Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Keadaan Minda di Kelas X-5 dan teman baru
Matahari baru saja menampakkan sinarnya di langit, namun suasana hati Minda sudah bersinar jauh lebih terang.
Hari ini adalah hari pertamanya masuk di kelas X-5.
Sebagai anak yang terlahir dengan energi tak terbatas dan kepribadian yang supel, Minda punya satu misi besar: mendapatkan teman-teman baru yang seru dan kompak.
Masalahnya, X-5 terkenal sebagai kelas yang cukup tenang dan diisi oleh anak-anak yang serius.
Namun, bagi Minda, itu bukanlah sebuah penghalang, melainkan tantangan yang menyenangkan!
Langkah pertamanya dimulai tepat di depan pintu kelas. Minda tidak sekadar berjalan masuk, ia melangkah masuk dengan senyum lebar dan suara lantang.
Tap-tap...
"Pagi, teman-teman semua! Wah, kelas X-5 ternyata luas dan keren banget, ya! Kenalin, aku Minda! Semoga kita bisa jadi sahabat baik tiga tahun ke depan!" sapa Minda dengan penuh semangat, sambil melambai-lambai heboh ke seluruh penjuru ruangan.
Sekelas langsung menoleh. Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya bisik-bisik mulai terdengar.
Beberapa siswa tersenyum canggung, namun banyak juga yang menatapnya dengan heran.
Minda tidak berkecil hati melihat reaksi itu. Ia tahu, sifatnya yang ramai ini memang butuh waktu untuk diterima.
Ia pun segera memilih duduk di bangku tengah, tepat di samping seorang siswi yang sibuk merapikan buku dengan wajah datar.
"Halo! Duduk sini, ya? Nama kamu siapa? Buku catatan kamu rapi banget, warna-warni kayak pelangi!" seru Minda heboh, kali ini sambil membuka tasnya dengan sedikit berisik.
Gadis di sebelahnya berjengkit kaget. "Eh, iya. Nama aku Lila," jawab Lila pelan dan sedikit menjaga jarak.
Tentu saja, keheningan bukan gaya Minda. Sepanjang pelajaran berlangsung, Minda terus berusaha mencairkan suasana dengan cara-cara yang mengundang perhatian.
Mulai dari refleks bertepuk tangan sendiri saat penjelasan guru menarik, hingga heboh meminjam pensil dengan gaya dramatis saat alat tulisnya menggelinding ke lantai.
Saat jam istirahat tiba, perjuangan Minda mencapai puncaknya. Ia menolak menjadi anak yang diam di pojokan.
Minda berdiri di depan kelas dan bertepuk tangan dua kali.
Plok-plok! (Suara tepuk tangan)
"Hei, hei! Karena kita belum pada akrab, gimana kalau kita makan siang bareng di kantin sambil main tebak-tebakan? Biar seru!" teriak Minda, suaranya menggema seperti pengumuman penting.
Beberapa siswa yang awalnya hanya diam, mulai tersenyum melihat tingkah Minda yang menggemaskan.
Satu orang berdiri, lalu diikuti oleh yang lain. Dalam waktu singkat, kerumunan kecil terbentuk di sekeliling Minda.
Ia mulai bercerita dengan gaya tubuh yang ekspresif, menirukan gaya gurunya tadi pagi, yang langsung disambut dengan gelak tawa teman-temannya.
Lila, yang sejak tadi duduk di dekat Minda, juga ikut tertawa lepas.
Sikap heboh Minda ternyata menular dan berhasil mendobrak benteng kecanggungan mereka.
Di akhir hari itu, Minda tidak hanya mendapat satu teman, tetapi seluruh anggota kelas X-5 kini mengenalnya.
Minda sukses menjadikan kelas yang tadinya sepi menjadi tempat yang hangat dan penuh warna
__________________
Bagi anak-anak kelas X-5, pemandangan di baris ketiga bangku tengah adalah sebuah anomali yang menggelikan.
Di sana duduk Minda, yang tangannya tidak bisa diam, suaranya selalu berada di volume maksimal, dan tertawanya bisa terdengar hingga ke ruang guru.
Tepat di sebelahnya, duduk Lila, gadis yang bicaranya selembut bisikan angin, rajin mencatat dengan pulpen warna-warni, dan selalu tampak tenang seperti air telaga.
Awalnya, banyak yang mengira Lila akan segera meminta pindah bangku karena tidak tahan dengan kehebohan Minda.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Perbedaan kontras ini malah menjadi lem perekat hubungan mereka.
Minda adalah tipe orang yang membawa badai energi ke mana pun ia pergi.
Saat jam istirahat, Minda akan menarik tangan Lila dengan heboh, membelah kerumunan kantin seolah-olah mereka sedang menjalankan misi penyelamatan penting.
"Lila! Kamu harus coba batagor Mang Ujang! Ini bukan sekadar batagor, Li! Ini mahakarya! Kuah kacangnya itu, beuh, menari-nari di lidah!" seru Minda dengan gerakan tangan teatrikal di tengah antrean kantin yang padat.
