NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Tatapan Dingin dan Bisikan di Atas Pelana

Debu berterbangan di udara saat kuda yang dipacu Kibo menderu kencang menuju gerbang perbatasan antara Negeri Binatang dan wilayah Valerius.

Melan berpegangan erat pada pinggang Kibo, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini terbang tak karuan.

"Kibo, lebih cepat! Kita harus sampai sebelum Raja Singa itu bertemu dengan Nolan!" teriak Melan di tengah deru angin.

"Sabar, Yang Mulia! Kuda ini sudah lari sekuat tenaga!" balas Kibo sambil terus memacu kudanya.

Begitu gerbang utama terlihat, pemandangan di depan mereka benar-benar mengerikan. Ribuan ksatria berbaju zirah hitam legam berdiri berbaris rapi seperti tembok besi yang tak tertembus.

Di barisan paling depan, di atas kuda perang hitam raksasa, berdirilah Nolan. Ia mengenakan pakaian kebesaran raja yang mewah namun tampak mengintimidasi, dengan pedang panjang yang tersampir di pinggangnya.

Aura dingin yang dipancarkannya bahkan membuat pepohonan di sekitarnya seolah membeku.

Kibo menarik tali kekang hingga kuda mereka meringkik keras dan berhenti mendadak. Melan segera turun dengan gerakan canggung, mencoba merapikan gaunnya yang kotor dan rambutnya yang berantakan. Ia berjalan maju sendirian, melewati batas gerbang.

Setiap langkah yang diambil Melan diiringi oleh tatapan ribuan ksatria. Rasanya sangat mencekam. Namun, yang paling membuatnya gemetar adalah tatapan tajam dari Nolan.

Mata pria itu tidak berkedip, mengunci sosok Melan dengan intensitas yang bisa membuat mental siapa pun runtuh.

"Hormat... hormat saya, Yang Mulia," bisik Melan saat sudah berada beberapa meter di depan kuda Nolan.

"Tangkap anak itu," suara Nolan rendah, namun terdengar sangat mutlak.

Beberapa ksatria langsung maju dan meringkus Kibo dengan paksa. Anak laki-laki itu terjatuh ke tanah dengan tangan terikat ke belakang.

"Eh, tunggu! Jangan!" Melan panik, ia mencoba menghalangi para ksatria.

"Ini bukan salah Kibo! Jangan sakiti dia!"

Nolan turun dari kudanya dengan gerakan yang sangat berwibawa. Ia berjalan mendekat ke arah Melan, langkah kakinya terdengar berat di atas tanah kering.

"Baron dan Lin melaporkan semuanya. Anak ini mencium aroma kawanannya tepat setelah Anda diculik, lalu dia menghilang begitu saja. Secara logika, dia adalah pengkhianat yang menuntun penculik itu ke arah Anda."

Melan memilin tangannya dengan gugup. Ia menatap Nolan, dan seketika bayangan bosnya di kehidupan sebelumnya yang sering memarahinya habis-habisan karena salah hitung kembalian muncul di benaknya. Nolan jauh lebih menakutkan dari itu.

"Enggak, Nolan! Maksud saya, Yang Mulia... ini semua cuma salah paham," ujar Melan dengan suara sedikit bergetar.

Ia harus memutar otak cepat agar Kibo dan kawanannya selamat.

Nolan mengangkat sebelah alisnya. "Salah paham?"

"Iya! Jadi... pas kawanan itu datang, Kibo memang mengenali mereka. Terus, saya sendiri yang penasaran. Saya yang pengin ikut Kibo dan kawanannya ke Negeri Binatang karena saya mau lihat pemandangan. Jadi mereka nggak menculik saya, saya yang... sukarela ikut mereka jalan-jalan!" Melan berbohong dengan wajah seyakinn mungkin.

Ia tidak mungkin bilang kalau ia diseret paksa karena dituduh penyihir. Jika Nolan tahu istrinya diperlakukan seperti itu, kepala kakak Kibo pasti sudah menggelinding di tanah sekarang.

"Anda sukarela pergi dan membiarkan seluruh kerajaan panik?" tanya Nolan, suaranya naik satu oktav.

"Ya... habisnya negerinya bagus banget, Yang Mulia. Saya sampai lupa waktu," Melan tersenyum masam, berharap Nolan cukup bodoh untuk memercayai alasan konyol itu.

Tepat saat itu, Raja Negeri Binatang muncul dari gerbang dengan rombongan kehormatannya. Sang Singa itu tersenyum tenang, mencoba mencairkan suasana.

"Raja Nolan dari Valerius," sapa Raja Binatang itu dengan hormat.

"Atas nama rakyatku, aku memohon maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Kami tidak bermaksud menahan Permaisuri Anda, kami hanya ingin memastikan beliau menikmati keramahan negeri kami."

