Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Siang itu terasa lebih teriak dari biasanya, meskipun angin masih sesekali melewati ke sela sela pohon yang ada di area kampus. disana kembali ramai Susananya seperti tidak pernah terjadi apapun.
Akan tetapi tidak dengan beberapa hati uang justru semakin gaduh dalam diamnya. Syahira berjalan di koridor, langkahnya tidak secepat biasanya. kitab yang ia peluk didadanya kini terasa lebih berat.
Dikarenakan pikirannya yang tidak sejalan dengan hatinya yang ia rasakan saat ini. kejadian di kelas tadi masih berputar jelas dalam ingatannya.
Blank, membuatnya buyar seketika apalagi disaat tatapan itu,..haish membuat napasnya tertahan dibuatnya.
"Astaghfirullah,..jangan sampai aku berdosa" gumamnya lirih. "Bukan soal hafalan yang,..tapi hati gue ini mah yang enggak beres" batinnya jujur, sesuatu yang selama ini ia coba untuk membantahnya.
"Ra." suara itu membuatnya sedikit tersentak, Syahira menoleh. Calysta berdiri tidak jauh darinya, dengan ekspresi yang tidak biasa
"Elo kenapa sih Ra,..akhir akhir ini jadi banyak diem,..banyak bengong" tanya Calysta, tanpa basa basi. Syahira terdiam sebentar, seraya mengangguk.
"Aku,..baik baik aja kok cuma emang sedikit kecapean aja, jadi kurang fokus"
"Gue kenapa elo Sya, kenapa sih enggak mau cerita?"
Deg. Syahira mengalihkan pandangannya. "elo tuh enggak gampang blank kayak tadi." ujar Calysta.
"Elo lagi mikirin sesuatu kan?" Syahira menarik napas panjang, lalu menghembuskan napasnya perlahan.
"Seriusan Cal,.santai aja," jawabnya akhirnya.
"Jangan sampai elo kebanyak mendem sesuatu"
Deg. Syahira tidak menjawab ia memilih diam, seraya tersenyum tipis. Disisi lain kampus,.Kaizan berdiri di area parkiran bersandar pada motornya dengan satu kaki menekuk santai, tapi wajahnya tidak.
"Ribet banget,.." gumamnya pelan. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu berdecak pelan. "Gue harusnya enggak peduli tapi kok malah kepikiran terus" lanjutnya. Tersiksa oleh instingnya sendiri.
Bayangan Syahira di depan kelas tadi muncul lagi, tangannya pun jadi gemetar, dan kedua netranya hampir berkaca kaca. Memperhatikan saat Syahira maju untuk hafalan. Dan semua masih tersimpan jelas dalam ingatannya saat ini.
"Bukan gue yang dia hindari,.." Kaizan mendengus kesal.
"Tapi,.dia"
Rahangnya mengeras samar, diruang dosen, Bilal duduk sendiri dengan kitab yang terbuka dihadapannya. Tapi seperti sebelumnya,..tidak benar benar ia baca.
Semua pikirannya hanya tertuju pada bayangan adik iparnya itu, yang berdiri didepan kelas tadi dan tidak mau hilang.
Meskipun tidak seratus persen berbuat kesalahan, tapi Bilal juga tau salah satu penyebabnya bisa jadi dirinya. rahangnya mengeras,.."ini enggak bisa dibiarin,..aku harus melupakannya."
"Astaghfirullah,..ya Allah kendalikan hamba,..agar hamba tidak sampai berbuat khilaf" batin Bilal sambil tangannya perlahan menutup kitab itu.
Akan tetapi kalimat itu terdengar lebih seperti harapan,..dari pada keputusan. Sementara di rumah..
Feryal berdiri di area balkon, menatap fatamorgana alam yang sedang berubah warna menjadi senja.
Tangannya bertumpu pada pagar, rambutnya pendek bergerak pelan tertiup angin, tak lama ponselnya bergetar.
"Elo lagi dimana?"
"Kenapa emang?"
"Balapan yok, gabut gue"
"Mager"
"10 juta kalo elo menang"
"Deal"
"Dasar, yaudah gue tunggu"
Pesan itu dari Kaizan, entah kenapa hari ini ia tiba tiba ingin bertemu dan menantang si ratu sirkuit lagi meski ia pun tau endingnya pasti akan kalah lagi.
Tapi Kaizan tidak perduli mau mengeluarkan uang berapapun jika endingnya malah untuk berbuat kebaikan. justru saat ini bibirnya terbit naik keatas, dengan senyum manisnya hingga lesungnya terlihat.
Suara mesin mulai terdengar satu persatu bukan suara kendaraan biasanya tapi ini lebih powerfull kelewat menantang. Feryal sudah berdiri dipinggir lintasan dengan helmnya yang sudah ia pegang ditangannya. Jaketnya saja sudah ia rapatkan tapi bukan berarti dia merasa kedinginan saat itu.
Cuma karena sudah jadi hal yang kebiasaan saat dirinya hendak melakukan balapan sebelum akhirnya ia turun ke lintasan.
Menatap fokus dan tajam kedepan dengan aura tenangnya, bahkan beberapa orang sudah mulai berkumpul diarea itu dan sudah mulai ricuh dengan sorak sorai dan tebak tebakan aksi taruhan mereka.
Tapi meskipun ramai mereka tidak terlalu berisik, mereka lebih ke menikmati ketegangan terhadap tontonan yang mereka lihat.
"Datang juga akhirnya, dikira enggak bakal datang."
"Kan gue bilang, kalo ada cuannya gaskeun." Kaizan terkekeh.
"Oke sorry sorry, gue salah dong ya dikira awalnya Lo bakal nolak tawaran gue itu, abisnya lama banget anjir" sahut Kaizan.
"Iyalah, yang penting mah duitnya udah siap belum?."
"Udahlah, noh udah gue kasih panitia."
"Oke bagus kalo gitu."
"Konsisten ya Lo ternyata Fey, hahaha." Feryal tidak menjawab ia hanya memasang helm ke kepalanya.
Klik.
Suara pengunci helm itu sampai terdengar, sebagai tanda obrolan keduanya sudah berakhir. sedangkan di area lintasan motor hitam Feryal sudah mulai siap tidak terlalu mencolok tapi sepertinya cukup untuk menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.
Seperti biasa Kaizan memperhatikan dan instingnya mulai kembali berjalan, kedua netranya menyipit ketika melihat sesuatu yang membuatnya mengerutkan dahinya "Aneh nih cewek." gumamnya pelan.
Ia pun langsung naik ke motornya dan langsung menyalakan mesinnya. Suara raungannya saja langsung merubah atmosfer yang dibawanya benar benar memekakkan telinga sampai semua kepala menoleh ke arahnya.
Dua motor kini berdampingan berada di garis start. Dan Feryal sedikit menunduk tangannya pun langsung mencengkram handle dengan sangat pas.
"Masih sama ya ternyata." tanyanya suaranya sedikit lantang supaya terdengar karena suara mesinnya yang sudah mulai berisik. Feryal tidak menoleh tatapannya masih fokus kedepan, sedangkan Kaizan tersenyum miring "Fey,..jangan ngulang lagi sama satu kesalahan yang sama."
Deg.
Seorang panitia sudah berdiri didepan, dengan mengangkat tangannya semua suara perlahan meredam, tergantikan dengan ketegangan yang semakin mencekam.
One,..
Two..
"READY,..GO!."
Brummm,..mitirm melesat dengan cepatnya bersamaan memecah senja yang mulai tenggelam. Anginnya malam yang langsung menghantam aspal dengan begitu sempurnanya.
Feryal langsung mengambil posisi di depan, dan tubuhnya menunduk rendah dan fokus pada lintasan jalan dengan gerakan presisi yang seolah setiap tikungan sudah ia hafal diluar kepalanya.
Dan Kaizan tidak jauh dibelakang yang keduanya netranya pun begitu tajam mengikuti setiap pergerakan Feryal.
"Bangke,..gila bener nih cewek cepet juga anjir." gumamnya makin semangat dan merasa tertantang.
ditikungan pertama Feryal menang dengan sempurna tanpa ada keraguan. Sementara Kaizan muncul mencoba mengambil celah tapi sayangnya gagal.
"Haish masih sama." kecepatan yang semakin tinggi dan lampu jalan mulai menyala satu demi satu menciptakan garis cahaya yang terpotong cepat oleh laju mereka.
Dan dibalik helmnya, Feryal masih saja nampak kelewat datar senyum enggak ketawa enggak, marah pun juga enggak apalagi sedih tidak sama sekali, melainkan untuk pertama kalinya yang ia rasakan adalah pikirannya tidak mentok ke Bilal tapi pada diri sendiri dan juga pada lintasan sirkuit yang sekarang sedang ia nikmati da itu sudah cukup untuk nya saat ini.
Sementara dibelakangnya, Kaizan justru semakin fokus bukan hanya pada balapan tapi pada suatu hal yang sama tapi lebih jelas yang ia lihat sekarang ini.
"Dia lagi nyari tenang dan pelariannya kesini ternyata." ucap Kaizan dengan tangannya yang mengeras. Tapi justru itu yang membuat Kaizan tidak hanya ingin menang tapi lebih ke ingin memahami.