Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14
Dengan wajah panik, Alisa kembali keluar dari kamar pas itu. Harlan yang sedang menunggu di kursi tunggu tersentak kecil. Menatap heran ke arah Alisa yang terlihat panik saat keluar dari ruangan ganti.
“Ada apa?” tanya Harlan, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Alisa tidak langsung menjawab. Ia terlihat melirik ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.
“Kita keluar aja, yuk. Gaun ini tidak cocok untukku.” ajak Alisa dengan sedikit berbisik. Membuat Harlan semakin menautkan kedua alisnya.
Harlan menatap Alisa beberapa detik, berusaha mencerna kepanikan yang begitu jelas tergambar di wajah istrinya itu.
“Tidak cocok?” ulangnya pelan, seolah memastikan.
Alisa mengangguk cepat, terlalu cepat bahkan, sampai terlihat tidak wajar.
“Iya… sebaiknya kita ke tempat lain saja, yuk.” jawabnya, berusaha mencari alasan yang terdengar masuk akal.
Alisa bergegas menarik tangan Harlan untuk segera meninggalkan toko itu. Semakin membuat Harlan menyipitkan mata. Bukan karena curiga berlebihan, tapi ia tah jika Alisa sedang menyembunyikan sesuatu.
“Tunggu…”
Harlan menghentikan langkahnya, menahan Alisa agar ikut berhenti. Pria itu menatap curiga membuat Alisa menelan ludah.
“Ke_kenapa?”
“Jangan bilang ini masalah harga baju itu?” tebak Harlan yang sepertinya tepat sasaran.
Seketika itu juga, Alisa dibuat membeku. Hingga membuat suasana hening selama beberapa detik.
“Jadi benar, ini semua karena harga baju itu?” lanjut Harlan, membuat Alisa tidak bisa menghindar lagi.
Alisa menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengangguk kecil. Tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Harlan.
Harlan menghela nafas panjang, lalu kembali melangkah maju, mendekati Alisa, mengikis jarak di antara mereka.
“Mana, sini, aku lihat bajunya?”
Harlan meminta baju yang masih di tangan Alisa untuk diserahkan kepadanya.
Alisa terlihat ragu untuk menyerahkan baju itu, namun, tidak ada pilihan lain selain menyerahkan baju itu.
Setelah baju itu ada di tangannya, Harlan pun bergegas melihat label gantung yang menempel di bagian belakang baju.
Harlan terdiam sebentar. Lalu, ia justru tertawa kecil. Bukan mengejek. Tapi benar-benar merasa terhibur.
Alisa yang melihat reaksi Harlan hanya bisa mengerutkan keningnya. Tidak mengerti, mengapa reaksi Harlan hanya tersenyum kecil saja.
“Kenapa, Mas malah tersenyum?” tanyanya, di sela kebingungan yang ia alami.
Harlan menggeleng pelan, masih menyisakan senyum di wajahnya.
“Aku tidak menertawakanmu. Hanya, merasa aneh saja,” ujarnya, lalu sedikit menunduk agar sejajar dengan wajah Alisa.
“Aneh? Aneh, kenapa?” tanya Alisa lagi, semakin dibuat bingung.
“Ini… pertama kalinya ada orang yang menolak sesuatu bukan karena tidak suka… tapi karena terlalu memikirkan harganya.” jawab Harlan sembari menunjuk ke arah label gantung yang menempel di baju itu.
Alisa terdiam. Masih belum mengerti dengan reaksi Harlan yang terlihat sangat santai saat melihat harga baju yang ia pegang.
“Bagiku… itu terlalu mahal. Apalagi, hanya untuk satu baju.” jawab Alisa lirih. Kembali menundukkan kepalanya dengan jemarinya yang saling bertaut.
Harlan memperhatikan Alisa sebentar. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengambil lembut tangan Alisa, menariknya untuk kembali ke ruangan pas.
Sementara itu, Alisa hanya bisa pasrah saat Harlan kembali membawanya kembali masuk ke area dalam toko tersebut.
“Ini, cobalah dulu. Masalah dibeli atau tidaknya, biar itu jadi urusan nanti,” ucap Harlan, kembali menyerahkan baju itu kepada Alisa untuk di coba.
“Tapi…”
“Kalau masih tentang harga. Biarkan itu jadi urusanku.” potong Harlan dengan cepat.
Jantung Alisa kembali berdebar cukup cepat. Ada sesuatu dalam cara Harlan berbicara… yang membuatnya sulit untuk terus menolak.
Bukan karena terpaksa. Tapi karena… dihargai. Perlahan, Alisa menatap gaun yang masih ada di tangan Harlan. Lalu kembali menatap Harlan. Seakan-akan, tengah meminta persetujuan pria itu.
“Ambi, dan cobalah bajunya.” ucap Harlan, paham arti dari tatapan Alisa.
Alisa menghembuskan nafas pelan, seolah mengumpulkan keberanian untuk mengambil kembali baju itu.
“Baiklah…”
Tanpa berkata lagi, ia kembali masuk ke dalam kamar pas untuk mencoba baju yang jujurnya, sangat ia suka. Namun, saat melihat harga yang tercantum di label baju itu. Alisa pun mengurungkan niatnya untuk membeli baju tersebut.
***
Beberapa menit berlalu.
Harlan masih berdiri di luar, menunggu dengan sabar. Sesekali ia melirik ke arah pintu kamar pas, menahan rasa penasaran. Sampai akhirnya…
Klik.
Pintu terbuka perlahan. Dan untuk pertama kalinya… Harlan benar-benar kehilangan kata-kata saat melihat Alisa berdiri di ambang pintu.
Dengan dress soft beige yang jatuh lembut mengikuti bentuk tubuhnya. Sederhana, tidak berlebihan… tapi justru itu yang membuatnya terlihat begitu anggun.
Rambutnya terurai rapi, dengan wajah yang sedikit menunduk karena malu.
“Gimana…?” tanyanya pelan.
Harlan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alisa sedikit lebih lama. Sampai membuat Alisa semakin salah tingkah.
“Jelek, ya? Kalau begitu aku…”
“Cantik.”
Satu kata itu keluar begitu saja, tanpa ragu. membuat Alisa kembali terdiam. Lalu perlahan mendongak.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka keluar dari kamar hotel… tatapan mereka benar-benar bertemu tanpa ada yang menghindar.
Harlan melangkah mendekat, matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok Alisa yang kini terlihat semakin cantik dan anggun dalam balutan gaun itu.
Suasana kembali hening, Harlan fokus dengan pandanganya. Sementara Alisa, sibuk memikirkan penampilannya saat ini.
Takut jika gaun itu terlalu mewah untuk dikenakan oleh gadis daerah seperti dirinya.
“Mas serius? Gaunnya nggak aneh, kan?” tanya Alisa dengan suara hampir berbisik, jemarinya meremas pinggiran gaun itu karena gugup.
Harlan berhenti tepat di depan Alisa. Ia mengulurkan tangannya, merapikan sedikit helai rambut Alisa yang tersangkut di bahu dress tersebut.
Sentuhan jemari nya yang hangat membuat Alisa menahan nafas sejenak.
“Tidak aneh sama sekali. Gaun ini sangat cocok untukmu, Alisa.” jawab Harlan membuat Alisa bernafas lega.
Alisa menatap pantulan dirinya di cermin besar di samping kamar pas itu. Benar kata Harlan, gaun itu terlihat sangat cantik setelah melekat sempurna di tubuhnya. Namun, bayangan angka di label harga tadi kembali melintas di pikirannya.
“Tapi… harganya benar-benar tidak masuk akal, Mas. Gajiku pun tidak sebesar harga baju ini.” keluh Alisa, mencoba kembali ke realita.
Harlan tertawa kecil, kali ini suaranya terdengar lebih renyah. Ia memutar tubuh Alisa agar menghadap ke cermin, lalu berdiri di belakangnya.
Di dalam pantulan kaca, mereka tampak seperti pasangan yang begitu romantis. Hingga membuat orang-orang yang melintasi keduanya, menoleh.
“Mulai sekarang. Kamu tidak perlu memikirkan apapun. Termasuk harga barang yang akan kamu beli. Ingat, pria yang menikahimu ini seorang pengusaha yang sukses. Jadi, jangan pernah ragu lagi kalau kamu ingin membeli sesuatu,”
“Tapi, ini terlalu mahal untukku, Mas,”
“Tidak apa-apa. ambil saja. Anggap saja ini hadiah kecil dariku karena kamu sudah menyelamatkan pernikahanku dan juga nama baik keluarga besarku."
...🌸🌸🌸...
Note. Mohon maaf, ya. Kemarin cuma bisa up 1 bab aja. Dikarena kan kondisi tubuh yang tidak bisa di ajak kompromi. Terima kasih atas dukungan pembaca semuanya untuk karya-karya yang author tulis. Love sekebon untuk kalian semua 🙏🤗🥰