Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.
Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.
Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.
"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Wanita itu?
Libur semester tengah berjalan dengan ritme yang kontras bagi Bara. Di satu sisi, ia resmi menjadi calon musikus di bawah naungan Vortex Records yang menuntut kreativitas tingkat tinggi. Di sisi lain, ia menjalani rutinitas fisik yang melelahkan untuk menempa kedisiplinan.
Pagi hari di kamar kosnya yang sederhana dimulai saat matahari bahkan belum sepenuhnya muncul. Bara tidak hanya berfokus membentuk otot-otot di tubuh barunya yang kini sudah atletis dan tegap—sebuah berkah dari perubahan tak kasat mata yang dialaminya—tetapi ia juga secara disiplin melatih tubuh lamanya yang dulu dikenal gempal, gemuk, dan pendek.
Bagi Bara, setiap inci otot dan postur tubuh dari kedua bentuk fisiknya adalah aset penting. Ia melakukan push-up, plank, dan peregangan intensif di atas lantai keramik yang dingin, memastikan tidak ada sisa kelemahan yang tertinggal, baik di cermin maupun di dalam ingatannya.
Setelah menghabiskan pagi hingga sore hari dengan keringat dan latihan fisik, roda kehidupan Bara berputar ke sisi yang lain.
Saat malam menjelang, ia mengenakan seragam kerjanya dan bersiap menghadapi shift malam di sebuah minimarket waralaba yang berlokasi hanya beberapa blok dari tempat kosnya. Lokasi itu cukup strategis, namun kerap menjadi titik singgah bagi orang-orang dengan berbagai latar belakang menjelang dini hari dari pengemudi ojek online yang mencari kopi instan hingga para pemuda jalanan yang kehausan.
Malam itu, jarum jam dinding di atas meja kasir minimarket telah menunjukkan pukul 00.15 WIB. Suasana di luar minimarket sangat lengang, hanya ditemani oleh deru kendaraan sesekali yang melintas di jalanan aspal Surabaya yang mulai mendingin.
Bara sedang sibuk merapikan tumpukan mi instan di rak bagian tengah, memastikan semuanya tersusun rapi sesuai label harga, ketika lonceng kecil di atas pintu kaca otomatis berbunyi nyaring.
'Kring!'
Bara menghentikan aktivitasnya dan menolehkan kepala ke arah pintu masuk, bersiap melontarkan senyuman standar pelayanan pelanggan. Namun, kalimat sapaan yang sudah berada di ujung lidahnya seketika menguap begitu saja.
Sosok yang baru saja melangkah masuk membuat udara di dalam ruangan seolah berhenti berputar untuk sesaat.
Seorang perempuan muda berdiri di dekat pintu, mengenakan mantel musim dingin ringan berwarna krem yang kontras dengan malam Surabaya yang hangat.
Wajahnya memancarkan kecantikan alami yang begitu memukau garis rahang yang tegas namun lembut, hidung mancung yang proporsional, serta sepasang mata jernih yang menyimpan aura misterius sekaligus elegan. Rambut panjangnya tergerai bebas, membingkai wajahnya dengan sempurna.
Tidak ada riasan berlebihan, tetapi pesona yang ia pancarkan begitu kuat hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan tertegun, termasuk Bara yang berdiri kaku di tempatnya.
Perempuan itu melangkah masuk dengan anggun, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas lantai keramik. Ia langsung berjalan menuju lemari pendingin di sudut ruangan, membuka pintu kaca transparan, dan mengambil satu kaleng soda dingin. Setelah menutupnya kembali, ia berjalan perlahan menuju meja kasir tempat Bara berdiri terpaku.
"Malam," sapa perempuan itu singkat dengan suara yang lembut namun terdengar jelas di telinga Bara.
Bara mengerjap beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat melayang seketika. Ia buru-buru berdiri tegap di balik meja kasir, merasakan debaran jantungnya mendadak berpacu lebih cepat bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena kehadiran sosok di hadapannya yang begitu luar biasa.
