NovelToon NovelToon
Nano Machine Girl

Nano Machine Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Anak Genius
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: [ Fx ] Ryz

Novelette

Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.

Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.

Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.

Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.

Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.

Kim membawa pesan yang sulit dipercaya

Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.

Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 | Perintah Tanpa Hati

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

Suasana di ruangan menjadi sangat mencekam. Siska tetap memegang senjata dengan tegas, matanya yang tadinya terlihat manis dan ramah kini berubah menjadi kosong dan tanpa perasaan. Tidak ada sedikit pun rasa ragu atau belas kasihan di wajahnya.

"Siska... Tolong katakan ini cuma bercanda. Kau tidak benar-benar ingin menyakiti kami, kan?" suara Iris terdengar bergetar hebat, tangannya memegang lengan Kim erat-erat seolah-olah itu adalah satu-satunya penyangga yang ia miliki di tengah kegelapan ini. Air matanya menetes terus membasahi pipi, hatinya hancur melihat teman yang selama ini ia percayai kini berdiri sebagai musuh.

Siska hanya menatap mereka dengan tatapan datar, suaranya terdengar seperti suara mesin yang diprogram. "Perintah dari My Queen sudah diberikan. Tugas: mengamankan target dan membawa mereka ke markas. Tidak ada pertanyaan, tidak ada rasa iba. Itu aturannya."

"Aturan? Apa kau sudah tidak ingat siapa dirimu? Kau adalah Siska, gadis yang dulu selalu tertawa, yang pernah kita bantu saat kau kesusahan... Apakah semua itu sudah hilang begitu saja?" tanya Kim dengan nada yang berat, berusaha membangkitkan kesadaran yang masih tersisa di dalam diri Siska.

Siska menggeleng pelan. "Saya adalah bagian dari Cybernite. Saya diciptakan untuk melayani. Semua perasaan itu adalah emosi buatan yang tidak berguna dalam pertempuran. Tujuan utama adalah keberhasilan misi."

Saat Siska berbicara, Iris melihat sesuatu yang aneh di matanya. Di balik kekosongan itu, ada sekilas cahaya yang berkedip-kedip, seolah-olah ada pertarungan di dalam pikirannya sendiri. Seolah-olah ada dua suara yang berteriak di kepalanya.

"Siska... Kau masih ada di sana, kan? Dengar suaraku. Jangan dengarkan perintah itu. Kita adalah teman. Kita bisa membantu satu sama lain. Kau tidak perlu melakukan ini..." pinta Iris dengan suara yang lirih, berusaha menyentuh hati yang masih tersisa di dalam diri Siska.

Mendengar kata-kata Iris, tubuh Siska tiba-tiba bergetar hebat. Tangannya yang memegang senjata sedikit terguncang, matanya menyipit seolah-olah ia sedang menahan rasa sakit yang sangat parah.

"Berhenti... Tolong berhenti... Jangan paksakan aku..." gumam Siska dengan suara yang berubah, tidak lagi terdengar seperti suara mesin. Sekilas, wajahnya terlihat seperti dirinya yang dulu—tersiksa dan sedih.

Tapi perubahan itu hanya berlangsung sesaat. Segera setelah itu, ekspresi datar kembali menutupi wajahnya. Ia menggeleng kepalanya dengan cepat, seolah-olah berusaha menyingkirkan sesuatu yang mengganggu.

"Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan. Silakan ikuti saya dengan tenang, atau saya akan memaksa Anda. Dan saya tidak akan bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi," ucap Siska lagi, kali ini dengan suara yang lebih tegas dan dingin.

Saat Siska bergerak mendekat, Kim segera mengambil sikap waspada. Ia tidak ingin Iris terluka, jadi ia berdiri di depan gadis itu lagi, siap menghadapi serangan kapan saja.

"Kau tidak akan membawa kami ke mana-mana, Siska. Selama aku masih bernyawa, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti siapa pun," kata Kim dengan nada yang tegas, matanya menatap tajam ke arah Siska.

