Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3
Mereka sampai di sebuah bangunan penthouse ultra modern yang menghadap langsung ke arah Duomo *(gereja)* di Milano. Interiornya sangat minimalis, didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca. Alicia melangkah masuk, mengagumi kemewahan yang bahkan melampaui rumahnya di Jakarta.
"Wow. Kau punya selera yang bagus, Dante," Alicia berbalik, mendapati Dante sudah berada tepat di belakangnya, mengunci langkahnya.
Tanpa banyak kata, Dante merengkuh pinggang Alicia, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Ciuman pertama mereka meledak dengan gairah yang liar. Dante mencium Alicia seolah ia ingin menaklukkan gadis itu, menghancurkan segala rasa sombongnya. Dan Alicia, di bawah pengaruh alkohol dan hormon yang membuncah, membalasnya dengan sama agresifnya.
Alicia tidak peduli pada konsekuensi. Ia tidak peduli pada masa depan. Ia hanya ingin malam ini menjadi miliknya.
Saat Dante mulai menanggalkan gaun merah Alicia, pria itu berhenti sejenak, menatap mata Alicia yang mulai sayu karena gairah. "Kau yakin dengan ini, Alicia? Setelah malam ini, tidak akan ada jalan kembali untukmu."
Alicia hanya tersenyum malas, menarik kerah kemeja Dante. "Jangan banyak bicara. Lakukan saja."
Malam itu, di atas tempat tidur mewah yang menghadap lampu-lampu kota Milan, Alicia menyerahkan segalanya. Di bawah sentuhan kasar namun menuntut dari sang raja bawah tanah, ia merasa telah memenangkan pemberontakannya. Dante melakukannya dalam keadaan sadar sepenuhnya. Ia menyukai cara Alicia yang tidak takut padanya, cara gadis itu mencakar punggungnya, dan agresivitas yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Namun, di tengah panasnya malam, sebuah kecerobohan besar terjadi. Dante, yang biasanya penuh perhitungan, sengaja membiarkan dirinya terbawa suasana. Ia tidak menggunakan pengaman. Ia ingin memberikan tanda yang lebih dari sekadar memar di kulit Alicia. Ia ingin memiliki gadis ini sepenuhnya, dengan cara yang paling primitif.
Tetapi, saat penyatuan itu benar-benar terjadi, gerakan Dante terhenti secara mendadak. Ada rintangan yang tak ia duga, sebuah pertahanan yang masih utuh dan tersegel. Napas Dante tertahan di tenggorokan, matanya yang kelam menatap wajah Alicia yang merintih di bawahnya. Sialan, pikirnya. Gadis ini bertingkah seolah ia adalah ratu penggoda di sana, bahkan menyerang dengan keberanian yang gila, namun ternyata ia masih perawan.
Dante menatap Alicia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kepuasan sekaligus amarah yang aneh di sana. Ia sudah melangkah terlalu jauh, dan fakta bahwa ia melakukannya tanpa pengaman membuat darahnya makin bergejolak. "Jadi, kau bersembunyi di balik keberanian ini?" bisik Dante dengan suara baritonnya yang berat, terdengar lebih seperti geraman rendah di telinga Alicia yang masih dalam pengaruh alkohol. "Kau sungguh berani, Little Bird. Memancing iblis saat kau sendiri bahkan belum tahu bagaimana caranya terbang."
Matahari mulai mengintip dari balik katedral saat Alicia terbangun dengan kepala yang terasa seperti dihantam dan tubuh yang terasa hancur. Ia mengerang, mencoba mengingat di mana ia berada. Sprei sutra hitam dingin menyentuh kulitnya yang polos di dalamnya.
Ingatan malam itu datang seperti kilasan film cepat. Kelab malam. Dante. Pria tampan. Dan... Oh Tuhan.
Alicia bangkit dengan tergesa, menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Ia menoleh dan melihat Dante tidak ada di sampingnya. Namun, suara bariton yang dingin terdengar dari arah balkon yang terbuka.
Alicia perlahan melangkah ke arah sana, mengintip dari balik pintu kaca. Di sana, Dante berdiri membelakanginya, hanya mengenakan celana panjang hitam. Di tangannya ada sebuah telepon.
"Aku tidak peduli jika dia memohon," ucap Dante dengan suara yang begitu dingin hingga membuat Alicia merasa menggigil di tengah pagi yang hangat. "Patahkan kedua tangannya sebelum kau membuangnya ke sungai. Dan pastikan kasino di pusat kota sudah bersih dari orang-orang mereka sebelum jam sepuluh pagi. Jika ada yang melawan... tembak di tempat."
