NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Satu minggu berlalu sejak kejadian di rumah sakit itu dan Inara benar-benar menghilang tanpa kabar. Tidak ada lagi pesan singkat yang biasanya selalu memenuhi ponsel Reno, bahkan hanya untuk sekadar mengingatkannya makan atau bertanya kapan ia pulang. Wanita itu juga tidak pernah datang lagi menjenguk Zidan, bahkan setelah kondisi anak itu membaik dan akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Rumah yang biasanya terasa hidup kini mendadak berubah asing bagi Reno.

Pria itu berdiri di ruang tengah sambil menatap sekeliling rumahnya yang terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah kecil yang berlari menyambutnya bersama suara Inara dari dapur. Tidak ada aroma makanan hangat yang biasa sengaja disiapkan meski larut malam. Bahkan hal sederhana seperti pintu rumah yang langsung terbuka saat ia pulang pun kini tidak ada lagi.

Anehnya, Reno baru sadar betapa terbiasanya ia dengan semua itu setelah semuanya menghilang sekaligus.

"Lumah ndak ada Mama, cepi ya…" gumam Zidan pelan dari atas sofa.

Suara kecil itu membuat Reno tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Zidan duduk sambil memeluk boneka kecilnya dengan wajah murung.

Di samping anak itu, Zoya ikut duduk lalu mengusap kepala Zidan lembut.

"Kan ada Bunda," ucapnya pelan sambil tersenyum hangat. "Jadi Idan gak akan kesepian lagi."

Zidan langsung memeluk Zoya erat.

"Bunda Oya gak akan pelgi kan?" tanyanya polos.

Zoya tersenyum tipis lalu membalas pelukan itu dengan lembut. "Enggak, sayang. Bunda akan selalu ada di sisi Zidan."

Namun beberapa detik kemudian, ia melanjutkan dengan nada yang terdengar hati-hati. "Tapi Bunda gak bisa nemenin Idan tidur di sini."

Zidan langsung mendongak bingung, dan bertanya, "Kenapa?"

Zoya melirik sekilas ke arah Reno sebelum kembali menatap Zidan.

"Karena hubungan Bunda sama Ayah sekarang gak baik kalau tinggal serumah lagi," ucapnya pelan, seolah hanya menjelaskan sesuatu pada anak kecil. Namun entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sengaja diarahkan pada Reno juga.

Zidan tampak belum puas dengan jawaban itu. Ia langsung menoleh pada Reno yang sejak tadi hanya diam dan tampak tidak terlalu fokus pada obrolan mereka.

"Ayah…" panggilnya pelan. "Bunda Oya di sini aja ya."

Reno terdiam beberapa saat. Tanpa sadar, pandangannya jatuh pada kursi makan yang kosong, tempat Inara biasanya duduk sambil menunggunya pulang. Dulu, setiap kali ia membuka pintu rumah, selalu ada suara langkah kecil yang menyambutnya, aroma makanan hangat yang sengaja disiapkan, atau sekadar pertanyaan sederhana yang kini justru terasa paling dirindukan.

Sekarang rumah itu tetap ramai oleh suara Zidan dan kehadiran Zoya, tetapi entah kenapa suasananya terasa asing dan terlalu sunyi.

"Ayah…" panggil Zidan lagi, kali ini sedikit lebih keras karena Reno tak kunjung menjawab.

Reno tersentak pelan lalu menoleh. "Hm? Iya, kenapa?"

"Bunda Oya boleh nemenin Idan tidul?" tanya Zidan polos sambil memeluk lengan Zoya.

Reno mengusap wajahnya singkat, masih terlihat lelah. "Itu tergantung Bunda Oya mau atau enggak," jawabnya santai, tanpa benar-benar memikirkan maksud di balik permintaan itu.

Namun jawaban itu justru membuat mata Zoya sedikit berbinar. Ia menoleh pada Reno, seolah memastikan lelaki itu serius dengan ucapannya.

"Kamu yakin, Ren?" tanyanya hati-hati.

"Hm." Reno mengangguk singkat sambil meraih kunci mobil di atas meja. "Atur saja, Zo. Aku masih ada urusan. Tolong jagain Zidan dulu."

Senyum tipis langsung terbit di bibir Zoya, meski buru-buru ia sembunyikan di balik ekspresi lembutnya.

"Iya, tenang aja. Aku pasti jagain dia," jawabnya pelan. "Kamu pergi saja."

Zidan langsung bersorak kecil lalu memeluk Zoya semakin erat, membuat wanita itu tertawa pelan sambil mengusap rambutnya penuh kasih.

Sementara itu, Reno hanya berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah menuju pintu, langkahnya kembali melambat.

***

Di sebuah kafe bernama Mentari, Reno duduk dengan wajah lelah sambil menatap gelas kopinya yang sejak tadi hampir tidak disentuh.

"Anakmu sudah sembuh?" tanya Bram sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Bram sudah mengenal Reno sejak mereka masih sama-sama hidup bebas tanpa beban rumah tangga. Ia juga menjadi salah satu orang yang tahu bagaimana Reno memperjuangkan Inara dulu, sampai akhirnya hubungan mereka berubah serumit sekarang.

Karena itu, begitu melihat wajah Reno yang kusut dan kehilangan fokus, Bram langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Nyesel, kan?" cetusnya santai. "Inara beneran pergi sekarang."

Reno mendecakkan lidah pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku gak mau bahas itu."

"Bohong." Bram terkekeh kecil. "Kalau gak kepikiran, kamu gak mungkin mukanya kayak orang kurang tidur begini."

Reno mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Dia terlalu egois," gumamnya pelan. "Pernikahan tinggal sebentar lagi, tapi malah ngilang satu minggu tanpa kabar."

Bram langsung mengernyit mendengar itu.

"Reno," ucapnya serius, "wanita mana yang bakal tahan kalau di hubungannya masih ada mantan istri yang selalu kamu prioritaskan?"

Reno terdiam.

"Apalagi kamu selalu ada buat Zoya," lanjut Bram tanpa ragu. "Dari sudut pandang Inara, itu jelas nyakitin."

Rahang Reno mengeras pelan. Ia lalu meraih gelas kopinya, tetapi urung meminumnya.

"Mau gimana lagi?" sahutnya akhirnya. "Aku cuma mau Inara sadar kalau Zidan itu bukan batu loncatannya."

Bram langsung menatap Reno tajam. "Maksud kamu?"

Reno terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berbicara lagi dengan suara lebih rendah. "Waktu di rumah sakit… aku gak sengaja dengar dia ngobrol sama temannya."

Kenangan itu langsung terlintas di kepalanya. Saat itu Inara sempat dirawat karena kelelahan. Reno yang baru pulang kerja langsung pergi ke rumah sakit untuk menemaninya. Namun ketika hendak masuk ke ruang rawat, langkahnya terhenti karena mendengar suara Inara dari balik pintu yang sedikit terbuka.

"Kalau nanti aku punya anak sendiri…" suara Inara terdengar pelan diselingi tawa kecil lelah, "tentu aku bakal lebih sayang sama anak kandungku."

Temannya langsung menatap heran. "Kamu serius ngomong begitu?"

"Ya iya," jawab Inara santai tanpa sadar ada Reno di luar ruangan. "Bagaimanapun anak kandung pasti lebih berharga dibanding anak sambung."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Reno bahkan sampai sekarang.

"Aku dengar sendiri semuanya," ucap Reno lirih sambil menatap meja. "Sejak saat itu aku mulai sadar… mungkin selama ini dia memang gak pernah sepenuhnya nganggep Zidan sebagai anaknya."

Bram tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap Reno cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Lalu setelah itu?" tanyanya akhirnya.

Reno mengernyit. "Apa?"

"Kamu masuk dan nanya langsung ke Inara soal itu?"

Reno terdiam.

Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Bram langsung mengembuskan napas kasar sambil menggeleng pelan. "Jadi kamu mutusin semuanya sendiri cuma dari percakapan yang bahkan gak kamu dengar utuh?"

"Aku dengar jelas apa yang dia bilang."

"Tapi kamu gak tahu konteksnya." Bram menatap Reno serius. "Dan kalau selama ini Inara emang setulus itu sama Zidan, harusnya kamu juga cukup kenal dia buat tahu mana ucapan sesaat dan mana isi hatinya."

Reno terdiam lagi sambil bergumam, "Apa aku selama ini salah paham padanya?"

1
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
Anonim
Dih jangan mau inara emang maaf doang bakal kelar gitu aja laki g jelas
Anonim
Lah emang si zoya belum cerai sama di reno?aneh banget si reno mau ngawinin si inara tapi belum cerai laki laki g jelas
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nah iya, 4 th pergi jadi udh cerai belum ya 🤭
total 1 replies
Anonim
Jangan bikin inara balik sama reno y thor biarin aja si szidan sama emak bapak nya
A'ra
Cepet up lagi yah kak dan semangat nulisny 🥰🫶🏻💪🏻💪🏻
Anonim
Jangan sampe inara balik sama reno ya thor g iklas aku,biar inara jadi ibu sambung baba aja
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤭🤭🤭 coba tanya inara apa dia mau atau gak kak
total 1 replies
Dew666
💝💝💝
Anonim
Inara ko bloon sih menye menye banget jadi cewe,laki masih demen ama mantan ko masih aja di pikirin
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: sabar kak, dia gak bodoh, hanya terbawa perasaan🤭
total 1 replies
Dew666
👄👄👄👄
Dew666
Pigi aja drpd jd bulan bulanan mereka huffff
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hooh, mending pergi ya kak
total 1 replies
Dew666
☀️☀️☀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!