Bima cuma anak SMA sekolah sihir biasa yang mager-nya kebangetan. Pas ujian praktek manggil familiar (hewan peliharaan sihir), dia malah kepeleset, lidahnya keseleo, dan nggak sengaja ngebaca mantra terlarang. Bukannya dapet kucing terbang yang lucu, dia malah manggil Lucifer, salah satu petinggi iblis dari kerak neraka. Apesnya, kontrak sihir mereka permanen! Sekarang Bima harus rela kamarnya diacak-acak sama cowok emo bersayap kelelawar yang ternyata cepet banget adaptasi jadi wibu, kecanduan main PS5, dan doyan seblak level 5. Tapi jujur, lumayan sih buat disuruh ngerjain PR Matematika Sihir dan ngusir preman sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Pagi Berbumbu Paranoia
Gue terbangun dengan rasa pegal yang luar biasa di leher. Pas gue buka mata, pemandangan pertama yang gue liat bukan langit-langit kamar yang estetik, tapi muka Luci yang cuma berjarak sepuluh senti dari hidung gue. Dia lagi melotot, matanya merah menyala di kegelapan kamar yang cuma diterangi lampu standby PS5.
"Anjir! Kaget gue!" seru gue sambil refleks nendang guling.
"Bim, internetnya mati," ucap Luci datar. Suaranya rendah, kayak suara bass yang pecah. "Gue lagi mau nge-gacha, terus muter-muter doang. Lo belum bayar tagihan?"
Gue ngucek mata, berusaha ngumpulin nyawa yang masih berceceran di alam mimpi. Gue lirik jam dinding. Jam lima pagi. "Luci, demi apa pun di neraka sana, ini masih subuh. Dan iya, kayaknya kuotanya abis gara-gara lo streaming VTuber semalaman!"
Gue bangkit berdiri\, ngerasain bunyi *krek* di pinggang. Tidur di lantai gara-gara kasur gue dikuasai iblis emang bukan ide bagus buat kesehatan tulang belakang. Tapi ingatan semalam langsung balik kayak dihantam truk. Cowok parka itu. Mata yang ngawasin dari kegelapan. Perasaan diawasi itu belum hilang\, malah makin pekat pas gue jalan ke arah jendela.
Gue nyibak gorden pelan banget. Jalanan masih berkabut tipis. Kosong. Tapi bulu kuduk gue meremang.
"Masih ada?" tanya Luci. Dia sekarang udah duduk bersila di atas kasur gue, meluk bantal guling bergambar karakter anime yang entah dia dapet dari mana.
"Gue nggak liat siapa-siapa, tapi rasanya nggak enak banget," sahut gue pelan. "Ci, kalau itu beneran orang dari Biro Veritas, mereka bakal ngapain gue?"
Luci menguap lebar, pamerin taringnya yang tajam. "Paling bagus? Lo diinterogasi, memori lo dihapus, terus lo jadi bego seumur hidup. Paling buruk? Lo dieksekusi karena dianggap nampung ancaman level bencana kayak gue. Terus gue? Gue sih paling cuma dikirim balik ke Kerak, paling-paling kena SP1 dari atasan gara-gara gagal liburan di dunia manusia."
"Santai banget lo ngomongnya, setan!" gue ngelempar kaos kaki kotor ke arahnya, yang dengan gampang ditepis pake satu jari.
"Makanya, mending lo mandi. Bau keringat lo udah kayak bau dosa," ejek Luci. "Gue mau ikut ke sekolah."
Gue yang baru mau melangkah ke kamar mandi langsung ngerem mendadak. "Hah? Gila lo? Lo mau bikin gempar satu sekolah? Sekolah gue itu SMA Sihir, Luci! Isinya orang-orang yang dilatih buat nyium bau iblis dari jarak satu kilometer. Lo mau kita mati konyol?"
Luci turun dari kasur. Tiba-tiba, tubuhnya yang tadinya tinggi tegap dengan sayap kelelawar samar itu menyusut. Asap hitam tipis menyelimuti dia, dan dalam sekejap, dia berubah jadi... seekor kucing hitam dekil dengan mata kuning yang males banget.
"Gue bakal jadi familiar lo. Secara teknis, lo kan emang harus bawa familiar pas praktek hari ini, kan?" suaranya sekarang terdengar di kepala gue. Telepati.
Gue melongo. "Lo bisa berubah jadi kucing?"
"Gue bisa jadi apa aja, Bim. Jadi pacar lo juga bisa kalau lo mau, tapi selera gue tinggi," sahut si kucing hitam itu sambil menjilat cakarnya.
"Najis," gumam gue, tapi dalam hati gue agak lega. Seenggaknya kalau ada apa-apa, si 'Pangeran Kegelapan' ini ada di deket gue.
***
Perjalanan ke sekolah bener-bener bikin gue jantungan. Setiap kali ada motor yang lewat agak pelan, gue langsung siaga satu. Setiap kali ada orang pake jaket hoodie, gue langsung megang tas gue kenceng-kenceng—tempat Luci lagi meringkuk sambil ngedumel soal betapa sempitnya tas Eiger gue.
Pas nyampe di gerbang SMA Garuda Sihir, suasana udah rame. Anak-anak lain kelihatan keren dengan familiar mereka. Ada yang bawa burung elang api, ada yang bawa serigala es kecil, bahkan ada cewek populer yang bawa peri cahaya yang kerlap-kerlip cantik banget.
Terus ada gue. Bima. Siswa kelas 11 yang prestasinya medioker, bawa tas yang isinya kucing item yang mukanya kayak lagi dendam sama seluruh dunia.
"Bim! Woy, parah lo!"
Gue menoleh. Itu Rangga, sahabat gue yang rambutnya selalu berantakan dan punya energi berlebihan. Dia lari nyamperin gue sambil bawa... sebuah batu? Nggak, itu kayak kura-kura tapi tempurungnya ada tanaman kaktusnya.
"Telat lagi lo? Eh, itu familiar lo? Akhirnya lo dapet juga?" Rangga nunjuk ke arah kepala Luci yang nongol dikit dari tas.
"Iya, Ngga. Kemarin pas ujian susulan... keberuntungan aja sih," jawab gue bohong, keringat dingin mulai netes.
Rangga ngeliatin Luci lama banget. "Kok auranya... aneh ya? Kayak suram-suram gimana gitu. Namanya siapa?"
"Namanya... Elu," jawab gue asal. "E-L-U."
"Elu? Nama macam apa itu? Kayak nama orang mau berantem," Rangga ketawa kenceng sambil nepuk pundak gue. "Tapi mendinglah daripada nggak ada. Eh, denger-denger hari ini bakal ada sidak dari Biro Veritas loh. Katanya ada kebocoran energi gelap di area sini kemarin malam."
Jantung gue serasa mau copot. Gue bisa ngerasa Luci di dalem tas tiba-tiba negang.
"S-sidak? Jam berapa?" tanya gue berusaha sedatar mungkin.
"Pelajaran kedua, jam Praktek Pengendalian Mana. Pak Darmono udah uring-uringan tuh di kantor guru. Yuk lah, masuk!"
Gue jalan di koridor sekolah dengan perasaan kayak terpidana mati yang lagi jalan menuju kursi listrik. Sepanjang jalan, gue ngerasa mata semua orang tertuju ke gue. Atau mungkin itu cuma perasaan gue doang. Tapi pas gue ngelewatin mading sekolah, gue liat sesosok cowok berdiri di pojokan.
Cowok itu pake seragam yang sama kayak gue, tapi auranya beda. Dia punya rambut perak yang rapi banget dan tatapan mata yang tajamnya kayak silet. Namanya Gery, si jenius sekolah sekaligus ketua OSIS. Dia juga anak dari petinggi Biro Veritas.
Pas gue lewat, Gery tiba-tiba berhenti baca pengumuman dan nengok ke arah gue. Lebih tepatnya, ke arah tas gue.
"Bima," panggilnya. Suaranya dingin, khas orang kaya yang nggak pernah makan seblak pinggir jalan.
Gue berhenti. "Ya, Ger?"
Dia jalan mendekat. Tiap langkahnya kedengeran kayak lonceng kematian di telinga gue. Dia berhenti tepat di depan gue, matanya nyipit ngeliatin Luci yang lagi pura-pura tidur merem melek.
"Kucing yang menarik," ucap Gery pelan. Dia ngulurin tangan mau ngelus Luci.
Gue refleks mundur selangkah. "Jangan, Ger! Dia... dia galak. Suka gigit. Belum divaksin rabies sihir juga."
Tangan Gery tertahan di udara. Dia senyum tipis, jenis senyum yang nggak nyampe ke mata. "Oh ya? Gue ngerasain fluktuasi mana yang nggak stabil dari tas lo. Pastiin familiar lo itu nggak bikin masalah hari ini. Biro Veritas lagi sensitif sama hal-hal... anomali."
Setelah ngomong gitu, dia pergi gitu aja. Gue baru sadar kalau gue tadi sempet nahan napas.
"Bim\," suara Luci terdengar di kepala gue. "Si rambut uban itu berbahaya. Dia punya *Eye of Truth*. Kalau dia liat gue lebih lama lagi\, penyamaran gue bisa jebol."
"Terus kita harus gimana?" bisik gue sambil pura-pura benerin tali sepatu.
"Jangan bertingkah mencolok. Pas kelas praktek nanti, jangan keluarin kekuatan apa pun. Biar gue yang manipulasi hasil sensor mana lo supaya kelihatan normal," instruksi Luci.
Gue mengangguk pelan dan lanjut jalan ke kelas. Tapi sialnya, dunia emang nggak pernah izinin gue buat hidup tenang.
Pas jam pelajaran Praktek Pengendalian Mana dimulai, lapangan sekolah udah diset penuh dengan mesin pendeteksi mana yang bentuknya kayak gerbang scanner di bandara. Dan di sana, berdiri tiga orang dewasa dengan jubah hitam elegan dan pin emas berbentuk mata di dada mereka. Anggota Biro Veritas.
Pak Darmono, guru praktek kami yang badannya kekar kayak tukang pukul, berdiri di depan barisan. "Anak-anak, hari ini kita kedatangan tamu dari Biro. Ini cuma pengecekan rutin buat mastiin nggak ada parasit energi gelap yang nempel di familiar kalian setelah fenomena bulan merah kemarin. Baris yang rapi!"
Satu per satu temen sekelas gue maju ngelewatin gerbang itu. Lampunya nyala hijau tiap kali mereka lewat. Rangga lewat, hijau. Cewek peri cahaya lewat, hijau terang banget sampe semua orang tepuk tangan.
Sampai akhirnya, giliran gue.
"Bima Pratama, silakan maju," panggil Pak Darmono.
Gue nengok ke tas gue. Luci diem aja, bener-bener kayak patung kucing. Gue melangkah maju dengan kaki gemeteran. Pas gue berdiri tepat di bawah gerbang, gue ngerasa ada aliran listrik statis yang nyengat seluruh tubuh gue.
*BIP! BIP! BIP!*
Lampu di gerbang bukannya nyala hijau, tapi malah kedap-kedip warna kuning pekat. Suara alarmnya kecil, tapi cukup buat bikin suasana lapangan jadi hening seketika.
Salah satu orang dari Biro Veritas, seorang wanita dengan kacamata frame besi, jalan mendekat ke arah gue. Dia bawa alat genggam yang mirip detektor logam.
"Tahan di situ, Nak," ucapnya datar. Dia mulai muter-muterin alat itu di sekitar tas gue.
Gue keringetan parah. Luci\, *please* lakukan sesuatu\, batin gue teriak.
Tiba-tiba, alat di tangan wanita itu mengeluarkan asap kecil dan mati total.
"Loh? Rusak?" gumam wanita itu heran. Dia ngetuk-ngetuk alatnya. "Maaf\, Pak Darmono\, sepertinya alat kami mengalami *overload* sesaat karena fluktuasi cuaca. Bisa diulang?"
Tapi sebelum gue sempet maju lagi, Gery yang berdiri di pinggir lapangan tiba-tiba nyeletuk. "Biar saya yang cek secara manual, Bu. Saya punya sertifikasi deteksi dini dari akademi pusat."
Gery jalan ke arah gue. Tatapannya penuh selidik. Dia berdiri tepat di depan gue, lalu dia ngebisikin sesuatu yang cuma bisa gue denger.
"Gue tau itu bukan kucing biasa, Bim. Baunya busuk... bau belerang dari neraka paling dalam."
Darah gue serasa berhenti mengalir. Gery naruh tangannya di atas tas gue. Gue udah siap-siap buat lari, atau mungkin teriak minta tolong, atau mungkin pasrah aja kalau Luci tiba-tiba ngamuk dan ngebakar satu sekolah.
Tapi yang terjadi malah di luar dugaan.
Tangan Gery tiba-tiba terhentak, seolah dia baru aja kesetrum listrik ribuan volt. Dia mundur tiga langkah, mukanya pucat pasi. Dia megangin pergelangan tangannya yang kelihatan kemerahan.
