NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Layak Bahagia

"Kita perlu bicara soal disiplin, Darren," kata Herman.

"Bos? Mana debiturnya?" tanya Darren saat panik mulai menyerang.

"Toni itu gak ada, bodoh," kata Herman sambil melangkah maju, kruknya mengetuk lantai semen dengan irama menyebalkan. "Kami tahu apa yang Andre Gunawan berikan kepadamu semalam. Rp300 ribu. Itu gak seberapa, katamu? Terus kamu anggap itu uang tip? Di perusahaan ini, aturan setoran wajib 100 persen dari semua uang yang dipungut. Kamu mencoba mencuri dariku, Darren?"

"Bos, saya sudah jelaskan, Andre melempar uang itu—"

Herman tidak mau mendengar penjelasan dan memberikan isyarat dengan kepalanya kepada preman-preman itu.

Pukulan pertama segera menghantam perut Darren dengan telak sampai napasnya seolah berhenti total, dan dia jatuh berlutut. Tendangan keras menghantam rusuknya pula, menjatuhkannya ke lantai. Tinju mentah menyambar wajahnya, mendarat di pipi yang sama yang ditampar Herman semalam.

“Bajingan ini benar-benar ingin membunuhku hanya demi uang receh itu,” batin Darren sambil menahan perih yang luar biasa.

Pria itu tidak membalas karena dia tidak bisa. Dia hanya bisa meringkuk, menggunakan kedua tangannya untuk melindungi kepala dari hujan pukulan dan tendangan yang datang bertubi-tubi.

"Ini bayaran untuk semua kegagalanmu!" bentak Herman sebelum meludah tepat ke wajah Darren yang sudah berlumuran darah.

Mereka terus memukuli Darren sampai tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi. Matanya hanya bisa terbuka sedikit, menatap langit-langit gudang yang berkarat melalui pandangan yang mulai kabur. Sementara darah segar mengalir deras dari pelipisnya.

Herman menatap tubuh Darren yang tak berdaya itu. "Biarkan dia mati di sini. Polisi tidak akan menemukan mayat sampah seperti dia."

Pintu besi besar dibuka, lalu ditutup kembali dengan dentuman keras yang dilanjutkan oleh suara mesin mobil yang terdengar menjauh, meninggalkan Darren sendirian dalam kegelapan gudang.

Darren sendirian. Kegelapan mutlak menguasai gudang itu. Rasa sakit yang tadi menyiksa perlahan memudar, digantikan oleh rasa dingin yang luar biasa yang menjalar dari ujung jari kaki dan tangan menuju dadanya. Detak jantungnya melambat dan pikirannya melayang bebas, melepaskan kenyataan pahit. Dia melihat Cello tersenyum riang di hari ulang tahunnya yang terakhir. Dia melihat wajah ibunya, Lastri, yang selalu memaafkan meski dia gagal menjadi anak yang berbakti. Dia melihat Rina, bukan dengan kemarahan, melainkan rasa gagal yang mendalam karena tidak bisa menjadi suami yang layak.

“Jadi begini akhirnya? Mati mengenaskan di gudang kotor tanpa sempat meminta maaf pada mereka?” batin Darren saat kedua matanya perlahan terpejam, bersiap menerima akhir kehidupannya.

Tepat saat kesadarannya mulai hilang, sebuah suara elektronik terdengar di kepalanya. Anehnya itu bukan suara dari luar, melainkan berasal dari dalam dirinya sendiri, dengan begitu jelas.

Aktivasi Sistem Penagih Utang Akhirat. Darren, kamu terpilih sebagai penagih lintas alam. Kemampuan dasar yang diaktifkan: Visualisasi Utang Keberuntungan dan Utang Umur. Selamat bekerja.

“Apa ini? Halusinasi? Aku pasti sudah gila karena terlalu banyak dipukul,” pikirnya dalam ketidaksadaran. Namun, di atas kepalanya sendiri, dia melihat dua set angka melayang dalam cahaya transparan.

Utang Keberuntungan pribadi: 0

Utang Umur pribadi: 0 tahun

Seolah mendapat dorongan energi baru, Darren mencoba mengarahkan pandangannya keluar, menembus dinding gudang dan dia berhasil. Penglihatannya meluas, menembus material bangunan, mengikuti jejak mobil yang tadi pergi.

“Tunggu, aku bisa melihat menembus tembok? Apa yang terjadi pada mataku?!”

Dia melihat sosok Herman Salim yang sedang mengemudi. Tepat di atas kepala Herman, angka-angka besar menyala.

Utang Keberuntungan Herman: Rp12.700.000.000

Utang Umur Herman: 23 tahun 4 bulan 12 hari

Seketika itulah, Darren memahami makna di balik angka-angka itu tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Rp12,7 miliar adalah akumulasi kekayaan haram yang dikumpulkan Herman melalui riba, eksploitasi, dan penipuan. Dua puluh tiga tahun adalah umur yang dicuri Herman dari para korbannya, orang-orang yang mati muda karena stres, bunuh diri, atau sakit akibat terlilit utang di perusahaannya.

“Dua belas miliar lebih? Brengsek, jadi selama ini dia membangun kekayaannya di atas nyawa orang lain?!”

Notifikasi lain juga muncul di pandangannya.

Tagihan perdana tersedia. Target: Herman Salim. Metode: Penarikan Paksa. Apakah Anda ingin menagih 5 persen dari total Utang Keberuntungan target?

“Baru lima persen saja sudah ratusan juta. Tentu saja, tarik semuanya kalau perlu!” Dalam benaknya, dia memberikan jawaban tegas Ya.

Adapun di dalam mobilnya, Herman Salim sedang asik menyetir sambil menghubungi salah satu selingkuhannya lewat ponsel, merencanakan pertemuan malam ini dengan uang tagihan Darren di sakunya. Tiba-tiba saja kedua ban depan mobilnya pecah simultan. Itu bukan karena paku. Karet ban itu mengelupas dan busuk dalam sekejap mata, layaknya sistem penuaan ban itu dipercepat jutaan kali lipat. Alhasil mobilnya oleng, hilang kendali, dan menabrak pembatas jalan beton dengan keras. Herman terpental, kepalanya membentur kaca samping hingga retak.

Cedera fisiknya tidak fatal, namun Herman merasakan keanehan lain. Dompet tebal yang berisi uang tunai Rp700 juta untuk setoran ke investor atau bisa dibilang, uang yang seharusnya dia klaim sebagai hasil kerja kerasnya itu tiba-tiba terbakar di dalam saku jaketnya. Api kecil muncul entah dari mana, menghanguskan dompet dan seisinya dalam hitungan jari.

"Tidak mungkin! Uangku!" Dia tidak lagi mempedulikan rasa nyeri di kepalanya. Fokusnya teralihkan sepenuhnya pada saku jaket yang mulai terasa panas.”Api? Dari mana api ini muncul?”

Lalu di layar ponselnya yang terlempar ke lantai mobil, saldo rekening perusahaan berkurang Rp635 juta tanpa jejak transaksi apa pun. Herman sudah pasti berteriak histeris, kepanikan total melanda saat melihat kekayaannya menguap di depan mata.

Herman memukul kemudi dengan frustrasi, mengabaikan klakson yang terus berbunyi nyaring akibat benturan. "S-siapa yang melakukan ini? Siapa?!"

Sementara di dalam kegelapan gudang, Darren merasakan aliran energi masuk ke tubuhnya, menggantikan rasa dingin yang tadi mengancam nyawanya. Luka-lukanya tidak langsung sembuh secara ajaib, tapi kekuatan fisiknya kembali secara bertahap.

“Ini aneh... rasa sakitnya... mulai menghilang? Aku bisa merasakan tenagaku kembali bahkan lebih kuat dari sebelumnya!” Oleh karena itu dia bisa bangkit. Tangan dan lututnya merangkak menuju dinding gudang lalu membuka pintu besi besar itu dari dalam.

Di luar, hujan ternyata sudah reda. Matahari pagi menyembul di ujung langit, memancarkan cahaya keemasan yang entah kenapa terasa jauh lebih hangat.

Sebuah notifikasi baru pun muncul.

Saldo Debit Kolektor Darren: 50 DK. Efek fisik akan pulih dalam tiga jam. Disarankan untuk beristirahat.

Mau dibilang gila pun dia tak peduli, Darren tetap tersenyum. Senyuman tajam seperti pisau.

Dia melangkah keluar dari kawasan industri Sunter, menuju jalan besar. Di depan matanya sekarang, dia bisa melihat angka-angka di atas kepala setiap orang yang lewat.

“Sekarang aku bisa melihat semuanya. Dunia ini ternyata penuh dengan orang-orang yang berutang nyawa dan keberuntungan,” batinnya sambil menatap angka-angka transparan di kejauhan. Lantas Darren bergumam. “Mari kita mulai.”

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!