Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Sederhana..
Kini mereka semua sudah kembali ke posko. Kelompok anak pertanian ternyata juga sudah lebih dulu sampai dan sedang santai duduk di teras sambil mengobrol.
Baru saja tiba, Adrian langsung ikut menjatuhkan diriNya duduk di dekat mereka.
“Gimana? Di lahan aman atau gimana?”
Andre yang duduk bersandaR di tiang kayu langsung mengangguk santai mendengar pertanyaan itu.
“Aman aja sih. Warganya juga antusias banget.”
“Bagus lah,” sahut Adrian puas.
Kevin yang sejak tadi duduk selonjoran tiba-tiba ikut bicara.
“Eh, tadi di jalan gue ketemu Pak Kades. Terus dia ngajakin ikut pengajian nanti sore katanya buat meramaikan.”
Dion langsung menoleh ke arah Alya sambil senyum jahil.
“Wih… tadi Alya juga diajakin sama cowok buat ikut pengajian.”
“Apaaan sih…” Alya langsung manyun kesal.
Arga yang dari tadi diam tiba-tiba angkat suara.
“Yaudah. Nanti sore kita kesana.”
“Horeee… makan-makan,” seru Rizki semangat.
“Makan mulu hidup lu,” balas Adrian.
Kevin lalu menoleh ke arah teman-temannya.
“Lah terus yang nonis gimana? Ikut juga?”
Andre langsung menatap Kevin.
“Eh emang lu nonis?”
“Gue Katolik,” jawab Kevin santai.
“Ohh Katolik…”
Dion tiba-tiba nyeletuk.
“China ya?”
Kevin mengangguk.
“Iya.”
Mata Adrian langsung membesar.
“Wihhh… orang kaya coii.”
Dimas yang memang sudah lama kenal Kevin langsung ikut menimpali.
“Keluarganya punya usaha properti.”
“ANJIRR… sultan ternyata,” sahut Dion heboh.
Kevin malah mendesah.
“Bapak gue pelit. China rata-rata pelit anjir, jadi sama aja gue miskin.”
Semua langsung ketawa.
“Emang lu berapa bersaudara?” tanya Dion.
“Dua. Tapi disuruh usaha sendiri tanpa dikasih modal.”
“Hahaha… china miskin dong lu,” Rizki langsung ngakak.
Suasana makin ramai oleh tawa mereka.
Tak lama kemudian Rizki menoleh ke arah Alya.
“Kalau kamu Al?”
Alya yang sedang duduk sambil memainkan ujung rambut langsung menjawab santai.
“Mami aku Korea… terus Papi aku China.”
“ANJAYYY…”
Dion langsung berseru.
“Pantesan cakep banget.”
Adrian ikut angkat bicara.
“Blasteran mahal ternyata.”
Dimas ikut menimpali dengan jahil.
“Kalau Alya mah beda… dia bukan china miskin, coii.”
Semua kembali tertawa.
Tiba-tiba—
“Assalamu’alaikum.”
Suara seorang ibu-ibu terdengar dari depan posko.
Sontak semuanya menoleh.
“Wa’alaikumsalam, Bu,” jawab mereka bersamaan.
Ibu itu tersenyum ramah.
“Ayo nak, kita pergi pengajian.”
Adrian langsung berdiri sedikit.
“Ehh katanya mulai setelah asar ya Bu?”
“Iya, tapi datang aja duluan. Sekalian bantu-bantu orang sama ngobrol sama warga sebelum acara dimulai.”
Adrian tertawa kecil.
“Hehe nanti kami nyusul ya Bu. Belum mandi, habis dari luar.”
“Ohh begitu.”
Ibu itu mengangguk paham.
“Kalau begitu ibu duluan ya.”
“Iya Bu.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Setelah ibu itu pergi, mereka saling pandang.
Mereka pun satu per satu masuk kembali ke dalam posko untuk bersiap-siap pergi ke pengajian sore itu. Awalnya Alya sama sekali tidak berniat ikut, ia ingin tetap tinggal di posko saja sambil istirahat.
Tapi begitu melihat Kevin ternyata juga ikut bersiap pergi, Alya langsung mengurungkan niatnya. Jujur saja, ia sama sekali tidak berani kalau harus sendirian tinggal di posko.
Apalagi bayangan ucapan dua bapak tadi malam soal pemilik rumah yang sudah meninggal di tangga itu masih teringat jelas di kepalanya.
Akhirnya Alya terpaksa ikut.
Saat semuanya mulai bersiap, Alya memperhatikan Tiara dan beberapa yang lain.
“Eh… kalian pake penutup kepala?”
Tiara menoleh.
“Lah iya lah, kan mau pengajian Al.”
Alya langsung bingung.
“Lah terus aku gimana?”
Adrian yang sedang merapikan peci langsung menoleh jahil.
“Mending lu login aja Alya… sekalian pake hijab kayak yang lain.”
Alya langsung melotot kesal ke arah Adrian. Melihat reaksinya, yang lain spontan ikut terTawa, sementara Kevin malah ikut nimbrung menambahkan komentar.
