Calypsa, seorang freelance video editor biasa di siang hari dan editor video deep web khusus geng mafia untuk menghikangkan bukti di malam hari. Ia ketahuan oleh clientnya, Cyrus ketua geng terbesar di Aethelgard. Namun, Cyrus bukan melenyapkannya, terapi merekrutnua untuk sebuah misi. Misi untuk membalas dendam kematian kakak laki-lakinya sekaligus misi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Dua Tahun yang Lalu
Cyrus tidak langsung memulai dari awal.
Ia berdiri terlebih dahulu, berjalan ke sisi ruangan di mana terdapat lemari kecil, mengambil dua cangkir, dan menuangkan kopi dari termos yang rupanya sudah disiapkan di sana. Ia meletakkan satu cangkir di depan Calypsa tanpa bertanya apakah ia mau atau tidak, kemudian kembali ke kursinya dengan cangkirnya sendiri.
Calypsa tidak menyentuh kopinya dulu. Ia hanya menunggu.
"Apo bergabung dengan kami tiga tahun sebelum kejadian itu." Cyrus memulai, suaranya tetap rendah dan terkendali, tapi Calypsa menangkap sesuatu di sana yang berbeda dari cara ia berbicara tentang hal-hal operasional, semacam kehati-hatian yang tidak bersumber dari kalkulasi, tapi dari sesuatu yang lebih manusiawi. "Dia bukan tipe yang banyak bicara. Lebih banyak bekerja. Tapi dia sangat teliti, dan dia punya insting lapangan yang tidak bisa diajarkan di mana pun."
Calypsa menatap kopinya yang mengepul pelan. Ia tahu semua itu. Ia tumbuh bersama Apo, ia tahu bagaimana kakaknya berpikir, bagaimana kakaknya bergerak, bagaimana kakaknya tertawa dengan cara yang selalu terdengar sedikit terkejut seolah ia tidak menduga sesuatu bisa selucu itu. Tapi ia membiarkan Cyrus berbicara karena bagian yang ia butuhkan bukan bagian yang ia sudah tahu.
"Setahun sebelum penyerangan, kami mulai mendeteksi pergerakan kelompok Dragan di perbatasan selatan Aethelgard." lanjut Cyrus. "Mereka tidak langsung masuk. Mereka membangun jaringan dari dalam terlebih dahulu, menyusup melalui jalur bisnis legal, menempatkan orang-orang mereka di posisi-posisi tertentu." ia mengangkat cangkirnya, menyesap sebentar, lalu meletakkannya kembali. "Termasuk di dalam biro keamanan kota."
"Direktur yang saya identifikasi semalam."
"Bukan dia." Cyrus menggeleng. "Direktur itu baru belakangan. Yang pertama adalah pendahulunya, yang pensiun dini delapan belas bulan lalu dengan alasan kesehatan." sudut bibirnya bergerak sedikit ke arah yang tidak bisa Calypsa kategorikan sebagai senyum maupun sinis. "Pensiun yang sangat tepat waktunya."
Calypsa memproses informasi itu dan menyimpannya.
"Apo yang pertama menyadari ada yang tidak beres." Cyrus meletakkan sikunya di meja, condong sedikit ke depan. "Dia kebetulan mengenal salah satu staf di biro itu dari latar belakang sebelum ia bergabung dengan kami. Staf itu mulai berperilaku berbeda, jam kerja yang berubah, jalur komunikasi yang tidak biasa. Apo melaporkan ini kepada kami dan kami mulai memantau."
"Berapa lama kalian memantau sebelum penyerangan terjadi?"
"Enam minggu." jawab Cyrus. "Dan dalam enam minggu itu, kami berhasil memetakan sebagian besar rencana Dragan. Sebagian besar, tapi tidak semuanya." ia berhenti sejenak. "Kami tidak tahu kapan tepatnya mereka akan bergerak. Dragan sangat berhati-hati dalam komunikasi, hampir tidak meninggalkan jejak digital. Ia menggunakan kurir fisik untuk instruksi-instruksi terpenting, sesuatu yang sangat tidak lazim di era itu."
"Dan malam penyerangan itu?"
Cyrus menatap titik di atas meja sebentar sebelum menjawab. "Apo menghubungi kami dua jam sebelumnya. Ia mendapat informasi dari sumber yang tidak ia sebutkan namanya, bahwa malam itu Dragan akan menggerakkan tim pertamanya. Bukan serangan penuh, hanya tim pendahulu untuk menguji respons kami.
Cyrus menautkan jari-jarinya. "Masalahnya, lokasi yang Dragan pilih untuk titik masuk pertama adalah kawasan yang pada malam itu Apo dan beberapa rekannya sedang ada di sana untuk urusan lain. Bukan operasi. Hanya pertemuan biasa."
Calypsa mengerti sekarang ke mana arah cerita ini.
"Apo tidak sempat keluar dari lokasi sebelum tim Dragan tiba."
"Tidak." ujar Cyrus. "Kami mengirimkan orang secepat yang kami bisa setelah mendapat sinyalnya. Tapi Dragan bergerak lebih cepat dari yang kami perkirakan." untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, Cyrus berhenti bicara bukan karena sedang menyusun kalimat berikutnya, tapi karena ada sesuatu yang memang perlu jeda. "Aku sendiri yang pergi ke lokasi."
Calypsa akhirnya mengangkat matanya sepenuhnya menatap Cyrus.
