matahari Asteria terdapat segel lain yang lebih kecil. Bentuknya bukan lambang kerajaan maupun gereja. Ukirannya menyerupai bunga berkelopak enam yang dikelilingi bulan sabit.

Aelora mengenal lambang itu.

Lambang yang sama pernah muncul pada punggung Piko.

“Arvand,” bisiknya.

Ahli rune menoleh. “Apa?”

“Itu lambang keluarga ibuku.”

Kael mengambil nampan dari tangannya.

Tulisan di bawah lambang mulai terlihat setelah lapisan lilin terakhir dibersihkan.

MIRAEL ARVAND — PENJAMIN PENYERAHAN.

Aelora membaca kalimat tersebut dua kali.

Ia tetap tidak memahaminya.

“Apa maksud penjamin penyerahan?”

Tidak seorang pun langsung menjawab.

Aelora memandang Kael. “Kenapa nama Ibu ada di surat yang meminta aku dikembalikan?”

Kael menatap segel itu dengan wajah keras.

“Bisa jadi dipalsukan,” kata Lady Varessa.

Ahli rune menggeleng. “Jejak darah pada segel sesuai dengan garis Arvand. Pemalsuan tidak mungkin tanpa darah anggota keluarga langsung.”

“Ibu masih hidup?” tanya Aelora.

Kael mengangkat kepala.

Harapan sudah telanjur muncul di wajah Aelora sebelum ia sempat menyembunyikannya.

“Kalau darahnya digunakan sekarang, berarti Ibu hidup, kan?”

“Tidak selalu,” jawab ahli rune hati-hati. “Darah dapat disimpan dalam benda sihir selama bertahun-tahun.”

Harapan itu tidak hilang, tetapi berubah menjadi sesuatu yang lebih rapuh.

Kael memeriksa sisa segel. “Ada pesan tersembunyi.”

Bagian tengah lambang bunga memiliki retakan halus. Ketika ditekan, permukaan lilin terbuka seperti kelopak. Sebuah gulungan kertas sangat kecil tersimpan di dalamnya.

Ahli rune hendak mengambilnya, tetapi huruf pada kertas langsung menyala saat tangannya mendekat.

“Terikat pada garis darah,” katanya. “Hanya Aelora yang bisa membukanya.”

Kael tidak langsung memberikannya.

Aelora mengulurkan tangan. “Itu dari Ibu.”

“Kita belum tahu.”

“Namanya ada di sana.”

“Justru itu bisa menjadi perangkap.”

Aelora menatapnya. “Aku harus membacanya.”

Kael memandang kertas kecil di telapak tangan, lalu tanda pada pergelangan Aelora.

Akhirnya ia menyerahkannya.

Begitu jari Aelora menyentuh kertas, cahaya emas menyebar di sepanjang tepinya. Gulungan kecil itu membuka sendiri dan melebar menjadi selembar surat tipis.

Tulisan tangan muncul perlahan.

Bukan tinta hitam.

Cahaya.

Aelora tidak mengenali bentuk tulisan tersebut, tetapi saat membaca, setiap kata langsung terasa akrab—seolah suara seorang perempuan sedang berbicara di dalam kepalanya.

Untuk anakku, jika surat ini sampai kepadamu, berarti Gereja sudah mulai bergerak.

Tangan Aelora gemetar.

Kael berdiri di sampingnya, membaca baris yang sama.

Huruf berikutnya muncul.

Jangan percaya tuntutan Asteria. Jangan kembali bersama siapa pun yang membawa lambang matahari.

Aelora menahan napas.

Kalimat terakhir terbentuk lebih lambat. Beberapa hurufnya berkedip seperti kesulitan mempertahankan bentuk.

Dan apa pun yang Kael katakan kepadamu, jangan biarkan dia menyerahkanmu kepada Surga.

Semua mata beralih kepada Kael.

Aelora tidak.

Ia tetap menatap surat itu sampai muncul satu baris tambahan yang hanya dapat dilihat dari sudut tempatnya berdiri.

Tulisan tersebut jauh lebih kecil.

Kae, jika kau membaca ini, berarti aku gagal pulang. Maafkan aku.

Api perapian mendadak membesar.

Surat di tangan Aelora berubah menjadi abu sebelum siapa pun sempat menyentuhnya.

Namun nama Mirael sudah tertinggal pada telapak tangannya, bercahaya tipis seperti luka lama yang baru saja terbuka.

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!