NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 23 : Ancaman dibalik kabut

Malam yang seharusnya tenang di Kerajaan Valley mendadak berubah menjadi mencekam. Di pinggiran hutan yang membatasi wilayah timur, kabut tebal berwarna abu-abu mulai merayap masuk, menelan cahaya lampu-lampu penjagaan. George berdiri di atas balkon menara pengawas, matanya yang tajam menatap ke arah kegelapan. Tangan kristalnya berdenyut pelan, memberikan sensasi dingin yang tidak biasa.

"Ada yang tidak beres dengan udara malam ini, Celestine." George berkata tanpa menoleh saat mendengar langkah kaki ringan di belakangnya.

Celestine mendekat, ia mengenakan jubah beludru biru tua untuk menghalau angin malam. "Aku juga merasakannya, George. Aliran mana di sekitar paviliun mawar menjadi sangat tidak stabil. Seolah-olah ada sesuatu yang mencoba menyedot energi dari mawar salju kita."

George mengepalkan tangannya. "Bukan hanya mawar itu. Kabut di bawah sana bukan kabut alami. Itu adalah sihir peredam suara milik Orde Kristal Hitam."

"Kau yakin itu mereka? Bukankah Theodore bilang mereka masih jauh di celah pegunungan?" tanya Celestine dengan nada cemas.

"Mereka menggunakan kuda-kuda mekanik dari Ironland yang sudah dimodifikasi. Kecepatan mereka dua kali lipat dari kavaleri biasa." George menjawab sambil meraih pedang hitamnya.

Julian tiba-tiba muncul dari tangga menara dengan napas terengah-engah. "Kak! Laporan dari gerbang timur, dua penjaga ditemukan pingsan tanpa luka fisik. Mana mereka dikuras habis dalam sekejap!"

George menatap adiknya dengan serius. "Itu adalah teknik 'Lintah Jiwa'. Julian, kau tetap di sini bersama Celestine. Aktifkan perisai alkimia tingkat dua sekarang juga."

"Tapi Kak, aku bisa membantu bertarung! Aku tahu cara menghadapi teknik mereka!" protes Julian sambil memegang gagang pedangnya.

"Tidak, Julian. Tugasmu adalah melindungi mawar salju dan Celestine. Jika mawar itu hancur, resonansi energi di kerajaan ini akan kacau, dan itu yang mereka incar." George menegaskan perintahnya.

'Aku tidak boleh membiarkan mereka menyentuh apa yang sudah kita bangun dengan susah payah,' batin George sambil menatap Celestine sejenak.

"Berjanjilah kau akan kembali sebelum kabut ini mencapai istana, George." Celestine memegang lengan George, matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.

"Aku berjanji. Theodore sedang menyiapkan kavaleri cadangan, aku akan menemui mereka di lapangan depan." George memberikan anggukan singkat sebelum melompat turun dari balkon, menggunakan esnya untuk meluncur dengan cepat menuju gerbang timur.

Di lapangan depan, Theodore sudah berdiri dengan zirahnya yang berkilau. Wajahnya tidak lagi santai seperti saat mereka di paviliun. "George! Mereka sudah masuk ke perimeter dalam. Kabut ini membuat para pemanah kita buta!"

"Gunakan panah api alkimia, Theodore! Kita butuh cahaya untuk memecah kabut ini!" teriak George di tengah suara angin yang menderu.

"Sudah dilakukan, tapi apinya padam seketika saat menyentuh kabut itu! Sesuatu di dalam sana memakan energi panas!" balas Theodore sambil menghunus pedangnya.

George berhenti di tengah lapangan, ia memejamkan mata dan mulai memfokuskan mananya ke inti kristalnya. 'Jika mereka memakan panas, maka aku akan memberi mereka dingin yang mutlak.'

"Theodore, tarik semua pasukanmu mundur sepuluh langkah! Aku akan membekukan area ini!" perintah George.

"Kau gila? Jika kau melakukannya sekarang, kau akan menguras seluruh manamu sebelum pertempuran yang sebenarnya dimulai!" seru Theodore.

"Pilihannya adalah aku kehilangan mana atau kita kehilangan seluruh kerajaan ini, Theodore! Mundur!" bentak George.

Theodore akhirnya memberikan tanda mundur. George menarik napas dalam-dalam, ia menghujamkan telapak tangan kristalnya ke tanah marmer. "Beku... Absolut!"

Seketika, gelombang es berwarna putih mutiara merambat dengan kecepatan luar biasa, menabrak kabut abu-abu tersebut. Suara gemeretak kristal yang pecah memenuhi udara. Kabut yang tadinya tebal mulai membeku menjadi butiran-butiran debu es yang jatuh ke tanah, memperlihatkan sosok-sosok berjubah hitam yang berdiri mematung di kejauhan.

"Itu mereka!" teriak salah satu prajurit Valley.

Sekitar dua puluh ksatria Orde Kristal Hitam berdiri dalam formasi lingkaran. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh tinggi dengan topeng perak, melangkah maju. "Lama tidak berjumpa, Jenderal George. Kau tampak jauh lebih lemah sejak kau mulai bermain-main dengan matahari."

George berdiri tegak, meski napasnya sedikit berat. "Kross dan Ironland sudah gagal. Apa yang membuatmu berpikir kau akan berhasil, Vane?"

Pria bertopeng itu tertawa sinis. "Kross adalah seorang teknisi yang bodoh. Kami adalah pemilik sah dari energi yang ada di dalam tubuhmu itu. Kembalikan apa yang menjadi milik Orde, dan mungkin kami akan menyisakan sedikit bagian dari kerajaan indah ini."

"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa selain makam di bawah es ini, Vane." jawab George dingin.

"Sombong sekali. Pasukan! Aktifkan Pemecah Rantai!" perintah Vane.

Para ksatria berjubah hitam itu mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno. Rantai-rantai energi berwarna ungu gelap muncul dari tanah, mencoba melilit kaki George. George melompat mundur, namun rantai-rantai itu terus mengejarnya seolah memiliki nyawa sendiri.

'Mereka benar-benar ingin mengunci aliran manaku,' batin George sambil menangkis salah satu rantai dengan bilah pedangnya.

Tiba-tiba, sebuah bola api emas meluncur dari arah menara istana, menghantam rantai-rantai tersebut hingga hancur menjadi abu. George menoleh dan melihat Celestine berdiri di balkon dengan tangan terangkat.

"Aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkanmu bertarung sendirian, George!" teriak Celestine dari kejauhan.

George tersenyum tipis. "Theodore, sekarang! Serang bagian sayap mereka!"

Pertempuran pecah di tengah lapangan. Kavaleri Valley merangsek maju di bawah lindungan hujan api dari Celestine. George berhadapan langsung dengan Vane. Pedang hitam George beradu dengan tombak kristal milik Vane, menciptakan percikan energi yang sangat kuat hingga menghancurkan marmer di bawah kaki mereka.

"Kau pikir kau bisa menang hanya dengan bantuan putri lemah itu?" ejek Vane sambil menekan tombaknya ke arah dada George.

"Dia tidak lemah, Vane. Dia adalah alasan kenapa aku masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan!" George memutar pedangnya, menggunakan berat pedang besi murninya untuk mematahkan pertahanan Vane.

"Ugh! Besi murni? Kau menggunakan senjata primitif ini?" Vane terhuyung ke belakang, terkejut dengan daya hancur fisik dari pedang George.

"Senjata primitif ini tidak bisa kau sedot energinya, bukan?" George menyerang balik dengan rentetan tebasan yang cepat dan bertenaga.

Di sisi lain lapangan, Julian berhasil melumpuhkan dua ksatria Orde dengan teknik tusukan cepat yang ia pelajari di Utara. "Kak Theodore! Mereka mencoba memutar ke arah paviliun mawar! Tahan mereka di sana!"

Theodore mengayunkan pedang besarnya, membelah perisai lawan. "Jangan khawatir, Nak! Tidak ada yang boleh menyentuh mawar kesayangan adikku!"

Pertempuran berlangsung sengit selama hampir satu jam. Orde Kristal Hitam mulai kewalahan karena kombinasi taktik fisik George dan dukungan sihir dari Celestine. Vane, yang melihat pasukannya mulai tumbang, mengeluarkan sebuah bola kristal hitam dari balik jubahnya.

"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang boleh memilikimu, George! Ledakan Kegelapan!" teriak Vane sambil menghancurkan bola kristal itu di bawah kakinya.

"George, awas! Itu ledakan bunuh diri!" teriak Celestine dengan histeris.

George tidak sempat menghindar. Ia hanya bisa menyilangkan tangannya di depan wajah. Namun, sebelum ledakan itu mengenainya, sebuah perisai es berbentuk kelopak mawar muncul di sekelilingnya, meredam seluruh daya ledak tersebut.