"Gery? Ada apa?" tanya Pak Darmono panik.
Gery diem sebentar, napasnya agak memburu. Dia natap gue dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci, takut, dan penasaran. Terus dia nengok ke orang Biro Veritas.
"Nggak apa-apa. Cuma... statis yang kuat. Dia bersih. Familiarnya cuma punya tipe mana elemen kegelapan tingkat rendah yang agak liar. Nggak berbahaya."
Gue melongo. Gery... barusan nolongin gue? Kenapa?
"Oke, kalau begitu silakan lanjut ke barisan, Bima," kata wanita dari Biro itu, meskipun dia masih kelihatan ragu.
Gue buru-buru jalan menjauh, nyelip di antara barisan murid lain. Begitu gue merasa udah aman di belakang punggung Rangga yang lebar, gue bisik-bisik ke tas gue.
"Ci, lo apain dia?"
"Gue cuma kasih dia 'salam kenal' dikit," sahut Luci di kepala gue, kedengerannya dia lagi nyengir puas. "Gue kasih liat dia sekilas tentang apa yang ada di balik gerbang neraka. Kayaknya mentalnya lumayan kuat buat ukuran manusia, dia nggak langsung pingsan atau kencing di celana."
"Tapi kenapa dia nggak laporin kita?"
"Entah. Mungkin dia punya agenda sendiri. Manusia yang punya mata kayak gitu biasanya haus akan sesuatu. Entah kekuatan, atau informasi."
Gue menghela napas panjang. Masalah satu selesai, tapi rasanya gue baru aja buka kotak pandora yang lebih gede lagi. Gery sekarang tau rahasia gue. Dan di sekolah ini, nggak ada yang lebih berbahaya daripada punya utang budi sama orang kayak dia.
Pelajaran praktek berlanjut, tapi fokus gue udah buyar total. Gue terus kepikiran sama ucapan Luci semalam. Hidup gue emang beneran nggak bakal bisa santai lagi. Baru bab awal aja udah begini, gimana seratus bab ke depan?
Pas bel istirahat bunyi, gue buru-buru mau kabur ke kantin buat nenangin saraf gue pake bakso urat. Tapi langkah gue terhenti pas liat ada secarik kertas keslip di kantong tas gue. Gue ambil dan buka kertas itu.
Tulisan tangannya rapi banget, pake tinta emas:
*Atap sekolah. Pulang sekolah nanti. Sendirian. Atau rahasia lo jadi konsumsi publik besok pagi.*
Gue ngeremes kertas itu. Sialan. Bener kan dugaan gue.
"Bim, kenapa? Muka lo kok kayak habis liat hantu?" tanya Rangga sambil ngerangkul gue.
"Nggak... gue cuma... lapar banget," sahut gue lemes.
Gue lirik tas gue. Luci malah udah tidur lagi, suaranya dengkurannya kedengeran halus banget kayak kucing beneran. Enak banget jadi dia. Nggak perlu mikirin gimana caranya bertahan hidup di sekolah yang isinya calon-calon pemburu iblis, sementara dia sendiri adalah raja dari segala iblis.
Gue narik napas dalam-dalam. Oke, Bima. Lo cuma anak SMA mager yang pengen lulus dengan tenang. Tapi kalau takdir maksa lo buat jadi pawang iblis jalur orang dalam, kayaknya lo harus mulai belajar cara mainnya.
"Ci, bangun," bisik gue.
"Apaan lagi sih? Gue lagi mimpi makan seblak porsi raksasa nih!"
"Nanti sore... kita ada janji 'kencan' sama ketua OSIS. Siapin kekuatan lo. Kalau dia macam-macam, gue izinin lo buat bikin dia pusing dikit."
"Nah, gitu dong! Itu baru partner gue!" sahut Luci semangat.
Gue pun jalan ke kantin dengan langkah yang lebih mantap, meskipun hati gue masih cenat-cenut. Martabak manis keju semalam mungkin emang enak, tapi hari ini gue sadar: tantangan sesungguhnya bukan lawan iblis di game PS5, tapi gimana caranya tetep waras di dunia yang udah mulai nggak masuk akal ini.
Dan satu hal yang pasti, dompet gue bener-bener bakal menderita habis ini. Karena gue tau, setelah urusan sama Gery selesai, Luci pasti minta jatah seblak level 5 sebagai bayaran 'salam kenal' tadi.
Gue cuma bisa elus dada. Nasib, nasib.