NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

membuat keputusan

Revan terus merenung sepanjang malam hingga tanpa sengaja mengabaikan istrinya beberapa hari ini.

Sementara dikamar utama, Laura terus meraba sisi ranjang yang terasa dingin seperti telah lama ditinggal pemiliknya.

Dengan mata mengantuk, Laura beranjak mencari keberadaan Revan, suaminya.

Di balik gelapnya ruang kerja dan dinginnya angin yang berhembus, Revan terus menatap keluar jendela.

Bayangan tatapan sendu Maara terus menghantuinya.

Desah nafas kasar berulang dia hembuskan.

Decit pintu membuatnya menoleh dan mendapati Laura berjalan mendekat.

"Sayang... Sedang apa disini gelap-gelapan? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Laura khawatir.

Revan merentang kedua tangan agar Laura datang memeluknya.

Laura melakukannya tanpa protes.

"Memang ada yang mengganjal pikiran ku" lirih Revan.

Laura menyandarkan dagunya pada dada bidang suaminya lalu menengadahkan wajah menatap Revan.

"Masalah kerjaan atau hal lain?"

"Hal lain..."

"Maara??" tebak Laura.

Revan diam dan menjawab dengan anggukan.

"Aku akan menceraikannya tapi ragu andai setelah ini dia akan melaporkan mama pada yang berwajib perihal kecelakaan itu" terang Revan.

"Dia tidak akan punya keberanian untuk melakukanya... Percaya sama aku.. Kamu hanya perlu beri dia status yang jelas lalu biarkan dia pergi sejauhnya dari kehidupan kita.. Aku nggak mau dia terus-terusan merusak mood kamu apalagi kita mau program baby..." tegas Laura.

Revan membelai lembut kepala istrinya "Hmm...kamu benar... Baiklah, besok aku akan minta pengacara buat atur pertemuan dengannya dan kita selesaikan semuanya... Jujur, aku capek terus-terusan dalam situasi ini... Terutama, aku takut jika kedua orangtuamu tahu perihal dia dan status kami...."

Laura memperat pelukannya pada punggung Revan.

"Keputusan yang tepat... Semakin cepat akan semakin baik... Kamu, dan keluarga kita juga berhak bahagia tanpa adanya beban orang ketiga diantara kita...."

"Maafkan aku karena telah menghadirkan dia dalam hubungan kita... Kedepan, aku janji hal ini nggak bakalan terjadi lagi... Cintaku cuma buat kamu dan selamanya kamu...."

Keduanya berciuman dalam temaramnya lampu hingga berakhir dengan percintaan panas diruang kerja.

***

"Lusa, kita ketemu di kantor pengacara Kenan.... Kita akan bahas soal perceraian itu"

Sebuah pesan masuk tepat sesaat setelah Maara menyelesaikan kewajibannya di subuh yang dingin ini.

Maara tersenyum getir.

Hatinya lega sekaligus sedih.

"Akhirnya kamu memilih juga mas...." bisik Maara.

...*******^*^********...

Lusa yang telah disepakati akhirnya datang juga.

Maara didampingi oleh sahabatnya Lisa serta beberapa orang dari tim Teguh.

Sementara Revan datang bersama tim pengacara serta Laura yang memaksa ikut meski telah dilarang oleh Revan karena alasan agar dia tidak lelah.

"Baiklah... Kami selaku perwakilan dari saudara Revan Adiyasa dengan ini menyatakan jika klien kami bersedia menceraikan saudari Maara Hayuning tanpa pembagian harta gono-gini seperti kesepakatan awal.... Apa saudari Maara bersedia?" tegas Ajeng, tim pengacara dari pihak Revan.

Teguh menoleh kepada Maara yang duduk di sisi kirinya.

Sebuah anggukan kecil Maara berikan sehingga Teguh yang mewakili Maara.

"Baiklah, klien kami setuju namun klien kami juga mengajukan syarat dimana terlapor beserta keluarganya tidak berhak dan tidak diperkenankan mengusik kehidupan pelapor yakni saudari Maara Hayuning dalam bentuk apapun....!" tegas Teguh.

Revan serta tim menyetujui hal tersebut.

Tim Teguh mengeluarkan berkas pernyataan yang harus ditandatangani oleh kedua belah pihak sebagai bukti hitam diatas putih agar kelak dikemudian hari bisa dijadikan acuan jika sesuatu terjadi atau terlapor melanggar perjanjian.

Revan menatap Maara sejenak.

Ada sesuatu dalam hatinya yang bergejolak namun ia pastikan itu bukan cinta melainkan perasaan lega atau semacamnya. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran laki-laki itu.

"Saya, Revan Adiyasa dengan ini memberikan talak satu untuk istri saya Maara Hayuning binti Masri Anugrah. Dan dengan ini pula, saya membebaskannya dari semua tanggungjawab sebagai istri..." ucap Revan lantang.

Maara menghembus nafas lega karena akhirnya terlepas dari pernikahan yang mencekik lehernya.

Lisa menggenggam tangan Maara yang dingin dan bergetar.

Dia tahu jika perempuan ini begitu tersiksa namun ini jalan terbaik untuknya.

