Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Keesokan harinya, mobil milik orang tua Kayla kembali berhenti di depan rumah orang tua Aurel.
Berbeda dengan beberapa waktu lalu. Saat hubungan Kayla dan Aurel masih baik. Kali ini, keduanya turun dengan langkah yang jauh lebih berat. Wajah mereka dipenuhi rasa malu.
Ayah Aurel yang sedang menyiram tanaman menghentikan kegiatannya. Ia sempat terkejut melihat tamu yang datang.
"Silakan masuk." Meski hatinya masih terluka, keluarga Aurel tetap mempersilakan mereka duduk.
Tak lama kemudian, Aurel keluar dari kamarnya.
Begitu melihat kedua orang tua Kayla, Aurel langsung memberi salam.
"Om... Tante..."
Ibu Kayla langsung menundukkan kepala. "Maafkan Tante, Nak."
Kalimat pertama yang keluar dari bibirnya membuat suasana ruang tamu menjadi hening.
Ayah Kayla ikut berbicara. "Kami datang karena masih merasa punya utang maaf kepada keluarga ini."
Ayah Aurel mengangguk pelan. "Silakan sampaikan."
Beberapa detik berlalu. Ibu Kayla tampak menggenggam kedua tangannya sendiri. Ia terlihat sangat gugup.
"Aurel..."
"Tante tahu, Tante tidak punya hak meminta apa pun kepadamu."
"Apalagi setelah semua yang dilakukan Kayla." Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Tapi sebagai seorang ibu..."
"...Tante tetap memikirkan masa depan anak Tante."
Aurel mendengarkan tanpa menyela.
Ibu Kayla melanjutkan dengan suara bergetar. "Kalau nanti kamu dan Mahesa resmi bercerai..."
"...statusmu tetap terhormat."
"Kamu adalah perempuan yang dikhianati."
"Tidak ada yang bisa menyalahkanmu."
"Tapi Kayla..." Ibu Kayla terisak.
"Semua orang sudah telanjur tahu kalau dia menjalin hubungan dengan suami orang."
"Orang-orang akan memandangnya rendah."
"Sebagai perempuan simpanan."
"Kami sebagai orang tua tentu sedih melihatnya."
Ruangan kembali sunyi. Aurel memandang wajah wanita yang dulu begitu baik kepadanya. Ia bisa melihat kesedihan yang tulus. Namun luka di hatinya juga nyata.
Ayah Kayla akhirnya menambahkan, "Kami tidak datang untuk membela Kayla."
"Kami tahu dia salah."
"Sangat salah."
"Kami hanya berharap..."
"...apa pun keputusanmu nanti, jangan simpan kebencian kepada kami."
"Kami benar-benar malu."
Aurel menarik napas panjang. "Om... Tante..."
"Saya tidak pernah membenci Om dan Tante."
Keduanya mengangkat kepala.
"Sejak awal, masalah saya bukan dengan kalian."
"Masalah saya adalah pilihan yang diambil Mahesa dan Kayla." lanjut Aurel.
Ibu Kayla mengangguk sambil mengusap air matanya.
"Lalu..."
"...tentang perceraian?"
Aurel tersenyum tipis. "Keputusan saya tidak berubah."
"Saya tetap akan melanjutkan prosesnya."
"Saya tidak bercerai untuk menghukum Kayla."
"Saya juga bukan bercerai agar orang lain menerima atau menolak dia."
"Saya bercerai karena saya tidak sanggup lagi mempertahankan pernikahan yang kepercayaannya sudah hancur."
Tak seorang pun menyela.
Aurel melanjutkan dengan tenang. "Kalau nanti setelah perceraian Mahesa memilih menikahi Kayla..."
"Itu adalah keputusan mereka berdua."
"Itu bukan lagi urusan saya."
"Tapi saya juga tidak bisa mengorbankan hidup saya hanya agar citra Kayla membaik."
Kalimat Aurel terdengar lembut. Namun setiap katanya begitu tegas.
Ibu Kayla menundukkan kepala. Ia tahu Aurel benar. Tidak adil jika Aurel bertahan dalam pernikahan yang telah dihancurkan oleh pengkhianatan anaknya
Ayah Kayla kemudian berdiri.
"Kami mengerti."
"Dan kami menghormati keputusanmu."
"Sekali lagi..."
"...maafkan kami."
Aurel ikut berdiri. "Saya sudah memaafkan Om dan Tante."
"Tapi memaafkan bukan berarti saya harus kembali menjalani kehidupan yang sama."
Kedua orang tua Kayla mengangguk pelan. Mereka pulang dengan hati yang masih berat.