“Pake hijab aja Al.”
Mendengar itu, AlYa langsung menoleh lalu menatap Kevin dengan wajah bingung.
“Eh emang boleh?”
Kevin mengangkat bahu santai.
“Hmm… iya kali. Nggak tau sih.”
Jawaban itu malah bikin yang lain tambah ngakak.
Pada akhirnya Alya tetap memakai hijab pinjaman, meski tidak dipentul rapi seperti yang lain. Kain itu hanya menutup kepalanya sederhana, membuat beberapa helai rambut masih sedikit keluar.
Beberapa menit kemudian, Alya akhirnya keluar setelah sElesai bersiap. Seketika Adrian langsung menatapnya dengan ekspresi dramatis.
“MasyaAllah… ukhti Alya cantik sekali.”
Dion langsung ikut menyahut.
“Iya… nona kota kita MasyaAllah banget hari ini.”
“Nah sekarang tinggal login aja Al, udah cocok tuh,” timpal Rizki.
Tiara yang berdiri di samping Alya mulai cekikikan.
“Gimana Al? Mau login?”
“Nggak dulu deh,” jawab Alya sambil manyun.
Semua kembali tertawa.
Di sisi lain, Arga yang berdiri tak jauh dari sana sempat terdiam sepersekian detik melihat Alya dengan penampilan berbeda itu.
Entah kenapa, dengan penampilan seperti itu Alya terlihat jauh lebih manis dari biasanya.
Tapi seperti biasa, Arga terlalu pintar menutupi ekspresinya. Dalam sekejap wajahnya kembali datar, seolah sejak tadi tidak melihat apa pun.
Setelah semuanya siap, mereka akhirnya berangkat menuju masjid. Di sepanjang jalan, suasana desa sore itu terasa lebih hidup karena warga Sekitar terlihat ramai berjalan ke arah acara yang sama.
Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba Dimas melontarkan pertanyaan absurd.
“Eh Al…”
Alya menoleh.
“Kenapa?”
“Misalnya ya…”
Dimas menyeringai.
“Kalau nanti lu deket sama cowok Islam, terus dia ngajak lu login pindah agama…”
“Lu mau?”
Seketika semua menoleh.
Topik itu langsung bikin semua penasaran.
“Jawab Al,” ucap Siska antusias.
Alya berpikir sebentar.
“Kalau masih pacaran…”
Ia menggeleng.
“Mungkin nggak.”
“Kenapa?” tanya Dion.
Alya menjawab santai.
“Ntar kalau putus gimana.”
“Hahaha…”
Semua langsung ketawa.
Adrian kembali menimpali.
“Terus kalau cowoknya ngajak serius?”
“Serius gimana?”
“Ya nikah.”
Seketika rasa penasaran mereka semakin besar dan kini semua fokus menunggu jawaban Alya.
Di sisi lain, Arga yang berjalan paling belakang terlihat cuek seperti tidak tertarik dengan pembahasan itu, padahal diam-diam ia ikut mendengarkan dengan serius.
Sementara Alya sendiri menatap jalanan di depannya sebelum akhirnya menjawab.
“Ya… kalau dia ngajakin nikah…”
“Terus dia bisa meyakinkan aku…”
“Mungkin aja aku bakal ikut agamanya.”
Semua langsung melirik.
Alya melanjutkan.
“Tapi aku pasti tanya Papi sama kakakku dulu.”
“Kalau mereka setuju ya…”
Adrian sontak langsung memegang Dadanya sambil memasang ekspresi paling dramatis yang pernah mereka lihat.
“Waduh…”
“Berat nih kalau begitu.”
Semua kembali tertawa mendengar reaksi Adrian. Namun berbeda dengan yang lain, Arga justru tetap diam.
Langkahnya masih santai dengan tatapan lurus ke depan, tapi diam-diam satu pemikiran mulai tertanam di kepalaNya.
Ternyata… buat dapetin Alya, jalannya gak bakal semudah yang dia kira.
Sepertinya dia harus berusaha jauh lebih keras.
Belum selesai topik itu—
Rizki kini menoleh ke Kevin.
“Kalau lu gimana Vin?”
Semua kini beralih menatap Kevin.
Kevin menjawab santai.
“Gue gak bakal login sih.”
“Lah kenapa?” tanya Adrian.
Kevin menghela napas.
“Kakak gue pernah deket sama cowok Islam.”
Ia berhenti.
Membuat semuanya makin penasaran.
“Terus?” tanya Dion gak sabaran.
Kevin melanjutkan.
“Orang tua gue sebenernya gak ngelarang.”
“Cuma…”
“Cuma apa?” Adrian makin mendesak.
Kevin menatap mereka.
“Kata keluarga gue… kalau masih pacaran gak masalah.”
“Tapi kalau serius…”
Ia berhenti lagi.
“Kalau nikah beda agama…”
“Warisan gak bakal dikasih.”
Seketika suasana agak hening.
Dion jadi orang pertama yang bereaksi.
“Buset…”
“Kejam bet…”
Kevin cuma angkat bahu.
“Ya… gitu lah.”