NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Dua tahun telah berlalu sejak Devanandra Bratadikara resmi memegang tongkat komando tertinggi klan. Di bawah kepemimpinan taktisnya yang berpadu dengan ketajaman hukum Aura, Bratadikara Group tidak lagi dikenal sebagai sindikat yang bergerak di area abu-abu, melainkan telah bertransformasi menjadi konglomerasi multinasional raksasa yang memegang kendali atas rantai pasok logistik di Asia Tenggara.

Namun, di balik semua pencapaian bisnis yang masif itu, pagi ini suasana di griya tawang Menara Bratadikara terasa sangat berbeda. Tidak ada draf audit yang berserakan di meja makan, tidak ada pula suara ketukan papan ketik dari laptop Kenzo yang biasanya sudah berdengung sejak subuh.

Suasana begitu sunyi, hanya menyisakan suara gemercik air mancur kecil di taman dalam.

Aura berdiri mematung di dalam kamar mandi utama yang bernuansa marmer putih. Kedua tangannya gemetar kecil saat memegang sebuah benda pipih berukuran kecil yang baru saja ia gunakan beberapa menit lalu. Di atas layar indikator benda tersebut, dua garis merah vertikal tampak tercetak dengan sangat jelas.

Aura menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya yang mendadak berpacu begitu kencang. Sebagai seorang sarjana hukum, ia selalu bisa memprediksi hasil dari setiap draf kontrak yang ia susun. Namun hari ini, melihat hasil dari tanda-tanda biologis di tangannya, Aura merasa seluruh logika akademisnya mendadak lumpuh, digantikan oleh rasa haru dan kebahagiaan yang teramat sangat besar.

"Aura? Lo di dalam?" sebuah ketukan pelan di pintu kamar mandi memecah lamunannya. Suara berat Devan terdengar, menyiratkan sedikit rasa cemas karena istrinya itu menghabiskan waktu terlalu lama di dalam sejak terbangun tadi pagi.

Aura segera menyembunyikan benda pipih itu di balik punggungnya, menarik napas panjang untuk menstabilkan suaranya, lalu membuka pintu.

Devan berdiri di ambang pintu dengan penampilan kasualnya yang jarang terlihat di luar—ia hanya mengenakan celana kain hitam dan kaus abu-abu polos yang melekat ketat di tubuh bidangnya, memperlihatkan tato sulur hitam di lengan kanannya. Alisnya bertaut saat melihat wajah Aura yang tampak sedikit pucat namun memiliki binar mata yang berbeda.

"Lo gak apa-apa, Ra?" Devan melangkah maju, meletakkan telapak tangannya yang hangat di kening Aura untuk memeriksa suhunya. "Belakangan ini lo sering mual pas pagi hari. Gue udah minta Bram buat panggil dokter privat klan ke sini."

Aura tersenyum tipis, meraih tangan Devan dari keningnya dan menggenggamnya erat. "Aku gak apa-apa, Dev. Kita gak butuh dokter privat pagi ini."

"Maksud lo?" Devan mengernyitkan dahi, tidak mengerti.

Aura perlahan menarik tangan kanannya dari balik punggung, lalu meletakkan alat uji kehamilan bergaris dua itu tepat di atas telapak tangan Devan.

Pangeran klan Bratadikara yang terkenal berdarah dingin dan tidak pernah gentar di depan moncong senjata sekalipun, mendadak membeku. Mata elang Devan menatap benda kecil itu dengan intensitas yang luar biasa. Ia berkedip beberapa kali, seolah memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang dimanipulasi oleh enkripsi digital buatan Kenzo.

"Dua garis merah..." bisik Devan, suaranya mendadak serak, kehilangan intonasi basnya yang biasanya begitu berwibawa. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat Aura. "Ra... ini artinya?"

"Artinya, ada draf kehidupan baru yang sedang ditulis di dalam sini, Devanandra," jawab Aura lembut sambil menuntun tangan Devan untuk meraba perutnya yang masih tampak rata di balik gaun tidur satinnya. "Kita akan menjadi orang tua."

Seketika itu juga, benteng pertahanan emosional Devan runtuh. Sebuah senyuman murni yang sangat lebar—senyuman yang belum pernah diperlihatkan pada siapa pun di dunia ini—merebak di wajah tampannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Devan langsung mengangkat tubuh Aura ke dalam pelukannya, memutar tubuh istrinya itu di tengah kamar mandi dengan tawa bahagia yang lepas.

"Devan! Turunin, aku pusing!" protes Aura sambil tertawa, mengeratkan pelukannya di leher Devan.

Devan menurunkan Aura secara perlahan, namun tidak melepaskan dekapannya. Ia berlutut di depan Aura, mensejajarkan wajahnya dengan perut gadis itu, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lama dan penuh dengan rasa khidmat di sana.

"Terima kasih, Aura," bisik Devan, mendongak untuk menatap istrinya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca oleh emosi yang membuncah. "Gue bersumpah, anak ini akan terlahir di dunia yang jauh lebih aman daripada dunia yang pernah gue lalui. Gue akan memastikan seluruh fondasi Bratadikara bersih tanpa noda darah demi menyambut kehadirannya."

