Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Adinata Holding
Pagi datang lebih dulu di pesantren.
Bukan dari cahaya. Melainkan dari suara.
Lantunan ayat yang dibaca pelan.
Langkah-langkah santri yang ringan di lorong. Suara air kran yang diputar.
Dan udara dingin yang masuk tanpa diminta.
Shafiya sudah terbangun lebih awal dari biasanya. Namun beberapa detik ia masih diam. Duduk di tepi ranjang. Ingatannya memutar kembali semua yang terjadi semalam.
Seseorang yang tiba-tiba ada di kamarnya.
Percakapan mereka--singkat, tapi bermakna. Serta perhatian yang diberikan, tanpa kata. Tapi tak bisa diabaikan begitu saja.
Shafiya menoleh.
Sagara masih di sana. Tidur di lantai, dengan posisi yang tidak benar-benar nyaman. Namun tetap tenang. Tidak ada keluhan. Tidak ada perubahan pada raut wajahnya. Seolah tubuhnya sudah terbiasa dengan kondisi apa pun.
Shafiya menarik napas pelan.
Ada sesuatu yang berbeda pagi ini.
Tidak banyak. Namun cukup untuk terasa.
Ia kemudian bangkit. Mengambil mukena.
Dan melangkah keluar kamar.
Meninggalkan ruang itu, dengan seseorang yang masih memeluk lena.
Waktu bergeser.
Pagi di pesantren selalu identik dengan aktivitas memasak. Begitu pula saat itu.
Dapur di kediaman Kyai Fakih sudah hidup sejak pagi. Bukan oleh alat-alat modern. Tapi oleh suara-suara.
PSendok yang beradu pelan dengan wajan.
Air yang mendidih. Sayur yang berakhir di ujung pisau. Dan percakapan ringan yang mengalir tanpa beban.
Shafiya juga ada di sana. Ia berdiri di dekat tungku. Tangannya cekatan, tanpa beban.
Menanak nasi. Sementara di sisi lain, ikan kampung yang sudah dibersihkan mulai ia bumbui. Aroma rempah sederhana perlahan menguar. Menyegarkan. Menggugah selera. Ia sudah tersenyum sendiri membayangkan.
selahap apa makan paginya hari ini.
"Dapur di sini, pasti beda dengan di sana ya, Ning," ujar salah satu bibi sambil tersenyum.
Bibi itu bukan kerabat. Tapi seseorang yang bekerja di keluarga Kiai Fakih. Di sana tidak ada sebutan ART. Dipanggil dengan sebutan Bibi. Lebih dekat--seolah kerabat.
Shafiya tersenyum seraya menyeka titik peluh di dahinya.
"Di sana pasti sudah ada yang masakin ya, Ning?" Bibi yang satunya ikut bertanya.
"Iya, Bi." Shafiya menjawab sambil tangannya menyiapkan lauk ikan kampung itu untuk digoreng.
Seorang santri petugas dapur mendekat.
"Saya saja, Ning." Ia menawarkan diri.
"Saya saja, Mbak. Gak papa. Dari kemarin pingin makan masakan sendiri. Tapi baru sempat di sini."
Santri itu mengangguk. Dan ia pilih membantu saja. Mengambilkan apa yang dibutuhkan oleh Shafiya.
“Aduh, pasti enak ini nanti. Masak sendiri kan beda rasanya,” sahut bibi. Ia juga sibuk dengan masakannya pagi ini, untuk semua santri.
“Semoga,” jawab Shafiya ringan. Dan pikirannya sudah membayangkan. Makan nasi dengan lauk ikan kampung dan sambal. Disajikan dengan teh hangat. Hal yang ia inginkan dari beberapa hari lalu, tapi tak terlaksana di Adinata Residence.
Obrolan mereka terus mengalir. Ringan.
Tentang bahan masakan.
Tentang kebiasaan di pesantren.
Dan sesekali--tentang betapa berbedanya dapur ini dengan dapur di Adinata Residence.
Shafiya tidak banyak cerita. Ia hanya mendengar. Tapi tidak menyangkal.
Karena memang perbedaan itu tajam.
Masakannya sudah setengah jalan.
Minyak di wajan mulai panas. Ikan siap diterjunkan untuk digoreng.
Saat itu--langkah kaki terdengar dari arah pintu. Tidak tergesa. Tapi cukup tegas.
Dan satu suara terdengar. Singkat. Menyebut satu nama.
"Elara."
Mereka menoleh hampir bersamaan.
Dan melihat siapa yang berdiri di sana, seketika--suasana dapur itu seperti berhenti sejenak.
Sagara berdiri di ambang pintu.
Masih dengan kemeja rapi. Meski tanpa jas. Namun tetap saja--auranya tidak berubah. Tegak. Tenang. Dan sulit diabaikan.
Kehadiran Sagara, selalu membawa wibawa yang luar biasa.
Dapur sederhana itu mendadak terasa terlalu kecil untuknya.
Salah satu bibi bahkan sampai terdiam.
Menatap tanpa sadar.
“MasyaAllah…” gumamnya pelan.
“Ini… menantunya Kiai, ya?”
bisik yang lain, nyaris tidak terdengar.
Shafiya ikut menoleh.
Dan untuk sesaat--ia juga tidak langsung berbicara.
Karena kehadiran Sagara, memang selalu seperti itu. Datang tanpa banyak suara.
Namun tetap mengubah suasana.
Sagara tidak mengatakan apa pun.
Hanya berdiri di sana. Seolah setiap tatapan dan tanda tanya, tak pernah mengganggunya. Ia hanya menatap sekilas ke arah dapur.
Lalu tatapan itu berhenti pada Shafiya.
“Sudah waktunya pulang.”
Ia berkata langsung pada intinya.
“Saya ada jadwal meeting di Adinata Holding.”
Nada suara yang datar seperti biasa.
Namun di belakang Shafiya--bisik itu kembali muncul.
“Ya Allah… tinggi sekali…”
“Lihat posturnya… kayak di majalah…”
“Wajahnya juga… MasyaAllah…"
“Pantas saja... dia dapat ning Shafiya."
Bisik-bisik yang tertahan.
Namun tidak sepenuhnya hilang.
Salah satu bibi bahkan sampai merapikan kerudungnya tanpa sadar.
Yang lain menahan senyum.
Sementara Shafiya--ia diam sejenak. Menatap masakannya yang berapa persen lagi selesai. Ikan itu sudah setengah matang. Aromanya sudah keluar.
Ia tetap diam. Seolah sedang berdiskusi dengan keinginannya sendiri yang sebentar lagi--seharusnya terwujud.
“Sebentar lagi selesai,” ucapnya pelan.
Bukan bermaksud membantah.
Lebih seperti… berharap, keinginannya kali ini tercapai.
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya bergeser.
Pada masakan itu.
Pada dapur hampir keseluruhan.
Lalu kembali ke Shafiya.
Beberapa detik kemudian.
“Lima belas menit."
Singkat. Namun cukup jelas--itu bukan tawaran. Itu batas waktu yang diberikan.
Shafiya mengangguk cepat.
“Baik.”
Sagara berlalu. Tanpa berkata apa-apa lagi.
Dan dapur itu--kembali bergerak.
Namun kali ini--dengan ritme yang sedikit lebih cepat.
Dan ternyata, waktu yang dibutuhkan Shafiya bukan hanya lima belas menit, tapi hampir dua puluh lima menit.
Itu membuatnya keluar dari kediaman dengan tergesa.
Langkahnya lebih cepat dari biasanya.
Napasnya bahkan sedikit tersengal saat berhenti di dekat mobil.
“Maaf…Mas. Saya--"
Satu kata itu keluar lebih dulu.
Sebelum Sagara memotong dengan nada datar.
"Masuk."
Pintu mobil memang sudah terbuka.
Shafiya menurut. Ia segera masuk. Duduk di kursi biasanya. Sagara juga masuk dan duduk tak jauh di sampingnya.
Mobil itu pun bergerak.
Meninggalkan pesantren yang kembali tenang di belakang mereka. Shafiya sempat menatap sekeliling. Menatap siluet sang abi yang terlihat dari balik pintu depan yang terbuka.
Ia menarik napas pelan.
Mobil melintasi pintu gerbang pesantren dan terus melaju
Perjalanan berlangsung tanpa banyak suara. Hening.
Hingga Agam memecahnya.
“Kalau kembali ke Adinata Residence dulu, kita akan terlambat, Pak."
Sagara melihat jam di pergelangan tangannya. Diam sesaat. Dan..
Beberapa detik kemudian
“Langsung ke kantor.”
Keputusan itu jatuh begitu saja.
Tanpa diskusi lebih dulu.
Shafiya juga tidak menyela.
Ia hanya duduk diam.
Perjalanan berlanjut. Membelah jalanan kota yang padat. Sampai akhirnya menapaki sebuah halaman gedung perkantoran.
Gedung Adinata Holding yang berdiri menjulang. Kaca-kaca tinggi memantulkan langit siang. Bersih. Tegas.
Seolah tidak memberi ruang untuk sesuatu yang tidak sempurna.
Logo perusahaan terpampang besar di bagian depan. Simbol yang tidak hanya sekadar nama.
Tapi menunjukkan kekuasaan.
Mobil melambat.
Masuk ke area drop-off.
Barisan kendaraan mewah sudah lebih dulu terparkir rapi.
Mobil berhenti di bagian parkir khusus.
Pintu terbuka. Sagara keluar dengan gerak cepat. Agam sudah menunggu dengan gerak sigap.
Shafiya tetap di dalam.
Tangannya masih menggenggam tas kecil di pangkuannya.
“Saya tunggu di sini saja.”
Sagara yang sudah berdiri di luar menoleh.
“Turun.” satu kata singkat. Bukan ajakan. Tapi instruksi.
Shafiya terdiam sejenak.
Namun tetap menurut.
Ia turun. Berdiri tak jauh di samping Sagara. Dan sejak langkah pertama itu diambil, semua perhatian mulai tertuju.
Beberapa karyawan yang melintas menoleh. Mereka tidak menatap diam-diam. Jelas, dan terarah.
Bukan hanya karena Sagara.
Tapi karena siapa yang berjalan di sampingnya.
Shafiya menjaga langkahnya. Tidak pas di samping Sagara, tapi sedikit di belakang.
Namun cukup dekat untuk menunjukkan posisi.
Pintu utama gedung terbuka otomatis.
Udara dingin langsung menyambut.
Interior dalam gedung itu sangat luas.
Bersih. Minim suara.
Lantai marmer memantulkan langkah mereka. Setiap gerak terasa jelas.
Beberapa orang berhenti sejenak.
Menunduk hormat.
Ada yang menyapa,
“Selamat siang, Pak.”
Sagara tidak menjawab.
Hanya memberi anggukan tipis.
Namun langkahnya tidak melambat.
Dan Shafiya mengikuti. Ia tidak mengarahkan pandangan ke satu arah tertentu. Lurus saja.
Namun ia merasa dengan jelas
Tatapan-tatapan itu masih mengarah.
Berpindah, mengikuti gerakannya.
Hingga akhirnya mereka tiba di ujung lorong. Di depan sebuah lift khusus.
Tanpa antre. Tanpa tombol yang ditekan oleh mereka sendiri.
Pintu sudah terbuka lebih dulu.
Seolah sudah tahu siapa yang datang.
Sagara masuk lebih dulu.
Lalu berhenti. Menoleh sedikit.
Memberi ruang. Untuk Shafiya masuk bersamanya.
Dan saat pintu itu menutup, semua tatapan di luar terputus.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering