bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Kaldora dan Pelajaran Sejarah
Sebelum cerita berlanjut, mari sejenak memahami dunia tempat Valeria Alessandra yang kini menyamar sebagai Valeria Allegra berada.
Kaldora. Sebuah negara yang tidak tercantum dalam peta dunia mana pun, namun berdiri megah di antara dua samudra dan tiga benua. Di sinilah beladiri kuno berkembang bukan sebagai seni pertarungan biasa, melainkan sebagai jalan hidup yang menyatu dengan kekuatan alam semesta.
Sistem kekuatan di Kaldora dikenal dengan nama Ateris. Berbeda dengan konsep kultivasi atau sihir pada umumnya, Ateris mengandalkan penemuan bintang di dalam tubuh setiap individu. Setiap manusia terlahir dengan potensi bintang yang tersembunyi di titik-titik energi di sepanjang tulang belakang hingga pusar. Semakin banyak bintang yang berhasil ditemukan dan "dinyalakan", semakin besar kekuatan yang dimiliki seseorang.
Terdapat sepuluh tingkatan bintang. Tingkat satu adalah yang terendah, hanya memberikan peningkatan fisik sedikit di atas manusia biasa. Tingkat sepuluh adalah puncak yang hanya tercatat dalam legenda karena dalam sejarah Kaldora yang tercatat, bintang tertinggi yang pernah dicapai adalah tingkat sembilan, itupun hanya oleh tiga orang dalam kurun waktu seribu tahun.
Namun kini, ada Valeria Alessandra dengan sepuluh bintangnya.
Seorang perempuan berusia 23 tahun yang berhasil mencapai apa yang tidak pernah dicapai siapa pun. Bukan hanya jumlah bintangnya yang fenomenal, tetapi juga elemen yang menyertainya. Setiap bintang yang ditemukan membawa satu elemen. Sebagian besar pemilik bintang hanya memiliki satu elemen seumur hidup. Yang sangat berbakat bisa memiliki dua. Tiga elemen sudah dianggap keajaiban.
Valeria Alessandra memiliki lima elemen sekaligus: api, air, kegelapan, cahaya, dan tumbuhan.
Lebih mencengangkan lagi, empat di antaranya adalah elemen yang saling berlawanan yaitu api berlawanan dengan air, kegelapan berlawanan dengan cahaya. Dalam teori Ateris, elemen berlawanan tidak mungkin bersatu dalam satu tubuh. Mereka akan saling menghancurkan, menyebabkan pemiliknya mati sebelum bintang ketiga tercapai.
Tapi Alessandra hidup. Bahkan lebih kuat dari siapa pun.
Keanehan inilah yang membuatnya menjadi incaran banyak pihak. Karena bintang tingkat tinggi tidak hanya memberikan kekuatan tetapi juga umur panjang, kesehatan sempurna, daya ingat super, dan yang paling berharga: inti tubuh. Jika seorang pemilik bintang dibunuh, inti tubuhnya bisa diambil dan digunakan untuk memperpanjang umur orang lain, menyembuhkan penyakit yang tak tersembuhkan, bahkan meningkatkan kekuatan si pembunuh.
Itulah mengapa Valeria Alessandra selalu menyembunyikan wajahnya dengan topeng khusus. Topeng yang terikat darah yang hanya dia yang bisa melepasnya. Siapa pun yang mencoba memaksa akan tersambar petir. Topeng itu juga berfungsi menutupi keberadaannya dari para pemilik bintang lain, membuatnya tampak seperti manusia biasa.
Belum lagi kacamata rimless dengan rantai emas yang selalu dia kenakan. Itu bukan sekadar aksesori. Kacamata itu adalah penekan kekuatan, sebuah alat langka yang dibuat khusus oleh sang ayah angkat untuk menekan gelombang energi dari sepuluh bintangnya, membuatnya terdeteksi sebagai manusia biasa oleh siapa pun termasuk pemilik bintang tertinggi sekalipun.
Tanpa kacamata itu, sinar bintangnya akan memancar seperti mercusuar di malam gelap, menarik semua pemburu bintang dari seluruh penjuru Kaldora.
Namun, tidak semua orang di Kaldora memiliki bintang.
Mayoritas penduduk adalah manusia biasa. Mereka hidup normal, bekerja, bersekolah, dan tidak pernah merasakan getaran bintang di dalam tubuh mereka. Termasuk Valeria Allegra merupakan gadis malang yang wajahnya mirip dengan Alessandra, namun tidak memiliki setitik pun kekuatan Ateris.
Allegra hanyalah manusia biasa. Seorang gadis 17 tahun yang dibenci keluarganya, di-bully di sekolah, dan satu-satunya hiburannya adalah buku dan dua sahabat setianya. Dia tidak tahu bahwa ibunya yang meninggal saat dia berusia lima tahun berasal dari keluarga beladiri terhormat yang membenci keturunan perempuan.