"Aku berhasil menarik Apo keluar dari titik terpanas." lanjut Cyrus, suaranya tidak berubah secara dramatis, tapi ada kualitas berbeda di sana yang membuat Calypsa memperhatikan setiap kata dengan sangat seksama.
"Tapi lukanya sudah terlalu dalam sebelum aku tiba. Kami membawanya ke tempat yang aman, tim medis kami sudah menunggu. Tapi ada kerusakan internal yang tidak bisa ditangani di lapangan." Cyrus menatap Calypsa langsung. "Aku tidak meninggalkannya sendirian. Aku ada di sana sampai akhir."
Calypsa menarik napas yang lebih dalam dari biasanya dan melepaskannya perlahan melalui hidung.
Selama dua tahun ia membayangkan momen terakhir Apo dalam berbagai versi, kebanyakan versi yang gelap dan sepi karena itulah yang paling mudah ia bayangkan ketika seseorang tidak kembali. Tapi ternyata kakaknya tidak sendirian. Ternyata seseorang ada di sana, dan seseorang itu sekarang duduk di ujung meja yang sama dengannya.
"Kamu bilang padaku sebelum pergi." suara Calypsa keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan. "'Rekan kami akan mengurus pemakamannya.' Waktu itu kamu yang bilang itu."
Cyrus tidak menjawab, tapi ia tidak menolak pernyataan itu juga.
"Aku tidak ingat wajahmu." lanjut Calypsa. "Waktu itu gelap dan aku sedang..." ia berhenti sebentar. "Aku tidak dalam kondisi untuk memperhatikan wajah siapapun."
"Aku tahu." ujar Cyrus. "Kamu bersembunyi di balik tumpukan pipa di sudut gang itu. Kamu memakai jaket hijau kebesaran. Kamu tidak menangis." ia menyesap kopinya sekali lagi. "Waktu itu aku pikir kamu dalam kondisi syok."
Calypsa hampir tersenyum dengan cara yang tidak ada kebahagiaannya sama sekali. "Aku tidak dalam kondisi syok. Aku hanya tidak sanggup membuat suara apapun."
Keheningan antara mereka bukan keheningan yang tidak nyaman. Lebih seperti dua orang yang sedang memberi ruang bagi sesuatu yang berat untuk mengendap dulu sebelum percakapan bisa dilanjutkan.
Calypsa akhirnya mengambil cangkir kopinya dan menyesap. Sudah tidak sepanas ketika pertama kali diletakkan, tapi masih cukup hangat dan rasanya kuat, persis seperti yang ia butuhkan sekarang.
"Siapa sumber yang memberi tahu Apo tentang malam itu?" tanyanya akhirnya. "Sumber yang tidak ia sebutkan namanya."
Cyrus meletakkan cangkirnya. "Itu yang sampai sekarang belum kami ketahui."
Calypsa menatapnya. "Artinya seseorang dari dalam lingkaran Dragan memberi tahu Apo. Seseorang yang cukup dekat dengan Dragan untuk tahu rencana pergerakan malam itu, tapi tidak cukup loyal untuk membiarkannya berjalan tanpa peringatan."
"Atau seseorang yang punya agenda sendiri dan menggunakan Apo sebagai alat untuk menyampaikan informasi itu tanpa harus mengekspos dirinya sendiri." Cyrus mengangguk pelan. "Kemungkinan itu yang lebih kami percayai sekarang."
"Dan kemungkinan besar orang itu masih ada di Aethelgard."
"Kemungkinan besar." ujar Cyrus. "Dan kemungkinan besar orang itu juga tahu bahwa kami sedang mencarinya. Itu yang membuat Dragan sangat sulit dilacak selama dua tahun ini. Ada seseorang yang terus memberi tahu Dragan langkah mana yang terlalu dekat dengan jaringannya."
Calypsa meletakkan cangkirnya dan menatap workstation di pojok ruangan itu.
"Jadi bukan hanya satu masalah." ujarnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ada dua lubang yang perlu ditutup. Dragan di luar, dan pengkhianat di dalam."
"Sekarang kamu mengerti mengapa proyek ini tidak bisa dikerjakan dalam semalam." ujar Cyrus.
Calypsa berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju workstation di pojok itu. Ia menarik kursinya, duduk, dan menyalakan layar. Tampilan yang muncul sudah sangat familiar karena memang identik dengan setup yang ada di kamar kerjanya. Sampai ikon-ikon kecil di sudut layar pun tersusun dengan urutan yang persis sama.
Mereka benar-benar menyalin seluruh konfigurasinya.
Calypsa menarik napas panjang, meletakkan jari-jarinya di atas keyboard, dan menoleh ke arah Cyrus yang masih duduk di meja panjang itu, mengamatinya dari jarak yang sekarang terasa lebih jauh.
"Satu hal yang perlu kamu tahu tentang cara aku bekerja." ujarnya. "Aku tidak menyampaikan laporan setengah jadi. Aku hanya akan melapor ketika aku yakin dengan apa yang aku temukan. Jangan tanya progres setiap hari."
Cyrus menatapnya dari jarak itu. "Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk laporan pertama yang bisa dipercaya?"
Calypsa menoleh kembali ke layar. Tangannya mulai bergerak di keyboard, membuka lapisan pertama dari sistem yang Voss sudah siapkan untuknya, memetakan arsitektur jaringan yang akan ia telusuri.
"Tiga hari." jawabnya.
Dan ia mulai bekerja.