Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
Dokter Ginanjar yang hendak pulang, terkejut saat mendapatkan telepon dari AKBP Teguh. Lebih terkejut lagi saat tahu lokasi ditemukannya mayat, lokasi sebelumnya dimana jenazah Akbar Maulana terdapat di sana.
"Jangan bilang yang menemukan Kenzie," ucap dokter Ginanjar lewat airpods nya sambil masuk ke dalam mobil dinas ME.
"Siapa lagi," kekeh AKBP Teguh.
"Haaaiiissshh! Anak-anak itu yaaaa!" gerutu dokter Ginanjar kesal. "Apakah berhubungan dengan kasus kemarin?"
Mobil ambulans untuk jenazah pun berangkat menuju TKP dari ME Bhayangkara. Mamat yang duduk di belakang, diam-diam mengirimkan pesan ke dokter Lucky dan Daisy kalau Kenzie ada masalah lagi.
***
RS Bhayangkara Jakarta
Dokter Lucky sedang berjalan menuju ruang kerjanya untuk bersiap pulang, mengambil ponselnya yang bergetar. Dia membaca pesan di sana dan segera ke ruang kerjanya. Dokter Rahmat dan Ji-woo yang berada di dalam, terkejut melihat dokter Lucky seperti dikejar Suster Intan kalau berbuat masalah.
"Ada apa Oom? Suster Intan marah lagi sama Oom?" tanya Ji-woo.
"Kagak! Kenzie kumat jadi Bob Andrews!" jawab dokter Lucky. "Bisa-bisanya anakku yang comel itu menemukan mayat lagi!" Dokter Lucky segera menggantungkan snellinya dan mengambil tas kerjanya.
"Haaaaahhh?" seru kedua rekannya.
"Aku pergi dulu!" Dokter Lucky bergegas keluar dan menuju lift.
Dokter Rahmat dan Ji-woo saling berpandangan. "Mayat apa lagi?"
***
PRC School
Daisy memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil dengan langkah anggun. Ponsel dalam tasnya berbunyi dan Daisy segera mengambilnya. Tampak nama 'Mas Lucky Tersayang' di layar.
"Ya Mas?" sapa Daisy.
"Istriku yang cantik mandragunawati, kamu dimana?" tanya dokter Lucky dengan nada panik.
"Di sekolah nya El. Ada apa Mas?"
"Sayang, aku ke TKP galeri seni kemarin ya," jawab dokter Lucky.
"Kok kesana? Kenapa?" tanya Daisy bingung.
"Kenzie menemukan mayat ... Lagi!"
Daisy pun melongo. "Kok bisaaaa?"
***
Galeri Seni tidak terpakai
"Kok bisaaaa? Kok bisa kalian kemari lagi?" omel Brigjen Victor sambil berkacak pinggang ke ketiga ABG di depannya. Tiga ABG dan tiga anomali di belakangnya sama-sama menunduk, membuat AKBP Rosita cekikikan melihat kelakuan mereka.
"Kenzie yang ajak Pa," jawab Zane sambil melirik ke arah Kenzie.
"Aku yang penasaran Oom," jawab Kenzie.
Brigjen Victor memegang pangkal hidungnya. "Ya Allah Kenz, kamu tuh kok ya nekad sih! Kalau papamu tahu ...."
"Papa tidak akan tahu Oom ...."
"KENZIE MARCO MANCINI BUWONO!"
Kenzie terdiam. Duh! Bocah ABG itu pun menoleh dan tampak ayahnya berdiri dari balik garis polisi sambil berkacak pinggang dan wajahnya tampak marah.
"Hai Pak Lucky," cengirnya dengan wajah tanpa dosa.
Brigjen Victor memberikan kode ke anak buahnya dengan mengizinkan dokter Lucky masuk dan bersamaan waktunya dokter Ginanjar juga datang bersama Mamat serta tim medical examiner serta forensik.
Dokter Lucky segera menghampiri putranya dan memeluknya erat. "Kamu nggak papa?"
"Nggak papa kok. Oh, mayatnya sepertinya tidak ada hubungannya dengan kasus kemarin, Oom," ucap Kenzie ke Brigjen Victor.
"Kok bisa?" tanya Brigjen Victor.
"Mayatnya seperti gelandangan," jawab Sheva. "Tapi aku menemukan sesuatu."
"Kamu menemukan apa, Sheva?" tanya Kombes Steven.
"Aku tunjukkan. Sisanya biar tim papa dan forensik yang urus ya?" Sheva pun berjalan ke arah galeri bersama ayah dan tim gabut.
Dokter Lucky menatap Kenzie. "Dengar anak Lanang. Papa tahu kamu kepopers tapi mbok ya o ... Jangan jadi Bob Andrews lah! Atau Pete Crenshaw Wis! Papa nggak akan bilang kamu Jupiter Jones karena kamu nggak gendut!"