Berita tentang kehamilan Aura menyebar di kalangan lingkaran dalam klan seperti kecepatan rambat sinyal militer. Sore harinya, ruang tengah griya tawang Menara Bratadikara mendadak penuh oleh kedatangan orang-orang terdekat mereka.

Kenzo datang dengan membawa sebuah kotak kardus besar yang berisi berbagai gawai canggih bermerek premium. "Dev, gue udah siapin sistem pemantau bayi (baby monitor) dengan enkripsi satelit militer tingkat empat. Gak akan ada peretas di dunia ini yang bisa mengintip aktivitas keponakan gue nanti!"

"Dia bahkan belum lahir, Kenzo," sahut Aura sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah protektif kepala intelijen muda tersebut.

Tari yang duduk di samping Nyonya Rahma di sofa kulit besar langsung menimpali dengan heboh. "Aura! Pokoknya nanti urusan dekorasi kamar bayi dan belanja baju-baju lucunya harus sama gue! Gue udah bikin board khusus di Pinterest dengan tema Smart and Elegant Baby!"

Nyonya Rahma hanya tersenyum teduh, menggenggam tangan Aura dengan penuh rasa syukur. "Ibu senang sekali, Nak. Akhirnya, rumah ini akan dipenuhi oleh suara tawa anak kecil. Ibu berdoa semoga kandunganmu selalu sehat dan kuat."

Di sudut ruangan dekat jendela besar, Tuan Besar Bratadikara berdiri bersama Bram. Sang veteran mafia itu menatap putranya, Devan, yang sejak tadi tidak sedetik pun beranjak dari sisi Aura, selalu memastikan posisi duduk istrinya nyaman dan menyediakan air hangat.

"Bram," panggil Tuan Besar dengan suara rendahnya yang parau.

"Ya, Tuan Besar?"

"Gakuat lagi aku melihat anak itu bersikap begitu lembut," gurau Tuan Besar dengan senyuman tipis yang sangat langka muncul di wajah kerasnya. "Tapi... aku bangga. Wanita pilihan Devan tidak hanya memberikan legalitas pada bisnis kita, tapi dia juga memberikan masa depan yang sesungguhnya bagi darah Bratadikara."

Malam harinya, setelah para tamu pulang dan menyisakan kesunyian yang damai di atas ketinggian langit Distrik Pusat, Devan dan Aura berdiri bersama di beranda luar, menatap kerlip lampu kota yang membentang luas seperti hamparan berlian di bawah langit malam yang pekat.

Angin malam bertiup lembut, membuat Devan bergegas mengambil jaket pengebom miliknya dan menyampirkannya di bahu Aura agar wanita itu tidak kedinginan. Ia memeluk Aura dari belakang, melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling pinggang Aura, menaruh telapak tangan besarnya di atas perut sang istri.

"Gue baru saja menyelesaikan rapat darurat dengan dewan direksi via enkripsi singkat tadi," bisik Devan di dekat rungu Aura.

"Rapat darurat tentang apa? Ada masalah di Pelabuhan Utara?" tanya Aura agak cemas, naluri pengacara utamanya langsung aktif.

"Bukan," Devan terkekeh pelan, mencium puncak kepala Aura yang beraroma wangi cendana. "Gue memerintahkan pembentukan yayasan filantropi baru di bawah nama Aura Kirana Foundation. Fokusnya adalah memberikan beasiswa hukum penuh bagi anak-anak berprestasi dari kalangan kurang mampu di seluruh distrik. Gue mau anak kita nanti tumbuh dengan melihat bahwa nama keluarganya dikenal karena memberikan keadilan, bukan karena menebar ketakutan."

Aura tertegun mendengarnya. Ia memutar tubuhnya dalam dekapan Devan, menatap sepasang mata elang suaminya yang kini memancarkan aura kebijaksanaan yang baru—sebuah transformasi luar biasa dari seorang pria yang dulu mengukur segala sesuatu dengan kekuatan fisik dan ancaman taktis.

Air mata kebahagiaan kembali menggenang di sudut mata cokelat Aura. Ia menjinjitkan kakinya sedikit, menyatukan kening mereka di bawah siraman cahaya bulan purnama yang keperakan.

"Kamu bener-bener berubah banyak, Devanandra," bisik Aura dengan suara yang bergetar penuh rasa cinta.

"Semua ini karena lo, Aura. Lo adalah draf hukum terbaik yang pernah masuk ke dalam hidup gue, dan bersama anak kita nanti..." Devan menggantung kalimatnya, menatap Aura dengan kedalaman emosi yang mutlak sebelum merapatkan jarak di antara mereka. "...kita akan memastikan bahwa dinasti Bratadikara akan dikenal sebagai pembawa cahaya, bukan lagi penguasa kegelapan."

Di bawah saksi bisu hamparan langit malam Jakarta yang megah, Devan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam, penuh kelembutan, dan sarat akan sumpah suci yang baru. Sebuah kisah yang dimulai dari lembaran kertas skripsi yang sederhana, kini telah berkembang menjadi sebuah pohon kehidupan yang kokoh, siap menyambut generasi baru yang akan mengukir sejarah indah mereka sendiri di atas fondasi cinta, kecerdasan, dan perlindungan mutlak yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh badai apa pun di dunia ini.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!