Lila hanya bisa tersenyum simpul, wajahnya agak merona karena menjadi pusat perhatian. Namun, di dalam hati, Lila sangat bersyukur.
Sebagai anak yang pemalu, dulu Lila sering melewatkan makan siang karena takut mengantre sendirian.
Kehadiran Minda yang "pemberani" dan tidak punya urat malu itu justru menjadi pelindung bagi Lila dari rasa canggungnya.
Sebaliknya, Lila adalah jangkar bagi Minda yang sering kali bertindak tanpa berpikir panjang. Minda adalah definisi dari siswi yang cerdas namun sangat ceroboh.
Suatu hari, menjelang ujian matematika, Minda panik setengah mati. Ia kehilangan buku catatannya yang dipenuhi coretan tidak beraturan.
Cekittt... (Bunyi resleting tas ditarik kasar. Jari-jarinya dengan panik mengaduk isi tas)
Ia mulai mengacak-acak tasnya dengan heboh, membuat lembaran kertas beterbangan ke lantai kelas.
"Aduh, Lila! Gawat! Buku matematika aku hilang! Aku bisa remedial tujuh turunan kalau begini!" jerit Minda frustrasi, sambil memegangi kepalanya seolah dunia akan runtuh.
Dengan tenang, Lila memunguti kertas-kertas Minda yang berserakan.
Ia kemudian menggeser kursi mendekati Minda, lalu meletakkan sebuah buku tebal bersampul rapi di depan sahabatnya.
Duk....(Buku tebal bersampul rapi itu diletakkan perlahan di meja)
"Nggak usah teriak-teriak, Minda. Ini, pakai buku catatan aku saja. Aku sudah rangkum semua rumusnya dari bab satu sampai bab tiga. Ada contoh soalnya juga, sudah aku kasih stabilo kuning biar kamu gampang bacanya," ucap Lila lembut sambil tersenyum.
Minda menatap buku itu seolah melihat harta karun. Matanya berbinar-binar.
Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk Lila dengan erat sampai Lila hampir kehabisan napas.
"Lila! Kamu itu malaikat pelindung aku! Sumpah, kalau kamu cowok, sudah aku pacarin sekarang juga!" teriak Minda heboh, yang langsung disambut tawa oleh anak-anak X-5 yang melihatnya.
Persahabatan mereka tidak selalu berjalan mulus tanpa ujian. Ada momen-momen di mana sifat heboh Minda benar-benar menguji kesabaran Lila.
Seperti saat Minda tidak sengaja menumpahkan es teh manis tepat di atas tugas menggambar Lila yang sudah dikerjakan semalaman.
Saat itu, Lila hanya diam, membereskan mejanya, lalu pergi ke toilet tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Minda langsung merasa bersalah luar biasa. Energinya yang biasanya meledak-ledak mendadak padam.
Sadar dirinya keterlaluan, Minda tidak tinggal diam.
Ia membeli kertas gambar baru, lalu dengan kemampuan menggambarnya yang pas-pasan, ia begadang semalaman di rumahnya untuk membantu membuatkan sketsa dasar yang baru sebagai bentuk tanggung jawab.
Keesokan harinya, Minda memberikan kertas itu kepada Lila dengan wajah memelas dan kepala tertunduk—pemandangan yang sangat langka bagi seorang Minda.
"Lila, maafin aku ya... Aku tahu aku berisik dan teledor banget. Ini aku coba buatin sketsa barunya, walau nggak sebagus punya kamu," bisik Minda pelan.
Lila melihat sketsa itu. Gambarnya memang agak miring di beberapa bagian, namun Lila tahu betapa kerasnya usaha Minda yang benci menggambar demi menebus kesalahannya.
Lila menghela napas, lalu tersenyum. "Iya, dimaafkan. Tapi janji ya, setelah ini kalau minum es teh harus jauh-jauh dari meja aku," kata Lila.
"Horeeee!!!!!"
Minda langsung bersorak heboh, memulihkan atmosfer kelas X-5 yang sempat tegang.
Melalui dinamika ini, keduanya perlahan saling memengaruhi secara positif. Minda mulai belajar untuk lebih tenang, bisa menahan diri saat situasi membutuhkan keseriusan, dan menjadi lebih peka terhadap sekitar.
Sementara Lila, berkat Minda, mulai berani menyuarakan pendapatnya di kelas, tidak lagi takut menjadi pusat perhatian, dan sesekali ikut tertawa lepas tanpa harus menutupi mulutnya.
Mereka membuktikan kepada seluruh kelas X-5 bahwa persahabatan sejati tidak mengharuskan dua orang untuk menjadi sama.
Minda dan Lila adalah bukti bahwa dua warna yang berbeda, jika dipadukan dengan tepat, justru akan menghasilkan lukisan yang jauh lebih indah.
Bersambung~~~
Hallo ges!! ceritanya kali ini tentang minda ya 😁 semoga suka!! 🤗
Jangan lupa follow akunnya, like, komen dan share ceritanya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~