Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Panggilan Gunung Merapi
Tiga minggu setelah wahyu dari cincin Naga Emas, ketegangan di Paviliun Naga Emas semakin terasa. Arkan Wijaya berdiri di puncak menara kultivasi tertinggi, angin malam Jawa Barat menerpa jubah hitam keemasannya. Foundation Establishment Tingkat 8-nya sudah sangat stabil, aura Raja Naga memancar alami, membuat burung-burung di sekitar menjauh dengan ketakutan. Cincin di jari telunjuk kanannya berdenyut hangat, seolah mengingatkan pemiliknya bahwa waktu semakin sempit.
Sela Juanda naik ke menara dengan langkah ringan. Gaun sutra tipis berwarna putih-emas membalut tubuhnya yang semakin matang dan seksi. Rambut panjangnya tergerai, wajah cantiknya terlihat lembut namun penuh tekad. “Kamu belum tidur lagi,” katanya sambil memeluk pinggang Arkan dari belakang. “Cincin itu memanggilmu terus ya?”
Arkan berbalik dan menarik Sela ke dalam pelukannya. Tangan kekarnya memeluk pinggang ramping gadis itu dengan posesif. “Ya. Setiap malam aku melihat mimpi yang sama — Gunung Merapi meletus hitam, Raja Kegelapan bangkit. Kita harus berangkat besok pagi.”
Sela mendongak, matanya polos tapi tegas. “Aku ikut. Tidak ada pembicaraan lagi.”
Arkan tersenyum dominan, menunduk mencium bibir Sela dalam-dalam. Ciuman itu lama, penuh gairah, hingga napas Sela tersengal. “Kamu semakin tidak bisa ditolak,” bisik Arkan di telinga gadisnya. “Baiklah, Ratu. Kita berangkat bersama.”
Malam itu, di kamar kerajaan yang luas, Arkan dan Sela menghabiskan waktu dengan penuh cinta dan hasrat. Arkan mengangkat tubuh Sela dengan mudah, meletakkannya di ranjang besar berukir naga. Tubuh kekarnya menindih tubuh lembut Sela, tangannya menjelajah setiap lekuk yang sudah sangat familiar namun selalu membuatnya haus.
“Kamu milikku,” bisik Arkan dengan suara serak sambil menyatukan tubuh mereka. Sela mendesah keras, kuku jarinya mencengkeram punggung Arkan. Gerakan mereka semakin intens, Naga Qi mengalir deras di antara keduanya. Ikatan jiwa mereka semakin kuat, seolah jiwa naga di dalam cincin ikut merestui.
Di puncak kenikmatan, Arkan merasakan segel kedua cincin terbuka lebih lebar. Banjir informasi baru masuk ke benaknya: teknik **Panggilan Naga Agung**, resep pil Nascent Soul, dan peringatan bahwa Raja Kegelapan sudah hampir bangkit sepenuhnya. Tubuh Arkan bergetar hebat. Ia breakthrough ke Foundation Establishment Tingkat 9 awal, sementara Sela naik ke Tingkat 7.
Keesokan paginya, ekspedisi besar dimulai. Total 120 orang elit Paviliun ikut, termasuk Arkan, Sela, Juanda, Murong Fei, dan beberapa elder. Mereka menggunakan delapan kendaraan spiritual dan dua kapal udara kecil yang baru dibuat Paviliun.
Perjalanan menuju Gunung Merapi memakan waktu dua hari. Di tengah perjalanan, mereka dihadang sekelompok kultivator gelap bayaran yang masih setia pada sisa Naga Hitam. Pertempuran kecil pecah di lereng gunung.
Arkan turun duluan. Dengan satu ayunan Pedang Raja Naga, ia menebas 12 orang sekaligus. “Minggir atau mati,” katanya dingin. Aura Tingkat 9-nya membuat musuh ketakutan. Sela mendukung dari belakang dengan formasi serangan presisi, membunuh musuh yang mencoba mengepung Arkan.
Setelah membersihkan penghalang, rombongan tiba di kaki Gunung Merapi sore hari. Gunung itu terasa hidup — asap hitam keluar dari puncak, dan aura kegelapan sangat pekat.
“Kita buat perkemahan di sini,” perintah Arkan. “Besok pagi kita naik ke gua altar yang disebutkan cincin.”
Malam itu, di tenda utama, Arkan mengadakan rapat strategi. “Raja Kegelapan sedang mencoba bangkit menggunakan darah korban dan energi gunung. Kita harus hancurkan altar sebelum ia sepenuhnya terbangun. Sela dan aku akan memimpin tim inti ke dalam gua. Sisanya jaga perimeter dan siapkan formasi cadangan.”
Sela mengangguk tegas. “Aku sudah siapkan 50 pil penyembuhan tingkat tinggi dan 20 pil ledak.”
Malam semakin larut. Arkan dan Sela duduk di luar tenda, memandang puncak gunung yang menyala merah. Sela bersandar di dada Arkan, tangan mereka saling genggam.
