NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Aiza

Ghani hidup dalam dunia bayangan, tempat rahasia bernilai jutaan dolar dan kepercayaan bisa membunuhmu kapan saja.

Saat memutuskan pulang ke tanah kelahirannya di Tora-Tora, ia hanya ingin beristirahat dari hidupnya yang gelap.

Namun semuanya berubah setelah ia bertemu Ghea, gadis bermata hazel yang keras kepala, penuh rahasia, dan perlahan membuatnya ingin berhenti berlari.

Di antara pantai, kebohongan, dan masa lalu yang belum selesai, keduanya terjebak dalam hubungan yang semakin dalam.

Tapi bagi Ghani, mencintai seseorang adalah cara tercepat untuk kehilangan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Aiza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Bukan rumahnya

"Kalian bukan komplotan maling, kan?"

Pertanyaan itu menusuk keheningan, setajam pecahan kaca yang ada di trotoar. Aku tidak tertawa, hanya sebuah dengusan geli yang nyaris tak terdengar. Di duniaku, di mana kejujuran adalah barang langka dan pengkhianatan adalah mata uang, kecurigaannya justru terasa seperti udara segar. Aku menatapnya lurus, mencoba membaca sisa-sisa adrenalin di balik mata hazel-nya yang kini meredup defensif. Dia cerdas. Sangat cerdas untuk sekadar seorang gadis yang terjebak kerusuhan.

"Naiklah," perintahku singkat, suaraku rendah dan tak terbantahkan. "Aku akan mengawal mobilmu dari belakang. Sampai kamu merasa aman."

Aku bisa melihat keraguan di matanya, tapi dia tidak membantah, hanya mengangguk pelan sembari menaiki jok belakang KLX-ku. Sepanjang perjalanan menuju bengkel, jarak di antara kami terasa seperti medan magnet yang saling tolak-menolak.

Di bengkel, Akmal, yang sudah paham benar siapa aku, langsung bergerak sigap tanpa banyak tanya.

"Kaca sekitar dua setengah juta, Kak. Towing lima ratus. Untuk pilar A yang lecet, sepertinya butuh waktu sebulan untuk restorasi," lapor Akmal dengan nada segan.

"Bisa minta nomor ponselnya, Kak? Agar besok saya kabari harga pastinya."

"081555555555."

Deretan angka itu meluncur dari bibirnya. Aku tidak mencatatnya di ponsel. Aku mencatatnya di memori permanen kepalaku, menyimpannya di barisan folder yang sama dengan taktik intelijen dan kode-kode operasi. Setiap Informasi adalah nyawa, dan aku baru saja menggenggam satu kepingan miliknya.

"Wati, aku antar kamu pulang," ujarku datar saat urusan selesai.

Sepuluh menit kemudian, mesin motor trailku menderu memasuki "Perum Indah". Gesturnya saat menyapa satpam di gerbang tampak meyakinkan, sebuah sandiwara yang hampir sempurna jika saja sasarannya bukan aku. Kami berhenti di depan sebuah rumah tipe 45 yang tampak asri namun "mati".

"Rumahmu?" tanyaku, mataku memindai setiap detail dengan presisi seorang pengintai.

"Ya," jawabnya, dagunya sedikit terangkat, sebuah pertahanan diri yang klasik.

Mataku terpaku pada seikat rumput liar setinggi empat puluh lima sentimeter yang berdiri tegak tepat di depan pintu utama. Tak ada patahan, tak ada jejak pijakan. Di duniaku, ini adalah tanda sebuah zona tak berpenghuni. Rumah ini hanyalah panggung sementara.

"Masuklah. Tidak aman bagi perempuan di luar selarut ini," kataku, ingin melihat seberapa jauh dia akan mempertahankan perannya.

"Tak apa, ada Satpam. Kamu pulang saja dulu. Sedikit tidak sopan jika tuan rumah masuk terlebih dulu," tolaknya halus.

Aku mengangguk, menyalakan mesin motor yang menggelegar membelah kesunyian perumahan. Sebelum memutar gas, aku menoleh sedikit, memberikan tatapan yang mungkin akan membuatnya terjaga malam ini.

