NovelToon NovelToon
Misteri Sekolah Warisan

Misteri Sekolah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Mustaqimah

Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.

Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19-Bekerja Sama

Diiringi suara ratusan jepretan kamera dan sorak-sorai pujian dari para wartawan, Nyonya Tamara melangkah masuk melewati pintu utama gedung sekolah yang megah. Di sampingnya berjalan Valerie, yang wajahnya berseri-seri penuh kemenangan seolah sedang berjalan di atas karpet merah miliknya sendiri. Di belakang mereka, Pak Herman beserta seluruh guru berjalan mengikuti dengan kepala tertunduk hormat, langkah mereka serempak dan hati-hati, seolah takut mengeluarkan suara sedikit pun yang bisa mengganggu sang penguasa sekolah itu.

Para awak media terus berusaha mendekat, berdesak-desakan sambil merekam setiap gerak-gerik Nyonya Tamara, berharap mendapatkan cuplikan berharga untuk berita utama nanti malam. Namun, gerakan mereka selalu terhalang oleh barisan rapat para pengawal berbadan besar yang berjalan mengelilingi Nyonya Tamara, membentuk dinding manusia yang kokoh dan tak tertembus. Tak ada yang bisa terlalu dekat, tak ada yang bisa bertanya lagi.

Saat rombongan itu melewati koridor utama di mana para murid berdiri berjejer memberikan jalan, mata Nyonya Tamara yang tajam meneliti setiap wajah yang dilewatinya. Pandangannya mengerjai, seolah sedang menghakimi siapa saja yang berani menatapnya atau menaruh curiga padanya. Namun, saat matanya jatuh tepat pada sosok Elara yang berdiri diam di pinggir kerumunan, langkah kakinya sempat terhenti sepersekian detik.

Nyonya Tamara menatap Elara lekat-lekat, alisnya sedikit terangkat. Ada kilatan keterkejutan samar di matanya, seolah ia mengenali wajah itu atau seolah kehadiran gadis baru itu di sekolah ini adalah sesuatu yang tak terduga dan mengganggu. Ia menatap Elara dari ujung kepala hingga kaki, sorot matanya dingin, tajam, dan penuh selidik, seolah sedang menilai ancaman. Elara pun membalas tatapan itu dengan berani, napasnya tertahan, menatap lurus ke mata wanita yang telah memutarbalikkan kebenaran itu.

Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung sebentar. Nyonya Tamara segera menutup kembali ekspresi wajahnya dengan senyum anggun yang dingin, membuang muka dengan santai, dan melanjutkan langkah kakinya masuk lebih dalam ke gedung, seolah pertemuan pandangan tadi hanyalah hal remeh tak berarti. Namun, bagi Elara, tatapan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit, mengingatkannya betapa berbahayanya wanita itu.

"Awas kamu... Aku tahu kamu yang di balik semua ini..." batin Elara bergumam dalam hati, menahan amarah yang kembali meluap.

Elara masih terpaku di tempatnya, matanya tak lepas dari punggung Nyonya Tamara yang perlahan menghilang di ujung lorong, sementara pikirannya penuh dengan kekacauan dan rasa ingin tahu yang membara. Bagaimana dia bisa seberani itu? Bagaimana dia bisa berdiri di depan umum dan berbohong begitu lancarnya? Di mana letak kebenaran sebenarnya?

Saat pikiran-pikiran itu berputar kacau di kepalanya, tiba-tiba sebuah suara bisikan halus namun sangat jelas terdengar tepat di samping telinga kanannya. Suara itu begitu dekat, seolah orang yang berbicara berdiri tepat di bahunya, namun nadanya berat dan teredam, seolah berusaha menyembunyikan identitasnya.

"Kalau kamu mau bukti... cepat ke Rooftop Sekolah..."

Elara tersentak hebat, tubuhnya menegang seketika seolah tersengat listrik. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Suara itu... bukan suara Keisha, bukan suara teman-temannya, dan bukan pula suara orang yang dikenalnya.

Dengan gerakan cepat dan kaget, Elara segera menoleh ke kanan, lalu ke kiri, memutar kepalanya ke sekeliling dengan mata yang membelalak mencari sumber suara itu. Namun, tak ada siapa pun di dekatnya. Di sebelah kanannya hanya ada dinding kosong, di kirinya Keisha sedang menatap kepergian rombongan Nyonya Tamara dengan wajah pucat, dan di sekitarnya hanya ada kerumunan murid lain yang sibuk berbisik-bisik atau menatap takjub ke arah pintu masuk utama. Tidak ada siapa pun yang terlihat sedang berbicara atau menatapnya. Semuanya tampak biasa saja, seolah tak ada apa-apa yang terjadi.

Elara mengerutkan keningnya dalam kebingungan, napasnya sedikit memburu. Ia kembali menoleh ke sekeliling sekali lagi, matanya meneliti setiap sudut lorong, mencari sosok yang mencurigakan atau bayangan yang bergerak. Tetap saja kosong. Tidak ada orang asing, tidak ada siapa-siapa.

"Siapa itu?..." gumam Elara pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Siapa yang bicara? Di mana kamu?"

Tak ada jawaban. Hanya keheningan dan suara riuh rendah dari kejauhan. Namun, kalimat itu terus berputar di kepalanya: Kalau kamu mau bukti... cepat ke Rooftop Sekolah...

Rooftop... Tempat terakhir Dinda terlihat hidup, tempat di mana tubuh sahabatnya ditemukan tergeletak penuh darah, tempat yang kini sudah dikunci dan dijaga ketat oleh sekolah. Bukti? Bukti apa yang masih ada di sana? Bukti apa yang belum ditemukan polisi atau dibersihkan oleh pihak sekolah?

Pikiran Elara mulai bekerja cepat. Ia menatap kembali ke arah pintu masuk utama. Di sana, semua mata, semua perhatian, dan semua kehadiran guru serta petugas keamanan sedang terpusat penuh pada Nyonya Tamara. Semua orang sedang sibuk mengawal sang pemilik sekolah, sibuk melayani, sibuk memuji, atau sibuk menonton. Tidak ada yang akan memperhatikan jika ada satu orang murid yang menghilang sejenak. Ini adalah kesempatan emas yang mungkin tak akan datang dua kali.

Elara mengeratkan genggaman tangannya di sisi tubuh, matanya memancarkan tekad yang bulat.

"Aku harus ke Rooftop Sekolah..." bisik Elara tegas pada dirinya sendiri, napasnya panjang. "Mumpung semua orang lagi asyik dan sibuk sama kedatangan Nyonya Tamara. Ini saat yang paling tepat. Kalau aku nunggu lagi, nanti pintunya dikunci rapat atau dibersihkan lagi. Siapa tahu... siapa tahu memang masih ada sesuatu yang tertinggal di sana. Sesuatu yang bisa jadi kunci kebenaran."

Ia melirik sekilas ke arah Keisha yang masih berdiri mematung di tempatnya, tampak masih terguncang oleh kejadian tadi. Elara sadar, ia tidak bisa mengajak Keisha. Itu terlalu berbahaya bagi sahabatnya. Ia harus pergi sendiri.

Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Elara mulai mundur selangkah demi selangkah menjauh dari kerumunan. Ia memutar badannya memunggungi pintu utama, lalu berjalan menuju koridor samping yang lebih sepi dan gelap, langkahnya cepat namun berusaha senyap mungkin. Ia terus menundukkan kepalanya, berusaha agar tidak ada yang melihat atau mengenalinya.

Di dalam hatinya, rasa penasaran bercampur rasa takut yang mengerikan. Rooftop... tempat kematian. Tapi ada suara misterius yang menuntunnya ke sana. Tapi bagi Elara, risiko apa pun harus ia ambil. Ia sudah terlalu jauh melangkah untuk berhenti sekarang. Kakinya terus melangkah naik menuju lantai-lantai atas.

Angin kencang berhembus dingin menyapu seluruh permukaan atap tertinggi Hantage School Academy, menerbangkan debu-debu halus dan membuat ujung rok seragam Elara berkibar liar. Langit di atas sana tampak luas dan kelabu, seolah menyimpan ribuan rahasia di balik awan tebal yang bergulung. Di sinilah tempat terakhir napas Dinda berhenti, tempat di mana kejahatan dikubur rapat-rapat, dan tempat yang kini sepi sunyi seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Elara berdiri tepat di tengah area terbuka itu, napasnya sedikit memburu karena berlari menaiki tangga darurat yang gelap dan sempit. Ia memandang sekeliling dengan pandangan tajam, matanya menyisir setiap sudut, setiap celah, dan setiap jengkal tanah di atap itu. Di bawah sana, suara riuh kedatangan Nyonya Tamara masih terdengar samar, bukti bahwa semua orang masih sibuk dan belum ada yang menyadari kepergiannya.

"Aku harus secepatnya cari bukti soal kematian Dinda... Aku harus dapatkan sesuatu, apa saja, sebelum ada orang ke sini dan memergokiku," gumam Elara lirih, suaranya terhanyut tertiup angin.

Tanpa membuang waktu lagi, Elara segera bergerak cepat. Ia menundukkan badannya, memeriksa pinggiran tembok pembatas yang rendah, tempat di mana tubuh Dinda diduga jatuh. Ia meraba celah-celah lantai beton yang kasar, memeriksa sela-sela pipa saluran air, hingga berlutut memeriksa area tempat jenazah Dinda ditemukan kemarin. Matanya teliti mencari apa saja yang aneh: sepotong kain, noda bekas yang tertinggal, jejak kaki, atau benda kecil yang mungkin terjatuh dan terlupakan oleh pelaku maupun tim pembersih sekolah.

Ia bergerak dari satu sisi ke sisi lain, memeriksa setiap sudut dengan teliti. Ia bahkan sampai menundukkan kepalanya ke bawah pagar pembatas, mencoba melihat apakah ada sesuatu yang tersangkut di dinding luar gedung. Namun, semakin lama ia mencari, semakin dalam rasa kecewa itu menjalar di hatinya. Segalanya sudah bersih. Terlalu bersih. Lantai beton itu tampak baru saja disapu atau dicuci, tak ada noda darah sedikit pun, tak ada barang yang tertinggal, dan tak ada jejak yang bisa dijadikan petunjuk. Semuanya sudah dihapuskan hingga tak bersisa.

Elara akhirnya berdiri tegak kembali, napasnya terengah karena lelah dan kecewa. Ia menyeka keringat dingin di keningnya, lalu menatap sekeliling sekali lagi dengan pandangan kosong.

"Gak ada... Gak ada satu pun bukti yang bisa aku temuin di sini..." ucapnya pelan, nada suaranya penuh keputusasaan. Ia menghentakkan kakinya pelan ke lantai keras itu, merasa usahanya yang nekat datang ke sini sia-sia belaka. "Ah, bodoh banget aku ini... Usaha aku sia-sia datang ke sini. Sekolah ini pasti udah bersihin semuanya sampai ke akar-akarnya, mana mungkin ninggalin jejak buat aku temuin."

Dengan hati yang berat dan kecewa, Elara memutar badannya berniat segera pergi dari sana. Ia sadar ia tidak boleh berlama-lama, bahaya bisa datang kapan saja. Namun, baru saja ia melangkah satu langkah, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh di belakangnya.

Elara tersentak kaget, ia mundur terhuyung ke belakang sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Dengan napas tertahan, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang ada di hadapannya. Matanya membelalak lebar tak percaya saat melihat sosok jangkung yang berdiri diam tepat di belakangnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Arkan..."

Ternyata pemuda itu yang ada di sana. Arkan berdiri tegak, menatap Elara dengan tatapan dingin dan tajam yang biasa ia tunjukkan, seolah ia sudah ada di sana sejak tadi dan memperhatikan setiap gerak-gerik Elara. Angin menerbangkan rambut hitamnya, membuatnya terlihat semakin misterius dan sulit ditebak.

Arkan tidak bertanya dengan nada kaget atau penasaran, pertanyaannya keluar dengan nada datar, dingin, dan cenderung menuduh, persis seperti nada bicaranya yang selalu begitu.

"Lo ngapain ke sini?"

Jantung Elara masih berdegup kencang karena kaget. Ia menatap Arkan dengan napas sedikit memburu, lalu menjawab dengan jujur, tak ada gunanya lagi menyembunyikan tujuannya di tempat sepi ini.

"Aku... Aku mau cari bukti kematian Dinda," jawab Elara cepat, matanya kembali menatap sekeliling atap yang kosong itu dengan rasa getir. "Tapi percuma... aku gak nemu satu pun apapun di sini. Semuanya udah bersih banget, kayak gak pernah kejadian apa-apa."

Arkan hanya diam sejenak, matanya meneliti wajah Elara yang tampak kecewa dan putus asa. Ia melirik sekilas ke arah pintu akses yang tertutup, lalu kembali menatap Elara dengan ketus dan dingin.

"Mending lo pergi dari sini, sebelum lo ketahuan sama satpam atau guru yang lagi keliling. Kalau sampe ketangkep, lo bakal diusir dari sekolah ini atau malah lebih parah lagi," ucap Arkan singkat dan tegas, seolah ia tak peduli apa yang akan terjadi pada Elara, hanya sekadar memberi peringatan.

Elara mendengus kesal, rasa kecewa yang ia rasakan bercampur dengan rasa jengkel menghadapi sikap Arkan yang selalu dingin dan tak acuh itu. Ia membuang muka, lalu berjalan melewati sisi tubuh Arkan hendak pergi menuju pintu keluar.

"Iyaiya, ini aku juga mau pergi kok. Gak usah kamu suruh-suruh lagi," jawab Elara ketus. "Bukti gak ada, malah ketemu orang yang ngeselin. Aku pergi aja dari sini."

Namun, tepat saat Elara hendak melangkah melewatinya dan menjauh, tangan kanan Arkan bergerak cepat namun lembut menahan lengan atas Elara. Sentuhan itu tidak kasar, namun cukup kuat untuk menahan langkah gadis itu agar tak beranjak pergi.

Elara berhenti melangkah seketika. Ia menoleh kembali ke arah Arkan dengan raut wajah bingung sekaligus kesal.

"Apa lagi sih? Mau ngomel lagi?" tanyanya ketus.

Arkan melepaskan cengkeramannya perlahan, lalu menatap lurus ke manik mata Elara. Tatapan dinginnya kini sedikit berubah, ada kilatan serius dan perhitungan yang tajam di sana. Suaranya tetap rendah dan datar, namun kali ini kata-katanya mengandung bobot yang berat.

"Ayo kita kerja sama."

Elara tertegun sejenak, matanya mengerjap tak percaya mendengar kalimat itu. Ia mengira salah dengar. "Maksud kamu... apa?"

Arkan tidak mengalihkan pandangannya. Ia berbicara perlahan dan jelas, seolah sedang menawar sebuah kesepakatan besar.

"Lo pengen tahu kan penyebab kematian teman lo? Lo pengen bongkar kejahatan yang ditutupin rapet-rapet sama sekolah ini, sama Nyonya Tamara, sama polisi, dan semua orang di sini?" tanya Arkan, lalu melanjutkan dengan nada pasti. "Jadi ayo kita kerja sama. Gue bakal bantu lo dapatin bukti yang lo cari, bantu lo cari kebenaran yang lo pengen tau."

