NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19: Dia yang Selalu Mengawasi

^^^Senin, 17 September^^^

Pagi itu hujan turun lagi.

Bukan hujan deras seperti beberapa hari terakhir. Hanya rintik-rintik halus yang menempel di kaca jendela, menciptakan pola-pola acak yang tidak bisa ditebak. Azril menatap jendela kamarnya dari tepi kasur. Ponselnya sudah bergetar tiga kali—grup "Empat" ramai sejak pukul enam pagi. Bima mengusulkan strategi baru. Elang memberi instruksi singkat. Faris mengirimkan sketsa pria misterius yang sudah diperbaiki.

Tapi Azril tidak bisa fokus pada semua itu.

Ada sesuatu yang mengganggunya sejak semalam. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia meraih kacamatanya yang masih retak di sudut kiri, memakainya dengan gerakan lambat. Lalu ia membuka ponselnya, membaca ulang pesan-pesan di grup.

Pria itu muncul lagi di dekat gerbang. Aini gak boleh sendirian. Kita harus cari tahu siapa dia. — Elang

Azril menghela napas. Ia bangkit, menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Bayangannya menatapnya dari cermin—wajah pucat, mata sedikit sembab karena kurang tidur.

Kita harus cari tahu.

Tapi bagaimana? Mereka sudah mencoba segala cara. Investigasi Bima gagal total—malah sketsa Faris yang jadi terkenal. Pengawasan Elang tidak membuahkan hasil. Dan Azril sendiri... ia hanya bisa duduk di ruang guru, berpura-pura berkonsultasi dengan Bu Dina, sementara telinganya berusaha menangkap percakapan dari balik dinding.

Tidak ada yang berhasil.

Kecuali kalau...

Azril berhenti. Tangannya yang memegang handuk kecil menggantung di udara. Sebuah pikiran melintas di kepalanya—begitu cepat sehingga ia hampir melewatkannya.

Kecuali kalau orang ini dari luar.

Ia menatap bayangannya di cermin. Pria misterius itu. Rambut pendek. Kacamata tipis. Postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek. Pakaian kasual—kemeja biru tua, celana jeans. Penampilan yang mudah berbaur. Penampilan yang ... normal.

Terlalu normal.

Azril meletakkan handuknya. Ia kembali ke kamar, meraih ponselnya, dan mulai mengetik.

Azril: Lang, lo masih inget ciri-ciri orang itu? Yang di perpus kemarin?

Elang: Masih.

Azril: Rambutnya pendek? Kacamata tipis?

Elang: Iya.

Azril: Tingginya?

Elang: Sekitaran lo. Mungkin lebih pendek dikit.

Azril menatap layar ponselnya. Jantungnya berdebar lebih kencang.

Azril: Gue rasa ... gue pernah liat orang ini.

Bima: SERIUS?! DI MANA?!

Azril: Bukan di sini, tapi di sekolah lama gue.

Hening. Tidak ada yang mengetik selama beberapa detik.

Elang: Lo yakin?

Azril mengetik dengan jari yang sedikit gemetar.

Azril: Gue harus pastiin dulu. Tapi kalo bener ... ini ngejelasin kenapa dia kenal gue. Dia kenal Aini. Dan dia ... dia udah ngawasin dari sebelum semuanya dimulai.

...~•~•~•~...

Sore harinya, Azril berdiri di depan gerbang sekolah lamanya.

SMAN Tunas Bangsa. Bangunannya lebih kecil dari Cempaka 1—hanya tiga gedung utama dengan lapangan basket di tengah. Catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Gerbangnya berkarat. Tempat ini tidak membawa kenangan indah untuknya. Di sini ia adalah anak pindahan yang culun. Di sini ia adalah korban bully. Di sini ia belajar bahwa diam lebih aman.

Tapi hari ini ia bukan ke sini untuk mengenang masa lalu. Ia ke sini untuk mencari jawaban.