Nolan menatap Raja itu dengan pandangan dingin yang tidak bersahabat. Ia diam cukup lama, membuat suasana kembali mencekam.

"Baiklah," jawab Nolan singkat.

"Selama Permaisuri saya kembali dalam keadaan utuh, saya tidak punya alasan untuk menghancurkan hutan ini hari ini."

Melan menghela napas lega. Krisis perang berhasil dihindari. Ia kemudian berbalik ke arah Raja Negeri Binatang untuk berpamitan.

"Terima kasih atas jamuannya, Yang Mulia," ujar Melan.

Raja Binatang itu mengangguk, lalu hampir saja membuka mulutnya. "Dan soal perjanjian perdagangan tanda tangani semalam—"

Melan membelalakkan matanya. Ia langsung melotot tajam ke arah Raja itu dan mengedipkan matanya berkali-kali sebagai kode keras agar pria tua itu diam.

Aduh, jangan sekarang bahas bisnisnya! Nolan bisa ngamuk kalau tahu gue malah jualan di tengah penculikan! batin Melan panik.

Raja Binatang itu sepertinya cukup peka. Ia berdehem pelan. "Maksud saya... perdagangan pikiran yang sangat menarik tentang masa depan. Semoga perjalanan Anda menyenangkan."

"Ya, ya! Betul sekali! Pikiran yang menarik!" sahut Melan cepat-cepat sambil tertawa canggung.

Nolan tidak berkomentar, namun matanya menyipit penuh curiga. Ia kemudian memberi isyarat pada pasukannya.

"Bawa Kibo ke barisan belakang. Permaisuri, silakan naik ke tandu."

Melan mengangguk dan mulai berjalan ke arah tandu mewah yang sudah disiapkan. Namun, baru beberapa langkah, Nolan memanggilnya.

"Melan."

Melan berhenti dan menoleh. Nolan yang masih mengenakan jubah kebesaran dan zirah ringannya tampak sangat gagah di bawah sinar matahari.

Pria itu menaiki kudanya kembali, lalu memacu kudanya mendekati Melan.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Nolan turun dari kuda dan memegang kedua pinggang Melan.

"E-eh! Mau apa?" Melan kaget bukan main.

Dengan satu gerakan kuat dan lincah, Nolan mengangkat tubuh Melan ke atas pelana kudanya.

Kemudian, Nolan ikut naik dan duduk tepat di belakang Melan, melingkarkan tangannya di sisi tubuh Melan untuk memegang tali kekang.

Melan mendadak salting parah. Punggungnya menempel langsung pada dada bidang Nolan yang keras.

Ia bisa merasakan detak jantung Nolan dan aroma cendana yang menyengat indra penciumannya. Wajah Melan memerah sampai ke telinga.

"Yang Mulia... saya kan bisa naik tandu..." bisik Melan pelan.

Tiba-tiba, Nolan mendekatkan wajahnya ke telinga Melan. Hembusan napasnya yang hangat membuat perut Melan terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang baru saja menetas dan beterbangan di dalamnya.

"Jangan pernah lagi tinggalkan saya sendirian di istana itu," bisik Nolan dengan suara rendah yang sangat dalam, hampir terdengar seperti sebuah permohonan daripada perintah.

"Saya benci meja makan yang sepi."

Melan membeku. Jantungnya berdisko gila-gilaan. Ini beneran si Kulkas Dua Pintu yang ngomong begini? batinnya tak percaya.

Nolan kemudian menegakkan tubuhnya kembali, menatap Raja Negeri Binatang untuk terakhir kalinya.

"Kami pergi sekarang. Jaga perbatasanmu dengan baik."

Tanpa menunggu balasan, Nolan menghentakkan kakinya pada sisi kuda. Kuda perang itu pun melaju cepat meninggalkan perbatasan, diikuti oleh ribuan prajuritnya yang bergerak selaras.

Melan hanya bisa diam dalam pelukan Nolan dari belakang, memegang erat tangan pria itu yang sedang menggenggam tali kekang.

Di tengah deru langkah kaki kuda, Melan tersenyum kecil. Ternyata, diculik ke negeri seberang membuahkan hasil yang cukup lumayan: sebuah kontrak dagang internasional, dan satu retakan besar di es hati sang Raja.

"Nolan," panggil Melan pelan di tengah perjalanan.

"Apa?"

"Nanti kalau sampai istana, jangan hukum Kibo ya. Dia itu asisten marketing saya."

Nolan hanya mendengus, namun ia tidak melepaskan dekapannya pada pinggang Melan.

"Kita bicarakan itu nanti setelah Anda menjelaskan apa arti 'marketing' di dalam ruang kerja saya."

Melan tertawa kecil, menikmati angin yang menerpa wajahnya di atas kuda, merasa bahwa petualangannya di dunia ini baru saja naik ke level yang jauh lebih menarik.

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!