Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Irwan Mulai Dekat dengan Seorang Janda Bernama Lastri
Pagi itu ruko kecil milik Irwan terlihat jauh lebih sibuk dibanding biasanya. Beberapa pekerja mondar-mandir mengangkat banner pesanan pelanggan, sementara suara mesin printer terus berdengung memenuhi ruangan.
Irwan sendiri duduk di depan komputer sambil memeriksa desain reklame yang harus selesai hari itu. Sejak Sulis pulang kampung bersama anak-anak, hampir seluruh waktunya dihabiskan di ruko.
Rumah terasa sepi.
Tak ada suara Rara yang cerewet meminta dibelikan es krim.
Tak ada Dito yang berlarian sambil memainkan mobil-mobilan.
Dan tak ada Sulis yang biasa menunggunya pulang sambil menyiapkan makan malam.
Awalnya Irwan menikmati ketenangan itu karena ia bisa lebih fokus bekerja. Namun makin malam rumah justru terasa dingin dan kosong.
“Mas Irwan, ada tamu,” ujar salah satu pegawainya.
Irwan menoleh cepat.
Di depan ruko berdiri seorang wanita berjilbab krem sambil memegang map lusuh di tangannya. Wajahnya terlihat cantik sederhana, tetapi sorot matanya tampak lelah.
“Permisi... Pak Irwan ya?” tanyanya pelan.
“Iya, saya sendiri.”
Wanita itu tersenyum kecil.
“Saya Lastri.”
Irwan mengangguk pelan lalu mempersilakan wanita itu masuk.
“Silakan duduk.”
Lastri duduk hati-hati di kursi depan meja kerja Irwan. Dari gerak-geriknya terlihat jelas bahwa ia sedikit gugup.
“Saya dapat nomor Bapak dari Pak Hendra,” jelasnya. “Katanya di sini bisa bikin banner toko.”
“Oh bisa, Bu.”
Lastri mengeluarkan beberapa kertas dari mapnya.
“Saya baru buka warung sembako kecil-kecilan. Mau bikin banner sama stiker harga... tapi saya nggak ngerti desain.”
Irwan tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa. Nanti saya bantu.”
Lastri terlihat sedikit lega mendengar itu.
Mereka mulai membahas ukuran banner dan tulisan yang ingin dipasang di warung milik Lastri. Awalnya pembicaraan mereka murni soal pekerjaan.
Namun perlahan Irwan mulai mengetahui sedikit tentang kehidupan wanita itu.
Lastri ternyata seorang janda dengan satu anak laki-laki. Suaminya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan proyek bangunan.
Sejak itu ia hidup sendiri sambil berjualan kecil-kecilan demi menyambung hidup.
“Berat juga ya...” gumam Irwan tanpa sadar.
Lastri tersenyum kecil, tetapi matanya tampak menyimpan kesedihan panjang.
“Mau gimana lagi, Pak. Hidup harus tetap jalan.”
Irwan terdiam beberapa detik.
Entah kenapa ia merasa iba melihat wanita itu.
Mungkin karena Lastri terlihat begitu rapuh.
Atau mungkin karena sudah lama Irwan tidak berbincang santai dengan orang lain selain urusan rumah dan pekerjaan.
“Kalau desainnya begini gimana?” tanya Irwan sambil memutar layar laptop.
Lastri langsung tersenyum kagum.
“Bagus banget.”
“Kurang cocok warnanya mungkin?”
“Nggak. Saya suka.”
Tatapan kagum itu membuat Irwan tanpa sadar ikut tersenyum kecil.
Menjelang siang, pekerjaan di ruko semakin ramai. Beberapa pegawai sibuk keluar masuk membawa pesanan pelanggan.
Lastri masih duduk menunggu hasil cetak desainnya selesai.
“Tunggu lama ya?” tanya Irwan.
“Nggak apa-apa kok.”
Irwan melirik jam dinding sebentar lalu berkata,
“Udah makan belum?”
Lastri terlihat salah tingkah.
“Belum.”
“Tadi pagi?”
“Belum juga... buru-buru berangkat.”
Irwan langsung memanggil salah satu pegawainya.
“Beli bakso dua mangkok depan sana.”
Lastri buru-buru menggeleng.
“Nggak usah Pak, saya malu.”
“Nggak apa-apa.”
“Nanti saya bayar.”
Irwan terkekeh kecil.
“Anggap aja bonus pelanggan pertama hari ini.”
Lastri akhirnya tersenyum malu sambil menunduk kecil.
Tak lama kemudian dua mangkok bakso datang. Mereka makan di sudut ruko sambil sesekali mengobrol ringan.
Irwan mulai merasa nyaman berbicara dengan wanita itu.
Lastri selalu mendengarkan dengan serius setiap ia bercerita.
Bahkan ketika Irwan hanya mengeluhkan pegawai yang sering salah ukuran banner, Lastri tetap tertawa kecil dan menanggapinya dengan antusias.