Lisa berharap setelah ini, Maara bisa menemukan jodoh yang baik serta menerimanya dalam keadaan apapun.

Dari semua orang, hanya Laura lah yang terlihat biasa saja meski dalam hati dia bersorak gembira karena akhirnya, Maara keluar dari hidup mereka.

Tak ada kata pamit dari Revan.

Laki-laki itu berlalu begitu saja setelah menandatangi semua berkas.

Dengan merangkul mesra istrinya, Revan pergi meninggalkan kantor advokat milik Kenan tersebut.

" Kami juga pamit undur diri... Terima kasih atas bantuannya kepada sahabat kami, Maara...." ucap Lisa mewakili Maara yang sejak tadi hanya menunduk diam.

"Sama-sama nona Lisa... Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan hubungi kami nantinya... Bisa lewat Rio atau saya pribadi..." Teguh berucap sembari melirik kearah Maara.

Lisa mengikuti pandangan Teguh.

"Baiklah pak Teguh.. Sekali lagi terima kasih..."

"Ra... Ayo kita pulang.... Aku antar kamu ya" panggil Lisa.

"Kami pamit pak Teguh, terima kasih atas bantuannya..." ujar Maara sebelum benar-benar menghilang dari ruang pertemuan.

"Kasihan sekali ya pak... Andai itu aku, bisa jadi aku tuntut keluarga itu... Enak saja mereka bisa bahagia diatas penderitaan orang lain...! Udah buat ibunya meninggal, rahimnya ikut bermasalah, eh dinikahi tapi nggak dianggap...Dan aku kesal banget sama istri terlapor... Ck, sombong banget.... Emang keluarga toxic!" dumel gadis manis yang merupakan asisten Teguh.

"Untungnya itu bukan kamu Jes... Karena kalau kamu, bisa dipastikan mereka akan berakhir di ruang ICU..." kelakar Teguh sebelum keluar menuju ruang kerjanya.

Gadis bernama Jesika itu terkekeh mendengarnya.

Meski penampilannya anggun dengan rok span selutut dan heels yang menghias kaki jenjangnya, Jesi merupakan atlet karate dengan pemegang sabuk hitam sekaligus guru disalah satu komunitas karate didaerah tempat tinggalnya sehingga siapapun termasuk para laki-laki ditempat kerjanya ataupun klien ganjen tidak akan berani macam-macam padanya.

...*******^**^*******...

"Kita langsung balik ke kosan atau mampir ke mall dulu Ra...?" tanya Lisa saat mereka sedang dalam diperjalanan.

"Ke kosan aja Sa... Hari ini aku benar-benar lelah..." sahut Maara lemah.

"Baiklah kalau itu mau kamu... Kamu istirahat ya..."

Setelahnya, Lisa meminta supir untuk mengarah ke kosan Maara.

Lisa melirik kecil kearah Maara. Dia iba melihat kondisi sahabatnya namun dirinya juga tak bisa terlalu ikut campur urusan pribadi Maara.

Dia akan memberikan Maara ruang untuk bersedih sejenak hingga perempuan itu siap membuka diri dan bercerita banyak hal kepadanya.

Mobil yang dikemudikan supir keluarga Rio melaju membelah jalanan kota Bandung yang sore ini cukup ramai.

Tak ada percakapan setelahnya.

Lisa menyibukkan diri dengan berbalas pesan dengan suaminya Rio karena tadi tak sempat bertemu karena Rio sedang berada di pengadilan bersama atasannya Kenan.

Sementara Maara, entah apa yang dipikirkan oleh perempuan itu yang jelas, wajahnya terlihat benar-benar sendu.

Lisa tahu Maara sejak tadi terus menghapus airmatanya namun dirinya tak berani bertanya apapun.

Hingga mobil berhenti tepat di depan pagar tinggi dimana Maara kini tinggal.

"Ra...Kita sudah sampai..." ujar Lisa pelan.

Maara menegakkan kepalanya yang sejak tadi bersandar di kaca mobil.

"Aku turun ya Sa...Terima kasih sudah menemaniku.."

Lisa merentangkan kedua tangannya agar Maara memeluk dirinya.

"Kalau ada apa-apa, kabarin aku ya..." Lisa mengusap punggung Maara.

"Terima kasih udah temanin aku hari ini... Kamu jangan capek-capek ya, kasihan dedek kalau ibunya lelah...."

"Kamu juga... Kalau bisa, kamu makan dan istirahat Ra.... Aku lihat mata kamu cekung dan pipi kamu tirus banget... Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan hubungi aku..." Lisa melepas pelukannya "Ingat! Kamu punya aku, punya ayah dan ibu juga... Jangan merasa sendirian ya... Dan jangan melakukan hal-hal bod*h... !" ujar Lisa memberi ultimatum yang disahut kekehan kecil oleh Maara.

"Aku turun ya...Pak, terima kasih udah anterin... Titip Lisa ya..." ucap Maara kepada pak supir.

Lisa masih menatap punggung Maara hingga hilang dibalik pagar hitam kosan milik tantenya.

"Semoga kamu bahagia selalu Ra...." bisik Lisa mengusap tetes airmata yang jatuh tanpa permisi.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!