Keesokan harinya.
Alessandra kembali duduk di bangku kelas XII MIPA 1. Setelah insiden kemarin, suasana sedikit berbeda. Beberapa siswa masih menatapnya dengan curiga, beberapa dengan kagum, dan beberapa seperti Fiona dan gengnya dengan kebencian yang tidak disembunyikan.
Tapi Alessandra tidak peduli.
Saat ini, jam pelajaran Sejarah Ateris dimulai. Guru yang masuk adalah pria tua berusia 60-an dengan rambut putih dan kacamata bundar tebal. Namanya Pak Wibowo, dan dia adalah satu-satunya guru di sekolah ini yang benar-benar memahami Ateris karena dia sendiri adalah mantan praktisi tingkat lima sebelum pensiun.
"Anak-anak," suaranya parau tapi berwibawa, "hari ini kita akan membahas tentang Perang Bintang Pertama yang terjadi 300 tahun lalu."
Bisik-bisik mereda. Pak Wibowo memang salah satu guru yang disegani bukan karena ketegasannya, tapi karena ilmunya yang dalam.
Ia memulai cerita.
"Perang Bintang Pertama terjadi ketika seorang pemilik bintang tingkat delapan bernama Kaisar Ardath mencoba menguasai seluruh Kaldora. Ia percaya bahwa pemilik bintang adalah ras unggul dan manusia biasa harus menjadi budak. Tiga kerajaan saat itu bersatu melawannya, dipimpin oleh Jenderal Maharani, seorang perempuan pemilik bintang tingkat tujuh dengan elemen cahaya."
Alessandra mendengarkan dengan saksama. Bukan karena dia tidak tahu tapi dia sudah mempelajari semua ini sejak usia 10 tahun. Tapi mendengarkan dari sudut pandang ruang kelas... terasa aneh.
"Pertempuran berlangsung selama tujuh tahun," lanjut Pak Wibowo. "Jutaan orang tewas. Kota-kota hancur. Dan pada akhirnya, Kaisar Ardath berhasil dikalahkan bukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh strategi. Jenderal Maharani menyusup ke istana dengan menyamar sebagai pelayan mirip dengan apa yang sekarang kita sebut operasi penyamaran."
Alessandra merapikan kacamatanya.
Penyamaran, ulangnya dalam hati. Aku juga sedang melakukan hal yang sama.
"Setelah perang usai, para tetua Ateris membuat Perjanjian Bintang yang melarang siapa pun membunuh manusia biasa untuk mengambil inti tubuh mereka. Perjanjian itu masih berlaku hingga sekarang."
Pak Wibowo berhenti, menghela napas.
"Tapi sayangnya, tidak semua orang menghormati perjanjian itu. Hingga hari ini, masih ada perburuan liar terhadap pemilik bintang tingkat tinggi. Mereka diburu seperti hewan, dibunuh, dan diambil inti tubuhnya untuk dijual di pasar gelap."
Mata Pak Wibowo menyapu ruangan, berhenti sejenak di wajah Alessandra.
"Karena itu, jika di antara kalian ada yang memiliki bintang berapa pun tingkatnya jangan pernah menyombongkannya. Dunia ini kejam, anak-anak. Lebih kejam dari yang kalian bayangkan."
Alessandra menunduk, jarinya bermain dengan pinggiran buku.
Dunia ini kejam, pikirnya. Aku tahu. Aku adalah bagian dari kekejaman itu.
Bel berbunyi. Pelajaran usai.
Pak Wibowo mengumpulkan buku catatan, lalu berjalan keluar dengan langkah gontai. Suasana kelas kembali ramai seperti biasa.
"Vale, lo paham?" tanya Laras dari samping. "Sejarah Ateris itu rumit banget. Gue sampe pusing."
"Mungkin lo yang kurang baca," jawab Alessandra datar.
"Kampret." Laras tertawa. Tapi matanya tetap waspada ke arah Fiona yang sedang berbisik dengan teman-temannya.
Mutiara menyikut Laras. "Udah, jangan ribut. Vale lagi baca."
Alessandra memang sedang membaca. Bukan buku Sejarah Ateris, tapi buku catatan kecil berwarna hitam yang dia sembunyikan di balik sampul buku pelajaran.
Di dalamnya, dia menulis:
· Siapa pengintip di taman kemarin? Pria. Tinggi sekitar 175. Rambut hitam. Perlu diidentifikasi.
Jari telunjuknya menyentuh kacamata.
Misteri baru, pikirnya. Seseorang yang mengintip saat aku bicara dengan Papa. Dia mendengar semuanya. Harus kucari tahu siapa dia.
Dia menutup buku catatan hitam itu, menyimpannya di tas, dan kembali ke ekspresi datarnya.
Hari masih panjang.
Masih banyak yang harus dia pelajari tentang sekolah ini, tentang orang-orang di sekitarnya, dan tentang Valeria Allegra yang sesungguhnya.