NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Ikhlas Saja

Pikiran Ayu mulai kosong, terhipnotis dengan ketampanan Arvin yang begitu dekat. 

Sorotan mata mereka saling tarik-menarik lekat.

Samar-samar, Ayu seperti menemukan sesuatu di sana, jauh di dalam mata Arvin yang hitam dan dingin itu, tersimpan sebuah kesepian.

Satu tangan Arvin masih memegangi lengan Ayu yang memar. Sementara tangan satunya kini bergerak melingkar ke pinggang Ayu.

Ayu tersentak maju dibuatnya. Deru napas mereka kini sama-sama memburu.

Perlahan, kepala Arvin bergerak turun.

Bibir tipis Ayu bersentuhan dengan bibir tebal menawan Arvin.

Ayu terbelalak sempurna.

Terbuai, kelopak matanya jadi turun setengah meredup. 

Tubuh Ayu melemas.

Bibirnya menikmati.

Jiwanya melayang-layang.

Arvin tidak memberikan lumatan buas yang dalam. Hanya seperti sentuhan lembut. Bahkan tidak ada suara decakan.

Akan tetapi, cukup mengubah sensasi kacau di dalam tubuh Ayu, yang kini seakan merasakan nikmatnya berbaring di atas awan.

Puas, Arvin melepas bibirnya dari Ayu. 

Dia mundur perlahan.

Sementara Ayu berubah menjadi seperti orang sedang belajar berjalan. Jiwanya yang melayang belum sepenuhnya kembali ke tubuh aslinya. 

Ayu baru akan mengajukan pertanyaan, tapi suaranya tiba-tiba tersangkut di tenggorokan.

Itu karena dia mendapati raut wajah Arvin seperti diterpa badai kebingungan.

Tak lama, Arvin balik badan dan pergi tanpa kata-kata.

“Pak Arvin …!”

Bibir Ayu gemetar. Ingin mengejar tapi kakinya tertahan di ambang pintu. 

...***...

Paginya.

Ayu menyantap pelan sarapannya sambil terus menunggu pria di seberang meja sana berbicara, menunggu penjelasan Arvin tanpa disuruh menjelaskan.

Kenapa Arvin menciumnya, lalu pergi begitu saja?

Ayu sangat penasaran alasannya. Dia bahkan dibuat tidak bisa tidur semalaman.

Ayu curi-curi pandang, tapi pria itu terlihat tenang dan dingin seperti biasa, menyantap dengan elegan tanpa ada raut gelisah seperti yang Ayu alami sekarang.

Seolah perbuatannya semalam hanya angin lewat yang gampang diabaikan.

Lantaran tidak tahan, Ayu meneguk air putihnya hingga setengah gelas sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya duluan.

“Soal semalam apa bapak bisa menjelaskan?” tanya Ayu pelan.

Arvin langsung menjawab sambil tetap fokus ke sarapannya. “Yang mana?”

“Yang …. Bapak lakukan ke saya semalam.”

“Oh …”

Arvin selesai sarapan, minum, dan langsung berdiri.

“Lupakan saja. Aku mau berangkat kerja,” katanya langsung bergegas pergi.

Ayu menekuk bibir. Piringnya yang masih terisi makanan didorong pelan ke depan.

Nafsu makannya langsung hilang.

Sungguh, Ayu benar-benar penasaran alasannya apa. Tapi mana mungkin bisa memaksa Arvin untuk mau menjawab. Bisa-bisa malah diomelin balik.

Rapat pagi ini serius seperti biasa. Beberapa perwakilan divisi hadir dalam ruang rapat, menyimak penjelasan dari seorang manajer dari divisi keuangan.

Arvin duduk diantara mereka tapi sejak mulai rapat hingga sekarang pikirannya terus kemana-mana.

Arvin menyender dengan sorot tatapan kosong. Kepalanya hanya berisi lembutnya bibir Ayu semalam.

Memabukkan sekaligus menyebalkan. Ingin lepas dari ingatan itu tapi tak kunjung bisa. Justru semakin menghantui.

Arvin tidak tahan.

Bruk!

Arvin memukul keras meja. 

Orang-orang di ruang rapat kompak tersentak kaget, dan menoleh ke CEO mereka dengan wajah takut, terutama si manajer yang sedang presentasi di depan sana.

“Maaf Pak, apa ada yang salah dengan presentasi saya?” tanya manager itu gugup. 

Arvin baru sadar akan perbuatannya setelah mendengar pertanyaan itu.

Arvin mendorong kursinya ke belakang, dan berdiri.

“Tidak. Saya izin keluar.”

Sang CEO lantas keluar dengan langkah cepat nan lebar. Ketika pintu tertutup kembali, suara bisik-bisik ruangan mengalun.

“Sepertinya Pak Arvin kurang sehat hari ini?”

“Benar. Wajahnya sedikit pucat.”

Arvin pergi menuju ruang kantornya. Begitu sampai di meja kerja, dia menghempas diri ke kursi.

Dia memijat kening dalam-dalam. Dan wajahnya memang nampak pucat karena sejak keluar dari kamar Ayu semalam, ia tidak bisa tidur hingga subuh.

Arvin benar-benar menyesal. Seharusnya semalam bisa lebih mengontrol diri. 

Gara-gara kegagalannya, lagi-lagi harus memutar otak. Mencari cara agar cinta di hatinya kepada sang mantan tidak surut gara-gara Ayu.

Lantas, Arvin segera menelpon asisten bagian pengaturan jadwal rapat.

“Batalkan rapat jam 5 nanti.”

“Saya ingin bersantai sejenak.”

...***...

Hidangan makan malam sebentar lagi matang.

Ayu sedang masak menu steak kesukaan Arvin dan beberapa menu lain. 

Sesekali ia menghela napas panjang yang jelas dari suara hembusannya, bernada sangat lelah.

Lelah karena sepanjang hari ini, sensasi lumatan lembut bibir Arvin terus saja meneror ingatannya. Ayu bahkan masih bisa merasakan hangatnya.

Tidak bisa dipungkiri, pengalaman ci u man itu terlalu memabukkan. Setiap mengingatnya, jantung Ayu meloncat-loncat tak karuan.

Hanya saja, seharian ini Ayu juga sudah merenung sekuat tenaga dan sampai akhirnya, ia membuat kesimpulan sendiri kalau Arvin menciumnya bukan karena alasan cinta.

“Ayu! Sudah jangan ingat hal itu terus. Dia gak cinta kamu. Dia ngelakuin itu cuma gara-gara kanget sama mantannya!” rutuk Ayu kepada diri sendiri sembari mengaduk-aduk masakan.

Begitulah kesimpulan yang Ayu buat sendiri sekarang.

Ayu teringat, selesai Arvin mendaratkan ciuman kemarin malam, ia sempat mendapati wajah suaminya tiba-tiba berubah seperti dilanda kebingungan.

Seperti seseorang yang baru melakukan hal yang tidak sengaja dilakukan.

Dari ingatan itu, Ayu berkesimpulan; mungkin Arvin sedang rindu mantan masa lalunya, lalu melampiaskannya dengan mencium bibirnya.

Apalagi alasan Arvin selama ini tidak mau mengakui Ayu jadi istri karena memang masih cinta sama mantan masa lalunya itu.

Kalaupun Arvin tiba-tiba bersikap romantis kepada Ayu di depan banyak orang, itu pasti cuma akting untuk kebutuhan nama baik.

Jadi, Ayu akan berusaha sekuat tenaga untuk melupakan ci uman itu. Sama seperti Arvin yang mungkin sudah tidak mengingatnya.

Fokus Ayu sekarang hanya ingin terus menjadi istri yang baik saja, tanpa terlalu berharap banyak kedepannya.

Yang penting sudah berusaha dan ikhlas. 

Dan ini adalah bukti, betapa tulusnya Ayu mencintai Arvin meski pria itu tidak bisa mencintai balik.

Hidangan di meja makan sudah siap. Ayu segera membawa beberapa piring untuk diletakkan di meja makan.

Ayu mengambil satu piring yang sudah dicuci di wastafel.

Tiba-tiba.

Prank!

Piring yang Ayu pegang terlepas dan jatuh pecah dilantai.

“Ya ampun. Aku teledor banget!” seru Ayu.

Baru akan menunduk mengambilnya, tiba-tiba telepon rumah berdering.

Ayu memilih pergi mengangkat telepon itu terlebih dahulu.

“Apa benar ini kediaman pak Arvin?” tanya suara dari seberang telepon sana.

“Iya. Saya istrinya.”

“Saya memberitahukan suami anda kecelakaan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!