Hari itu mereka menyadari satu hal. Tidak semua kesalahan bisa diperbaiki dengan permintaan maaf. Ada luka yang mungkin dapat dimaafkan. Namun tetap meninggalkan keputusan yang tidak akan pernah berubah.
Setelah kepergian orang tua Kayla, Aurel masuk ke kamarnya dengan langkah pelan.
Ia menutup pintu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang.
Matanya terpejam. Bukan karena mengantuk. Melainkan karena lelah. Sangat lelah.
Beberapa minggu terakhir, rumah orang tuanya tak pernah benar-benar sepi. Silih berganti orang datang.
Mahesa datang memohon agar perceraian dibatalkan.
Orang tua Mahesa datang meminta maaf.
Lalu Kayla datang tanpa rasa canggung, menanyakan sampai di mana proses perceraian.
Kini, orang tua Kayla pun ikut datang.
Aurel mengusap wajahnya pelan.
"Kenapa semuanya harus datang kepadaku?" gumamnya lirih.
Ia benar-benar ingin semua ini segera selesai.
Bukan karena ingin terburu-buru.
Tetapi karena ia sudah lelah menghadapi orang-orang yang terus membicarakan rumah tangganya.
Bagi Aurel, proses perceraian adalah urusannya dengan Mahesa dan pengadilan.
Namun entah mengapa, semakin hari semakin banyak orang yang merasa berhak ikut campur.
Saat sedang melamun, terdengar ketukan di pintu.
"Rel..." Suara ibunya terdengar lembut.
"Boleh Ibu masuk?"
"Iya, Bu." jawab Aurel.
Ibunya masuk sambil membawa segelas teh hangat. "Diminum dulu."
Aurel menerimanya sambil tersenyum tipis.
"Ibu tahu kamu capek." ucap ibunya Aurel.
Aurel mengangguk pelan "Capek sekali, Bu."
"Bukan capek kerja."
"Tapi capek menghadapi semuanya."Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
"Kenapa mereka terus datang?
"Apa mereka pikir aku menikmati proses ini?"
"Aku juga ingin semuanya cepat selesai."
Ibunya duduk di samping Aurel. "Mereka datang karena masing-masing punya kepentingan."
"Tapi kamu tidak wajib memenuhi semua keinginan mereka."
Aurel menghela napas panjang. "Yang paling membuatku kesal itu Kayla."
Ibunya terdiam, membiarkan putrinya melanjutkan.
"Entah kenapa dia masih sering datang menemuiku."
"Masih bertanya soal sidang."
"Masih bertanya soal perceraian."
"Padahal kalau dipikir-pikir..."
"...dia tidak punya hak untuk menanyakan itu kepadaku." Aurel menggenggam gelas teh hangat di tangannya.
"Dia seperti tidak tahu malu."
"Setelah menghancurkan rumah tanggaku..."
"...dia masih bisa datang ke rumah ini."
"Masih bisa bicara seolah tidak terjadi apa-apa."
Ibunya mengusap pelan punggung Aurel. "Sudahlah."
"Jangan habiskan tenagamu untuk memikirkan dia."
Aurel mengangguk pelan. "Aku hanya ingin sidang ini cepat selesai."
"Supaya tidak ada lagi yang datang ke sini."
"Tidak ada lagi yang bertanya kapan aku bercerai."
"Tidak ada lagi yang memintaku mengerti perasaan mereka."
Aurel menatap keluar jendela. "Selama ini..."
"...semua orang datang membawa kepentingannya masing-masing."
"Mahesa ingin aku membatalkan gugatan."
"Kayla ingin aku cepat bercerai."
"Orang tua Kayla memikirkan masa depan anaknya."
"Semuanya sibuk dengan urusan mereka."
Aurel tersenyum pahit.
"Tapi..."
"Tak ada satu pun yang bertanya..."
"...apa yang sebenarnya aku rasakan."
Ibunya menggenggam tangan Aurel.
"Ibu tahu."
"Ibu melihat semuanya."
"Kamu sudah berusaha kuat."
Aurel mengangguk sambil menghapus air matanya. "Aku cuma ingin hidup tenang lagi, Bu."
"Bangun pagi."
"Bekerja."
"Mengurus Raka."
"Tanpa harus dihantui masa lalu setiap hari."
Ibunya tersenyum lembut.
"Itu akan datang, Nak."
"Mungkin tidak hari ini."
"Tapi percayalah, semua badai pasti berlalu."
Aurel memandang ibunya dan tersenyum tipis.
Ia berharap, kata-kata itu benar.
Karena saat ini, yang paling ia inginkan bukanlah kemenangan di pengadilan. Melainkan satu hal sederhana. Ketenangan yang sudah lama hilang dari hidupnya.