"M-malam, Kak... silakan," jawab Bara, sedikit terbata-bata sebelum ia berhasil menguasai diri dan memindai kaleng soda di tangannya menggunakan mesin barcode.
Perempuan itu mengeluarkan dompet kulit berwarna gelap dari dalam tas kecilnya, mengambil beberapa lembar uang pas, lalu menyerahkannya kepada Bara.
Saat jemari mereka bersentuhan sejenak di atas meja kasir, Bara merasakan hawa dingin dari kaleng soda itu berpindah, namun atensinya sepenuhnya tertuju pada tatapan mata sang perempuan yang sempat melirik pelan ke arah nametag di seragamnya.
"Nama yang unik... Bara," ucap perempuan itu setengah berbisik, seolah sedang membaca sesuatu yang menarik perhatiannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang teramat manis.
Bara tersenyum canggung, berusaha bersikap senatural mungkin. "Ah, iya. Terima kasih sudah berkunjung, Kak. Ada yang bisa dibantu lagi?"
Perempuan itu menggeleng pelan, mengambil kaleng sodanya, lalu berbalik melangkah keluar minimarket. "Tidak, itu saja. Jaga diri baik-baik di jam rawan seperti ini, Bara."
Pintu kaca otomatis kembali menutup di belakangnya, meninggalkan Bara yang berdiri terpaku seorang diri di balik meja kasir. Ia menatap ke arah pintu dengan perasaan yang sulit diartikan ada rasa takjub, penasaran, sekaligus sisa-sisa keterpesonaan yang masih tertinggal di benaknya.
Namun, momen tertegun itu tidak berlangsung lama.
Dari balik dinding kaca transparan minimarket yang menghadap langsung ke area parkir dan trotoar jalan, mata Bara menangkap sebuah pemandangan ganjil yang langsung meruntuhkan suasana tenang malam itu.
Di bawah temaram lampu jalan, perempuan cantik yang baru saja keluar tampak menghentikan langkahnya di dekat trotoar.
Di hadapannya, dua sosok laki-laki berbadan tegap dengan postur mengintimidasi sudah berdiri menunggu. Begitu melihat wajah kedua pria tersebut, darah Bara mendadak berdesir hebat. Matanya membelalak lebar, dan seluruh otot di tubuhnya menegang seketika.
Bara sama sekali tidak salah mengenali mereka. Wajah itu, potongan rambut itu, serta aura dingin yang terpancar dari gerak-gerik mereka sangat melekat di ingatan bawah sadarnya. Mereka adalah Dani dan Danu dua petinggi Four Men Crew yang beberapa waktu lalu sempat ia lihat bertarung secara brutal melawan kelompok Big Bang di markas mereka, saat Bara masih berada dalam situasi penuh ancaman di jalanan malam Surabaya.
Pikiran Bara langsung berputar liar. Apa hubungan antara perempuan cantik berpenampilan elegan ini dengan dua algojo utama dari sindikat kriminal paling ditakuti di kota tersebut? Apakah perempuan itu adalah target mereka, atau justru bagian dari lingkaran hitam yang selama ini dikendalikan oleh bos besar Four Men Crew dari balik gedung pencakar langit?
Dari balik kaca minimarket, Bara melihat Danu membuka pintu sebuah sedan hitam mewah yang terparkir di pinggir jalan, sementara Dani memberikan gestur hormat yang kaku kepada perempuan tersebut sebelum menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Tidak ada perlawanan, tidak ada keributan menunjukkan bahwa perempuan itu bukanlah sandera, melainkan seseorang yang memiliki posisi penting atau setidaknya dikenal baik oleh para petinggi preman jalanan itu.
Bara mengepalkan kedua tangannya erat-erat di balik meja kasir. Dunia malam Surabaya kembali menunjukkan taringnya di hadapannya, mengingatkan remaja itu bahwa di balik gemerlap kontrak rekaman Vortex Records dan impian album pertamanya bersama Udin, ada sisi gelap kota yang terus bergerak di dalam bayang-bayang dan entah bagaimana, jalan hidupnya kini tampaknya ditakdirkan untuk bersinggungan langsung dengan pusat dari badai tersebut.