“Aku takut kehilanganmu,” bisik Sela pelan. “Cincin itu… seolah membawa kutukan juga.”
Arkan mengusap rambutnya. “Kutukan itu akan aku patahkan. Untukmu, untuk keluarga kita, dan untuk Nusantara.”
Mereka berciuman di bawah cahaya bulan yang tembus asap gunung. Hasrat muncul lagi. Di dalam tenda pribadi, Arkan dan Sela menyatu dengan lembut namun penuh gairah. Gerakan mereka pelan, seolah ingin mengingat setiap detik bersama sebelum pertempuran besar. Naga Qi mereka bercampur, menyembuhkan tubuh dan memperkuat jiwa.
Pagi harinya, tim inti naik gunung. Udara semakin panas dan penuh aura hitam. Di tengah perjalanan, mereka diserang oleh makhluk roh kegelapan — bayangan hitam berbentuk manusia yang keluar dari tanah.
Arkan berubah menggunakan **Transformasi Naga Emas Sejati**. Sisik emas menutupi tubuhnya, mata menjadi merah keemasan, kekuatannya melonjak drastis. Ia menebas makhluk-makhluk itu seperti rumput. Sela bertarung di sampingnya, teknik mereka semakin selaras.
Setelah tiga jam mendaki, mereka tiba di mulut gua besar. Di dalam gua gelap, hanya diterangi cahaya merah dari altar di ujung lorong. Di altar itu, sebuah tubuh hitam setengah jadi sedang terbentuk — Raja Kegelapan.
“Serang!” perintah Arkan.
Pertempuran di dalam gua meledak. Puluhan kultivator kegelapan penjaga altar menyerbu. Arkan dan Sela memimpin dari depan. Pedang Raja Naga Arkan menebas tanpa henti. Sela menggunakan formasi besar untuk membatasi gerak musuh.
Di tengah pertempuran, Raja Kegelapan yang setengah bangkit membuka mata. Aura Destruction Realm-nya menekan semua orang. Beberapa anggota Paviliun muntah darah.
Arkan melompat ke depan altar. “Kau tidak akan bangkit di zaman ini!”
Ia melepaskan **Panggilan Naga Agung** yang baru dipelajari. Bayangan Naga Emas Agung muncul di belakangnya, meraung keras. Serangan gabungan Arkan dan proyeksi naga menghantam Raja Kegelapan.
Ledakan dahsyat mengguncang gua. Batu-batu runtuh. Raja Kegelapan meraung kesakitan, tubuh hitamnya retak-retak.
Tapi makhluk itu tidak mati mudah. Ia melepaskan serangan balasan berupa gelombang kegelapan yang menghantam Arkan telak. Arkan terpental, darah menyembur dari mulutnya. Cincin di jarinya bergetar hebat, seolah siap memanggil kekuatan terakhir.
Sela berlari mendekat, memeluk Arkan dan mengalirkan seluruh Qi-nya. “Bangkitlah! Aku di sini!”
Dengan kekuatan gabungan, Arkan berdiri lagi. Matanya berkobar. “Untuk Nusantara… untuk kita!”
Ia menusuk Pedang Raja Naga tepat ke inti Raja Kegelapan. Ledakan terakhir terjadi. Gua berguncang hebat. Raja Kegelapan berteriak kesakitan sebelum hancur menjadi debu hitam yang tersapu angin.
Segel kedua cincin terbuka sepenuhnya. Arkan mendapat warisan lengkap teknik Nascent Soul dan sebuah peta menuju alam rahasia berikutnya.
Setelah pertempuran, Arkan duduk di luar gua, tubuhnya penuh luka. Sela merawatnya dengan telaten, air matanya jatuh saat melihat luka dalam di dada Arkan.
“Kamu selalu membuatku khawatir,” bisik Sela.
Arkan tersenyum lemah, menarik Sela ke pelukannya. “Tapi aku selalu kembali padamu.”
Tim ekspedisi berhasil kembali ke markas dengan kemenangan. Berita penghancuran Raja Kegelapan menyebar cepat. Nama Raja Naga Arkan Wijaya semakin diagung-agungkan di seluruh Nusantara.
Malam kemenangan, Arkan dan Sela merayakan di kamar kerajaan. Arkan yang sudah pulih sepenuhnya mengangkat Sela ke ranjang, mencintainya dengan penuh syukur dan gairah. Mereka menyatu berulang kali hingga subuh, Naga Qi mereka semakin menyatu sempurna.
Di akhir malam, Arkan memeluk Sela erat. “Segel ketiga masih terkunci. Tapi aku merasa… ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Mungkin orang tuaku dulu pergi karena tahu rahasia yang lebih dalam.”
Sela mengangguk di dada Arkan. “Kita akan hadapi bersama. Selamanya.”
Paviliun Naga Emas semakin kuat. Rahasia cincin semakin terkuak. Dan perjalanan Arkan menuju puncak kekuatan sejati baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya.