Some adalah gadis SMA biasa, selain karena di seorang seleb sosial media. Dia dikenal cewek yang ceria dan anak OSIS, sampai suatu ketika dia mendapat kabar dari dokter kepercayaan ayahnya kalau ia ada gejala kanker. Ditengah air mata yang tak dapat terbendung, sang mama dan papa malah membuat sebuah kencan - kencang dengan anak - anak rekan kerja mereka. Agar Some dapat menikah dengan pria yang bertanggung jawab, dan diantara cowok - cowok kayak itu mengapa harus Dinner. Orang yang mengawali kencan pertama kali, dan anak baru di sekolah Some. Ternyata alasannya sangat klasik, itu pun berlaku untuk Dinner yang memiliki keluarga super fanatik. Ketika dia mau dijodohkan dan serius dengan Some, karena kencan itu, maka mereka merestui seolah kasta mereka sama.
🌷Judul Aslinya : Something
🌷Tidak ada unsur plagiat, setiap detail saya harap bisa memenuhi itu
🌷Tema : Fiksi Remaja, Cinta Paksaan, dan Percintaan Dewasa
🌷Detail Hubungan : Perjodohan Kencan, Kekayaan, Gengsi, Perusahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 34
Penyembuhan Perdana
**
Seperti yang sudah direncanakan papa pagi tadi, Some harus ikut ke acara pra tunangan yang sebenarnya membuat Some bete juga. Jadi dia dengan segenap ragu melangkahkan kakinya lesu meninggalkan kelas, yang sebenarnya sudah bubar dari tiga menit lalu. Teman - temannya yang biasnya cerewet, tak lagi mereka terlalu menghawatirkan Some. Sempat mengajak Some makan di resto terdekat, hanya saja untuk berjalan ke parkiran saja dirinya sudah lelah. Jadi mereka membatalkan acara tersebut.
Notifikasi hp Some berbunyi, SMS bertubi dari papa.
Papa : Some udah bubarkan sayang, papa udah SMS kamu dari sejam yang lalu.
Some : Ya masa sih pa Some jawab.
Papa : Sekarang udah kelar kan, maaf pak Supratman nggak bisa jemput habisnya lagi nyiapin di rumah.
Some : Udah dan masa Some harus naik ojek?
Papa : Tenang aja papa udah minta Ranu jemput kamu dari dua puluh menit lalu, buruan nanti ia kabur.
Some : Ya Allah pa masa nggak bilang dari tadi.
Some dengan sedikit berlari kecil mencepatkan langkahnya supaya sampai parkiran lebih awal. Dan dia baru melihat mobil sang adik, baru datang. Some memutar matanya heran, lalu masuk ke dalam mobil.
"Katanya udah dua puluh menit," ujar Some menatap Ranu penuh selidik. Sedangkan pria itu mengalihkan pandangan. Udah paham dia kalau kakaknya lelet, makannya sempat nengok pacarnya tadi.
"Iya tapi kan kakak itu gadis nomer dua aku," jawab Ranu pasti paham kalau kakaknya mengerti. Some mencubit pinggang Ranu yang mengaduh, selalu saja merasa dewasa padahal baru anak SMP.
"Ketemu dulu sama pacar ya, gimana dia mau nemeni kakak?" tanya Some penasaran. Benar dia sempat meminta Ranu agar pacarnya menemani dia di acara ini.
"Ogah, mana urusan keluarga kita lagi. Tenang aja semua bakalan terfokus pada kakak," ujar Ranu menenangkan lalu Some melipat tangannya di dada. Semua memang memalukan, karena terfokus pada dirinya.
Mobil mereka akhirnya meninggalkan sekolah. Setelah sampai pekarangan rumah, nona Some segera diajak masuk rumah. Dan tanpa lama gadis itu telah berganti baju dengan kebaya. Sempat membersihkan diri, jiah memakai lotion badan. Namun akan terasa menarik jika wajannya berhias, dan rambutnya di sanggul.
Mama menghampiri Some yang sedang menunggu, "Udah beres kayaknya kita juga udah siap. Kamu aja yang datangnya lama, padahal di jalan aja cukup lama," protes mama datang - datang dengan kebayanya.
"Tenang aja kali baru pertemuan doang bukan tunangan, lagian buru - buru amat rencana ini," kesal Some menekuk wajahnya.
Papa membuat senyum di wajah cantik Some, "Semoga kamu nggak malu - maluin, yuk udah siap," kata papa yang juga memegang tangan Some itu. Ia mengajak mama dan Ranu, juga Some untuk naik ke mobil.
Dan mereka melanjutkan perjalan ke rumah keluarga Dinner.
**
Dipertemukannya dengan keluarga Dinner, pria yang ia suka. Some dapat menyimpulkan keluarga itu terdengar harmonis juga memegang teguh pendirian mereka yang bermata pencaharian bisnis, keluarga mereka punya rumah yang tidak beda jauh dari Some. Mereka sangat menyayangi Dinner, dan berupaya membawanya ke masa depan impian mereka. Tak jauh dari mama dan papa, hanya saja Dinner terllau menuruti keinginan mereka. Sehingga dia macam pion yang di dambakan setiap wanita.
Some tidak banyak bertanya, namun keakraban keluarga itu membuat Some tak luput dari pertanyaan intens, seperti kenapa dia bisa menyukai Dinner. Kenapa dia tak memilih pria yang jelas sudah mapan dan berumur, dan kenapa dia menyanggupi Dinner yang masih sekolah, bahkan dia punya banyak kesukaan yang menurut Some sendiri terdengar nggak pernah ia ketahui. Tapi semua itu Some lakukan, karena jelas dia juga belum tentu bisa menyanggupi keinginan Dinner.
"Kok melamun," ujar seseorang di sebelahnya. Dari suara dan gelagatnya sebenarnya Some sudah tahu dia siapa, namanya Desa mamanya Dinner. Dia menggunakan pakaian santai floral. Memang sikapnya sangat ceria.
"Hi tan," ujar Some sambil menggaruk tengkuknya karena malu menyerangnya yang notabennya hanya gadis SMA. Ia sedang menikmati pemandangan rumah ini di luar ruangan, karena nampak baru.
"Hi juga, gimana pas kita ngobrol tadi. Kamu emang tipenya anak - anak yang punya bebas, beda banget sama Dinner," katanya seperti biasa menanggapi perkenalan ini dengan santai.
"Iya tan, kan aku juga seornag seleb jadi penuh kemandirian," ujar Some. Yang senang jika mengerjakan kesenangan dengan cara yang ia suka.
"Hmm, Dinner itu pendiam banget, tapi dia orangnya baik kok. Lumayan untuk orang yang menemani hari lelah misah," jawab Desa membuat Some yakin kalau Dinner emang cocok disaat dia membutuhkan seseorang di masa ambigu ini. Dia nampaknya tak menghawatirkan itu semua.
"Kenapa dia suka aku, mungkin yange tahu," tanya Some menanggapi antusiasnya. Dia nampak tersenyum malu.
"Sebenarnya Dinner nggak melakukan ini karena suka, bukannya dia bilang tadi niatnya bersilahturahmi," jawab tante tidak sesuai keinginan Some.
"Mungkin ada yang lain," ujar Some.
"Oh jadi kayaknya dia menyanggupi kamu dengan alasan yang ia tahu. Tapi yang pasti dia beneran suka sama kamu, tanpa kamu sadar mungkin," jelas Desa yang membuat kening Some mengerut samar. Jika pun ada alasan lain, mungkin ini adalah rencana mereka untuk saling mendekatkan diri.
"Jadi udah pernah ada yang kayak gini?" tanah Some.
"Bukan begitu Some, cuma setahu Tante Dinner emang nurut ya, tapi pasti dia juga punya jawaban sendiri kok kenapa dia menerima. Bahkan ini bukan tentang pacaran lagi kan," jawabnya menghargai Some mengangguk paham dan berjanji untuk tidak bertanya apa - apa lagi. Ia tahu besok dan seterusnya ia telah terikat.
"Ya udah hampir sore, aku senang kalau kamu ketemu sama dia. Tante nggak suka ngelihat dua orang itu kayak kutub utara dan kutub selatan," ujar Desa. Sedari tadi memang some dan Dinner menjadi perhatian utamanya, dan hanya seja wajah tak suka keduanya. Juga sikap mereka yang bagaikan kutub Utara - selatan itu pastinya sangat sulit dipersatukan.
Some sempat menolak ketika lagi dan lagi diminta untuk ngobrol bahkan lebih dari itu bersama dengan Dinner. Dia terllau kalut ketika pasang mata menuntut keakraban, atau hal - hal yang dinantikan. Padahal dari tadi mereka cukup ingin terdiam seperti yang di acara orang.
**
Selesai dengan perkenalan dan pertunangan yang akan diadakan setelah Some menerima rongsen lain. Hidup Some berjalan seperti biasanya, nampak normal. Namun yang pasti gadis itu sudah tak sering melamun, bahkan merasa jalannya sudah ada yang ngatur.
Sekarang adalah hari kedua bulan Some dan Dinner terikat. Bahkan anak - anak sekolah juga sudah saling memahami ketika dua orang yang awalnya tidak punya hubungan itu terlihat bersama. Sekalipun kebersamaan mereka bukanlah gayanya berpacaran. Namun keduanya punya komitmen untuk menaklukan segalanya seperti yang diharapkan.
Seperti biasa di pagi hari Some dan Ranu menunggu mama selesai memasak di meja makan, dengan seragam sekolah. Mereka tak banyak mengobrol, lalu papa datang kali ini tidak mencium siapapun. Kesibukannya di kantor mempengaruhi moodnya.
"Pagi pa," ujar Ranu ceria. Papa menatapnya penuh kasih sayang namun hanya mengangguk samar.
"Pagi juga pa," ujar Some mengikuti Ranu. Namun ekspresi papa berubah ketika pandangannya terarah pada Some. Mungkin rasa sayang terlihat jelas dibalik senyumnya pada Some itu.
"Papa nggak jawab?" kata mama sambil menyimpan makanan yang baru ia masak di meja makan. Ia telah siap menghidangkannya secara lengkap.
"Mama lupa kalau pak Hanry atau Dokter Rafaella belum juga telepon, padahal Some udah ngambil obat beberapa kali," ujar papa merasa khawatir. Jelas rasa cuek Some pada semua itu tak membuatnya merasa semakin khawatir.
"Kan dua hari lalu udah," jawab mama.
"Apa kenapa mama nggak bilang dari awal?" tanya papa lebih ke menyesal karena baru tahu saat ini. Disaat dia sempat memutuskan untuk mengajak Some ke rumah sakit pagi ini juga.
"Yah masih belum ada kepastian pa tentang kanker itu, tapi akan ada beberapa penyembuhan khusus," ujar mama memberitahukan pemaparan pak Hanry malam itu. Some berbatuk mendengar kabar itu, ditambah dia harus merasakan betapa ribetnya sakit ini.
Mama langsung mengambil air, "Tenang sayang, mungkin ini cara terbaik," ujarnya melihat Some menerima air minum itu.
"Baiklah, kapan kita ke rumah sakit?" tanya papa ingin tahu.
"Secepatnya pa, kita juga tahu kondisi Some makin lemah," kata mama. Selepas pra perkenalan gadis itu hampir tak pernah merasa punya tubuh fit seperti dulu. Jadi seseorang seperti Dinner yang suka berceloteh akan terus memantau kesehatannya.
"Ya udah besok kita ke rumah sakit," ujar papa. Ia melihat Some yang memegang keningnya, sperti biasa ketika ada pikiran mengganggu darah segar langsung mengalir di hidung Some.
Namun kejadian itu hanya sanggup mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Some tidak baik - baik saja. Papa langsung menelepon Dinner, setidaknya berbagi info kesehatan terutama untuk kesembuhan Some.
**