George menoleh dan melihat mawar salju di paviliun bersinar sangat terang, memancarkan gelombang perlindungan ke arahnya. 'Bunga itu... dia melindungiku?'

Asap mulai menipis, memperlihatkan Vane yang sudah tidak bernyawa di tengah kawah kecil. Sisa-sisa Orde Kristal Hitam yang melihat pemimpin mereka tewas segera melarikan diri ke dalam kegelapan hutan.

Keheningan kembali menyelimuti Valley. George berlutut, kelelahan yang luar biasa akhirnya menghantamnya. Theodore segera berlari menghampirinya. "George! Kau masih hidup?"

"Aku... aku tidak apa-apa, Theodore. Bunga itu... dia menyelamatkanku." George menjawab dengan napas tersengal.

Celestine dan Julian berlari mendekat. Celestine langsung memeluk George dengan erat, menangis di bahunya. "Jangan pernah lakukan itu lagi, George. Jangan pernah!"

"Maafkan aku, Celestine. Tapi lihat, kita menang." George mengusap rambut Celestine dengan tangan manusianya.

Julian menatap ke arah paviliun mawar. "Kak, lihat mawar itu. Warnanya berubah menjadi biru tua, seolah-olah dia baru saja menghabiskan banyak energi."

George berdiri dengan bantuan Theodore. "Dia melindungiku seperti aku melindunginya. Sepertinya hubungan kita dengan bunga itu jauh lebih dalam dari yang kita duga."

Theodore menatap pasukannya yang mulai mengurus sisa pertempuran. "Malam ini kita menang, tapi ini baru permulaan. Orde itu tidak akan tinggal diam. Tapi untuk sekarang, mari kita istirahat. Kita berhutang banyak pada mawar itu."

Mereka berjalan kembali menuju istana di bawah cahaya fajar yang mulai menyembul. George menatap langit pagi, menyadari bahwa meskipun ancaman akan selalu ada, ia tidak akan pernah menghadapinya sendirian lagi.

"George," panggil Celestine pelan. "Terima kasih telah menepati janjimu untuk kembali."

George tersenyum, ia menggenggam tangan Celestine erat. "Selama mawar itu masih mekar, aku akan selalu kembali padamu, Celestine."

Asap dari ledakan kristal Vane masih mengepul tipis, menyisakan bau belerang yang menusuk di tengah dinginnya sisa es milik George. Theodore segera memerintahkan pengawal untuk mengamankan perimeter, sementara Julian masih berdiri terpaku menatap mawar salju di paviliun yang perlahan meredupkan cahayanya.

"George, kau benar-benar tidak terluka? Perisai tadi... itu sangat kuat, tapi frekuensinya tidak stabil." Celestine bertanya sambil memeriksa telapak tangan kristal George yang kini tampak sedikit buram.

"Hanya lelah, Celestine. Mana dalam tubuhku terasa seperti baru saja ditarik paksa keluar lalu dikembalikan lagi dalam sekejap." George menjawab sambil mencoba mengatur napasnya.

'Bunga itu merespons emosiku. Bagaimana mungkin sebuah tanaman memiliki kesadaran alkimia setinggi itu?' batin George sambil menatap ke arah paviliun dengan penuh tanya.

"Kak, lihat ini." Julian memanggil dari tepi kawah kecil tempat Vane tewas. Ia menunjuk ke arah serpihan kristal hitam yang masih bergetar. "Ini bukan kristal biasa. Ini adalah pemancar frekuensi jarak jauh. Seseorang di Utara sedang menonton pertempuran kita tadi secara langsung."

Theodore mendekat dan mengerutkan kening. "Maksudmu, penyerangan ini hanyalah sebuah ujian? Mereka mengorbankan dua puluh ksatria elit hanya untuk melihat kemampuan George?"

"Sepertinya begitu, Yang Mulia. Orde Kristal Hitam tidak pernah melakukan penyerangan sembrono tanpa tujuan pengumpulan data." Julian menjelaskan sambil memungut serpihan itu menggunakan sapu tangan.

"Jika itu benar, berarti mereka sekarang sudah tahu tentang hubunganmu dengan mawar salju itu, George." Celestine menatap George dengan wajah yang semakin cemas. "Mereka akan tahu bahwa titik lemahmu adalah bunga itu."

George berdiri tegak, ia menyambar pedang hitamnya yang tertancap di tanah. "Atau mereka baru saja menyadari bahwa titik lemah mereka adalah ketidaktahuan mereka tentang kekuatan baru kita. Theodore, perketat penjagaan di perbatasan. Aku ingin setiap kapal yang masuk diperiksa secara menyeluruh."

"Sudah kualakukan, George. Tapi kita tidak bisa hanya bertahan. Jika mereka sudah mulai menggunakan teknik pemantauan seperti ini, istana kita bukan lagi tempat yang sepenuhnya privat." Theodore berkata sambil menatap menara-menara istana yang menjulang.

"George, mari kita kembali ke paviliun. Aku ingin memeriksa kondisi mawar itu. Warnanya yang membiru tadi benar-benar mengkhawatirkanku." ajak Celestine sambil menarik lembut tangan George.

Mereka berempat berjalan menuju paviliun mawar. Sesampainya di sana, mereka menemukan Master Eldric sedang sibuk mencatat sesuatu di depan pot pualam. Mawar salju itu kini sudah kembali ke warna aslinya, putih dengan tepian biru safir, namun kelopaknya tampak sedikit layu di bagian bawah.

"Master Eldric, bagaimana kondisinya?" tanya Celestine cepat.

"Luar biasa, Tuan Putri! Bunga ini bukan sekadar menyerap mana, dia melakukan 'sinkronisasi jiwa' dengan Jenderal George. Saat nyawa Jenderal terancam, bunga ini mengaktifkan mekanisme pertahanan diri yang seharusnya hanya dimiliki oleh makhluk hidup tingkat tinggi." Eldric menjelaskan dengan mata yang berbinar-binar.

"Apakah itu berbahaya bagi George?" Theodore bertanya dengan nada protektif.

"Untuk sekarang, tidak. Tapi jika bunga ini hancur saat sinkronisasi sedang berlangsung, Jenderal George bisa mengalami guncangan mana yang fatal." Eldric memperingatkan sambil menunjukkan grafik energi pada lembarannya.

'Jadi nyawaku sekarang benar-benar terikat pada bunga ini,' batin George sambil menyentuh kelopak mawar itu dengan ujung jarinya. "Dulu aku adalah budak dari es di Utara, sekarang aku adalah pelindung dari kehidupan di Selatan. Ironis sekali."

"Kau bukan budak, George. Kau adalah bagian dari harmoni ini." Celestine memotong pemikiran George, seolah ia bisa membaca apa yang ada di pikiran ksatria itu.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak?" Julian bertanya pada George. "Kita tidak bisa membiarkan mawar ini berada di tempat terbuka seperti ini jika Orde akan kembali dengan pasukan yang lebih besar."

George menatap Theodore. "Kita harus membangun ruang bawah tanah di bawah paviliun ini. Sebuah bunker alkimia yang dilapisi dengan timah dan emas untuk meredam frekuensi luar. Mawar ini harus menjadi rahasia terdalam kita."

"Aku setuju. Aku akan memerintahkan unit konstruksi rahasia untuk mulai bekerja malam ini juga." Theodore menjawab tegas. "Julian, kau akan membantu Eldric untuk memastikan sistem keamanan Utara juga terpasang di sana."

"Siap, Yang Mulia!" jawab Julian penuh semangat.

Malam itu, meski kemenangan baru saja diraih, tidak ada pesta besar di istana Valley. Para pelayan dan prajurit bekerja dalam kesunyian untuk membersihkan sisa pertempuran. George tetap berada di paviliun, duduk di samping mawar salju sementara Celestine tertidur di sofa di sudut ruangan karena kelelahan.

"Kau benar-benar luar biasa," bisik George pada mawar itu. "Terima kasih telah menjagaku tadi."

Tiba-tiba, salah satu kelopak mawar itu bersinar lembut, mengeluarkan hawa dingin yang menenangkan yang membelai wajah George. George tersenyum kecil, ia menyadari bahwa perjuangannya di Valley bukan lagi sekadar soal politik atau tahta, tapi soal menjaga keajaiban kecil yang telah memberinya kesempatan kedua untuk menjadi manusia.

"George?" suara Celestine terdengar mengantuk.

"Aku di sini, Celestine. Tidurlah lagi." George menyahut lembut.

"Jangan pergi ke mana-mana ya?" Celestine menggumam sebelum kembali terlelap.

"Aku tidak akan ke mana-mana. Aku di rumah." jawab George pelan, sambil menatap fajar yang kini benar-benar telah menyingsing di ufuk timur, membawa harapan bahwa badai malam ini telah berakhir, meski ia tahu badai yang lebih besar mungkin sedang bersiap di luar sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!