Kejutan itu begitu besar hingga Elara benar-benar terdiam. Ia menatap Arkan lekat-lekat, mencoba membaca kejujuran di balik wajah datar pemuda itu. Keraguan mulai merayapi hatinya. Selama ini Arkan dikenal sebagai anak yang pendiam, tertutup, dingin, dan menjauhi keramaian. Tak ada yang benar-benar tahu siapa dia sebenarnya atau apa niatnya. Apakah ini jebakan? Atau benar-benar tawaran tulus?

Elara menggeleng pelan, ragu. "Aku ragu... Kamu itu beneran teman atau musuh, Arkan? Aku gak ngerti sama kamu. Kamu misterius banget. Gimana aku bisa percaya sama orang yang baru aku kenal?"

Mendengar itu, Arkan hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh tak acuh. Ia memutar balikkan badannya, seolah tawarannya itu bukan hal penting baginya. Wajahnya kembali dingin dan tertutup seperti semula.

"Ya udah, kalau lo gak percaya. Anggap aja gak ada apa-apa," ucap Arkan ketus dan pasrah. Ia pun mulai berjalan menjauh meninggalkan Elara, berjalan menuju pintu keluar dengan langkah tenang. "Cari aja sendiri kebenaran itu, sampai lo masuk jebakan atau sampai lo nyerah."

Punggung Arkan semakin menjauh, dan rasa penyesalan mulai menghampiri hati Elara. Tiba-tiba, ingatannya melayang pada cerita Keisha beberapa waktu lalu. Keisha pernah bilang bahwa Arkan itu bukan anak biasa. Arkan itu sangat cerdas, jenius, bahkan nilai-nilai dan kemampuan analisisnya jauh di atas rata-rata murid lain, meski ia jarang menunjukkannya. Keisha juga pernah bilang bahwa Arkan punya alasan sendiri kenapa ia selalu mengamati segalanya dari bayang-bayang.

Elara menatap punggung Arkan yang hampir menghilang di balik pintu. Jika ia menolak tawaran ini, ia akan berjuang sendirian melawan kekuatan raksasa bernama Sekolah Warisan dan Nyonya Tamara. Peluangnya sangat kecil, bahkan hampir pasti gagal. Tapi jika Arkan benar-benar mau membantu... Dengan kecerdasan dan ketajaman pikirannya, mungkin peluang itu akan terbuka lebar.

Dengan tekad yang terbentuk seketika, Elara berteriak lantang memecah angin di atap itu.

"Tunggu!"

Langkah kaki Arkan berhenti seketika. Ia tidak menoleh, namun ia berhenti bergerak.

Elara menghela napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian dan kepercayaannya yang masih setengah hati. Ia berjalan cepat menghampiri Arkan hingga berdiri tepat di hadapan pemuda itu. Ia menatap tajam ke mata Arkan.

"Aku setuju," ucap Elara tegas, suara mantap. "Ayo kita kerja sama. Aku butuh kecerdasan dan bantuan kamu, dan aku berharap apa yang kamu bilang tadi itu serius."

Sudut bibir Arkan sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang hampir tak terlihat, senyum puas karena tujuannya tercapai. Ia kembali menatap Elara dengan tatapan yang sama dinginnya, namun kini ada kesepakatan di antara mereka.

"Deal," ucap Arkan singkat, tegas, dan penuh penekanan.

"Deal," jawab Elara mantap.

Tanpa kata-kata lagi, Arkan mengulurkan tangannya yang dingin dan besar ke arah Elara. Elara menyambut uluran tangan itu dengan tangannya sendiri. Jari-jari mereka bertaut dalam jabat tangan yang kuat, sederhana namun mengikat sebuah perjanjian besar. Di atap tempat Dinda meninggal, dimulailah babak baru perburuan kebenaran.

1
Felita Gunawan
wah penasaran bgt ni ayo kak lanjut cerita nya
Mustaqimah: Makasih udah baca cerita ku, Kakak/Smile//Smile//Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!