NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: ADA YANG JATUH CINTA NIH!

Suasana siang hari di rumah Aldi terasa sangat lengang. Sekitar pukul sebelas tadi, Pak Dadang dan Bunda Baren terpaksa harus bergegas pergi ke luar kota karena ada urusan bisnis mendadak yang tidak bisa ditunda. Sementara itu, adik perempuan Aldi, Mikhaela, sudah sejak dua hari lalu pergi berlibur ke rumah neneknya di Sukabumi. Aldi kini sendirian di rumah dalam kondisi tubuh yang masih lemas. Teman-temannya, Kenan dan Sendy, juga belum bisa datang menjenguk lagi siang ini karena jadwal kuliah mereka padat sampai jam tujuh malam nanti.

Aldi menggeliat di balik selimutnya. Tenggorokannya terasa sangat kering dan perutnya sudah berbunyi minta diisi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia memaksakan diri bangun dari kasur. Kepalanya masih agak pening, dan langkah kakinya sedikit sempoyongan saat berjalan keluar kamar, menuruni tangga rumah menuju lantai bawah untuk mengambil segelas air hangat di dapur.

Saat baru saja sampai di ruang tengah, telinga Aldi menangkap suara ketukan pelan di pintu depan, diikuti suara salam yang sangat familier di pendengarannya.

"Permisi... Mas Aldi?"

Jantung Aldi seketika senam tuh si Aldi. Ia sangat mengenali suara lembut itu. Dengan perasaan campur aduk antara ragu dan gugup, Aldi melangkah pelan menuju pintu depan, lalu memutar kunci selotnya.

Klek.

Begitu pintu terbuka, sosok Jasmine sudah berdiri di sana. Siang itu, sang Bu RT tampil sangat anggun dan santai dengan blus rajut berwarna krem dan celana kulot panjang hitam. Rambutnya jepit rapi ke belakang, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah cantiknya. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah rantang stainless steel tiga susun yang masih hangat.

Melihat pintu terbuka dan menampilkan sosok Aldi yang berwajah pucat dengan kaos dalam putih dan sarung, Jasmine sempat tertegun. Namun, sebelum Jasmine sempat menyapa, Aldi yang mendadak panik melihat kehadiran wanita itu langsung membungkukkan badannya berulang kali dengan wajah yang seketika memerah padam.

"Bu... Bu Jasmine! Soal kejadian semalam, saya bener-bener minta maaf, Bu! Demi Allah itu beneran gak sengaja, saya gak ada niat kurang ajar sama sekali! Tolong jangan benci saya, Bu!" cerocos Aldi panik setengah mati, suaranya yang serak terdengar sangat putus asa sampai ia hampir mau berlutut di ambang pintu.

Melihat reaksi Aldi yang begitu ketakutan dan panik luar biasa, Jasmine tidak bisa lagi menahan tawa. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, lalu tertawa renyah hingga matanya menyipit manis membentuk bulan sabit. Suara tawanya yang merdu seketika memecah ketegangan di teras rumah itu.

"Haduh... pantesan aja Mas Kenan sama Mas Sendy bilang kamu tumbang. Ternyata kamu kepikiran sampai begini ya?" Jasmine meredakan tawanya, menatap Aldi dengan pandangan mata yang sangat lembut dan teduh. "Sudah, Mas Aldi, gak apa-apa. Lagian juga itu kan gak sengaja, murni kecelakaan karena pintunya gak dikunci rapat. Saya sama sekali gak marah kok, beneran."

Aldi perlahan menegakkan badannya, menatap Jasmine dengan pandangan tidak percaya. "B-beneran, Bu? Ibu gak marah?"

"Iya, Mas Aldi... Saya gak marah," goda Jasmine dengan nada manja yang membuat darah muda Aldi kembali berdesir hebat. Jasmine melangkah maju, membuat aroma parfum melatinya langsung tercium oleh Aldi. "Ini, saya ke sini sengaja mau jenguk kamu. Tadi pas lewat depan, saya lihat mobil Pak Dadang gak ada. Terus saya ingat kata anak-anak kalau kamu lagi demam sendirian di rumah. Pasti belum makan siang kan?"

Aldi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sangat salah tingkah sekaligus terharu. "Eh... iya, Bu. Kebetulan Bapak sama Bunda lagi ada bisnis di luar kota, Mikha juga ke Sukabumi. Jadi belum ada yang masak."

