NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta

Cahaya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saidah_noor

Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ajakan untuk Rujuk.

"Ada apa?" tanya Cahaya dengan nada dingin, wajahnya bahkan enggan menatap pria yang masih berstatus suaminya.

Kini pasangan yang pernah menikah itu berada disebuah cafe, mereka duduk berhadapan didekat jendela kaca dan berada dipojok. Dimana itu adalah tempat yang lumayan untuk berbicara berdua, sore ini pun suasana kedai itu lumayan sepi.

Fery mengambil cangkir dan menyeruput kopinya. Sejenak ia mengambil nafas dalam, menatap wajah wanita yang ada dihadapannya. Jika dari sisi, Cahaya memang selalu cantik. Namun tetap saja, kekurangannya membuatnya malu.

Ia ingat saat mereka menikah tiga tahun yang lalu, beberapa temannya menghina dirinya yang bodoh dan bahkan tak laku. Karena mau dijodohkan dengan wanita yang mereka lihat cacat, padahal ia punya wajah yang tampan dan karir yang cemerlang. Tentu banyak gadis dari kalangan atas yang terpesona dengannya.

Namun dulu ia hanya berpikir, ia menikahi Cahaya karena kebaikan ibu wanita itu. Tapi lama-lama ...

"Jangan ganggu dokter Fery! Dia punya istri budek, pasti hidupnya dipenuhi beban," ujar sorang rekan kerja yang menghinanya dari belakang.

Tak hanya itu, beberapa temannya pun ogah bertemu dengannya lagi karena ia dianggap bodoh. Ia menikah dengan Cahaya, gadis yang mereka lihat miskin, sebatang kara, yang hidupnya akan jadi beban.

Hari-harinya setelah menikah dengan Cahaya, ada saja ledekan dari teman atau rekan kerjanya. Ia merasa dikucilkan, tak dianggap, hingga ia bertemu Cinthya. Anak pemilik rumah sakit itu, yang wajahnya menggoda dan menariknya untuk selingkuh.

"Aku dengar, kamu sering memberi ibuku uang. Terima kasih!" jawab Fery dengan pelan tapi jelas terdengar.

"Hanya itu?" tanya Cahaya seakan enggan berbicara banyak dan ingin segera pergi.

"Apa kamu tidak ada yang mau dikatakan padaku? Kita sudah hampir seminggu tak bertemu," ujar Fery bertanya balik.

Cahaya akhirnya menatap Fery, walau masih memasang muka dingin. Ia menyusun kata yang bisa menjawab tanya pria, yang akan menjadi mantannya.

"Selamat atas hubunganmu dengan Dr. Cinthya, semoga karma perselingkuhanmu setimpal dengan rasa sakitku," jawab Cahaya yang kemudian kembali mengalihkan pandangannya.

"Yaya, kau tak boleh berkata begitu. Kita belum bercerai, secara resmi kita masih suami istri." Fery mendengus. Kalimat itu membuatnya sesak juga, apalagi mengingat perkataan selingkuhannya itu soal putus.

Cahaya tersenyum sinis, "Kenapa? Apa karmanya sudah datang lebih cepat?" tanyanya seolah mengejek suaminya.

Mereka saling beradu pandang sejenak, lalu mata Cahaya beralih pada secangkir kopi. Sudah menikah selama tiga tahun, tapi suaminya tak tahu kalau ia punya maag dan tak pernah menyentuh kopi.

Selama itu juga, suaminya tak pernah tahu apa yang ia suka dan tidak. Rumah tangga selama tiga tahun itu, sebenarnya rumah tangga macam apa?

Itulah yang menjadi tanya dalam hati Cahaya.

"Aku adalah aib bagimu, berarti dia adalah bintang keberuntunganmu. Atau ... Memang sebaliknya," ujar Cahaya makin muak mengingat kata-kata suaminya dirumah sakit terakhir kali.

"Maaf, bisakah kita coba lagi. Aku akan baik padamu mulai sekarang," ucap Fery dengan tak tahu malu, ia seolah lupa kalimat yang menyakitkan hati istrinya.

Cahaya tertawa pelan, seakan mendengar kalimat yang sangat lucu. "Dokter Fery, kita tak cocok untuk menjadi suami istri. Kita lebih cocok ... untuk menjadi orang asing."

Wanita itu mengambil tasnya, ia beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan suaminya.

Fery terdiam, ia sadar sudah pernah salah. Namun apa tak ada kesempatan lagi, ini hanya soal waktu.

Pandangan dokter tersebut mengarah pada secangkir kopi latte, ia masih utuh dan tak tersentuh. Dari sana ia menyadari sesuatu, ia mulai ingat kalau istrinya punya penyakit maag. Ia sendiri adalah dokternya, namun ia malah memesan kopi tersebut.

Secangkir kopi itu memang seperti Cahaya, belum ia sentuh dan masih utuh. Sedangkan dirinya sudah beberapa kali melakukan itu dengan Cinthya, pantas jika Cahaya menolaknya.

"Sialan! Kenapa aku sebodoh ini?" gerutu Fery menyandarkan punggungnya dan memijat pelipisnya.

***

Cahaya pulang ke rumah Rayyan, ia berjalan ke kamarnya langsung. Ia sempat lihat mobil yang biasa dipakai bosnya belum terparkir digarasi, artinya ia belum pulang.

Namun

Betapa terkejutnya, ia melihat lukisannya berada dikamarnya. Lukisan yang biasa ada dikamarnya sudah diganti menjadi lukisan bunga bercahaya, lukisan karyanya sendiri yang dilelang diGaleri tama.

"Lukisan ini," gumam Cahaya menatap lekat gambaran bunga yang berbingkai itu.

Ia berlari keluar kamar untuk mencari seseorang yang tahu tentang detail rumah megah ini. Didapur, akhirnya ia menemukan kepala asisten rumah tersebut.

"Pak Amir, kenapa lukisan dikamarku diganti?" tanya Cahaya tanpa basa-basi.

"Itu perintah tuan, dia ingin anda merasa nyaman tinggal dirumah ini," jawab pria paruh baya tersebut, menjawabnya dengan tenang dan sopan.

"Begitu ya," gumam Cahaya tak menduga Rayyan akan melakukan hal sejauh ini, tapi lelaki itu tak tahu siapa yang melukisnya.

"Kalau begitu, nanti kalau dia pulang. Bilang aku ingin bicara penting dengannya," ucap Cahaya dengan ragu.

"Baiklah, nona." pak Amir tersenyum padanya, seolah tahu saja apa yang ingin tuan dan nona itu bicarakan.

Cahaya kembali ke kamarnya, menatap lukisan yang menjadi jati dirinya. Ia baru tahu ternyata bosnya itu lah yang membeli lukisannya. Harganya bahkan fantastis, tapi tetap saja dibeli.

Wanita itu tersenyum melihatnya.

^

Cahaya masih setia menunggu Rayyan, ingin bertanya tentang lukisan yang ia buat itu. Detik bertemu menit hingga bertemu jam pun, lelaki itu belum juga terlihat batang hidungnya.

Sampai makan malam pun Rayyan belum juga pulang. Entah ada rapat penting atau bertemu orang penting dan untuk pertama kalinya Cahaya menunggu pria itu, hingga berjam-jam.

Saat melihat kursi yang biasa ditempati oleh Rayyan, ia terdiam. Entah mengapa ada secuil rindu pada lelaki itu. Makanan yang enak dan menggugah selera itu, bahkan tak bisa membuatnya nafsu. Semuanya terasa hampa.

Tepat pukul 11 malam, mobil Rayyan akhirnya terlihat. Kendaraan itu terparkir didepan rumah dan memperlihatkan lelaki itu berjalan masuk dengan santainya.

Pak Amir mendekat.

"Tuan, nona—" belum selesai kepala asisten itu berkata sudah disela begitu saja.

"Dia tak akan pulang, jadi biarkan saja," ketus Rayyan tanpa menoleh dan langsung berjalan pergi.

"Tuan, tapi nona sedang menunggu anda," ujar pak Amir merasa harus mengatakan itu pada tuannya.

Langkah kaki Rayyan terhenti, ia membalikkan badan menatap kepala asisten dirumahnya. "Dia pulang?" tanyanya.

Pak amir mengangguk, "Tadi nona bilang, ada yang ingin dia bicarakan dengan anda. Nona pasti menunggu anda sejak tadi," katanya.

Mendengar itu bibir Rayyan terlukis senyum, ia segera pergi dengan cepat menuju lantai tiga yang mana itu adalah kamar Cahaya.

Klek

Dengan ngos-ngosan Rayyan masuk kedalam, terlihat ada Cahaya yang tengah menonton drama. Posisinya membelakanginya, jadi Rayyan terus melangkah mendekatinya.

"Cahaya, pak Amir bilang ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya Rayyan.

Namun saat ia sudah dekat dan melihatnya, ternyata wanita itu sudah tidur dengan posisi duduk tegak. Rayyan terkekeh pelan, padahal ia sudah bersemangat lagi. Nyatanya diabaikan lagi karena wanita itu tertidur.

"Dasar tukang tidur!" umpat Rayyan dengan rasa sebal dan lucu bersamaan.

Rayyan menggendong wanita itu dan merebahkannya diatas ranjang. Tapi saat ia akan beranjak, lengan Cahaya yang melingkar dilehernya menariknya makin dekat. Hidung mereka beradu, jarak bibir mereka pun kurang dari tiga centi.

"Om Iyan, Yaya kangen loooh," igau Cahaya tersenyum memeluk kepala bosnya.

Rayyan terdiam, Iyan itu adalah panggilannya oleh keluarga kakak sulungnya.

1
falea sezi
🤣🤣 mertua toxic
🌀 SãñõõR 💞
yap ntar ceritanya jadi membingungkan.
partini
saling terhubung suami selingkuh dengan wanita yg pernah di sukai lelaki yg tidur dengan cahaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!