Sudah lama sekali Irwan tidak merasa sesantai itu saat berbicara dengan seseorang.
Sore harinya hujan turun cukup deras.Lastri terpaksa menunggu di ruko lebih lama karena motornya tidak memungkinkan dipakai menerobos hujan.Suasana ruko mulai sepi karena sebagian pegawai pulang lebih dulu.
Tinggal Irwan dan Lastri yang duduk sambil menikmati kopi sachet hangat.
“Mas Irwan pasti capek ya kerja begini tiap hari,” ucap Lastri pelan.
Irwan tersenyum tipis.
“Udah biasa.”
“Tapi hebat loh... dari nol bisa punya usaha sendiri.”
Irwan sedikit terdiam mendengar pujian itu.
Selama ini Sulis memang selalu mendukungnya, tetapi setelah bertahun-tahun menikah, pujian seperti itu jarang terdengar lagi.
Sementara Lastri menatapnya penuh kekaguman.
“Dulu saya cuma tukang pasang banner keliling,” ujar Irwan pelan.
“Sekarang udah sukses.”
“Belum juga.”
“Buat saya sih udah hebat.”
Entah kenapa dada Irwan terasa hangat mendengarnya.
Hujan di luar masih turun deras ketika mata mereka sempat bertemu beberapa detik.
Ada jeda aneh yang membuat Irwan cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Sulis, ia mulai merasakan sesuatu yang tidak seharusnya tumbuh,bukan cinta,belum,namun rasa nyaman kecil itu perlahan mulai membuka celah dalam hidupnya. Malam mulai turun perlahan ketika hujan akhirnya mereda. Jalanan depan ruko masih basah dan dipenuhi genangan kecil yang memantulkan cahaya lampu kendaraan.Lastri berdiri sambil merapikan jilbabnya.
“Kayaknya saya pulang dulu, Pak.”
Irwan mengangguk kecil.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
Lastri sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Terima kasih ya... udah banyak bantu saya hari ini.”
“Nggak seberapa kok.”
“Tapi buat saya berarti.”
Senyum kecil muncul di wajah wanita itu sebelum ia melangkah keluar ruko. Motor tuanya perlahan menjauh di tengah udara dingin sehabis hujan.
Irwan masih berdiri di depan ruko beberapa saat sambil memandangi jalanan.
Entah kenapa suasana sore tadi terus terbayang di kepalanya.
Padahal mereka baru saling mengenal.
Namun Lastri memberi perasaan aneh yang sulit dijelaskan,terasa tenang, nyaman, dan membuatnya merasa dihargai.
“Bos...”
Suara salah satu pegawai membuat Irwan menoleh cepat.
“Masih di sini lu?” tanya Irwan.
Pegawai itu nyengir kecil sambil membereskan gulungan banner.
“Itu pelanggan baru ya?”
“Iya.”
“Cantik juga.”
Irwan langsung melempar kain lap ke arah pegawainya.
“Kerja aja yang bener.”
Pegawai itu tertawa kecil sebelum buru-buru keluar.
Setelah ruko benar-benar sepi, Irwan duduk sendirian di depan komputer. Biasanya jam seperti ini ia sudah pulang dan mendengar suara anak-anak berisik di rumah.
Namun sekarang rumah kosong karena Sulis dan kedua anak mereka masih di kampung.
Irwan akhirnya mengambil ponselnya lalu membuka pesan dari Sulis.
Foto Dito dan Rara sedang bermain hujan di halaman rumah nenek mereka memenuhi layar.
Sulis :
Anak-anak seneng banget di sini
Tanpa sadar Irwan tersenyum kecil.
Ia membalas singkat.
Jangan main hujan lama-lama nanti sakit.
Tak lama kemudian pesan balasan masuk.
Iya Ayah cerewet
Irwan menghela napas kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Ia mencintai keluarganya.
Sangat mencintai mereka.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, ada rasa asing yang mulai muncul dalam dirinya. Rasa yang seharusnya tidak ia pelihara.
Ponselnya tiba-tiba kembali berbunyi.
Nama Lastri muncul di layar.
Irwan sedikit terdiam sebelum membuka pesan itu.
Lastri :
Pak, maaf ganggu malam-malam. Saya cuma mau bilang banner warungnya bagus banget. Tetangga pada bilang keren..
Tanpa sadar sudut bibir Irwan terangkat kecil.
Irwan :
Syukurlah kalau cocok.
Beberapa detik kemudian balasan kembali masuk.
Lastri :
Terima kasih ya Pak Irwan. Jarang ada orang sebaik Bapak.
Kalimat sederhana itu membuat dada Irwan terasa hangat aneh.
Ia menatap layar ponselnya cukup lama.
Di luar, suara hujan rintik-rintik mulai turun lagi.Sementara di kampung, Sulis sedang tertawa bersama anak-anaknya tanpa sedikit pun menyadari bahwa perlahan ada perempuan lain yang mulai masuk ke dalam kehidupan suaminya.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .