Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luciano dan hukuman yang berlanjut
Asap mesiu di koridor luar mulai menipis, digantikan oleh aroma disinfektan dan bedak bayi yang menenangkan di dalam kamar bunker. Leonardo duduk di tepi ranjang, memandangi makhluk kecil yang kini terbungkus kain biru muda. Wajah bayi itu adalah cetakan sempurna dari ayahnya—rahang yang tegas meski masih mungil dan guratan alis yang menunjukkan watak keras.
"Dia butuh nama, Leo," bisik Olivia, suaranya masih lemah namun penuh kebanggaan.
Leonardo mengusap pipi bayi itu dengan jarinya yang kasar. Pria yang biasanya hanya memberikan kode angka untuk target operasinya itu kini tampak menimbang setiap suku kata dengan khidmat.
"Luciano," ucap Leonardo lugas. "Luciano De Luca. Cahaya di tengah kegelapan keluarga kita. Dia akan memiliki kekuatan nama De Luca, tapi dia akan membawa terang yang tidak pernah kumiliki."
Olivia tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Leonardo. "Luciano. Nama yang indah. Semoga dia tidak mewarisi sifat pemarahmu."
Leonardo mendengus pelan, hampir sebuah tawa. "Dia sudah mewarisinya, Olivia. Lihat cara dia mencengkeram jariku. Dia tidak mau melepasnya, seolah dia sudah memilikiku sepenuhnya."
Hukuman Tanpa Akhir
Namun, Leonardo segera menyadari bahwa kelahiran Luciano bukanlah akhir dari "hukumannya". Justru, sang pewaris tampaknya telah meningkatkan level siksaannya dari dalam rahim ke dunia nyata.
Baru saja Leonardo mencoba memejamkan mata setelah malam yang berdarah, suara tangisan yang melengking—frekuensi yang hanya bisa dihasilkan oleh seorang De Luca—memecah keheningan kamar.
Oeeee! Oeeee!
Leonardo tersentak bangun, tangannya secara insting mencari senjata sebelum menyadari bahwa "musuhnya" ada di dalam boks bayi kristal di samping tempat tidur.
"Dia lapar, Leo. Tolong ambilkan dia dan berikan padaku," gumam Olivia yang masih terlalu lemas untuk banyak bergerak.
Leonardo bangkit, mencoba menggendong Luciano. Namun, begitu tangan Leonardo menyentuh tubuh mungil itu, tangisan Luciano justru semakin keras, seolah-olah bayi itu tahu bahwa tangan yang memegangnya baru saja mencabut nyawa orang di koridor luar.
"Dia menolakku, Olivia! Kenapa dia menangis semakin kencang saat aku menyentuhnya?" tanya Leonardo panik. Pria yang ditakuti seluruh Spanyol ini tampak benar-benar tak berdaya menghadapi bayi seberat tiga kilogram.
"Mungkin karena baumu. Kau sudah mandi, tapi bayinya tahu kau masih tegang," goda Olivia.
Karma Sabun Stroberi
Siksaan berlanjut saat pagi tiba. Donna Isabella masuk ke kamar dan mendapati putranya sedang berdiri di pojok ruangan, menggoyangkan botol susu dengan wajah frustrasi.
"Kenapa kau tidak duduk, Leo?" tanya Isabella sambil menahan tawa.
"Dia hanya mau diam kalau aku menggendongnya sambil berjalan mondar-mandir di sepanjang garis ubin ini. Kalau aku melangkah keluar dari garis marmer hitam ini, dia akan menjerit seolah aku sedang menyiksanya," keluh Leonardo. Matanya merah karena kurang tidur.
Marco yang berdiri di pintu untuk memberikan laporan intelijen, terpaksa menggigit pipi bagian dalamnya agar tidak meledak tertawa. Ia melihat bosnya—sang algojo Madrid—sedang melakukan gerakan dansa konyol hanya agar Luciano tidak menangis.
"Tuan, laporan tentang pembersihan klan Volkov sudah siap," ucap Marco dengan suara serak.
"Letakkan di meja! Dan jangan bersuara keras-keras! Kau ingin dia bangun lagi?" gertak Leonardo dengan bisikan yang tajam.
Luciano kecil seolah setuju. Ia membuka satu matanya, menatap ayahnya dengan tatapan yang sangat mirip dengan cara Leonardo menatap musuhnya, lalu dengan santai ia... mengompol tepat di atas kemeja sutra mahal yang dikenakan Leonardo.
Leonardo membeku. Ia merasakan cairan hangat merembes di dadanya.
"Dia baru saja mengencingiku, Bunda," ucap Leonardo datar.
Isabella tertawa lepas hingga air matanya keluar. "Itu hukuman karena kau terlalu sombong dulu, Leo. Sekarang kau punya atasan baru di rumah ini."
Leonardo hanya bisa menghela napas pasrah. Ia mencium kening Luciano—yang sekarang tertidur pulas dengan wajah puas setelah "menghukum" ayahnya—dan menyadari bahwa Luciano De Luca memang cahaya dunianya, sekaligus hakim yang akan memastikan Leonardo membayar setiap dosanya dengan kesabaran yang tak terbatas.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...