NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Kepergian dan Luka yang Berbisik

​Lampu ruangan VVIP rumah sakit itu berpendar redup, kontras dengan ketegangan yang memuncak di antara tiga orang di dalamnya. Bara masih berdiri tegak di samping ranjang Vanya, tangannya baru saja meletakkan mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis. Di sudut ruangan, Devan duduk di sofa kulit dengan kaki menyilang, matanya tak lepas dari layar ponsel, seolah dunia di sekitarnya tidak lebih penting dari sekadar notifikasi digital.

​Tiba-tiba, ponsel di saku jaket Bara bergetar. Ia merogohnya, melihat nama yang tertera di layar, dan rahangnya mengeras sesaat. Ia menjauh beberapa langkah menuju jendela besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota, lalu menjawab panggilan itu dengan suara rendah.

​"Ya, Ma?"

​Hening sejenak. Hanya terdengar gumaman suara wanita dari seberang telepon. Ekspresi Bara yang tadinya tenang namun tajam, perlahan berubah menjadi serius.

​"Sekarang? Tapi aku masih ada urusan di sini... Baiklah. Aku mengerti."

​Bara menutup teleponnya. Ia menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Vanya. Ada gurat penyesalan yang sangat tipis di matanya, sesuatu yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.

​"Vanya," panggil Bara pelan.

​Vanya mendongak, mencoba mengabaikan denyut di kepalanya. "Ada apa, Bara?"

​"Ibuku menelepon. Ada keadaan darurat dengan kesehatan nenek di Amerika. Aku harus pulang malam ini juga," ucap Bara. Ia melirik ke arah pintu. "Aku harus menemui Paman Davit sebentar untuk berpamitan, lalu langsung menuju bandara."

​Mendengar itu, Vanya merasakan secercah rasa kehilangan yang aneh. Di rumah yang asing dan penuh duri ini, Bara adalah satu-satunya orang yang memberinya rasa aman, meskipun hanya sesaat. Namun, Vanya tahu ia tidak punya hak untuk menahan pria itu.

​"Begitu ya... Terima kasih untuk semuanya, Bara. Hati-hati di jalan," ucap Vanya dengan senyum yang dipaksakan. Ia hanya bisa mengangguk lemah sebagai tanda perpisahan.

​Bara tidak langsung pergi. Ia melangkah mendekati ranjang, menatap Vanya lekat-lekat seolah ingin memastikan wanita itu akan baik-baik saja. "Ingat pesanku, Vanya. Jangan biarkan dirimu hancur hanya karena orang-orang yang tidak tahu cara menghargaimu."

​Setelah memberikan tatapan peringatan terakhir ke arah Devan yang masih sibuk dengan ponselnya, Bara berbalik dan melangkah keluar. Pintu tertutup dengan suara pelan, meninggalkan Vanya kembali dalam kesunyian bersama pria yang berstatus suaminya, namun terasa seperti orang asing yang paling jauh.

​Sepuluh menit berlalu tanpa suara. Satu-satunya bunyi di ruangan itu adalah denting jarum jam dan ketukan jari Devan di layar ponselnya. Vanya menatap langit-langit, mencoba menelan bubur yang dibawa Bara, namun rasanya seperti menelan pasir. Hambar dan menyakitkan.

​Tiba-tiba, Devan mendengus. Ia mematikan layar ponselnya dan bangkit dari sofa. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang bertahtakan emas putih.

​"Sudah lima belas menit," ucap Devan datar. Ia berjalan menuju ranjang Vanya, namun langkahnya tidak menunjukkan rasa khawatir sedikit pun. "Walaupun terasa sangat membosankan, adegan romantis kalian tadi cukup menghibur untuk disaksikan."

​Vanya tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya di balik selimut.

​Devan berjalan melewati ranjang, menuju pintu. Namun, baru melangkah lima langkah, ia mendadak berhenti. Keheningan ruangan itu terasa semakin mencekam saat Devan berbalik dan berjalan kembali mendekati Vanya.

​Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Vanya hingga Vanya bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur aroma cerutu yang mahal. Nafas Devan terasa hangat di kulitnya, namun kata-kata yang keluar dari mulutnya sedingin es kutub.

​"Kuberitahu satu hal, Vanya," bisik Devan dengan nada yang sangat rendah dan penuh racun. "Kalau kau ingin berselingkuh, seharusnya kau lebih pintar. Cari laki-laki lain di luar sana, jangan terus-menerus merayu sepupumu sendiri."