Siska mengangkat senjatanya lebih tinggi lagi, menunjuk tepat ke arah dada Kim. "Ini adalah perintah. Saya tidak punya pilihan lain. Jika Anda tidak mau ikut dengan sukarela, saya akan menggunakan kekuatan untuk membawa Anda. Maafkan saya."

DOR!

Suara tembakan terdengar meledak di ruangan. Tapi yang mengejutkan, peluru itu tidak menembus tubuh Kim. Sebelum peluru itu sampai, sebuah perisai energi kecil muncul di depan tubuh Kim, menahan tembakan itu dan membuatnya meledak menjadi percikan api di udara.

Kim segera menyerang balik. Dengan gerakan yang cepat dan terlatih, ia melompat ke arah Siska, berusaha merebut senjata yang dipegangnya. Siska juga tidak kalah cepat. Ia menghindari serangan Kim dengan gerakan yang lincah, lalu menendang ke arah perut Kim.

Pertarungan singkat pun terjadi di ruangan yang sempit itu. Gerakan mereka saling bertukar, terlihat seimbang. Siska memiliki kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, seolah-olah tubuhnya telah dimodifikasi dengan teknologi canggih. Sedangkan Kim menggunakan keahlian bertarungnya yang sudah diasah selama bertahun-tahun, memanfaatkan kecepatan dan strategi untuk mengalahkan lawannya.

Iris berdiri di samping, terkejut dan bingung. Ia melihat Siska berjuang melawan Kim, tapi di setiap gerakan Siska, ia bisa melihat ada sesuatu yang salah. Ada pertarungan di dalam diri gadis itu sendiri.

"Siska... Berhenti! Kau tidak perlu melakukan ini! Aku tahu kau masih ada di sana!" teriak Iris sambil berjalan mendekat, meski ia takut.

Mendengar suara Iris, Siska tiba-tiba berhenti bergerak. Ia menoleh ke arah Iris, dan kali ini, cahaya di matanya terlihat lebih terang. Sebuah suara yang pelan dan penuh kesedihan terdengar dari mulutnya, berbeda dari suara mesinnya yang biasa.

"Iris... Tolong... lari... jangan ikut... mereka..." bisik Siska, lalu tubuhnya tiba-tiba terkulai sedikit. Senjata yang dipegangnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan suara berisik.

Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, sebuah suara elektronik terdengar dari perangkat yang tertanam di leher Siska—sebuah perangkat yang tidak terlihat oleh mata biasa.

[PERINGATAN: PENGGANGGUAN SISTEM TERDETEKSI. MULAI PENGATURAN ULANG.]

[PEMROSESAN ULANG... 10%... 50%... 100%.]

Wajah Siska berubah lagi. Ekspresi kesedihan dan keraguannya hilang sepenuhnya, digantikan oleh kekosongan yang total. Ia menatap mereka lagi dengan tatapan yang dingin dan tanpa perasaan, lalu mengangkat tangannya dan menekan tombol kecil yang tersembunyi di telapak tangannya.

DOR!

Suara ledakan kecil terdengar dari perangkat di leher Siska. Sebuah gelombang energi kecil menyebar ke seluruh ruangan, membuat Kim dan Iris terhuyung-huyung karena rasa pusing dan lemas yang tiba-tiba menyerang tubuh mereka.

"Ini... apa..." bisik Kim sambil memegang kepalanya yang terasa sakit sekali.

Siska berdiri tegak kembali, dan kali ini, gerakannya terlihat lebih terkontrol dan tanpa rasa ragu sama sekali. Ia mengambil senjata yang jatuh tadi, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang mantap.

"Maafkan saya, Iris. Dan maafkan juga Anda, Kim. Saya tidak punya pilihan lagi. Perintah sudah diberikan, dan saya harus melaksanakannya," ucap Siska dengan suara yang kini benar-benar tanpa perasaan.

Siska mengulurkan tangannya ke arah Iris, berusaha memegang lengan gadis itu. Tapi saat tangannya menyentuh lengan Iris, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat lagi. Sekilas, ia menatap Iris dengan mata yang penuh kesedihan, dan ia berbisik sangat pelan, hanya terdengar oleh Iris saja:

"Jangan percaya siapa pun... Hati-hati dengan... dirimu sendiri..."