"Zril, lo yakin mau ngelakuin ini sendirian?" Suara Bima dari balik ponsel.

"Gue cuma mau mastiin sesuatu. Kalo rame-rame malah ketahuan."

"Tapi—"

"Gue gapapa, Bim. Serius."

Jeda. Lalu suara Elang menggantikan. "Hati-hati. Kalo ada apa-apa, langsung kabarin."

"Pasti."

Azril menutup telepon. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.

Sekolah sudah sepi—pelajaran sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Hanya ada beberapa siswa yang masih berkeliaran: anggota ekskul yang baru selesai latihan, petugas piket yang menyapu halaman, satpam yang duduk di pos dengan koran di tangan.

Azril berjalan menyusuri koridor. Langkahnya menggema di dinding-dinding yang dulu sangat ia kenali. Kelas X-5. Tempat ia dulu duduk di pojok belakang, sendirian, berharap tidak ada yang memperhatikannya. Kelas XI-3. Tempat ia pertama kali di-bully habis-habisan sampai pulang dengan memar di lengan. Perpustakaan. Tempat ia bersembunyi saat jam istirahat, karena kantin terlalu ramai dan terlalu berbahaya.

Ia berhenti di depan papan pengumuman. Matanya menyapu foto-foto kegiatan sekolah: lomba debat, turnamen basket, perayaan 17 Agustus. Dan di sudut kiri bawah, sebuah foto kecil yang membuat napasnya tercekat.

Lomba Pidato Bahasa Inggris. Tiga orang berdiri di atas panggung dengan piala di tangan. Juara 1, 2, dan 3.

Dan di antara penonton yang berfoto bersama, ia melihatnya.

Wajah itu. Rambut pendek. Kacamata tipis. Postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Pria yang sama yang dilihat Elang di perpustakaan. Yang mengawasi Aini. Yang membuat mereka semua waspada selama berhari-hari.

Tapi di foto ini, ia lebih rapi. Seragam putih abu-abu. Lencana OSIS di dada. Senyum tipis yang sama.

Azril menatap foto itu. Jantungnya berdebar keras. Ia mengenali wajah itu sekarang.

"Tono..." bisiknya pelan.

...~•~•~•~...

Setengah jam kemudian, Azril duduk di bangku taman dekat gerbang sekolah. Ponselnya bergetar terus-menerus—grup "Empat" sudah tidak sabar menunggu kabar. Tapi Azril tidak membalas. Ia masih mencerna apa yang baru saja ia temukan.

Tono. Siswa OSIS di SMAN Tunas Bangsa. Satu angkatan di bawahnya. Mereka tidak pernah berinteraksi langsung. Tapi Azril ingat melihatnya beberapa kali—di koridor, di kantin, di lapangan. Tono adalah tipe orang yang mudah berbaur. Tidak populer, tapi juga tidak terkucil. Ramah, tapi tidak terlalu dekat dengan siapa pun.

Dan sekarang Azril tahu: Tono adalah orang yang mengawasi Aini. Tono adalah orang yang mengirim pesan misterius pada 13 Agustus.

Ai, lo tau kan gue suka sama lo dari lama. Tapi kok lo deket banget sama Azril? Apa lo suka sama dia? Jawab!

"Lo kenal dia?" Azril bertanya pada salah satu siswa yang masih berada di sekolah—seorang anak kelas dua yang kebetulan mengenal Tono.

"Kak Tono? Iya, Kak. Dia anak OSIS. Lumayan dikenal sih."

"Dia ... deket sama siapa aja?"

"Biasa aja sih, Kak. Dia tuh orangnya ramah, tapi gak terlalu deket sama siapa-siapa. Cuma dia sering cerita soal—" Anak itu berhenti, ragu.

"Soal apa?"

"Soal acara antar-sekolah. Dia sering ngomongin OSIS sekolah lain, apalagi yang cewe yang jadi ketuanya." Anak itu mengangkat bahu. "Katanya dia pernah ikut acara OSIS gabungan gitu, terus ketemu sama ketua OSIS dari sekolah lain. Kakaknya gak tau sendiri?"

Azril merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. "Ketua OSIS mana?"

"SMAN Cempaka 1, Kak. Namanya ... Aini."

...~•~•~•~...

Malamnya, grup "Empat" ramai seperti biasa. Tapi kali ini Azril yang paling banyak mengetik.

Azril: Namanya Tono. Dia anak OSIS di sekolah lama gue. Gue pernah satu sekolah sama dia, tapi gak terlalu kenal.

Bima: Dia yang ngirim pesan ke Aini?

Azril: Kayaknya. Dia juga yang ngawasin Aini di perpus kemarin.

Elang: Kenapa? Apa hubungannya sama Aini?

Azril: Dia ... suka sama Aini. Udah lama. Kayaknya sejak ada acara OSIS gabungan gitu. Dan dia cemburu karena Aini deket sama gue.

Faris: Cemburu? Tapi kan dia gak kenal lo?

Azril: Dia kenal. Dia tau gue pindah ke Cempaka 1. Dia liat gue sama Aini. Dan dia... dia gak terima.

Jeda panjang.

Bima: Jadi ini semua gara-gara cemburu? Orang ini ngawasin Aini, ngirim pesan aneh, bikin kita semua waspada... cuma gara-gara dia gak terima Aini deket sama lo?!

Elang: Bima, tenang.

Bima: GUE GAK BISA TENANG! AINI ADIK LO! DIA DIANCEM!

Elang: Gue tau. Tapi kita harus mikir jernih.

Azril menatap layar ponselnya. Bima benar. Semua ini gara-gara cemburu. Tapi di saat yang sama, ia merasa lega. Tono tidak berbahaya—setidaknya, tidak seberbahaya yang mereka kira. Ia hanya remaja yang salah mengartikan perasaannya sendiri. Yang memilih mengawasi dari jauh daripada berbicara langsung.

Tapi tetap saja... Azril tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya. Ia tahu bagaimana rasanya menyukai seseorang dari kejauhan. Bagaimana rasanya cemburu tanpa alasan. Bagaimana rasanya takut mengungkapkan perasaan.

Elang: Jadi dia gak ada hubungannya sama amplop?

Azril: Kayaknya enggak.

Elang: Dan sama Pak Kevin?

Azril: Gak juga.

Bima: Jadi kita salah orang?

Elang: Jadi surat itu... masih belum ketemu siapa pengirimnya.

Hening lagi. Tidak ada yang mengetik.

Azril menatap jendela kamarnya. Di luar, rintik hujan mulai turun lagi. Ia merasa aneh. Lega, karena Tono bukan ancaman serius. Tapi juga gelisah, karena mereka masih belum tahu siapa yang mengirim amplop bertinta merah itu.

SEHARUSNYA KALIAN MATI!!!

Surat itu masih ada di luar sana. Pengirimnya masih misterius. Dan ancamannya... masih nyata.

Azril: Gue besok mau ngomong sama Tono.

Elang: Sendirian?

Azril: Iya. Dia bukan orang jahat. Dia cuma ... butuh seseorang yang ngomong sama dia.

Bima: Lo yakin?

Azril: Gue yakin.

Ponsel Azril bergetar lagi. Tapi kali ini bukan dari grup "Empat." Sebuah pesan pribadi. Dari Aini.

Aini: Zril, besok aku ada urusan OSIS. Tapi kalo kamu ada waktu, aku mau ngomong sesuatu. Soal ... soal perasaanku.

Azril menatap layar ponselnya. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

Ia belum membalas. Tapi ia tahu, besok akan menjadi hari yang panjang.

Di luar, hujan semakin deras. Dan di dalam kamarnya yang sempit, Azril menggenggam pion catur putih—pion yang hampir menjadi menteri.

Satu langkah lagi, pikirnya. Satu langkah lagi.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!