Mata Alicia membelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia menatap punggung pria itu, dan baru menyadari adanya tato besar bermotif mawar hitam yang dikelilingi rantai berduri di punggung Dante sebuah simbol yang pernah ia lihat di berita internasional tentang sindikat mafia paling berbahaya di Italia.
Dante mematikan teleponnya, lalu berbalik seolah menyadari keberadaan Alicia. Ia menatap Alicia dengan mata yang tidak lagi penuh gairah seperti semalam, melainkan mata seorang penguasa yang baru saja menemukan barang berharga miliknya.
"Kau sudah bangun, Cara Mia (*Sayangku*)?" tanya Dante datar, melangkah mendekat ke arah Alicia yang mulai gemetar.
Alicia mundur satu langkah, namun punggungnya menabrak dinding kaca. "Kau... siapa kau sebenarnya?"
Dante tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Alicia dengan ibu jarinya. "Kau yang merayuku semalam, Alicia. Kau yang memintaku untuk memimpin. Dan sekarang... kau adalah tanggung jawabku."
Tepat saat itu, ponsel Alicia yang tergeletak di lantai berdering. Itu adalah pesan singkat dari ayahnya yang entah bagaimana sudah tahu lokasinya "Alicia, Ayah sudah di Milan. Kembali ke hotel sekarang atau Ayah akan menyeretmu pulang."
Alicia menatap ponselnya, lalu menatap Dante yang kini berdiri menjulang di depannya dengan tatapan posesif. Ia baru sadar, kabur dari kentang rebus pilihan ayahnya justru membawanya ke dalam pelukan seorang iblis yang tidak akan pernah membiarkannya pergi.
Dan yang lebih buruk lagi... ia ingat satu detail kecil dari malam tadi yang membuatnya ingin pingsan seketika.
"Dante..." suara Alicia bergetar. "Semalam... kau... kau tidak memakai pengaman, kan?"
Dante hanya menatapnya dengan diam, sebuah tatapan yang memberikan jawaban paling mengerikan bagi masa depan Alicia.
Alicia merasa seolah-olah seluruh oksigen di dalam penthouse mewah itu baru saja tersedot keluar. Pertanyaannya yang menggantung di udara tentang malam tanpa pengaman hanya dibalas oleh kesunyian yang mencekik dari Dante Vallo. Pria itu tidak tampak menyesal, tidak tampak panik, dan jelas tidak tampak seperti seseorang yang baru saja melakukan kesalahan besar. Ia justru terlihat seperti kolektor yang baru saja menandai barang antik paling langka di dunianya.
"Dante?" Alicia mengulangi, suaranya naik satu oktav, campuran antara horor dan sisa-sisa mabuk yang membuat kepalanya berdenyut. "Jawab aku! Kau... kau sengaja, kan?"
Dante melangkah maju. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman genderang perang yang mendekat. Ia berhenti tepat di depan Alicia, menjulang tinggi hingga bayangannya menelan tubuh kecil gadis itu. Tangan Dante terangkat, bukan untuk mencekik, melainkan untuk menyisipkan sehelai rambut Alicia yang berantakan ke belakang telinga. Sentuhannya dingin, namun membakar kulit Alicia.
"Kenapa kau tampak begitu terkejut, Alicia?" Dante berbisik, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran yang tidak diinginkan ke seluruh saraf Alicia. "Kau sendiri yang datang padaku bahkan dengan agresivitas yang tidak dimiliki oleh wanita lain. Kau menyerahkan dirimu seolah kau adalah hadiah yang sudah lama aku tunggu. Apa kau pikir seorang pria seperti aku akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menanamkan benih pada sesuatu yang sudah menjadi milikku?"
Alicia terperangah. "Milikmu? Aku bukan milikmu! Bahkan Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu di sebuah kelab malam yang remang-remang! Itu hanya... itu hanya pelarian! Itu hanya protes terhadap ayahku!"
Dante menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak sangat tampan sekaligus sangat kejam. "Di duniaku, tidak ada yang namanya 'kebetulan'. Begitu kau melangkah ke area VIP-ku, begitu kau menyentuh gelas minumanku, dan begitu kau membiarkan aku membawamu ke sini... kau sudah menandatangani kontrak yang tidak bisa kau batalkan."
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