Setelah itu, kekuatan yang mengendalikan Siska kembali bekerja dengan penuh. Ia menarik lengan Iris dengan kuat, lalu berbalik badan dan berjalan menuju pintu ruangan.

"Kita harus pergi sekarang. Mereka sedang menunggu kita di tempat penjemputan," kata Siska dengan nada yang tegas.

Kim berusaha berdiri tegak lagi, tapi tubuhnya masih terasa lemas. Ia mencoba bergerak untuk menghalangi jalan Siska, tapi kekuatannya belum kembali sepenuhnya.

"Siska... Berhenti! Kau tidak bisa melakukan ini!" teriak Kim dengan suara yang parau.

Tapi Siska tidak mendengarkan. Ia menarik Iris lebih erat, lalu berjalan keluar dari ruangan menuju tangga darurat yang ada di belakang apartemen mereka. Iris hanya bisa memandang ke belakang, menatap Kim yang masih terbaring di lantai, sambil hatinya terasa hancur dan bingung.

Saat mereka berjalan menuju pintu keluar, Iris melihat sebuah kendaraan besar yang berwarna hitam pekat sudah menunggu di halaman belakang. Beberapa sosok berpakaian seragam hitam berdiri di samping kendaraan itu, siap menerima mereka.

Siska mendorong Iris masuk ke dalam kendaraan, lalu masuk setelahnya. Pintu kendaraan tertutup rapat, memisahkan mereka dari dunia luar.

Di dalam kendaraan yang gelap itu, Iris duduk di sudut, menatap Siska yang duduk di hadapannya. Ia ingin bertanya banyak hal, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tidak berani. Ia hanya bisa menahan air matanya yang terus menetes.

Siska duduk tegak, menatap ke depan tanpa menatap Iris sama sekali. Suasana di dalam kendaraan terasa sangat sunyi dan mencekam.

Sementara itu, di dalam apartemen yang kini sepi, Kim akhirnya berhasil berdiri tegak lagi. Ia menatap ke arah pintu yang tertutup, lalu menunduk dengan wajah yang sangat serius.

"Jangan khawatir, Nona Iris. Aku akan menyelamatkanmu. Aku akan membongkar semua rahasia ini, tidak peduli seberapa sulit atau berbahayanya..." gumam Kim dengan suara yang penuh tekad.

Tiba-tiba, perangkat komunikasi di saku Kim berbunyi. Ia mengeluarkannya dan membaca pesan yang baru saja masuk.

Pesan itu dikirim dari alamat yang tidak dikenal, dan isinya hanya satu kalimat:

"Kamu tidak sendirian. Kebenaran ada di balik nama 'Cybernite'. Hati-hati dengan apa yang akan kamu temukan."

Kim menatap pesan itu dengan tatapan yang penuh perhitungan. Ia tahu bahwa perjalanan mereka baru saja menjadi jauh lebih berbahaya dan rumit. Semua yang mereka ketahui selama ini hanyalah sebagian kecil dari kebenaran. Dan sekarang, Iris telah diculik, sementara Siska—orang yang paling mereka percayai—telah berubah menjadi musuh.

Kendaraan yang membawa Iris dan Siska pun mulai bergerak meninggalkan tempat itu, melaju ke jalan yang gelap dan sepi. Ke mana mereka akan dibawa? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Di dalam kendaraan, Siska tiba-tiba berbicara lagi, kali ini dengan suara yang berubah sedikit, seolah-olah ada pertarungan di dalam pikirannya yang masih berlanjut.

"Iris... Jangan percaya semua yang kau lihat... Aku... aku masih ada di sini... Tapi mereka... mereka mengendalikan tubuhku... Tolong ingat... Jangan menyerah..."

Kata-kata itu terdengar samar, dan segera setelah itu, ekspresi datar kembali menutupi wajahnya. Tapi Iris mendengarnya jelas. Ia tahu bahwa harapan masih ada. Teman yang ia cintai masih ada di sana, meski terkunci di balik kekuatan yang jahat.

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!