Kenzie cekikikan mendengar ucapan ayahnya. Meskipun random tapi Kenzie tahu ayahnya sangat mengkhawatirkannya.
"Sorry, Papa. Aku kan bagian trio detektif hantu generasi sekian jadi ngunu lah!" senyum Kenzie.
"Ngunu lah ... ngunu lah ... Besok mumpung kamu tidak basket, tugas kamu adalah cuci semua asyu di rumah!" putus dokter Lucky.
Kenzie melongo.."Paaaaa, Abon harus panggil Bang Eko karena dia yang bisa gunting cantik."
"Ya sudah, Rendang dan Tunjang, tugas kamu! Itu hukuman buat kamu yang kepopers menerjang bahaya!" balas dokter Lucky.
Kenzie menghela napas panjang. "Bisa lima jam mandiin dua karung kentang itu!"
"Resiko kamu lah minta corgi."
"Naseeeebbbb!" keluh Kenzie.
***
Sementara itu di dalam galeri seni
"Ini tembok ratapan bukan ya?" komentar AKP Ghafar membuat AKP Samsudin mengeplak kepalanya.
"Tembok ratapan ... Lu kira ...."
"Eh sudah. Siapa tahu itu brankas macam dulu ada jaksa menyimpan hasil korupsi sekian ratus milyar?" kekeh Kombes Fariz.
"Ayo kita bongkar!" perintah Kombes Steven.
Tak lama tembok mencurigakan itu pun dibongkar dan semua orang terkejut saat melihat isinya.
"Ya Allah, itu kan semua artifak!" seru Iptu Cristiano.
***
Di area belakang, dokter Ginanjar bersama dengan Iptu Casey dan AKBP Teguh, memeriksa kondisi jenazah yang berada di sana sekitar dua hari. Dokter forensik itu memperkirakan, korban tewas di rentang waktu 48 hingga 72 jam.
"Jadi korban ini baru dibuang atau memang dibunuh di sini atau over dosis," ucap dokter Ginanjar.
"Kok bisa OD?" tanya AKBP Teguh.
Dokter Ginanjar memperlihatkan bekas-bekas suntikan di kedua tangan korban meskipun sudah mulai tampak proses pembusukan mayat. Anggota CSI, Sanji Ganesa, datang dengan koper besarnya.
"Aku rasa dokter G benar. Kemungkinan besar, orang ini datang kemari mau sakau. Jadi ya mati disini," jawab pria muda berkacamata itu. "Lihat! Ada banyak alat suntik di belakangnya."
"Bisa jadi OD ya?" tanya Iptu Casey.
"Bisa jadi," jawab Sanji sambil membuka koper forensiknya dan mulai mengumpulkan semua barang bukti sebelum mayat itu dibawa ke ME.
"Bisa jadi orang ini ada di tempat dan waktu yang salah nggak sih?" tanya AKBP Teguh. "Ndilalah, dia mau nyuntik, cari tempat. Dan tempat ini yang dituju."
"Teorinya masuk pak Teguh," kekeh Sanji.
"Oke, kita selesaikan yang disini. Sanji, kalau sudah selesai, aku mau bawa mayatnya ke ME. Biar aku autopsi sore ini jadi besok sudah ada hasil penyebab kematiannya," ucap dokter Ginanjar.
***
PRC School
Daisy menunggu Elina yang baru saja selesai latihan menari. Rasanya dia tidak sabar ingin pulang dan memarahi Kenzie karena iseng serta jiwa keponya terlalu overload.
"Mama ...."
Daisy menoleh dan tampak Elina sedang minum susu kotaknya.
Anak gadisnya dok Lucky dan Daisy
"Sudah selesai?" tanya Daisy.
"Aku habiskan dulu ya Ma."
"Oke," senyum Daisy.
"Mama kenapa? Kok tampak marah?" tanya Elina sambil duduk di sebelah Daisy.
"Mas mu itu lho. Jadi detektif lagi dan menemukan mayat lagi!" sungut Daisy.
"Hah? Mas Kenzie kemana lagi?" Mata hitam Elina terbelalak.
"Tahu tuh! Sekarang sudah dijemput Papa!"
Elina menggelengkan kepalanya. "Mas Kenzie nggak cocok jadi dokter! Cocoknya jadi detektif!"
"Tapi katanya mau jadi dokter anak," kekeh Daisy.
"El malah kasihan sama anaknya. Kalau ketahuan orang tuanya nggak bisa ngurus, nanti bisa dimarahi Mas Kenzie macam Papa kalau sudah kesal sama pasien ngeyel!" jawab Elina.
"Iya ya ... Mas mu kan Papa banget!"
***
Yuhuuu up Siang yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