Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Suara Hening di Lorong Sempit
Deru mesin dan teriakan amarah dari simpang tiga perlahan memudar, berganti dengan suara derap langkah kaki mereka yang bergesekan dengan konblok berlumut. Gang kecil itu diapit oleh dinding-dinding bata tua yang tinggi, memisahkan mereka dari dunia luar yang tengah memanas. Cahaya matahari sore hanya mampu menyusup lewat celah-celah sempit di atas kepala, menciptakan bayang-bayang panjang yang mengikuti langkah mereka.
Begitu dirasa cukup jauh dari jangkauan lemparan batu, Jenawa menghentikan langkahnya. Pemuda itu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Sinaca, membiarkan jemarinya yang kasar kembali mengepal di sisi tubuh. Napasnya sedikit memburu, bukan karena kelelahan berlari, melainkan karena gejolak asing yang memalu rongga dadanya.
Sinaca mundur selangkah. Gadis itu merapikan kerah seragamnya dan membenarkan letak buku-buku yang sedari tadi ia dekap erat. Meskipun napasnya juga sedikit tersengal, raut wajahnya dengan cepat kembali menampilkan ketenangan yang selalu menjadi perisainya.
"Tindakan Anda barusan sangatlah gegabah, Saudara Jenawa," ucap Sinaca, memecah kesunyian gang tersebut. Nada suaranya tidak meninggi, namun sarat akan teguran. "Saya bukanlah anak kecil yang tidak bisa menjaga diri sendiri."
Jenawa menyandarkan sebelah bahunya pada dinding bata, menatap gadis di hadapannya dengan saksama. "Menjaga diri sendiri dengan cara berjalan lurus menembus tawuran antara dua kubu yang sedang kalap? Itu bukan sebuah keberanian, Sinaca. Itu adalah sebuah kebodohan yang dibalut oleh keras kepala."
"Dan Anda menyebut tindakan kawan-kawan Anda di luar sana sebagai sebuah kepintaran?" balas Sinaca tajam. Sorot mata kecokelatannya menantang tatapan Jenawa. "Menyelesaikan selisih paham dengan kekerasan di tengah jalan umum, meresahkan warga, dan mempertaruhkan masa depan hanya demi sebuah kebanggaan semu. Apakah itu yang Anda sebut sebagai sikap seorang ksatria?"
Jenawa terdiam. Biasanya, jika ada yang berani merendahkan solidaritas kelompoknya, kepalannya akan melayang lebih dulu sebelum kata-kata terucap. Namun, saat berhadapan dengan Sinaca, segala amarah itu menguap begitu saja. Ada kebenaran mutlak dalam setiap silabel yang diucapkan gadis itu, sebuah kebenaran yang selama ini selalu ia tolak untuk diakui.
"Aku tidak meminta persetujuanmu atas caraku hidup di jalanan," jawab Jenawa perlahan, suaranya melembut, menyisakan kejujuran yang jarang ia perlihatkan. "Tapi di saat batu-batu mulai melayang, aku tidak bisa membiarkan ego sekolah mana pun melukaimu. Hanya itu alasanku menarikmu kemari."
Hening sejenak merajai gang sempit tersebut. Angin sore berembus pelan, membawa guguran daun kering yang jatuh tepat di antara pijakan mereka.
Sinaca menatap rahang Jenawa yang mengeras, menyadari bahwa di balik jaket kumal dan reputasinya yang menakutkan, pemuda itu baru saja mempertaruhkan posisinya sebagai pemimpin demi menjauhkannya dari bahaya. Pertahanan batin Sinaca perlahan mengendur, meski ia tidak ingin menunjukkannya secara gamblang.
"Jika memang demikian niat Anda, maka saya ucapkan terima kasih," kata Sinaca akhirnya, suaranya terdengar lebih lunak. "Namun, kawan-kawan Anda pasti tengah mencari pemimpin mereka saat ini. Kembalilah. Saya bisa melanjutkan perjalanan pulang dari sini seorang diri."
Sinaca berbalik, bersiap untuk melangkah pergi. Namun, suara langkah sepatu Jenawa yang mengikutinya dari belakang membuat gadis itu kembali menoleh.
"Medan perkelahian itu sudah kutinggalkan, dan pantang bagiku untuk kembali hanya demi menyulut hal yang sudah kepalang terjadi," ucap Jenawa sembari melangkah maju, menyejajarkan posisinya di sisi Sinaca. Ia menatap lurus ke depan, menyembunyikan kecanggungan yang tiba-tiba menyergapnya. "Gang ini berujung pada perumahan di sebelah utara. Aku akan mengantarmu sampai ke depan pagar rumahmu."
"Saya tidak meminta pengawalan, Saudara Jenawa."
"Dan aku tidak sedang menawarkan sebuah pilihan, Nona Sinaca," sahut Jenawa, kali ini sebuah senyum tipis yang tulus menghiasi wajahnya. "Anggap saja ini sebagai bentuk tanggung jawabku karena telah lancang menarik tanganmu tadi."
Sinaca menghela napas pelan. Ia tahu berdebat dengan Jenawa saat ini hanyalah kesia-siaan belaka. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, gadis itu kembali melangkah, membiarkan Jenawa berjalan di sisinya.
Sore itu, di bawah langit senja yang mulai meredup, dua insan dari dunia yang bertolak belakang berjalan bersisian dalam diam. Bagi Jenawa, gang sempit ini terasa lebih luas dan bermakna dibandingkan jalanan mana pun yang pernah ia kuasai. Dalam setiap langkah yang seirama, tanpa mereka sadari, sebuah benang tak kasat mata telah mulai merajut takdir keduanya, menuntun mereka pada sebuah babak baru di mana rindu akan perlahan menggantikan seteru.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