"Segera istirahat," desisku. "Oya, lebih baik rumput-rumput itu segera disiangi. Agar rumah ini terasa... hidup."

Aku tidak benar-benar pergi. Aku memarkir motor di balik bayang-bayang kegelapan, lalu berjalan kaki menuju angkringan di sudut gerbang. Secangkir kopi hitam dan kepulan asap rokok menjadi tirai kamuflaseku. Mataku tetap tajam, menyaring setiap pergerakan di mulut gerbang.

Benar saja. Sepuluh menit berlalu, sosok itu muncul lagi.

Dia berjalan dengan langkah yang jauh lebih bebas, anggun, bagaikan seorang peragawati yang sedang menguasai runway. Rambut panjangnya melambai terkena angin malam, memantulkan cahaya lampu jalan. Saat dia melewati deretan pemuda yang mulai bersiul nakal, aku merasakan desakan aneh di dadaku, sebuah insting purba untuk berdiri dan membungkam mereka semua. Namun, aku tetap diam membatu, mengamati dari balik kepulan asap.

Dia berbelok ke arah Galaxy Residence, sebuah kawasan elit di mana privasi adalah segalanya. 75 persen, batinku. Rumah aslinya ada di sana.

"Rokok, Kak?" seorang pemuda kurus di sebelahku menyodorkan bungkus rokok.

"Terima kasih." Aku menyesapnya dalam-dalam. Aku bukan pencinta tembakau, tapi asap adalah topeng terbaik untuk menyembunyikan tatapan tajam yang sedang mengintai mangsa.

"Kakak asli sini?" tanyanya basa-basi.

"Alun-alun. Baru dari rumah teman di kampung Tore," jawabku sekilas, nada bicaraku kini jauh lebih cair, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

"Eh, kamu kenal... Wati di perum sebelah? Gadis yang rumahnya dekat taman?"

"Wati?" Pemuda itu tertawa kecil, matanya berbinar. "Oh, anaknya Pak Jeremi satpam itu? Yang kacamata, rambutnya keriting pendek? Dia rajin antar makan siang buat bapaknya. Orangnya sangat ramah, Kak."

Aku tersenyum tipis di balik kegelapan malam. Jadi, dia tidak hanya meminjam rumah kosong, dia meminjam identitas putri seorang satpam untuk menipu seorang Ghani.

Gadis hazel-ku ternyata adalah sebuah misteri yang berlapis-lapis. Tanpa sadar, aku telah melangkahi garis batasku sendiri. Di kota yang seharusnya menjadi tempatku mencari kedamaian ini, aku justru menemukan sebuah permainan yang jauh lebih berbahaya dari tugas negara manapun. Dan sialnya, aku tidak ingin berhenti.

1
Wawan
1 iklan buat Ghea 💪✍️
Iris Aiza: Terima kasih Kak 😍
total 1 replies
Wawan
Gheaaaaaa 😍😍😍🤣
Iris Aiza: Cemburu dianya Kak 🤭
total 1 replies
andi s
Bagiku, ini cerita yg sangat bagus thor. Deskripsi tokohnya simple tp jelas. Alur ceritanya jg bagus dgn genre action, adventure dan romantis, enak utk dibaca sambil menghayal ngikutin jalan ceritanya., sampe terhanyut-hanyut. /Good/
Terus berkarya ya Thor, sy trus ngikutin/Pray/
Iris Aiza: Terima kasih Kakak atas apresiasinya dan sudah mengikuti perjalanan Ghani dan Ghea sampai selesai 😍. tunggu novel kedua saya dengan tema aviasi militer ya... 😇😇
total 1 replies
Suris
hehehe.. ketemu ghea dong...
Iris Aiza: ikuti terus Kak 😍
total 1 replies
Wawan
Taburan mawar dan iklan buat Ghea 💪✍️
Iris Aiza: Terima kasih Kak 🙏🙏😇😇
total 1 replies
Suris
Novel spionase dan petualangan yg palung bagus yg pernah sy baca di NT.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/
Iris Aiza: Semoga Kakak suka dengan perjalanan Ghani dan Ghea sampai akhir 🙏🙏🙏😊😇
total 2 replies
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!