"Nah, bener kan tebakan saya. Ya sudah, ayo masuk. Biar saya yang urus kamu siang ini," ucap Jasmine tanpa ragu, langsung melangkah masuk melewati Aldi seolah rumah itu adalah rumahnya sendiri.

Aktivitas siang itu berubah menjadi momen yang tidak akan pernah dilupakan oleh Aldi seumur hidupnya. Jasmine dengan sangat telaten mengambil alih urusan domestik di rumah Aldi. Wanita dewasa itu menuju dapur, menyiapkan piring, dan menuangkan isi rantang yang ternyata berisi bubur ayam kuah kuning buatan sendiri, lengkap dengan suwiran ayam dan taburan seledri segar.

"Ayo, duduk di sini, Mas," patah Jasmine, menepuk kursi ruang makan.

Aldi menurut saja seperti kerbau dicocok hidung. Ia duduk dengan kaku, sementara Jasmine duduk di kursi sebelahnya, membawa semangkuk bubur hangat yang asapnya masih mengepul.

"Bisa makan sendiri, atau mau saya suapi?" tanya Jasmine setengah menggoda, matanya menatap lekat ke arah bibir Aldi yang membuat pemuda itu langsung tersedak ludahnya sendiri.

"M-makan sendiri aja, Bu RT. Bisa kok," jawab Aldi buru-buru mengambil sendok dengan tangan yang sedikit gemetar.

Jasmine tersenyum maklum, memperhatikan cara makan Aldi yang pelan karena lidahnya yang masih pahit akibat demam. Selama Aldi makan, Jasmine tidak tinggal diam. Ia berjalan ke area dapur, mencuci beberapa gelas kotor yang ada di bak cucian, lalu membuatkan segelas teh manis hangat untuk Aldi. Kehadiran Jasmine yang cekatan dan penuh perhatian membuat rumah Aldi yang tadinya terasa dingin dan sepi seketika berubah menjadi sangat hangat dilingkupi aura keibuan yang matang.

Selesai makan, Jasmine menuntun Aldi untuk kembali ke kamarnya di lantai atas agar bisa beristirahat dengan lebih nyaman.

Di dalam kamar, Aldi kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Jasmine mengikutinya masuk, membawa segelas air putih dan dua butir obat penurun panas yang tadi disiapkan oleh Bunda Baren di atas meja.

"Nih, minum dulu obatnya, Mas. Biar panasnya cepat turun," kata Jasmine lembut, menyerahkan obat dan segelas air ke tangan Aldi.

Setelah Aldi meminum obatnya, Jasmine mengambil selembar handuk kecil yang sudah direndam air hangat dari baskom yang ia bawa dari bawah. Dengan gerakan yang sangat lembut, Jasmine duduk di tepi ranjang Aldi, lalu menempelkan handuk kompresan itu ke atas dahi lebar sang Ketua Karang Taruna. Sentuhan tangan halus Jasmine yang tidak sengaja mengenai kulit pelipisnya membuat seluruh tubuh Aldi mendadak kaku, debaran jantungnya kembali berpacu tidak karuan.

"Badan kamu bongsor begini, tapi kalau sakit manja juga ya," bisik Jasmine pelan, jemarinya bergerak merapikan beberapa helai rambut Aldi yang basah karena keringat dingin. Tatapan mata Jasmine begitu dekat, memancarkan rasa sayang dan perhatian dewasa yang membuat pertahanan hati Aldi runtuh sepenuhnya.

"Bu Jasmine... makasih banyak ya. Repot-repot sampai ngurusin saya seharian begini," ujar Aldi tulus, suaranya melembut menatap langsung ke dalam manik mata wanita di sampingnya.

Jasmine tersenyum sangat manis, tangannya beralih mengusap pipi Aldi yang terasa panas dengan lembut. "Sama-sama, Mas Aldi. Sudah jadi tugas saya kan buat jagain ketuanya yang sudah kerja bagus buat kita... dan demi saya semalam."

Mendengar kalimat terakhir Jasmine yang diucapkan dengan nada berbisik penuh arti, Aldi hanya bisa pasrah membiarkan wajahnya kembali memerah. Di bawah urusan dan belaian lembut dari sang Bu RT yang menemaninya seharian penuh, rasa sakit di tubuh Aldi perlahan-lahan mulai tergantikan oleh rasa kantuk yang nyaman, membawa pemuda itu terlelap dengan senyuman yang menghiasi bibirnya di bawah tatapan hangat Jasmine yang terus berjaga di sisi ranjangnya.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!