​Vanya tersentak. Matanya membelalak menatap bantal di depannya. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah—"

​"Diam," potong Devan, suaranya tajam seperti belati. "Kau pikir aku buta? Cara dia menatapmu, cara kau bergantung padanya... itu menjijikkan. Kau adalah menantu Jacob sekarang. Jaga martabatmu, atau setidaknya jangan buat aku semakin muak melihat wajahmu."

​Devan menjauhkan wajahnya, menatap Vanya dengan pandangan menghina seolah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Tanpa menunggu pembelaan diri dari Vanya, Devan berbalik dan melangkah keluar dengan angkuh.

​Brak!

​Pintu tertutup keras, meninggalkan gema yang menyakitkan di telinga Vanya.

​Vanya masih terpaku di posisinya. Kata-kata Devan barusan terasa lebih menyakitkan daripada hantaman vas bunga yang membuat kepalanya berdarah. Ia dituduh berselingkuh oleh pria yang bahkan tidak sudi pulang ke rumah di malam pertama mereka karena memilih tidur di apartemen kekasihnya.

​Pertahanannya runtuh. Vanya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat saat isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Air mata menetes tak tertahan, membasahi pipinya.

​Di tengah kemewahan kamar VVIP itu, di bawah perlindungan nama besar Jacob yang dipuja-puji orang banyak, Vanya Benjamin menyadari bahwa ia bukan sekadar istri pajangan. Ia adalah tawanan dalam sebuah permainan yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara memenangkannya.

​Ia menangisi nasibnya, menangisi kepergian Bara yang merupakan satu-satunya sandarannya, dan menangisi hatinya yang mulai hancur berkeping-keping tepat di tangan pria yang seharusnya melindunginya.

​Sementara itu, di lorong rumah sakit, Devan berjalan dengan langkah lebar. Ia mengeluarkan ponselnya lagi dan menelepon seseorang.

​"Kenzi, pastikan semua media mendapatkan foto aku keluar dari rumah sakit dengan wajah sedih," ucap Devan tanpa emosi. "Dan satu lagi... cari tahu kapan tepatnya Bara berangkat ke Amerika. Aku ingin memastikan dia benar-benar pergi."

​Devan menutup teleponnya. Di balik wajahnya yang sombong, ada sesuatu yang bergejolak yang tidak ia pahami. Ia menyebutnya kemarahan karena harga diri yang terlukai, tapi jauh di dalam sana, ada rasa tidak nyaman yang ia sendiri belum berani mengakuinya sebagai kecemburuan.

​Malam itu, di bawah langit kota yang mendung, dua orang terpisah oleh dinding rumah sakit—satu dengan hati yang membatu, dan satu lagi dengan hati yang hancur berserakan. Dan di bandara, Bara Jacob menatap dari jendela pesawat, berjanji dalam hati bahwa kepergiannya hanyalah jeda sebelum ia kembali untuk mengambil apa yang seharusnya dijaga dengan lebih baik.

​Lima bulan telah berlalu sejak malam berdarah di mansion Jacob dan keberangkatan Bara ke Amerika. Selama itu pula, tidak ada satu pun kabar, pesan, atau telepon dari pria itu. Bara Jacob seolah menghilang ditelan bumi, meninggalkan Vanya dalam kesunyian yang semakin mendalam di tengah hiruk-pikuk keluarga Jacob.

​Namun, lima bulan itu pula yang mengubah Vanya Benjamin.

​Dunia mengenal Vanya sebagai "Istri Pajangan" Devan Jacob yang malang, namun dunia tidak tahu siapa Vanya sebenarnya di balik pintu tertutup. Tanpa bantuan sepeser pun dari harta keluarga Benjamin ataupun kekayaan suaminya, Vanya telah membangun kerajaannya sendiri.

​Ia adalah pemilik sekaligus otak di balik "LUMINA Jewelry", sebuah jenama perhiasan mewah yang kini menjadi tren di Paris, New York, hingga Hong Kong. Dengan desain yang memadukan keanggunan klasik dan kekuatan modern, perhiasan Vanya menjadi simbol wanita mandiri. Secara finansial, Vanya bahkan bisa membeli separuh saham perusahaan suaminya jika ia mau.

​Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: Mengapa wanita sekuat dan sekaya Vanya mau bertahan dalam pernikahan yang menghancurkan harga dirinya?

​Jawabannya sederhana namun menyakitkan: Devan Jacob adalah cinta pertamanya.

​Ingatan itu masih tersimpan rapi di benak Vanya. Saat mereka masih kuliah di London bertahun-tahun lalu, Devan adalah sosok yang berbeda. Dia adalah pria yang pernah meminjamkan jaketnya saat Vanya menggigil di perpustakaan, pria yang pernah berdebat seru dengannya tentang teori ekonomi di kafe kecil dekat kampus. Bagi Devan, mungkin itu hanya interaksi biasa antar mahasiswa, tapi bagi Vanya, itulah saat ia menyerahkan hatinya.

​Vanya menerima perjodohan itu bukan karena paksaan ayahnya, melainkan karena ia berharap bisa mendapatkan kembali sosok Devan yang dulu ia kagumi. Ia mengira cinta bisa mengubah segalanya. Namun kenyataannya, Devan yang ia nikahi adalah pria yang hatinya sudah terkunci rapat untuk wanita lain.

​Sore itu, Vanya sedang duduk di kantor pribadinya yang terletak di penthouse rahasia miliknya, meninjau laporan penjualan kuartal terakhir. Ia mengenakan setelan jas putih yang sangat elegan, jauh dari kesan "istri penurut" yang biasa ia tunjukkan di mansion.

​Pintu kantor terbuka, dan Sesilia masuk dengan langkah cepat. "Nona, ada undangan untuk acara peragaan busana amal malam ini. Seluruh keluarga Jacob akan hadir, dan Nyonya Olivia bersikeras Anda harus memakai koleksi lama milik keluarga Jacob."

​Vanya menutup tabletnya, lalu tersenyum tipis. Senyum yang kini tampak lebih tajam dan percaya diri.

​"Katakan pada Ibu Mertua, aku akan datang. Tapi aku tidak akan memakai perhiasannya," ucap Vanya tenang. "Malam ini, aku akan memakai koleksi terbaru dari Lumina yang belum pernah dirilis. 'The Broken Crystal'. Koleksi yang terinspirasi dari luka yang mengering."

​Sesilia mengangguk bangga. Ia adalah satu dari sedikit orang yang tahu betapa berkuasanya Vanya di dunia bisnis internasional.

​Malam harinya, di acara amal tersebut, Devan hadir lebih dulu bersama Viona. Meskipun mereka tidak bisa masuk bersama ke karpet merah, Devan memastikan Viona mendapatkan kursi di barisan depan. Devan tampak bosan, sesekali melirik jam tangannya, menunggu kedatangan Vanya yang biasanya akan datang dengan penampilan yang sudah diatur oleh ibunya.

​Tiba-tiba, suasana riuh rendah mereda saat sebuah mobil mewah berhenti di depan lobi. Bukan mobil Rolls-Royce milik keluarga Jacob, melainkan sebuah mobil custom hitam yang hanya ada tiga di dunia.

​Vanya keluar dari mobil tersebut. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Namun yang menjadi pusat perhatian adalah kalung berlian hitam di lehernya yang berkilau sangat kontras dengan kulit putihnya.

​Langkah Vanya tenang dan berwibawa. Saat ia masuk ke dalam gedung, ia tidak mencari Devan. Ia berjalan melewati suaminya seolah pria itu hanya dekorasi ruangan.

​"Vanya?" gumam Devan tak percaya.

​Ia tidak pernah melihat Vanya seperti ini. Selama lima bulan, ia pikir Vanya hanyalah wanita yang mengurung diri karena depresi atau sibuk mengurus rumah. Ia tidak menyadari bahwa wanita di depannya adalah salah satu wanita terkaya di Asia yang baru saja masuk daftar Fortune 50.

​Di tengah keramaian itu, Vanya berhenti di depan Devan dan Viona. Ia menatap Viona dengan tatapan yang sangat tenang, lalu beralih ke Devan.

​"Kau telat lima menit untuk pembukaan, Devan," ucap Vanya tanpa nada marah, hanya sebuah observasi profesional.

​"Dari mana kau mendapatkan perhiasan itu? Ibu menyuruhmu memakai warisan keluarga," desis Devan, merasa otoritasnya (dan ibunya) ditantang.

​"Perhiasan ini?" Vanya menyentuh kalungnya perlahan. "Ini nilainya cukup untuk membeli seluruh apartemen tempat kau tinggal bersama Viona. Aku tidak butuh warisan ibumu untuk terlihat cantik."

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!